Insecure Adalah: Bukan Sekadar Tidak Percaya Diri

Kamu baru saja menyelesaikan sesuatu yang hasilnya cukup baik.

Mungkin kamu berhasil memasak resep baru untuk keluarga. Atau mungkin kamu akhirnya membereskan sudut rumah yang sudah lama berantakan. Ketika seseorang melihat hasilnya, mereka berkata bahwa itu bagus.

Kamu tersenyum. Mengangguk. Mengucapkan terima kasih.

Tapi beberapa menit kemudian, saat semuanya sudah selesai, ada suara kecil yang muncul di dalam kepala.

“Ah, biasa saja.”

“Masih banyak yang kurang.”

“Mereka mungkin cuma ingin membuatku senang.”

Perasaan itu tidak selalu besar. Tidak selalu sampai membuatmu sedih. Kadang ia hanya muncul sebentar lalu menghilang. Tapi kadang juga ia datang berulang kali, bahkan ketika tidak ada masalah yang sedang terjadi.

Kamu mungkin pernah merasakannya.

Ada sesuatu yang terasa tidak beres, tetapi sulit dijelaskan. Bukan marah. Bukan kecewa. Bukan juga takut.

Mungkin, selama ini kamu mengenalnya dengan nama yang berbeda.

Atau mungkin, ini yang sering disebut sebagai insecure.

Insecure Bukan Tentang Apa yang Kamu Miliki atau Tidak Miliki

Ketika mendengar kata insecure, banyak orang langsung membayangkan seseorang yang pemalu, pendiam, atau tidak percaya diri.

Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Ada orang yang terlihat santai saat berbicara dengan banyak orang tetapi terus mempertanyakan setiap kalimat yang baru saja ia ucapkan.

Ada orang yang sering mendapat pujian tetapi diam-diam merasa dirinya tidak cukup baik.

Ada juga yang hidupnya terlihat baik-baik saja dari luar, namun tetap membawa perasaan kurang yang sulit dijelaskan.

Karena itu, insecure artinya bukan sekadar merasa minder.

Insecure adalah perasaan bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang belum cukup, belum tepat, atau belum sebaik yang seharusnya.

Dan yang membuatnya membingungkan, perasaan itu bisa tetap muncul meskipun bukti-bukti di luar mengatakan sebaliknya.

Kadang hidup sedang baik-baik saja.

Tidak ada masalah besar.

Hubungan dengan keluarga berjalan normal. Teman-teman masih ada. Aktivitas sehari-hari juga berjalan seperti biasa.

Namun tetap saja ada bagian kecil dalam diri yang terus bertanya:

“Apa aku sudah cukup?”

Kadang perasaan seperti ini muncul dalam hal-hal yang sangat sederhana.

Ada seseorang mengundang beberapa saudara datang ke rumah.

Sebelum tamu datang, ia membersihkan rumah, menyusun kursi, menyiapkan minuman, dan memastikan semuanya terlihat rapi.

Ketika acara selesai, para tamu pulang dengan senang. Mereka bahkan mengatakan rumahnya nyaman dan menyenangkan.

Tetapi malam harinya, yang terus teringat bukan obrolan yang hangat atau pujian yang diterima.

Yang teringat justru hal-hal kecil.

Kenapa tadi gelas itu tidak langsung dicuci?

Kenapa meja itu sedikit miring?

Kenapa kue yang disajikan tidak sebanyak rumah orang lain?

Tidak ada yang mengkritik.

Tidak ada yang mempermasalahkan.

Tetapi pikirannya tetap mencari sesuatu yang salah.

Bagi sebagian orang, pengalaman seperti ini mungkin terasa akrab.

Bukan karena rumahnya kurang baik.

Bukan karena acaranya gagal.

Melainkan karena standar yang digunakan untuk menilai diri sendiri sering kali jauh lebih keras daripada standar yang digunakan untuk menilai orang lain.

Di titik inilah insecure sering mulai terlihat berbeda dari sekadar kurang percaya diri.

Ia terasa lebih dalam.

