Kenapa Otak Kita Susah Berhenti Berpikir

Pernah tidak, kamu sudah berbaring di tempat tidur, lampu sudah dimatikan, badan sudah lelah, dan besok pagi masih harus bangun lebih awal?

Secara logika, itu seharusnya menjadi saat yang paling tepat untuk beristirahat.

Tapi justru di saat seperti itu, pikiranmu mulai bekerja.

Tiba-tiba kamu teringat percakapan singkat siang tadi.

Kamu mulai bertanya-tanya apakah ada kalimat yang terdengar aneh. Lalu pikiranmu melompat ke pekerjaan yang belum selesai. Setelah itu berpindah lagi ke tagihan bulan depan.

Beberapa menit kemudian, entah bagaimana, kamu malah sedang memikirkan keputusan yang pernah kamu ambil beberapa tahun lalu.

Tubuhmu ada di tempat tidur.

Tapi pikiranmu seperti sedang berlari ke mana-mana.

Yang membuatnya melelahkan bukan karena kamu tidak sadar sedang berpikir.

Justru sebaliknya.

Kamu sadar. Kamu tahu semua itu tidak membantu. Kamu tahu besok pagi masalah-masalah itu belum tentu berubah hanya karena dipikirkan malam ini.

Karena itulah kamu mencoba menghentikannya.

“Sudah.”

“Besok saja.”

“Jangan dipikirkan lagi.”

Namun semakin kamu mencoba menghentikannya, semakin ramai rasanya isi kepalamu.

Seolah ada bagian dari dirimu yang tidak mau mendengarkan.

Dan mungkin, jika pengalaman itu cukup sering terjadi, kamu pernah mulai bertanya sesuatu yang lebih dalam.

Kenapa?

Kenapa otak ini susah sekali berhenti berpikir?

Kenapa ada saat-saat ketika kamu hanya ingin beberapa menit ketenangan, tetapi pikiranmu justru bekerja lembur tanpa diminta?

Artikel ini tidak akan membahas cara menghentikan overthinking.

Setidaknya belum.

Karena sebelum mencari cara menghentikannya, mungkin ada satu hal yang lebih penting untuk dipahami terlebih dahulu.

Yaitu mengapa semua ini terjadi.

Sebab sesuatu yang tidak dipahami biasanya hanya akan dilawan. Dan sesuatu yang terus dilawan sering kali justru bertahan lebih lama di dalam hidupmu.

Otak Tidak Dirancang untuk Berhenti

Sebelum kamu menyalahkan dirimu sendiri karena terlalu banyak berpikir, ada satu hal yang perlu kamu ketahui terlebih dahulu.

Otak memang tidak pernah benar-benar berhenti.

Mungkin selama ini kamu mengira otak bekerja ketika kamu sedang fokus. Ketika kamu sedang bekerja. Ketika kamu sedang belajar. Ketika kamu sedang menyelesaikan masalah.

Padahal yang menarik justru kebalikannya.

Ada sebuah sistem di otak yang oleh para peneliti disebut “default mode network”. Nama ini terdengar rumit, tetapi idenya sebenarnya sederhana.

Ketika kamu tidak sedang melakukan apa-apa, otakmu tidak ikut diam.

Justru saat itulah dia mulai sibuk.

Ketika kamu sedang mandi.

Ketika kamu menunggu seseorang membalas pesan.

Ketika kamu duduk sendirian di teras rumah.

Ketika kamu menatap langit-langit kamar sebelum tidur.

Di saat-saat itulah pikiranmu mulai menghubungkan berbagai pengalaman, mengulang kejadian lama, memprediksi kemungkinan masa depan, dan mencoba memahami dunia di sekitarmu.

Dengan kata lain, berpikir bukan aktivitas tambahan bagi otak.

Berpikir adalah pekerjaan utamanya.

Bayangkan seorang penjaga malam yang sudah bertugas selama puluhan tahun.

Meskipun jalanan terlihat sepi, dia tetap berjalan berkeliling.

Meskipun tidak ada suara mencurigakan, dia tetap mengamati.

Bukan karena dia paranoid.

Tapi karena memang itulah pekerjaannya.

Kurang lebih seperti itulah cara kerja otakmu.

Selama jutaan tahun, manusia bertahan hidup karena memiliki otak yang terus waspada terhadap ancaman.

