Hubungan Antara Overthinking dan Rasa Takut Salah

Saat Kamu Terus Mengulang Pilihan Sebelum Mengirim Pesan

Kamu sudah mengetik pesan, sudah membacanya beberapa kali, tapi tangan masih belum juga menekan tombol kirim. Kalimatnya terasa biasa saja, tapi tiba-tiba muncul pikiran, “Jangan-jangan salah ngomong.”

Akhirnya kamu mengubah satu kata. Dibaca lagi. Diubah lagi. Setelah itu muncul kemungkinan lain yang sebelumnya bahkan nggak kepikiran.

Hal yang sama bisa terjadi saat kamu mau mengambil keputusan kecil. Mau pilih satu barang, menentukan waktu, membalas pesan, menerima ajakan, atau memilih di antara dua pilihan yang sebenarnya sama-sama masuk akal, tetapi kepalamu terus mencari kemungkinan bahwa kamu bisa salah memilih.

Di titik tertentu, kamu mungkin merasa sedang berhati-hati.

Kamu ingin memastikan keputusan yang diambil memang tepat. Karena itu, kamu merasa masih perlu memikirkannya sedikit lagi sebelum benar-benar menentukan pilihan.

Masalahnya, “sedikit lagi” bisa berubah menjadi berulang-ulang.

Satu pertanyaan menghasilkan pertanyaan lain. Satu kemungkinan membuka kemungkinan berikutnya. Kamu belum melakukan apa-apa, tetapi pikiranmu sudah berjalan jauh sampai membayangkan apa yang terjadi kalau pilihanmu ternyata keliru.

Di sinilah overthinking takut salah mulai kelihatan seperti sesuatu yang berbeda dari sekadar kebiasaan berpikir.

Kamu bukan cuma sedang mencari pilihan yang paling tepat. Ada rasa nggak nyaman terhadap kemungkinan bahwa pilihanmu bisa membawa hasil yang salah, mengecewakan orang lain, membuat keadaan lebih buruk, atau membuatmu menyesal setelah keputusan dibuat.

Karena itu, keputusan terasa seperti sesuatu yang harus benar-benar aman sebelum kamu berani mengambilnya.

Padahal hampir nggak ada keputusan yang bisa memberikan kepastian seperti itu.

Selama belum memilih, semua kemungkinan masih terbuka. Kamu masih bisa membayangkan bahwa pilihan A mungkin lebih baik, tetapi pilihan B juga mungkin punya risiko yang belum kelihatan. Selama keputusan belum dibuat, kamu belum harus berhadapan dengan akibat nyatanya.

Mungkin itu sebabnya berpikir ulang terasa lebih nyaman daripada memilih.

Bukan karena kamu selalu punya terlalu banyak pertimbangan, tetapi karena selama masih mempertimbangkan, kamu belum perlu menerima kemungkinan bahwa pilihanmu bisa salah.

Kenapa Takut Salah Bisa Nyamar Jadi “Cuma Mikir Ulang”?

“Cuma mikir ulang” terdengar seperti sesuatu yang masuk akal ketika kamu belum yakin dengan sebuah keputusan. Kamu merasa masih ada informasi yang belum lengkap, masih ada kemungkinan yang belum dipertimbangkan, atau mungkin ada pilihan yang lebih tepat kalau kamu memikirkannya sedikit lebih lama.

Masalahnya, rasa takut salah juga bisa memakai bentuk yang sama.

Kamu bisa merasa sedang mencari kepastian, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kamu sedang menunda momen ketika harus memilih. Selama keputusan belum dibuat, kamu belum perlu berhadapan dengan kemungkinan bahwa pilihanmu ternyata keliru.

Itu yang membuat mengulang pertimbangan terasa aman.

Setiap kali muncul keraguan, kamu kembali melihat pilihan yang sama dari sudut lain. Kamu membandingkan lagi, mencari informasi tambahan, membayangkan hasil yang berbeda, lalu merasa sedikit lebih tenang karena masih punya kesempatan untuk memikirkan semuanya.

Tapi ketenangan itu sering nggak bertahan lama.

Setelah beberapa saat, muncul pertanyaan baru. “Kalau ternyata yang ini lebih buruk?” atau “Kalau nanti aku nyesel?” Pertanyaan seperti ini membuat keputusan yang tadinya sederhana terasa semakin rumit, karena sekarang yang kamu pikirkan bukan cuma pilihan yang tersedia, tetapi juga berbagai kemungkinan setelah pilihan itu dibuat.

Semakin banyak kemungkinan yang kamu buka, semakin sulit rasanya menemukan titik di mana kamu bisa berkata, “Oke, ini sudah cukup.”

Akhirnya, proses berpikir yang awalnya memang dibutuhkan untuk memahami situasi berubah menjadi usaha untuk mendapatkan kepastian yang sebenarnya sulit didapat.

Overthinking sebagai Cara Otak Menghindar dari Rasa Nggak Nyaman

Dalam situasi seperti ini, overthinking bukan lagi sekadar proses menganalisis sebuah masalah. Pikiranmu bisa berubah menjadi cara untuk menghindari rasa nggak nyaman yang muncul ketika kamu harus menerima bahwa sebuah keputusan tetap punya risiko.

Mengambil keputusan berarti menutup sebagian kemungkinan. Begitu kamu memilih A, kamu nggak lagi berada di posisi netral yang bisa terus mempertimbangkan A, B, atau C. Kamu sudah mengambil satu arah, dan ada kemungkinan arah itu ternyata bukan yang paling tepat.

