Overthinking Bukan Tanda Kamu Lemah

Mungkin kamu pernah mengalami momen seperti ini.

Sebuah percakapan sudah selesai beberapa jam yang lalu. Orang yang kamu ajak bicara mungkin bahkan sudah melanjutkan harinya seperti biasa.

Tapi pikiranmu belum.

Masih ada satu kalimat yang terus kembali.

Harusnya tadi aku ngomong begitu nggak ya.

Jangan-jangan dia salah paham.

Jangan-jangan aku terdengar aneh.

Jangan-jangan ada sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan.

Lalu setelah beberapa putaran, muncul pertanyaan lain yang sering kali terasa lebih berat daripada percakapan itu sendiri.

“Kenapa aku terlalu banyak mikir sih?”

Kalimat itu mungkin terdengar akrab di telingamu.

Bahkan mungkin bukan pertama kalinya kamu mengatakannya kepada dirimu sendiri.

Atau mungkin kamu pernah mendengarnya dari orang lain.

“Udah, jangan dipikirin.”

“Santai aja.”

“Kamu terlalu lebay.”

Sebagian besar orang yang mengucapkannya mungkin memang ingin membantumu.

Mereka tidak sedang mencoba meremehkan apa yang kamu rasakan.

Mereka hanya ingin membuatmu merasa lebih ringan.

Tetapi ada sesuatu yang menarik dari kalimat-kalimat seperti itu.

Karena tanpa disadari, kalimat tersebut sering membawa pesan lain yang jauh lebih dalam.

Pesan bahwa cara kamu merespons dunia dianggap terlalu rumit.

Pesan bahwa orang lain tampaknya bisa menjalani hidup tanpa memikirkan semuanya sedalam yang kamu lakukan.

Pesan bahwa kalau pikiranmu terus berputar seperti ini, mungkin ada sesuatu yang salah.

Pesan itu jarang diucapkan secara langsung.

Tapi sering kali tetap sampai.

Dan semakin sering kamu mendengarnya, semakin mudah bagimu untuk mempercayainya.

Sedikit demi sedikit, pertanyaan yang awalnya berbunyi:

“Kenapa aku terlalu banyak mikir?”

berubah menjadi:

“Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain?”

Di titik itu, yang sedang dipertanyakan bukan lagi masalah yang ada di depanmu.

Melainkan dirimu sendiri.

Padahal ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.

Kita sering begitu cepat memberi label pada cara kita berpikir.

Ketika pikiranmu tidak bisa berhenti, kamu menyebutnya masalah.

Ketika kekhawatiranmu terasa lebih besar daripada milik orang lain, kamu menyebutnya kelemahan.

Ketika keputusan sederhana terasa berat, kamu mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirimu.

Tetapi sebelum menerima semua kesimpulan itu, mungkin ada satu hal yang layak diperiksa terlebih dahulu.

Dari mana sebenarnya kesimpulan itu datang?

Kalau kamu penasaran dengan mekanisme di balik itu, ada satu hal menarik yang dibahas di artikel sebelumnya — kenapa otak kita sebenarnya tidak dirancang untuk berhenti berpikir begitu saja.

Siapa yang pertama kali memutuskan bahwa jumlah pikiranmu terlalu banyak?

Siapa yang pertama kali memutuskan bahwa orang yang memikirkan sesuatu terlalu dalam pasti lebih lemah daripada orang yang tampak santai?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Namun kadang sebuah label bertahan bukan karena benar.

Melainkan karena tidak pernah diperiksa.

Artikel ini bukan untuk mengatakan bahwa overthinking adalah sesuatu yang harus dipertahankan.

Kalau overthinking membuatmu lelah, itu nyata.

Kalau overthinking membuatmu sulit tidur, itu nyata.

Kalau overthinking membuatmu merasa terjebak di dalam kepala sendiri, itu juga nyata.

Tidak ada yang perlu diperdebatkan di situ.

Tetapi ada perbedaan antara mengatakan bahwa overthinking membuatmu kesulitan dan mengatakan bahwa overthinking membuktikan ada sesuatu yang cacat dalam dirimu.

Perbedaan itu kecil di permukaan.

Tapi besar sekali dampaknya.

Karena selama kamu percaya bahwa masalahnya adalah dirimu, setiap usaha untuk memahami apa yang sedang terjadi akan selalu dimulai dari posisi yang salah.

Mungkin karena itu, sebelum membahas apa itu overthinking, sebelum membahas kenapa pikiranmu sulit berhenti, dan sebelum membahas bagaimana mengatasinya, ada satu hal yang lebih dulu layak dilihat.

Yaitu label yang selama ini menempel padanya.

Label bahwa overthinking adalah kelemahan.

Label bahwa orang yang terlalu banyak berpikir pasti kurang kuat.