Nenek moyangmu yang terlalu santai ketika mendengar suara aneh di semak-semak mungkin tidak bertahan cukup lama untuk mewariskan gen mereka.

Sebaliknya, mereka yang sedikit lebih waspada memiliki peluang hidup yang lebih besar.

Masalahnya, dunia yang membentuk otakmu dan dunia yang kamu tinggali sekarang tidak lagi sama.

Dulu ancaman datang dalam bentuk predator, kelaparan, atau bahaya fisik yang nyata.

Hari ini ancaman bisa berbentuk email yang belum dibalas.

Keputusan karier.

Hubungan yang tidak jelas arahnya.

Komentar seseorang yang terus teringat di kepalamu.

Otakmu masih menjalankan program lama.

Hanya objek yang diawasinya yang berubah.

Karena itu, ketika pikiranmu terus bekerja, itu tidak selalu berarti ada yang salah dengan dirimu.

Tidak selalu berarti kamu terlalu sensitif.

Tidak selalu berarti kamu terlalu lemah.

Bisa jadi otakmu sedang melakukan apa yang selama ini memang dirancang untuk dia lakukan.

Ada sebuah studi kasus yang menarik tentang seorang pria bernama Arga.

Setelah pulang kerja, dia sering duduk sendirian di ruang tamu. Tidak ada masalah besar yang sedang terjadi dalam hidupnya. Tagihan aman. Hubungan rumah tangga baik. Pekerjaan juga stabil.

Tetapi pikirannya tetap aktif.

Awalnya dia menganggap dirinya memiliki masalah.

Sampai suatu hari dia menyadari bahwa sebagian besar isi pikirannya bukanlah ketakutan besar. Hanya potongan-potongan kecil kehidupan yang sedang diproses otaknya.

Percakapan dengan rekan kerja.

Rencana akhir pekan.

Ide bisnis yang muncul tiba-tiba.

Ingatan masa sekolah.

Bukan karena ada krisis.

Melainkan karena otaknya memang terus mengolah informasi.

Mungkin kamu juga pernah mengalami sesuatu yang mirip.

Kamu mengira semua pikiran itu adalah tanda masalah.

Padahal sebagian darinya hanyalah tanda bahwa otakmu masih bekerja seperti biasa.

Masalahnya bukan karena otak tidak mau berhenti.

Masalahnya sering kali karena otak tidak tahu kapan dia boleh berhenti.

Dan perbedaan itu jauh lebih penting daripada yang terlihat.

Overthinking Bukan Kelemahan — Ini Sinyal

Kalau otak yang terus aktif itu normal, mungkin muncul pertanyaan lain.

Kenapa ada orang yang bisa terlihat santai, sementara kamu terus memikirkan hal yang sama berulang-ulang?

Kenapa pikiran tertentu datang lagi dan lagi, seolah tidak pernah selesai?

Di sinilah banyak orang mulai menyebutnya overthinking.

Tetapi ada sesuatu yang menarik tentang overthinking.

Otak tidak berpikir berlebihan tentang semua hal secara merata.

Coba perhatikan pikiranmu sendiri.

Kamu jarang menghabiskan dua jam memikirkan warna sendal yang kamu pakai minggu lalu.

Kamu jarang mengulang-ulang ingatan tentang menu sarapan tiga bulan lalu.

Sebaliknya, otakmu cenderung kembali ke topik yang sama.

Keputusan yang belum dibuat.

Kesalahan yang belum bisa kamu maafkan.

Kemungkinan buruk yang belum bisa kamu pastikan.

Dengan kata lain, overthinking bukan aktivitas acak.

Biasanya ada sesuatu yang dianggap belum selesai.

Ada sesuatu yang dianggap belum aman.

Ada sesuatu yang masih menggantung.

Karena itulah otak terus kembali ke sana.

Bukan untuk menyiksamu.

Bukan karena dia menikmati kekhawatiranmu.

Tapi karena dia sedang mencari sesuatu.

Mungkin kepastian.

Mungkin jawaban.

Mungkin rasa aman.

Atau mungkin hanya keyakinan bahwa situasi tersebut sudah cukup ditangani.

Aku teringat sebuah studi kasus tentang seorang perempuan bernama Nia.