Kemungkinan seperti itu memang nggak nyaman.

Karena itu, otak bisa terus mencari alasan untuk menunda keputusan. Bukan selalu dalam bentuk pikiran yang jelas seperti “aku takut salah”, tetapi lewat pertanyaan-pertanyaan kecil yang terasa logis.

“Coba cek sekali lagi.”

“Kayaknya masih ada yang kurang.”

“Kalau tunggu besok mungkin lebih jelas.”

“Jangan-jangan aku kelewatan sesuatu.”

Satu pertanyaan mungkin memang berguna. Tetapi ketika pertanyaan yang sama terus muncul tanpa benar-benar membawa kamu lebih dekat pada keputusan, prosesnya sudah mulai berubah.

Kamu mungkin merasa sedang memperdalam analisis, padahal pikiranmu sedang mempertahankan keadaan di mana kamu belum harus menerima konsekuensi dari sebuah pilihan.

Ini juga yang membuat takut mengambil keputusan salah bisa terasa seperti kebutuhan untuk selalu punya alasan yang sempurna.

Kalau keputusan harus benar-benar tepat, masuk akal kalau kamu merasa perlu mengumpulkan lebih banyak informasi. Kalau masih ada sedikit keraguan, rasanya belum pantas untuk memilih. Kalau masih ada kemungkinan salah, berarti masih perlu dipikirkan lagi.

Standar seperti ini bisa membuat keputusan sederhana terasa seperti sesuatu yang harus lulus pemeriksaan berkali-kali.

Apalagi kalau kamu memang terbiasa ingin melakukan sesuatu dengan benar. Pada orang yang cenderung perfeksionis, kebutuhan untuk menghindari kesalahan bisa membuat overthinking karena perfeksionis semakin sulit dibedakan dari kehati-hatian.

Kamu bukan nggak punya kemampuan untuk memilih.

Kamu hanya merasa bahwa memilih sebelum semua kemungkinan terasa aman adalah sesuatu yang terlalu berisiko.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Kalau Salah Itu Beneran Kejadian?

Kalau keputusan yang kamu takutkan ternyata benar-benar salah, biasanya kenyataannya nggak seburuk semua skenario yang sebelumnya berputar di kepala. Kesalahan memang bisa membawa akibat yang nggak menyenangkan, tetapi akibat nyata sering jauh lebih terbatas dibanding bayangan yang muncul sebelum keputusan dibuat.

Kamu mungkin salah memilih barang, salah membalas pesan, salah menentukan waktu, atau mengambil keputusan yang ternyata nggak sesuai harapan. Setelah itu memang ada sesuatu yang harus dihadapi, tetapi setidaknya sekarang kamu berhadapan dengan kejadian yang nyata, bukan dengan puluhan kemungkinan yang semuanya belum tentu terjadi.

Justru sebelum keputusan dibuat, ruang untuk membayangkan akibatnya jauh lebih luas.

Kamu bisa membayangkan orang lain kecewa, kesempatan hilang, uang terbuang, hubungan berubah, atau dirimu sendiri menyesal. Satu kemungkinan kemudian berkembang menjadi kemungkinan lain sampai sebuah kesalahan kecil terlihat seperti awal dari masalah yang jauh lebih besar.

Padahal ketika salah itu benar-benar terjadi, situasinya biasanya hanya punya satu bentuk nyata.

Ada sesuatu yang perlu diterima, mungkin ada yang perlu diperbaiki, mungkin juga ada bagian yang memang nggak bisa dikembalikan. Tetapi batas masalahnya mulai terlihat karena kamu sudah nggak lagi berhadapan dengan semua kemungkinan sekaligus.

Hal ini juga menjelaskan kenapa cemas sebelum memutuskan bisa terasa lebih berat daripada keputusan itu sendiri.

Sebelum memilih, kamu belum tahu apa yang akan terjadi. Ketidakpastian itu memberi ruang yang sangat besar untuk pikiran mengisi bagian yang kosong dengan berbagai kemungkinan. Setelah pilihan dibuat, sebagian ketidakpastian tersebut hilang karena kenyataan mulai menggantikan bayangan.

Bukan berarti setiap kesalahan selalu ringan.

Ada keputusan yang memang punya konsekuensi besar dan nggak bisa dianggap sepele. Takut salah dalam situasi seperti itu bisa menjadi alasan yang wajar untuk mempertimbangkan sesuatu dengan lebih serius.

Yang membedakan adalah apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan ketika berpikir.

Kalau kamu sedang mencari informasi yang memang belum ada, mempertimbangkan risiko yang nyata, atau mencoba memahami pilihan yang tersedia, proses berpikir itu masih punya arah. Tetapi kalau informasi baru sudah nggak banyak berubah dan kamu tetap mengulang pertanyaan yang sama karena belum merasa cukup yakin, mungkin yang sedang kamu hadapi bukan lagi kekurangan pertimbangan.

Ada rasa nggak nyaman yang belum selesai kamu rasakan.

Dan selama keputusan belum dibuat, rasa itu bisa terus ditunda.

Di situlah hubungan antara overthinking dan rasa takut salah menjadi lebih kelihatan. Pikiran yang terus bekerja belum tentu sedang membantumu menemukan jawaban; kadang ia hanya membuat jarak antara kamu dan momen ketika sebuah pilihan akhirnya harus dibuat.

Pembahasan tentang hubungan antara overthinking dan rasa takut salahakan dibawa lebih jauh di artikel Cara Mengatasi Overthinking yang Tidak Pernah Diajarkan.