Lebih menetap.

Dan sering kali lebih sulit dijelaskan kepada orang lain.

Insecure Kadang Bersembunyi di Balik Hal yang Terlihat Baik-Baik Saja

Ketika membayangkan seseorang yang insecure, kita sering membayangkan seseorang yang terlihat ragu-ragu, pendiam, atau selalu menghindari perhatian.

Padahal insecure tidak selalu muncul dalam bentuk seperti itu.

Kadang ia justru bersembunyi di balik hal-hal yang terlihat baik.

Bahkan terkadang terlihat mengagumkan.

Seseorang bisa tampak sangat rajin. Sangat bertanggung jawab. Selalu siap membantu. Selalu ingin memberikan hasil terbaik.

Orang lain mungkin melihat semua itu sebagai kualitas yang positif.

Dan memang sering kali demikian.

Tetapi bagi sebagian orang, ada pertanyaan lain yang tersembunyi di balik semua usaha itu.

“Aku melakukan ini karena memang ingin melakukannya?”

Atau:

“Aku melakukan ini karena takut dianggap tidak cukup?”

Perbedaannya mungkin tipis dari luar, tetapi terasa sangat berbeda dari dalam.

Kadang seseorang terus memperbaiki pekerjaan yang sebenarnya sudah selesai. Bukan karena hasilnya buruk, melainkan karena ada rasa tidak tenang ketika harus mengatakan, “Ini sudah cukup.”

Kadang seseorang sulit beristirahat bukan karena masih banyak yang harus dilakukan, tetapi karena saat berhenti, muncul perasaan bahwa dirinya belum menghasilkan sesuatu yang layak.

Dalam beberapa situasi, pola ini bahkan bisa hadir bersama rasa takut gagal. Pola yang sering hadir bersama rasa takut gagal pernah kita bahas lebih jauh dalam artikel tentang “prokrastinasi dan rasa takut gagal.”

Mungkin karena itu banyak orang tidak langsung menyadari keberadaan insecure dalam dirinya

Seperti saat kamu sedang mengadakan sebuah makan malam kecil bersama keluarga.

Kamu memasak satu hidangan sederhana. Tidak ada acara khusus. Hanya makan bersama seperti biasa.

Ketika semua orang selesai makan, mereka mengatakan makanannya enak.

Sebagian bahkan menambah porsi.

Secara logis, tidak ada alasan untuk meragukan hasilnya.

Tetapi setelah semuanya selesai, kamu malah sibuk memikirkan hal-hal lain.

Mungkin bumbunya kurang sedikit.

Mungkin seharusnya ada lauk tambahan.

Mungkin orang-orang tadi sebenarnya tidak terlalu suka tetapi hanya sopan.

Lalu minggu berikutnya kamu memasak lagi.

Kali ini lebih banyak.

Lebih lengkap.

Lebih lama.

Bukan karena ada yang meminta.

Bukan karena sebelumnya gagal.

Tetapi karena ada kebutuhan yang sulit dijelaskan untuk membuktikan bahwa hasilmu cukup baik.

Dari luar, itu terlihat seperti kesungguhan.

Dan memang bisa jadi itu adalah kesungguhan.

Tetapi kadang-kadang, di bawahnya ada rasa takut yang lebih sunyi:

“Kalau hasilnya tidak cukup baik, apakah aku juga tidak cukup baik?”

Insecure sering bergerak seperti itu.

Ia tidak selalu membuat seseorang berhenti mencoba.

Kadang justru membuat seseorang terus berlari.

Terus memperbaiki.

Terus membuktikan.

Bukan karena ingin mencapai sesuatu.

Tetapi karena merasa belum boleh berhenti sebelum dirinya terasa cukup.

Yang membuatnya sulit dikenali adalah karena dari luar semuanya tampak baik-baik saja.

Orang lain melihat kerja keras.

Yang dirasakan di dalam adalah keraguan.

Orang lain melihat ketekunan.

Yang dirasakan di dalam adalah ketakutan untuk dianggap kurang.