Setelah presentasi penting di kantornya, dia tidak bisa berhenti memikirkan satu kalimat yang menurutnya terdengar kurang tepat.

Selama berhari-hari, pikirannya terus kembali ke momen itu.

Dia membayangkan rekan kerjanya menilai dirinya tidak kompeten.

Dia membayangkan atasannya kecewa.

Dia membayangkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Yang menarik, ketika dia akhirnya berbicara dengan salah satu rekan kerjanya, ternyata hampir tidak ada yang mengingat kalimat tersebut.

Masalahnya tidak pernah ada pada kalimat itu.

Masalahnya ada pada rasa tidak aman yang belum mendapatkan kepastian.

Dan selama rasa itu belum menemukan tempat untuk beristirahat, pikirannya terus berputar.

Inilah mengapa overthinking sering kali lebih tepat dilihat sebagai sinyal daripada kelemahan.

Sinyal bahwa ada sesuatu yang oleh otakmu dianggap penting.

Sinyal bahwa ada bagian dalam dirimu yang belum merasa tenang.

Sinyal bahwa ada pertanyaan yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Karena itu, ketika kamu mulai menganggap dirimu lemah hanya karena terlalu banyak berpikir, mungkin ada sudut pandang lain yang layak dipertimbangkan.

Mungkin masalahnya bukan karena kamu berpikir terlalu banyak.

Mungkin ada sesuatu yang sedang dicoba disampaikan oleh pikiranmu.

Sesuatu yang terus mengetuk pintu perhatianmu.

Dan semakin kamu mencoba mengabaikannya, semakin keras ketukan itu terdengar.

Kalau kamu ingin memahami lebih dalam mengapa overthinking sering disalahartikan sebagai kelemahan pribadi, kamu bisa membaca artikel “Overthinking Bukan Tanda Kamu Lemah”.

Karena sering kali yang terlihat seperti kelemahan sebenarnya hanyalah mekanisme perlindungan yang bekerja terlalu keras.

Pertanyaannya bukan bagaimana cara mematikan sinyal itu.

Pertanyaannya adalah: apa yang sedang dicoba dikomunikasikan sinyal itu kepadamu?

Kenapa Makin Dipaksa Berhenti, Makin Tidak Bisa

Pernah tidak, kamu berkata kepada dirimu sendiri:

“Sudah.”

“Stop.”

“Jangan dipikirkan lagi.”

Dan anehnya, justru setelah itu pikiran tersebut menjadi semakin kuat.

Semakin jelas.

Semakin sulit diabaikan.

Kalau kamu pernah mengalaminya, sebenarnya kamu tidak sedang gagal mengendalikan pikiranmu.

Kamu sedang mengalami sesuatu yang sangat manusiawi.

Dalam psikologi, ada sebuah konsep yang dikenal sebagai “ironic process theory”. Teori ini pertama kali banyak dikenal melalui penelitian psikolog Daniel Wegner.

Penelitiannya sederhana.

Sekelompok orang diminta untuk tidak memikirkan seekor beruang putih selama beberapa menit.

Terdengar mudah.

Tapi hasilnya justru sebaliknya.

Semakin mereka berusaha menghindari pikiran tentang beruang putih, semakin sering beruang putih itu muncul di kepala mereka.

Sekarang gantilah beruang putih itu dengan hal yang sedang mengganggumu.

Kesalahan yang pernah kamu lakukan.

Kekhawatiran tentang masa depan.

Ketakutan membuat keputusan yang salah.

Penyesalan yang belum selesai.

Mekanismenya tetap sama.

Untuk memastikan kamu tidak memikirkan sesuatu, otak harus terus memeriksa apakah sesuatu itu masih muncul atau tidak.

Dan untuk memeriksanya, otak harus mengingatnya terlebih dahulu.

Di situlah lingkarannya terbentuk.

Semakin keras kamu berusaha mengusir pikiran tertentu, semakin sering otakmu harus memanggil pikiran itu untuk memastikan bahwa kamu berhasil mengusirnya.

Seperti seseorang yang terus membuka pintu untuk memastikan tamu yang tidak diinginkan sudah pergi.

Setiap kali pintu dibuka, tamu itu justru terlihat lagi.

Ada studi kasus menarik tentang seorang mahasiswa bernama Dimas.

Menjelang sidang skripsi, dia terus membayangkan dirinya gagal menjawab pertanyaan dosen.

