Kenapa Otak Melakukan Ini Secara Otomatis
Ada malam-malam yang sebenarnya berjalan biasa saja.
Tidak ada masalah besar. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada kabar buruk.
Kamu hanya berbaring sebentar sebelum tidur sambil membuka media sosial seperti biasanya. Jempol bergerak dari satu postingan ke postingan berikutnya tanpa tujuan khusus. Beberapa foto makanan. Beberapa video lucu. Beberapa cerita yang bahkan terlupakan beberapa detik kemudian.
Lalu muncul satu unggahan.
Mungkin seorang teman lama yang sedang berlibur. Mungkin seseorang yang baru membeli rumah. Mungkin seseorang yang mengumumkan sesuatu yang membanggakan.
Tidak ada yang aneh dari unggahan itu.
Tidak ada yang menyerangmu.
Tidak ada yang mengatakan hidupmu buruk.
Tapi setelah telepon diletakkan, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sulit menjelaskan bagian mana yang berubah. Hanya saja suasana hati yang tadi netral perlahan menjadi lebih berat. Seolah-olah ada sesuatu yang kurang, meskipun beberapa menit sebelumnya perasaan itu tidak ada.
Kadang perasaan serupa muncul di tempat lain.
Saat menghadiri reuni sekolah.
Saat membaca kabar seseorang di grup WhatsApp.
Saat melihat teman sebaya menjalani hidup yang terlihat lebih teratur.
Anehnya, tidak ada yang benar-benar menyakitimu dalam momen itu. Tidak ada komentar yang merendahkan. Tidak ada perlakuan buruk.
Namun tetap saja ada semacam penghitungan diam-diam yang berjalan di dalam kepala.
Tanpa suara.
Tanpa izin.
Dan sering kali tanpa disadari.
Ini Bukan Kelemahan Karakter
Ketika perasaan itu muncul, banyak orang langsung mencari kesalahan pada dirinya sendiri.
Mungkin aku kurang bersyukur.
Mungkin aku terlalu iri.
Mungkin aku terlalu memikirkan hidup orang lain.
Penjelasan seperti itu terdengar masuk akal karena sederhana. Tetapi ada kalanya penjelasan yang terlalu sederhana justru membuat seseorang semakin keras pada dirinya sendiri.
Karena semakin sering perasaan itu muncul, semakin sering pula ia merasa gagal menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Padahal ada kemungkinan lain yang jarang dibicarakan.
Membandingkan diri dengan orang lain bukanlah kebiasaan yang dimiliki segelintir orang. Itu adalah sesuatu yang dilakukan hampir semua orang, hanya dengan tingkat kesadaran yang berbeda-beda.
Sering kali prosesnya bahkan terjadi begitu cepat sampai sulit dikenali.
Misalnya suatu sore kamu sedang menunggu antrean di kasir minimarket.
Sambil menunggu, kamu membuka media sosial selama beberapa menit. Tidak ada tujuan khusus. Hanya mengisi waktu.
Lalu muncul foto seseorang yang sedang menikmati akhir pekan di tempat yang terlihat menyenangkan.
Beberapa detik kemudian muncul orang lain yang baru membeli sesuatu yang selama ini ingin kamu miliki.
Kemudian seseorang yang tampak lebih bugar.
Seseorang yang tampak lebih produktif.
Seseorang yang tampak lebih bahagia.
Kamu menutup aplikasi itu setelah dua atau tiga menit.
Tetapi ketika keluar dari minimarket, suasana hati terasa sedikit berbeda dari saat masuk.
Bukan karena hidupmu berubah dalam tiga menit.
Bukan karena tiba-tiba semua masalah baru muncul.
Melainkan karena selama beberapa menit itu otak sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat alami: mengukur posisi.
Bertahun-tahun sebelum ada internet, manusia juga melakukan hal yang sama.
Orang-orang memperhatikan tetangga.
Memperhatikan kerabat.
Memperhatikan kelompok sosial di sekitarnya.
Sebagian besar dilakukan untuk memahami posisi mereka di dalam lingkungan tempat mereka hidup.
Yang berubah di zaman sekarang bukanlah keberadaan mekanisme itu.
Yang berubah adalah seberapa sering mekanisme itu aktif.
Dulu seseorang mungkin membandingkan dirinya dengan puluhan orang yang ia kenal.
Sekarang seseorang bisa melihat ratusan bahkan ribuan kehidupan dalam satu hari tanpa meninggalkan tempat duduknya.
Otak yang sama masih bekerja dengan cara yang sama.