Karena itulah insecure bukan selalu tentang tidak berani tampil.

Kadang ia justru hadir pada orang yang terlihat paling kuat, paling sibuk, atau paling mampu mengurus banyak hal.

Dan mungkin itu sebabnya banyak orang membawanya bertahun-tahun tanpa pernah menyadari bahwa perasaan itu memiliki nama.

Semua Orang Pernah Insecure. Tapi Ada yang Berbeda.

Perasaan ragu terhadap diri sendiri bukan sesuatu yang aneh.

Hampir semua orang pernah mengalaminya.

Mungkin sebelum mencoba resep baru. Mungkin sebelum bertemu orang yang belum dikenal. Mungkin sebelum melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Dalam banyak situasi, perasaan seperti itu adalah bagian yang wajar dari menjadi manusia.

Kita sedang menghadapi sesuatu yang belum pasti, sehingga muncul sedikit keraguan.

Lalu setelah situasinya berlalu, perasaan itu ikut mereda.

Yang berbeda adalah ketika perasaan tersebut tidak benar-benar pergi.

Ketika tidak ada tantangan besar yang sedang dihadapi, tetapi pikiran tetap menemukan alasan untuk meragukan diri sendiri.

Ketika tidak ada yang mengkritik, tetapi suara kritik tetap terdengar dari dalam.

Ketika tidak ada yang menuntut kesempurnaan, tetapi kamu tetap merasa harus mencapainya.

Salah satu hal yang membuat insecure sulit dikenali adalah karena ia sering muncul dalam aktivitas sehari-hari.

Kamu mungkin pernah suatu hari mengirim pesan kepada seorang teman.

Obrolannya berjalan biasa saja.

Tidak ada konflik.

Tidak ada tanda-tanda masalah.

Tetapi setelah pesan terkirim, kamu mulai memikirkannya lagi.

“Tadi kalimatku aneh nggak ya?”

“Jangan-jangan dia tersinggung.”

“Harusnya aku nggak bilang begitu.”

Beberapa jam kemudian, temanmu membalas seperti biasa.

Ramah.

Santai.

Tidak ada masalah apa pun.

Tetapi ketenangan itu hanya bertahan sebentar.

Lain kali, pola yang sama muncul lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Bukan karena setiap percakapan memang bermasalah.

Melainkan karena keraguan itu sudah mulai menjadi kebiasaan yang mengikuti hampir setiap situasi.

Mungkin inilah salah satu perbedaan yang penting untuk diperhatikan.

Bukan seberapa sering kamu merasa ragu.

Tetapi apakah keraguan itu hanya datang sebagai tamu, atau sudah mulai terasa seperti penghuni tetap.

Karena ketika insecure menjadi pola, ia perlahan berhenti terasa seperti sesuatu yang kamu alami.

Ia mulai terasa seperti sesuatu yang kamu anggap sebagai dirimu sendiri.

Bukan lagi:

“Aku sedang merasa kurang yakin hari ini.”

Melainkan:

“Memang aku orangnya seperti ini.”

Dan sering kali perubahan itu terjadi begitu pelan sampai hampir tidak terasa.

Mengenali insecure bukan berarti kamu sekarang harus segera memperbaikinya.

Kadang, menamai sesuatu sudah cukup untuk membuatnya terlihat lebih jelas.

Perasaan yang selama ini terasa samar mulai memiliki bentuk. Pengalaman yang selama ini terasa membingungkan mulai memiliki nama.

Dan mungkin, itu alasan mengapa memahami bahwa insecure adalah sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar tidak percaya diri bisa menjadi awal yang penting.

Kalau setelah membaca ini kamu mulai bertanya-tanya dari mana perasaan tersebut datang, pembahasan berikutnya mungkin lebih relevan untuk dilihat. Karena sering kali ini bukan soal karakter yang lemah, melainkan tentang pola yang terbentuk jauh sebelum kita menyadarinya.

Atau kalau kamu ingin melihat gambaran lengkap insecure dari berbagai sudut, kamu bisa mulai dari Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup terlebih dahulu.