Karena merasa pikiran itu mengganggu, dia berusaha mengusirnya.

Setiap kali ketakutan itu muncul, dia langsung berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun semakin dia mencoba menghentikannya, semakin sering skenario kegagalan itu muncul.

Sampai akhirnya dia menyadari sesuatu.

Bukan ketakutan itu yang membuatnya lelah.

Melainkan perang yang terus-menerus dia lakukan terhadap ketakutan itu.

Dan mungkin kamu juga pernah merasakan hal serupa.

Kadang yang menguras energi bukan pikiran yang muncul.

Melainkan usaha tanpa henti untuk memastikan pikiran itu tidak muncul lagi.

Ini juga menjelaskan kenapa banyak orang merasa frustrasi ketika mencoba “berpikir positif.”

Bukan karena berpikir positif selalu salah.

Tetapi karena sering kali itu berubah menjadi upaya tanpa henti untuk melawan pikiran yang sebenarnya belum selesai dipahami.

Padahal selama sumber kegelisahan itu masih ada, otakmu akan terus kembali ke sana.

Bukan karena kamu kurang kuat.

Bukan karena kamu kurang disiplin.

Justru sering kali, terlalu banyak usaha untuk berhenti berpikir itulah yang membuat kamu tidak bisa berhenti.

Yang Sebenarnya Otak Cari

Kalau overthinking adalah sinyal, maka sinyal tentang apa sebenarnya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.

Tetapi jawabannya bisa mengubah cara kamu melihat pikiranmu sendiri.

Coba perhatikan sebagian besar hal yang selama ini sering kamu pikirkan.

Mungkin ada kejadian masa lalu yang masih membuatmu malu.

Mungkin ada masa depan yang terasa tidak pasti.

Mungkin ada keputusan yang belum berani kamu ambil.

Sekilas semuanya terlihat berbeda.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, biasanya ada satu benang merah yang sama.

Rasa tidak aman.

Bukan dalam arti bahaya fisik.

Melainkan rasa bahwa ada sesuatu yang penting tetapi belum benar-benar berada dalam kendalimu.

Seorang pria bernama Riko pernah menghabiskan hampir dua bulan memikirkan satu keputusan.

Apakah dia harus menerima tawaran pekerjaan baru atau tetap bertahan di tempat lama.

Setiap malam pikirannya bekerja.

Kalau pindah bagaimana?

Kalau gagal bagaimana?

Kalau menyesal bagaimana?

Kalau ternyata keputusan ini salah bagaimana?

Semakin lama dia berpikir, semakin banyak kemungkinan yang muncul.

Yang menarik, setelah keputusan itu akhirnya diambil, sebagian besar overthinking tersebut menghilang.

Bukan karena dia tiba-tiba menemukan jawaban sempurna.

Bukan karena semua risiko lenyap.

Melainkan karena ketidakpastian yang selama ini menggantung akhirnya memiliki bentuk yang lebih jelas.

Sering kali otakmu bukan mencari jawaban sempurna.

Dia mencari pijakan.

Dia mencari sesuatu yang cukup stabil untuk membuatnya berhenti berjaga-jaga.

Ada sebuah peribahasa lama yang berbunyi:

*”Air yang tenang menghanyutkan.”*

Biasanya peribahasa itu digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tersembunyi.

Tetapi dalam konteks ini, mungkin ada makna lain yang menarik.

Sering kali yang terlihat tenang di permukaan ternyata menyimpan arus kuat di bawahnya.

Begitu juga dengan overthinking.

Yang terlihat hanyalah pikiran yang terus berputar.

Padahal di bawahnya sering tersembunyi ketakutan, keraguan, atau kebutuhan akan rasa aman yang belum sempat diberi perhatian.

Karena itu, kalau selama ini kamu mengira masalahnya adalah terlalu banyak pikiran, mungkin ada kemungkinan lain.

Mungkin masalahnya bukan jumlah pikiran.

Mungkin masalahnya adalah jumlah rasa aman yang belum terpenuhi.

Kalau kamu pernah merasa overthinking muncul setiap kali harus membuat keputusan penting, ada kaitannya dengan rasa takut melakukan kesalahan yang tidak selalu terlihat jelas di permukaan. Aku membahasnya lebih dalam di artikel “Hubungan Antara Overthinking dan Rasa Takut Salah”.