Tetapi bahan bakar yang masuk ke dalamnya menjadi jauh lebih banyak.
Perbandingan sosial sebenarnya hanya salah satu dari banyak faktor yang bisa memicu rasa tidak aman terhadap diri sendiri.
Pada tulisan sebelumnya tentang penyebab insecure, kita sudah sempat menyinggung bagaimana melihat pencapaian orang lain dapat menjadi salah satu pemicunya. Di tulisan ini, kita akan melihat lebih dekat mengapa mekanisme itu bisa bekerja begitu otomatis.
Dan mungkin itu sebabnya perasaan tidak cukup terasa lebih mudah muncul dibandingkan sebelumnya.
Kadang seseorang mengira dirinya sedang menilai hidup orang lain.
Padahal yang sebenarnya sedang terjadi adalah ia sedang diam-diam menilai dirinya sendiri melalui hidup orang lain.
Dan proses itu sering berlangsung begitu cepat sampai hampir terasa otomatis.
Paradoks Upward Comparison: Semakin Maju, Semakin Banyak Orang di Depan
Ada asumsi yang terdengar masuk akal ketika seseorang sedang merasa tertinggal.
Kalau nanti aku mencapai itu, mungkin perasaan ini akan hilang.
Kalau nanti penghasilanku naik.
Kalau nanti tubuhku lebih ideal.
Kalau nanti pekerjaanku lebih baik.
Kalau nanti hidupku lebih tertata.
Mungkin setelah itu aku akan berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Asumsi ini terdengar logis karena kita cenderung menganggap sumber masalahnya adalah jarak antara posisi sekarang dan posisi yang ingin dicapai.
Seolah-olah rasa kurang muncul karena kita belum sampai di sana.
Tetapi ada satu hal menarik yang sering tidak terlihat.
Ketika seseorang bergerak maju, titik pembandingnya sering ikut bergerak maju.
Tanpa disadari.
Tanpa direncanakan.
Dan kadang tanpa pernah dipertanyakan.
Bayangkan suatu pagi kamu sedang membuat secangkir kopi sebelum mulai bekerja.
Sambil menunggu air mendidih, kamu membuka media sosial sebentar.
Beberapa bulan lalu mungkin kamu sering merasa tertinggal karena melihat teman-teman yang sudah memiliki pekerjaan tetap sementara kamu masih mencari arah.
Lalu waktu berjalan.
Beberapa hal membaik.
Pekerjaan mulai lebih stabil.
Rutinitas mulai terbentuk.
Penghasilan mulai lebih teratur.
Hal-hal yang dulu menjadi sumber kecemasan perlahan mulai teratasi.
Namun anehnya, rasa kurang itu tidak benar-benar menghilang.
Hanya bentuknya yang berubah.
Sekarang yang muncul bukan lagi perbandingan dengan teman yang sudah bekerja.
Sekarang mungkin yang terlihat adalah orang yang memiliki posisi lebih tinggi.
Atau orang yang bekerja di perusahaan yang lebih besar.
Atau orang yang tampak memiliki lebih banyak kebebasan dalam hidupnya.
Patokannya bergeser.
Dan sering kali pergeseran itu terjadi begitu halus sampai hampir tidak terasa.
Yang dulu terlihat jauh kini terasa biasa.
Yang dulu terasa istimewa kini menjadi standar baru.
Lalu perhatian bergerak lagi ke sesuatu yang lebih tinggi.
Dan begitu seterusnya.
Mungkin karena itu banyak orang terkejut ketika bertemu seseorang yang secara objektif sudah mencapai banyak hal tetapi tetap merasa dirinya belum cukup.
Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja.
Namun di dalam kepalanya, penghitungan itu masih berjalan.
Karena ukuran yang dipakai juga sudah berubah.
Ada kalanya seseorang menghabiskan bertahun-tahun mengejar satu target tertentu.
Lalu ketika target itu tercapai, ia menikmati perasaan puas hanya sebentar.
Bukan karena pencapaiannya tidak berarti.
Melainkan karena otaknya sudah menemukan patokan baru untuk dibandingkan.
Seolah-olah garis finis yang selama ini terlihat jelas tiba-tiba bergeser beberapa meter ke depan tepat ketika ia hampir menyentuhnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam pekerjaan atau pencapaian besar.
Kadang ia muncul dalam hal-hal yang jauh lebih sederhana.
Mungkin kamu pernah memutuskan untuk lebih rutin berolahraga.
Awalnya targetnya sederhana.
Tidak mudah lelah saat naik tangga.
Tubuh terasa lebih segar.
Tidur lebih nyenyak.