Label bahwa kalau kamu tidak bisa langsung melepaskan sesuatu, berarti ada yang salah dengan caramu menghadapi hidup.

Kita tidak perlu buru-buru menolak label itu.

Kita juga tidak perlu buru-buru mempercayainya.

Mungkin cukup duduk sebentar di depannya.

Lalu memperhatikannya dengan tenang.

Karena terkadang pemahaman tidak dimulai ketika kamu menemukan jawaban.

Pemahaman dimulai ketika kamu mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini kamu anggap sudah pasti benar.

“Kamu Terlalu Banyak Mikir” — Kalimat yang Lebih Sering Menyakiti

Kalimat itu terdengar seperti solusi.

Sederhana.

Cepat.

Praktis.

Seolah-olah seseorang baru saja menunjukkan jalan keluar yang selama ini tidak kamu lihat.

“Jangan terlalu banyak mikir.”

Masalahnya, kalau kamu pernah benar-benar terjebak dalam overthinking, kamu mungkin tahu bahwa kalimat itu jarang terasa seperti bantuan.

Justru sering terasa seperti pintu yang ditutup.

Karena hampir tidak ada orang yang overthinking yang belum pernah mencoba berhenti.

Bisa jadi kamu juga sudah mencobanya.

Kamu mencoba mengalihkan perhatian.

Kamu mencoba menyibukkan diri.

Kamu mencoba tidur lebih cepat.

Kamu mencoba berkata kepada dirimu sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi beberapa jam kemudian, pikiran yang sama kembali lagi.

Kadang lebih keras.

Kadang lebih ramai.

Kadang membawa kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya bahkan tidak ada.

Dan ketika itu terjadi berulang kali, muncul rasa frustrasi yang sulit dijelaskan.

Karena masalahnya bukan lagi apa yang sedang kamu pikirkan.

Masalahnya adalah kenyataan bahwa kamu tidak bisa berhenti memikirkannya.

Di sinilah banyak orang mulai memikul beban kedua.

Beban pertama adalah overthinking itu sendiri.

Beban kedua adalah rasa bahwa mereka gagal melakukan sesuatu yang katanya mudah.

“Kalau orang lain bisa santai, kenapa aku tidak?”

“Kalau orang lain bisa move on, kenapa aku masih di sini?”

“Apa memang ada yang salah denganku?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering terasa lebih menyakitkan daripada sumber overthinking yang sebenarnya.

Karena sekarang kamu bukan hanya memikirkan masalah.

Kamu juga mulai memikirkan dirimu.

Dan ketika perhatianmu mulai beralih dari masalah menuju identitasmu sendiri, rasa malu perlahan masuk ke dalam ruangan.

Malu karena tidak bisa setenang orang lain.

Malu karena tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.

Malu karena merasa berbeda.

Ironisnya, rasa malu itu sering menjadi bahan bakar baru bagi overthinking.

Karena sekarang pikiranmu tidak hanya memutar satu masalah.

Pikiranmu mulai memutar alasan kenapa kamu masih memikirkan masalah itu.

Dalam psikologi ada istilah yang menggambarkan fenomena ini: meta-worry.

Sederhananya, kamu bukan hanya khawatir terhadap suatu hal.

Kamu mulai khawatir karena merasa terlalu khawatir.

Kamu bukan hanya memikirkan masalah.

Kamu mulai memikirkan kenapa kamu tidak bisa berhenti memikirkan masalah itu.

Lapisan kedua inilah yang sering membuatmu merasa semakin terjebak.

Kalau kamu ingin melihat lebih dalam kenapa loop ini terasa begitu sulit dihentikan, artikel tentang kenapa overthinking terjadi membahasnya dari sisi yang berbeda.

Seolah-olah apa pun yang kamu lakukan selalu kembali ke titik yang sama.

Bayangkan seorang mahasiswa yang baru selesai presentasi.

Presentasinya berjalan baik.

Dosen tidak memberikan kritik yang berarti.

Teman-temannya bahkan mengatakan hasilnya bagus.

Tapi ketika malam tiba, pikirannya masih bekerja.

Mungkin kamu pernah mengalami sesuatu yang mirip.

Satu kalimat yang tadi terucap mulai diputar ulang.

Satu ekspresi wajah mulai dianalisis.

Satu kemungkinan kesalahan berubah menjadi lima.

Lima berubah menjadi dua puluh.

Lalu setelah semua itu muncul pertanyaan yang lain.

“Normal nggak sih kalau aku segini takutnya?”

Yang menguras energimu bukan lagi presentasinya.

Melainkan penilaian terhadap dirimu sendiri.

Mungkin karena itu kalimat “jangan terlalu banyak mikir” sering gagal membantu.

Bukan karena niatnya buruk.

Tetapi karena kalimat itu menganggap bahwa berhenti berpikir adalah sesuatu yang sederhana.

Seolah-olah kalau kamu belum berhenti, berarti kamu belum cukup berusaha.

Padahal bisa jadi kamu sudah berusaha jauh lebih lama daripada yang orang lain bayangkan.

Dan sebelum kita berbicara lebih jauh tentang apa itu overthinking, mungkin ada satu hal yang lebih penting untuk diperiksa terlebih dahulu.

Dari mana sebenarnya datang keyakinan bahwa ini adalah sesuatu yang memalukan?

Dari Mana Label “Lemah” Itu Datang?

Label jarang muncul begitu saja.

Hampir semua cara kamu melihat dirimu hari ini pernah datang dari suatu tempat.

Ada yang datang dari pengalaman.

Ada yang datang dari lingkungan.

Ada yang datang dari orang-orang yang suaranya terlalu sering kamu dengar sampai akhirnya terdengar seperti suara milikmu sendiri.

Termasuk keyakinan bahwa overthinking adalah kelemahan.

Masalahnya, ketika sebuah keyakinan sudah terlalu lama tinggal di dalam kepala, kamu sering berhenti mempertanyakan dari mana asalnya.

Kamu tidak lagi melihatnya sebagai pendapat.

Kamu melihatnya sebagai fakta.

Padahal tidak semua hal yang terasa benar benar-benar berasal dari pengamatan yang jernih.

Kadang ia hanya berasal dari sesuatu yang cukup sering diulang.

Salah satu sumber yang paling umum adalah perbandingan.

Mungkin kamu pernah berada di situasi seperti ini.

Kamu sedang memikirkan sebuah keputusan selama berhari-hari.

Menimbang kemungkinan.

Memikirkan risiko.

Memikirkan konsekuensi.

Lalu di saat yang sama, kamu melihat orang lain mengambil keputusan yang sama hanya dalam beberapa menit.

Dia terlihat santai.

Tidak tampak ragu.

Tidak terlihat memikirkan banyak hal.

Dari luar, hidupnya terlihat jauh lebih ringan daripada hidupmu.

Dan tanpa kamu sadari, sebuah kesimpulan mulai terbentuk.

“Mungkin cara dia yang benar.”

“Mungkin aku yang terlalu rumit.”

“Mungkin aku memang terlalu banyak mikir.”

Otak manusia memang senang membandingkan.

Masalahnya, perbandingan yang kamu lakukan hampir selalu tidak seimbang.

Karena kamu membandingkan isi kepalamu dengan tampilan luar orang lain.

Kamu tahu semua ketakutan yang kamu sembunyikan.

Kamu tahu semua keraguan yang muncul sebelum tidur.

Kamu tahu semua skenario yang diam-diam berputar di dalam pikiranmu.

Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepala mereka.

Kamu hanya melihat hasil akhirnya.

Kamu melihat mereka tampak tenang.

Kamu melihat mereka tampak yakin.

Kamu melihat mereka tampak baik-baik saja.

Dan dari potongan kecil itulah kamu mulai membuat cerita lengkap tentang dirimu sendiri.

Padahal bisa jadi cerita itu tidak pernah akurat sejak awal.

Ada sebuah penelitian psikologi yang cukup terkenal tentang fenomena yang disebut spotlight effect.

Sederhananya, manusia cenderung melebih-lebihkan seberapa banyak perhatian orang lain tertuju pada dirinya.

Kita merasa kesalahan kita terlihat jelas.

Kita merasa kegugupan kita terlihat jelas.

Kita merasa semua orang memperhatikan apa yang sedang kita pikirkan.

Padahal sebagian besar orang sebenarnya sedang sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Kenapa ini penting?

Karena banyak overthinking tumbuh di tanah yang sama.

Kamu merasa semua orang memperhatikan kesalahanmu.

Kamu merasa semua orang akan mengingat keputusan burukmu.

Kamu merasa semua orang akan menilai keraguanmu.

Padahal sering kali, perhatian terbesar terhadap dirimu justru datang dari dirimu sendiri.

Lalu ada sumber lain yang lebih halus.

Yaitu budaya yang kamu hidupi setiap hari.

Coba perhatikan sosok yang sering dipuji.

Orang yang bergerak cepat.

Orang yang percaya diri.

Orang yang tidak banyak ragu.

Orang yang langsung bertindak.

Orang yang terlihat tahu persis apa yang harus dilakukan.

Ada daya tarik tertentu pada sosok seperti itu.

Mereka terlihat kuat.

Mereka terlihat mantap.

Mereka terlihat seperti orang yang hidupnya tidak terlalu rumit.

Lalu tanpa sadar kamu mulai menyerap pesan yang sama.

Bahwa manusia yang ideal adalah manusia yang tidak banyak berpikir.