Karena sering kali yang membuatmu terus berpikir bukan masa depannya.

Tetapi ketakutanmu terhadap kemungkinan memilih jalan yang salah.

Pada akhirnya, overthinking bukan tentang pikiran yang terlalu banyak.

Ini sering kali tentang rasa aman yang terlalu sedikit.

Lalu Apa?

Setelah memahami semua ini, pertanyaan berikutnya terasa hampir tidak terhindarkan.

Lalu apa?

Kalau otak memang dirancang untuk terus berpikir.

Kalau overthinking adalah sinyal.

Kalau memaksa diri berhenti justru sering membuatnya semakin kuat.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Jawaban yang paling jujur mungkin tidak terlalu memuaskan.

Tidak ada tombol rahasia.

Tidak ada teknik ajaib.

Tidak ada satu kalimat yang bisa membuat pikiranmu diam selamanya.

Dan mungkin itu bukan kabar buruk.

Karena selama ini sebagian besar kelelahanmu mungkin bukan berasal dari pikiran itu sendiri.

Melainkan dari usaha terus-menerus untuk mengalahkannya.

Ada sebuah kutipan dari filsuf Jerman, Carl Jung, yang berbunyi:

“What you resist, persists.”

Apa yang terus kamu lawan sering kali justru bertahan lebih lama.

Bukan karena hidup ingin mempersulitmu.

Melainkan karena sesuatu yang belum dipahami biasanya akan terus meminta perhatian.

Mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukan:

“Bagaimana cara berhenti overthinking?”

Melainkan:

“Apa yang sebenarnya sedang dicari oleh pikiranku?”

“Apa yang sedang coba diamankan oleh otakku?”

“Apa yang masih terasa belum selesai di dalam diriku?”

Bukan karena pertanyaan-pertanyaan itu akan langsung menyelesaikan semuanya.

Tetapi karena memahami selalu berbeda dengan melawan.

Dan sering kali, sesuatu yang dipahami tidak lagi perlu diperangi setiap hari.

Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai akar, mekanisme, dan cara menghadapi pola berpikir berlebihan secara menyeluruh, kamu nantinya bisa melanjutkan ke artikel pilar “Cara Mengatasi Overthinking” .

Untuk saat ini, mungkin tidak perlu terburu-buru ke sana dulu.

Karena ada satu hal yang lebih penting daripada mencari jalan keluar.

Yaitu memahami ruangan tempat kamu sedang berdiri.

Otak yang terus berpikir bukan musuhmu.

Dia hanya belum menemukan alasan yang cukup untuk berhenti.

Penutup

Mungkin malam ini, atau mungkin beberapa malam dari sekarang, kamu akan kembali berada di tempat yang sama.

Berbaring.

Lampu sudah mati.

Ruangan sudah tenang.

Tetapi pikiranmu belum.

Mungkin dia akan kembali mengulang percakapan lama.

Mungkin dia akan kembali mengunjungi kekhawatiran yang sama.

Mungkin dia akan kembali membuka lemari ingatan yang sebenarnya ingin kamu tutup.

Dan mungkin selama ini pertanyaan yang selalu muncul adalah:

“Kenapa otak ini tidak mau berhenti?”

Tetapi setelah melihat semua yang sudah kita bahas, mungkin ada pertanyaan lain yang perlahan muncul menggantikannya.

Bukan lagi:

“Kenapa kamu tidak diam?”

Melainkan:

“Apa yang sedang kamu cari?”

Karena ada perbedaan besar antara berbaring sambil memusuhi pikiranmu dan berbaring sambil mencoba memahami apa yang sedang disampaikan olehnya.

Yang pertama sering berubah menjadi pertarungan panjang yang melelahkan.

Yang kedua tidak selalu membawa jawaban.

Tetapi kadang membawa sesuatu yang lebih sederhana.

Sedikit kejelasan.

Sedikit pengertian.

Dan sesekali, ketenangan kecil yang selama ini terasa begitu jauh.

Tidak perlu langsung menemukan jawabannya malam ini.

Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya.

Mungkin cukup dengan mengetahui bahwa pikiranmu tidak selalu sedang melawanmu.

Kadang-kadang, dia hanya sedang mencoba menunjukkan sesuatu yang belum sempat kamu lihat.