Setelah beberapa bulan, perubahan mulai terasa.
Napas lebih panjang.
Gerakan lebih ringan.
Tubuh terasa lebih kuat.
Kalau dibandingkan dengan dirimu beberapa bulan sebelumnya, sebenarnya sudah ada banyak kemajuan.
Tetapi pada saat yang sama, algoritma media sosial mulai memperlihatkan orang-orang yang jauh lebih atletis.
Tubuh yang lebih ideal.
Latihan yang lebih berat.
Hasil yang lebih mencolok.
Tiba-tiba perhatian berpindah dari perjalanan yang sudah ditempuh menuju jarak yang masih tersisa.
Bukan karena tubuhmu memburuk.
Bukan karena usahamu sia-sia.
Tetapi karena titik referensinya kembali berubah.
Dan ketika titik referensi berubah, perasaan yang muncul ikut berubah.
Inilah salah satu paradoks yang membuat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain terasa sulit dipuaskan.
Banyak hal di hidup memang bisa berkembang.
Kemampuan bisa berkembang.
Pengetahuan bisa berkembang.
Keuangan bisa berkembang.
Pengalaman bisa berkembang.
Tetapi jika mekanisme perbandingannya tetap sama, maka perkembangan itu tidak selalu diikuti oleh berkurangnya perasaan kurang.
Kadang yang bertambah bukan hanya pencapaian.
Kadang lingkaran pembandingnya ikut bertambah.
Dan semakin luas lingkaran itu, semakin banyak pula orang yang terlihat berada beberapa langkah di depan.
Mungkin itu sebabnya ada orang yang terus berlari tetapi tetap merasa belum sampai.
Bukan karena ia tidak bergerak.
Bukan karena ia tidak berkembang.
Melainkan karena setiap kali bergerak maju, ia juga memindahkan garis ukur yang digunakan untuk menilai dirinya sendiri.
Perasaan kurang yang muncul setelah melihat orang lain sering bukan berasal dari posisi kita saat ini.
Kadang ia berasal dari patokan yang diam-diam terus bergerak tanpa pernah kita sadari.
Dan selama patokan itu terus bergeser, ada kemungkinan rasa tidak cukup akan selalu menemukan cara baru untuk muncul, bahkan di tempat-tempat yang sebelumnya kita kira akan menjadi akhir dari perjalanan.
Membandingkan Hasil dan Membandingkan Proses
Ada hal lain yang membuat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain terasa begitu melelahkan.
Sering kali yang dibandingkan bukanlah kehidupan yang utuh.
Yang dibandingkan hanya potongan akhirnya.
Hasilnya.
Sementara proses yang mengantarkan seseorang ke sana hampir tidak pernah terlihat.
Mungkin karena hasil memang jauh lebih mudah dilihat.
Jabatan bisa dilihat.
Rumah bisa dilihat.
Bentuk tubuh bisa dilihat.
Jumlah pengikut bisa dilihat.
Foto liburan bisa dilihat.
Tetapi proses yang terjadi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun jauh lebih sulit terlihat dari luar.
Dan karena itulah kesimpulan yang lahir dari perbandingan sering kali terasa begitu meyakinkan sekaligus tidak lengkap.
Misalnya suatu malam kamu sedang mencari ide resep sederhana untuk makan malam.
Lalu tanpa sengaja melihat video seseorang yang tampak sangat teratur menjalani hidupnya.
Dapurnya rapi.
Makanannya terlihat sehat.
Olahraganya rutin.
Rumahnya bersih.
Aktivitasnya produktif.
Dalam waktu satu menit, hidup orang itu terlihat begitu tertata.
Sementara pada saat yang sama kamu sedang berdiri di dapur sambil memikirkan apakah piring kotor akan dicuci malam ini atau besok pagi.
Perbandingan langsung terjadi.
Tetapi ada sesuatu yang menarik.
Kamu membandingkan seluruh hidupmu dengan satu potongan kecil dari hidup orang lain.
Kamu mengetahui kelelahanmu.
Mengetahui kekhawatiranmu.
Mengetahui hari-hari ketika motivasimu turun.
Mengetahui kesalahan-kesalahan yang pernah kamu buat.
Tetapi tentang orang yang sedang dilihat itu, kamu hanya mengetahui bagian yang berhasil sampai ke layar.
Tidak lebih.
Namun otak sering memperlakukan kedua informasi itu seolah-olah setara.
Dan mungkin karena itulah hasil perbandingannya terasa begitu berat.
Ada kalanya seseorang melihat hasil akhir lalu menganggap hasil itu muncul secara alami.