Bahwa keraguan adalah masalah.

Bahwa kebimbangan adalah kelemahan.

Bahwa semakin cepat kamu mengambil keputusan, semakin baik dirimu terlihat.

Padahal hidup jarang sesederhana itu.

Karena banyak keputusan buruk justru lahir bukan karena terlalu banyak berpikir.

Melainkan karena terlalu sedikit berpikir.

Ada peribahasa lama yang mengatakan:

“Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.”

Menariknya, peribahasa itu tidak mengajarkanmu untuk bertindak secepat mungkin.

Peribahasa itu justru mengingatkanmu untuk mempertimbangkan sesuatu sebelum melangkah.

Kita memuji kehati-hatian ketika seorang dokter memeriksa ulang diagnosis.

Kita memuji kehati-hatian ketika seorang pilot mengikuti prosedur dengan teliti.

Kita memuji kehati-hatian ketika seorang akuntan memeriksa angka berkali-kali.

Tetapi ketika kehati-hatian itu muncul di dalam kehidupan pribadi, kita sering memberi nama yang berbeda.

Kita menyebutnya kelemahan.

Padahal mungkin yang berubah bukan sifatnya.

Hanya konteksnya.

Ada juga kemungkinan sumber yang lebih dekat dengan kehidupanmu.

Lebih pribadi.

Lebih lama.

Mungkin berasal dari masa ketika kamu bahkan belum cukup dewasa untuk mempertanyakannya.

Tidak semua orang mengalaminya.

Tetapi cukup banyak yang mengalaminya.

Ada anak yang tumbuh di lingkungan di mana kekhawatiran dianggap berlebihan.

Ada anak yang ketika bertanya terlalu banyak dianggap merepotkan.

Ada anak yang ketika mengungkapkan ketakutan justru mendengar kalimat seperti:

“Nggak usah dipikirin.”

“Kamu terlalu sensitif.”

“Jangan cengeng.”

Kalimat-kalimat itu mungkin diucapkan dengan niat baik.

Mungkin orang yang mengucapkannya hanya ingin menenangkan.

Tetapi seorang anak tidak selalu mendengar niat.

Seorang anak lebih sering mendengar pesan.

Dan pesan yang tertinggal bisa sangat berbeda.

Bahwa apa yang dia rasakan terlalu banyak.

Bahwa apa yang dia pikirkan terlalu banyak.

Bahwa cara dia memproses dunia perlu diperbaiki.

Tahun demi tahun berlalu.

Lingkungannya mungkin sudah berubah.

Orang-orangnya mungkin sudah berbeda.

Tetapi pesannya masih tinggal.

Bukan lagi dalam bentuk suara orang lain.

Melainkan suara di dalam kepala.

Suara yang langsung muncul setiap kali kamu mulai khawatir.

Suara yang langsung menghakimi setiap kali pikiranmu bergerak terlalu jauh.

Suara yang bertanya:

“Kenapa aku nggak bisa santai seperti orang lain?”

Padahal sebelum menjawab pertanyaan itu, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting.

Dari mana standar “normal” itu datang?

Siapa yang pertama kali mengajarkan bahwa cara berpikirmu terlalu banyak?

Siapa yang pertama kali memberimu ukuran tentang seberapa banyak kamu boleh merasa, seberapa banyak kamu boleh mempertimbangkan, dan seberapa banyak kamu boleh khawatir?

Filsuf Prancis, Michel de Montaigne, pernah menulis bahwa manusia sering menderita lebih banyak karena imajinasinya daripada kenyataannya.

Kalimat itu biasanya digunakan untuk menjelaskan kecemasan.

Tetapi mungkin ada cara lain untuk melihatnya.

Kadang penderitaanmu tidak hanya datang dari pikiran yang terus berputar.

Kadang penderitaanmu juga datang dari cerita yang kamu percayai tentang pikiran itu.

Cerita bahwa orang yang banyak berpikir pasti lemah.

Cerita bahwa orang yang banyak khawatir pasti bermasalah.

Cerita bahwa ada sesuatu yang salah karena kamu tidak merespons dunia seperti orang lain.

Mungkin cerita itu benar.

Mungkin juga tidak.

Tetapi sebelum menjadikannya identitasmu, ada satu hal yang layak dilakukan terlebih dahulu.

Memeriksa dari mana cerita itu berasal.

Karena label yang dibentuk bisa diperiksa.

Yang sulit diperiksa adalah label yang sudah terlalu lama kamu anggap sebagai kebenaran.

Siapa yang Sebenarnya Overthinking?

Setelah melihat dari mana label itu mungkin datang, ada pertanyaan lain yang menarik untuk diperiksa.

Kalau overthinking memang identik dengan kelemahan, kenapa ia begitu sering muncul pada orang-orang yang justru berusaha menjalani hidupnya dengan serius?

Kenapa orang yang paling peduli sering kali menjadi orang yang paling sulit berhenti berpikir?

Kenapa orang yang paling takut mengecewakan justru sering menghabiskan waktu paling lama untuk memikirkan sebuah keputusan?

Dan kenapa orang yang paling bertanggung jawab terhadap konsekuensi tindakannya sering kali menjadi orang yang paling banyak dihantui kemungkinan-kemungkinan buruk?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak otomatis membuktikan bahwa overthinking adalah sesuatu yang baik.

Kita tidak sedang menuju ke sana.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu membuat satu hal menjadi lebih sulit untuk diabaikan.

Mungkin selama ini kamu terlalu cepat menyimpulkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena ketika sebuah label sudah menempel terlalu lama, kamu mulai melihat semuanya melalui label tersebut.

Kalau kamu banyak berpikir, berarti kamu lemah.

Kalau kamu banyak khawatir, berarti kamu bermasalah.

Kalau kamu sulit berhenti memikirkan sesuatu, berarti ada yang salah dengan dirimu.

Padahal bisa jadi cerita di baliknya jauh lebih rumit.

Coba bayangkan seseorang yang baru saja membuka usaha kecil.

Setiap malam, tubuhnya sudah berada di rumah.

Tetapi pikirannya belum.

Dia memikirkan pelanggan yang belum dibalas.

Dia memikirkan tagihan bulan depan.

Dia memikirkan stok yang mulai menipis.

Dia memikirkan keputusan-keputusan yang harus diambil minggu depan.

Dari luar, seseorang bisa melihatnya dan berkata:

“Terlalu banyak mikir.”

Dan mungkin secara teknis itu memang benar.

Dia memang terlalu banyak berpikir.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih menarik.

Kenapa dia berpikir sebanyak itu?

Karena dia peduli.

Karena ada sesuatu yang penting baginya.

Karena ada sesuatu yang tidak ingin dia rusak.

Karena ada sesuatu yang sedang dia coba jaga.

Kalau dia benar-benar tidak peduli, hidupnya justru akan jauh lebih sederhana.

Dia bisa mengabaikan semuanya.

Dia bisa menunda semuanya.

Dia bisa membiarkan konsekuensi datang tanpa persiapan.

Tetapi sebagian besar orang tidak hidup seperti itu.

Dan mungkin kamu juga tidak.

Mungkin ada alasan kenapa pikiranmu terus kembali pada hal-hal tertentu.

Bukan karena kamu menikmati kelelahan itu.

Bukan karena kamu sengaja membuat hidupmu lebih sulit.

Tetapi karena ada sesuatu yang kamu anggap penting.

Kadang sesuatu itu adalah pekerjaanmu.

Kadang keluargamu.

Kadang masa depanmu.

Kadang hubunganmu dengan orang lain.

Dan sesuatu yang penting hampir selalu mengundang perhatian.

Masalahnya, perhatian yang sehat dan perhatian yang berlebihan sering terlihat sangat mirip dari luar.

Akibatnya, banyak orang mencampurkan keduanya.

Ada sebuah studi kasus sederhana.

Seorang guru mengembalikan hasil ujian kepada murid-muridnya.

Hari itu berjalan seperti biasa.

Tidak ada masalah besar.

Tetapi malam harinya, pikirannya kembali pada satu murid yang terlihat diam ketika menerima nilainya.

Lalu pertanyaan mulai muncul.

Apakah tadi aku terlalu keras?

Apakah ada kata-kata yang membuatnya malu?

Apakah aku seharusnya menjelaskan dengan cara yang berbeda?

Mungkin kamu pernah mengalami sesuatu yang serupa.

Bukan sebagai guru.

Tetapi sebagai teman.

Sebagai pasangan.

Sebagai orang tua.

Sebagai kakak.

Sebagai seseorang yang peduli.

Kamu mengulang sebuah percakapan.

Bukan karena kamu menikmati mengulangnya.

Melainkan karena kamu takut ada sesuatu yang luput.

Takut ada sesuatu yang menyakiti orang lain tanpa kamu sadari.

Apakah itu melelahkan?

Tentu.

Apakah itu selalu sehat?

Belum tentu.

Tetapi sulit mengatakan bahwa akar utamanya adalah kelemahan.

Karena yang mendorongnya justru kepedulian.

Hal yang sama sering terjadi ketika kamu memiliki standar yang tinggi terhadap dirimu sendiri.

Bukan standar yang dipasang untuk dipuji orang lain.

Bukan standar yang diumumkan ke mana-mana.

Melainkan standar yang diam-diam kamu bawa setiap hari.

Kamu ingin melakukan pekerjaan dengan baik.

Kamu ingin menepati janji.

Kamu ingin menjadi orang yang bisa diandalkan.

Kamu ingin memberikan yang terbaik yang kamu mampu.

Akibatnya, kesalahan kecil sering terasa lebih besar di matamu dibanding di mata orang lain.

Seorang desainer bisa menghabiskan satu jam tambahan hanya untuk memperbaiki detail kecil.

Seorang mahasiswa bisa membaca ulang tugasnya berkali-kali sebelum menekan tombol kirim.

Seorang anak bisa terus memikirkan apakah dia sudah cukup membahagiakan orang tuanya.

Dari luar, semuanya bisa terlihat berlebihan.

Tetapi dari dalam, ada sesuatu yang sedang dijaga.

Ada nilai yang sedang dipertahankan.

Ada standar yang sedang diusahakan.

Tentu saja standar yang terlalu tinggi juga bisa berubah menjadi beban.

Kepedulian yang terlalu besar juga bisa berubah menjadi kelelahan.

Dan kehati-hatian yang berlebihan juga bisa membuatmu sulit bergerak.

Artikel ini tidak sedang menyangkal semua itu.

Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan:

“Kepedulianmu perlu diarahkan.”

dan

“Kepedulianmu membuktikan bahwa ada yang salah dengan dirimu.”

Perbedaan itu mungkin terlihat kecil.

Padahal dampaknya bisa sangat besar.

Karena kalimat pertama mengajakmu memahami.

Sedangkan kalimat kedua mengajakmu menghakimi.

Dan ketika seseorang terus-menerus menghakimi dirinya sendiri, hampir semua pengalaman akan terlihat seperti bukti bahwa dia bermasalah.

Ada satu pola lain yang cukup sering muncul pada orang yang overthinking.

Banyak orang yang overthinking ternyata tidak sedang takut berpikir.

Mereka sedang takut salah.

Takut membuat keputusan yang berdampak buruk.

Takut mengecewakan orang yang mereka sayangi.

Takut menjadi penyebab masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

Dan semakin penting sesuatu bagimu, semakin besar kemungkinan ketakutan itu muncul.

Karena risiko kehilangan juga terasa lebih besar.

Filsuf Denmark, Søren Kierkegaard, pernah menulis bahwa kecemasan adalah harga yang harus dibayar untuk kemungkinan.

Kalimat itu menarik karena mengandung sesuatu yang jarang dibicarakan.

Semakin banyak kemungkinan yang mampu kamu lihat, semakin banyak pula hal yang bisa kamu khawatirkan.

Kalau kamu hanya melihat satu jalan, kamu hanya memikirkan satu konsekuensi.

Tetapi kalau kamu melihat sepuluh jalan sekaligus, kamu juga melihat sepuluh kemungkinan konsekuensi.

Itu tidak otomatis membuat hidupmu lebih baik.

Tetapi juga tidak otomatis membuatmu lebih lemah.

Mungkin karena itu, sebelum menyimpulkan bahwa overthinking adalah kelemahan, ada satu pertanyaan yang layak kamu tanyakan kepada dirimu sendiri.

Ketika pikiranmu terus kembali pada sesuatu, apa yang sebenarnya sedang kamu coba jaga?

Apa yang sebenarnya sedang kamu pedulikan?

Apa yang sebenarnya sedang kamu takut kehilangan?

Karena bisa jadi yang selama ini kamu sebut sebagai kelemahan bukanlah kelemahan sama sekali.

Bisa jadi yang sedang kamu lihat adalah kepedulian, tanggung jawab, dan kehati-hatian yang tumbuh terlalu jauh sampai akhirnya saling melilit satu sama lain.

Dan kalau itu yang terjadi, maka masalahnya bukan sesederhana “berhenti berpikir.”

Masalahnya adalah memahami apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh pikiranmu sejak awal.

Karena kelemahan dan kepedulian yang berlebih adalah dua hal yang berbeda.

Dan mencampurkan keduanya adalah cara yang sangat efisien untuk salah memahami dirimu sendiri.

Pola ini akan dibahas lebih dalam di: “Overthinking dan Rasa Takut Salah”

Overthinking yang Merusak vs Overthinking yang Membaca

Tidak semua pikiran yang berulang sedang melakukan hal yang sama.

Dari luar, semuanya mungkin terlihat serupa.

Kamu terlihat diam.

Kamu terlihat melamun.

Kamu terlihat memikirkan sesuatu terlalu lama.

Lalu orang memberi satu nama untuk semuanya.

Overthinking.

Masalahnya, pikiranmu tidak selalu bergerak dengan cara yang sama.

Ada kalanya pikiranmu memang sedang berputar.

Tetapi ada kalanya pikiranmu sebenarnya sedang mencoba membaca sesuatu.

Dan kalau kedua hal itu dicampur menjadi satu, kamu bisa salah memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirimu.

Overthinking yang merusak biasanya terasa seperti lingkaran.

Kamu memulai dari satu kekhawatiran.

Lalu bergerak ke kekhawatiran berikutnya.

Lalu ke kemungkinan berikutnya.

Lalu ke kemungkinan yang lebih buruk lagi.

Tetapi pada akhirnya, kamu selalu kembali ke tempat yang sama.

Tidak ada pemahaman baru.

Tidak ada sudut pandang baru.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar bertambah selain rasa lelah.

Seperti seseorang yang berlari di atas treadmill.

Tubuhnya bergerak.

Energinya habis.

Tetapi dia tidak pernah benar-benar berpindah tempat.

Fenomena ini sebenarnya punya penjelasan yang cukup menarik — kenapa otak kita justru makin aktif saat mencoba berhenti.

Mungkin kamu pernah mengalami situasi seperti ini.

Suatu malam kamu menerima pesan singkat dari atasanmu.

“Besok pagi kita ngobrol sebentar ya.”

Hanya itu.

Tidak ada tanda marah.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada penjelasan.

Tetapi pikiranmu mulai bekerja.

Apakah aku melakukan kesalahan?

Apakah ada proyek yang gagal?

Apakah aku akan dimarahi?

Apakah pekerjaanku terancam?

Semakin lama kamu memikirkannya, semakin banyak skenario yang muncul.

Tetapi ada satu hal yang tidak berubah.

Kamu tidak mendapatkan informasi baru.

Kamu tidak mendapatkan pemahaman baru.

Kamu hanya mendapatkan lebih banyak kemungkinan buruk.

Keesokan paginya ternyata atasanmu hanya ingin membahas proyek baru.

Dan delapan jam energi yang kamu habiskan semalam tidak benar-benar membawamu ke mana-mana.

Inilah salah satu bentuk overthinking yang merusak.

Ia menghabiskan energi tanpa menghasilkan kejelasan.

Tetapi ada bentuk lain yang sering terlihat sama dari luar.

Misalnya kamu terus memikirkan kenapa setiap kali berada di lingkungan tertentu, kamu merasa tidak nyaman.

Awalnya kamu tidak mengerti.

Kamu hanya tahu ada sesuatu yang mengganjal.

Lalu pikiranmu mulai kembali ke sana berulang kali.

Kamu mulai mengingat percakapan-percakapan lama.

Kamu mulai memperhatikan pola yang sebelumnya tidak terlihat.

Kamu mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang selama ini kamu abaikan.

Dari luar, proses itu mungkin terlihat sama.

Kamu tetap banyak berpikir.

Kamu tetap banyak merenung.

Kamu tetap sulit melepaskan topik tersebut.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Pikiranmu tidak hanya berputar.

Pikiranmu sedang membaca.

Sedang mencoba memahami sesuatu yang belum memiliki bentuk yang jelas.

Sedang mencoba memberi nama pada sesuatu yang selama ini hanya terasa sebagai ketidaknyamanan.

Perbedaannya memang tidak selalu mudah dikenali.

Bahkan sering kali kamu baru menyadarinya setelah beberapa waktu.

Tetapi ada satu petunjuk yang cukup menarik.

Overthinking yang membaca kadang membawamu pada sesuatu.

Sebuah pola.

Sebuah pemahaman.

Sebuah kesadaran yang sebelumnya tidak kamu miliki.

Sedangkan overthinking yang merusak hanya membawamu kembali ke titik awal dengan energi yang lebih sedikit.

Penulis Amerika, Susan Cain, banyak menulis tentang bagaimana refleksi yang mendalam sering disalahpahami dalam budaya yang sangat menghargai kecepatan.

Bukan berarti semua refleksi akan menghasilkan jawaban yang benar.

Bukan berarti semua pemikiran yang panjang pasti bermanfaat.

Tetapi tidak semua proses berpikir yang lama adalah kesalahan.

Kadang ada sesuatu yang memang sedang diproses.

Kadang ada sesuatu yang memang sedang berusaha dipahami.

Masalahnya, label “overthinking adalah kelemahan” tidak pernah membedakan keduanya.

Label itu menyapu semuanya sekaligus.

Pikiran yang sedang berputar dianggap sama dengan pikiran yang sedang membaca.

Pikiran yang sedang terjebak dianggap sama dengan pikiran yang sedang memahami.

Padahal keduanya bisa membawa hasil yang sangat berbeda.

Mungkin karena itu, sebelum kamu memutuskan bahwa pikiranmu terlalu banyak, ada pertanyaan lain yang lebih menarik untuk diajukan.

Ketika pikiranmu terus kembali ke tempat yang sama, apakah ia sedang berputar?

Atau sebenarnya ia sedang mencoba membaca sesuatu yang belum kamu pahami sepenuhnya?

Memahami Berbeda dengan Membenarkan

Sampai di titik ini, mungkin ada satu hal yang perlu ditegaskan kembali.

Artikel ini bukan sedang membela overthinking.

Kalau overthinking membuatmu lelah, itu nyata.

Kalau overthinking membuatmu sulit tidur, itu nyata.

Kalau overthinking membuatmu menunda keputusan yang sebenarnya perlu diambil, itu juga nyata.

Tidak ada yang perlu diperdebatkan.

Artikel ini tidak mencoba mengubah semua itu menjadi sesuatu yang terdengar indah.

Karena memahami sesuatu berbeda dengan membenarkan sesuatu.

Memahami membuatmu melihat lebih jelas.

Membenarkan membuatmu berhenti melihat.

Dan artikel ini mencoba berada di jalur yang pertama.

Kalau setelah membaca sejauh ini kamu masih merasa overthinking-mu melelahkan dan ingin berubah, itu valid.

Keinginan untuk berubah bukan masalah.

Yang menarik untuk diperiksa adalah alasan di balik keinginan itu.

Karena dua orang bisa melakukan perubahan yang sama, tetapi berangkat dari tempat yang sangat berbeda.

Orang pertama ingin berubah karena dia mulai memahami apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Orang kedua ingin berubah karena dia malu terhadap dirinya sendiri.

Dari luar, tindakan mereka mungkin terlihat sama.

Mereka sama-sama membaca buku.

Mereka sama-sama mencari solusi.

Mereka sama-sama mencoba memperbaiki diri.

Tetapi fondasi yang mereka pijak berbeda.

Yang satu dibangun di atas pemahaman.

Yang satu dibangun di atas penolakan.

Dan fondasi yang berbeda biasanya membawa seseorang ke tempat yang berbeda pula.

Kalau kamu berubah karena memahami dirimu, perubahan itu cenderung lebih tenang.

Kamu tidak sedang berperang dengan dirimu sendiri.

Kamu sedang belajar mengenali dirimu.

Tetapi kalau kamu berubah karena malu terhadap dirimu, setiap langkah terasa seperti hukuman.

Karena secara diam-diam kamu masih percaya bahwa ada sesuatu yang salah denganmu.

Sebagian dari pembahasan tentang hal ini ada di dalam artikel “Cara Mengatasi Overthinking”

Karena sesuatu yang belum dipahami sulit untuk diarahkan. Dan mungkin ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar “bagaimana aku bisa berubah?” — yaitu, dari mana energi itu sebenarnya sedang habis.

Kalau kamu ingin berubah karena memahami dirimu, itu fondasi.

Kalau kamu ingin berubah karena malu terhadap dirimu, itu hanya akan menambah satu lapisan beban lagi.

Penutup

Di awal artikel ini, kamu mungkin datang dengan satu pertanyaan yang sangat akrab.

“Kenapa aku terlalu banyak mikir?”

Mungkin pertanyaan itu sudah muncul berkali-kali.

Mungkin bahkan lebih sering daripada yang ingin kamu akui.

Dan selama ini, fokusmu mungkin selalu tertuju pada bagian akhirnya.

“Terlalu banyak.”

Seolah-olah masalahnya sudah jelas.

Seolah-olah vonisnya sudah diputuskan.

Seolah-olah yang perlu dicari hanyalah alasan kenapa kamu berbeda dari orang lain.

Tetapi setelah melihat semua yang kita bahas sejauh ini, mungkin ada pertanyaan lain yang layak mendapat perhatian.

Bukan kenapa kamu terlalu banyak berpikir.

Melainkan siapa yang pertama kali memutuskan bahwa jumlah itu terlalu banyak?

Siapa yang pertama kali mengajarkan bahwa cara kamu memproses dunia adalah sesuatu yang harus dicurigai?

Siapa yang pertama kali membuatmu percaya bahwa banyak berpikir otomatis berarti lemah?

Tidak perlu menjawabnya sekarang.

Karena beberapa pertanyaan memang tidak diciptakan untuk dijawab dengan cepat.

Mereka diciptakan untuk menemani seseorang melihat dirinya dengan cara yang sedikit berbeda.

Overthinking-mu mungkin memang melelahkan.

Mungkin memang perlu diarahkan ulang.

Mungkin memang ada bagian-bagian darinya yang tidak lagi membantumu.

Tetapi semua itu akan jauh lebih mudah dipahami ketika kamu tidak lagi memulainya dari keyakinan bahwa ada sesuatu yang cacat dalam dirimu sejak awal.

Karena ada perbedaan besar antara memperbaiki sesuatu yang kamu pahami…

dan berusaha memperbaiki sesuatu yang sejak awal sudah kamu benci.