Seolah-olah semuanya berjalan mulus.
Seolah-olah tidak ada bagian yang berantakan.
Seolah-olah tidak ada masa-masa ragu.
Padahal sebagian besar proses pertumbuhan memang tidak terlihat menarik ketika sedang berlangsung.
Belajar sesuatu yang baru sering membosankan.
Membangun kebiasaan baru sering berulang.
Memperbaiki diri sering terasa lambat.
Tetapi bagian-bagian itulah yang jarang muncul ketika seseorang menceritakan hidupnya kepada dunia.
Yang muncul biasanya adalah hasil akhirnya.
Dan hasil akhir selalu terlihat lebih sederhana daripada perjalanan yang mengantarkannya.
Mungkin karena itu ada perbedaan besar antara melihat seseorang sebagai ukuran dan melihat seseorang sebagai referensi.
Ketika seseorang dijadikan ukuran, perhatian biasanya tertuju pada jarak.
Seberapa jauh dirinya.
Seberapa jauh dirimu.
Seberapa besar selisih di antara keduanya.
Tetapi ketika seseorang dilihat sebagai referensi, perhatian mulai bergeser ke arah lain.
Bukan lagi hanya pada posisi akhirnya.
Melainkan pada perjalanan yang membentuk posisi itu.
Apa yang ia pelajari.
Apa yang ia latih.
Apa yang ia ulang berkali-kali.
Apa yang ia korbankan.
Dan bagian mana yang selama ini tidak terlihat dari luar.
Perbedaannya mungkin tampak kecil.
Tetapi pengalaman emosional yang muncul sering sangat berbeda.
Karena ketika hanya hasil yang terlihat, seseorang mudah merasa tertinggal.
Sedangkan ketika proses mulai terlihat, gambarnya menjadi lebih utuh.
Tidak selalu lebih nyaman.
Tetapi lebih utuh.
Dan kadang keutuhan itulah yang selama ini hilang dari banyak perbandingan yang terjadi di dalam kepala.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa media sosial begitu mudah memicu rasa tidak cukup.
Bukan karena semua yang ada di sana palsu.
Bukan juga karena semua orang sedang berpura-pura bahagia.
Melainkan karena sebagian besar platform memang dirancang untuk menampilkan momen-momen yang paling layak ditunjukkan.
Yang terlihat adalah hasil yang sudah dipilih.
Yang tidak terlihat adalah ribuan momen biasa yang terjadi di belakangnya.
Sama seperti sebuah foto yang hanya menangkap satu detik dari satu hari.
Tetapi otak kadang memperlakukannya seolah-olah itu adalah gambaran lengkap dari seluruh kehidupan seseorang.
Dan ketika gambaran yang tidak lengkap itu dijadikan alat ukur, kesimpulan yang lahir juga sering tidak lengkap.
Mungkin itu sebabnya seseorang bisa merasa hidupnya kurang hanya karena beberapa menit melihat kehidupan orang lain.
Bukan karena hidupnya benar-benar memburuk dalam beberapa menit tersebut.
Tetapi karena ia sedang membandingkan sesuatu yang utuh dengan sesuatu yang hanya terlihat utuh.
Perbandingan itu terjadi begitu cepat sehingga sering terasa seperti kenyataan.
Padahal yang dibandingkan sebenarnya bukan dua perjalanan.
Melainkan satu perjalanan yang lengkap dengan satu hasil yang sudah dipilih untuk ditampilkan.
Dan mungkin di situlah sebagian dari rasa berat itu mulai terbentuk.
Ketika Perasaan Kurang Itu Muncul, Siapa yang Sedang Menjadi Patokan?
Mungkin menarik untuk kembali ke momen di awal tulisan ini.
Momen yang sebenarnya sangat biasa.
Berbaring sebelum tidur.
Membuka media sosial beberapa menit.
Melihat kabar seseorang.
Lalu menutup telepon dengan perasaan yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Karena setelah melihat bagaimana kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain bekerja, ada satu pertanyaan yang mungkin mulai muncul.
Mengapa orang itu?
Mengapa postingan itu?
Mengapa kabar itu yang terasa mengganggu, sementara puluhan postingan lain lewat begitu saja?
Karena jika diperhatikan lebih dekat, tidak semua orang memicu perasaan yang sama.
Ada orang yang kehidupannya jauh lebih baik menurut ukuran tertentu, tetapi tidak menimbulkan apa-apa.
Ada orang yang bahkan tidak terlalu dekat dengan kita, tetapi unggahannya bisa bertahan di kepala selama berjam-jam.
Ada sesuatu yang membuat sebagian orang menjadi patokan, sementara sebagian lainnya tidak.
Dan sering kali proses itu terjadi di luar kesadaran.
Mungkin karena orang tersebut mewakili sesuatu yang diam-diam kita anggap penting.
Mungkin karena ia memiliki sesuatu yang sedang kita kejar.
Mungkin karena hidupnya terlihat seperti jawaban dari pertanyaan yang sedang kita hadapi.
Atau mungkin karena tanpa sadar kita telah menjadikan hal tertentu sebagai ukuran nilai diri.
Karena pada akhirnya, membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya tentang orang lain.
Sering kali ia juga bercerita tentang diri kita sendiri.
Tentang apa yang kita kagumi.
Tentang apa yang kita takutkan.
Tentang apa yang kita rasa kurang.
Tentang apa yang kita anggap penting.
Itulah sebabnya dua orang bisa melihat unggahan yang sama tetapi mengalami perasaan yang berbeda.
Seseorang melihat foto perjalanan dan merasa biasa saja.
Orang lain melihat foto yang sama lalu merasa hidupnya tertinggal.
Seseorang membaca kabar promosi jabatan dan ikut senang.
Orang lain membaca kabar yang sama lalu merasa gelisah sepanjang hari.
Bukan karena peristiwanya berbeda.
Melainkan karena makna yang menempel pada peristiwa itu berbeda.
Kadang hal tersebut terlihat dalam situasi yang sangat sederhana.
Misalnya kamu sedang menunggu pesanan makanan datang.
Sambil menunggu, kamu membuka grup keluarga atau grup pertemanan lama.
Di sana ada seseorang yang membagikan kabar bahwa ia baru saja mencapai sesuatu yang membanggakan.
Tidak ada yang salah dengan kabar itu.
Kamu bahkan ikut mengucapkan selamat.
Tetapi setelahnya pikiran terus kembali ke sana.
Berulang kali.
Padahal pada hari yang sama mungkin ada puluhan informasi lain yang kamu baca dan langsung terlupakan.
Mengapa yang satu ini bertahan lebih lama?
Mengapa yang satu ini terasa lebih dekat?
Mengapa yang satu ini terasa lebih personal?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.
Tetapi kadang justru di situlah sesuatu yang menarik mulai terlihat.
Bahwa rasa tidak cukup yang muncul setelah melihat orang lain mungkin tidak selalu berbicara tentang orang itu.
Kadang ia sedang berbicara tentang standar yang diam-diam hidup di dalam kepala kita sendiri.
Standar yang mungkin sudah ada sejak lama.
Standar yang mungkin jarang dipertanyakan.
Standar yang mungkin perlahan membentuk cara kita melihat diri sendiri.
Dan selama standar itu tetap berada di sana, otak akan terus mencari bahan untuk mengukurnya.
Kadang melalui media sosial.
Kadang melalui teman lama.
Kadang melalui rekan kerja.
Kadang melalui orang asing yang bahkan tidak pernah kita temui.
Mungkin karena itulah perasaan kurang tidak selalu hilang ketika satu pembanding menghilang.
Ketika satu orang keluar dari kehidupan kita, orang lain bisa menggantikannya.
Ketika satu target tercapai, target lain bisa muncul.
Ketika satu ukuran terpenuhi, ukuran lain bisa mengambil tempatnya.
Penghitungan itu terus berjalan.
Hanya angka dan orang-orangnya yang berubah.
Lalu ketika suatu malam kamu kembali membuka media sosial, atau suatu hari menghadiri reuni yang penuh cerita tentang kehidupan masing-masing, mungkin ada satu hal yang bisa diamati.
Bukan tentang siapa yang lebih jauh.
Bukan tentang siapa yang lebih berhasil.
Bukan tentang siapa yang lebih bahagia.
Tetapi tentang siapa yang tiba-tiba menjadi patokan di dalam kepala.
Dan mengapa orang itu yang muncul, bukan orang lain.
Karena mungkin jawaban dari pertanyaan itu menceritakan lebih banyak tentang dirimu daripada tentang orang yang sedang kamu lihat.
Ada sesuatu yang menarik dari perasaan itu: semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin besar kebutuhannya untuk mendapat konfirmasi dari luar bahwa dirinya cukup. Itulah yang akan dibahas pada tulisan berikutnya: Insecure dan Validasi.
Jika kamu ingin melihat gambaran yang lebih utuh tentang topik ini, kamu juga bisa membaca artikel Cara Mengatasi Insecure atau mengikuti pembahasan keseluruhan di artikel Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup