Kamu sudah mencoba.
Sudah mencoba lebih bersyukur.
Sudah mencoba berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Sudah mencoba mengingat hal-hal baik yang pernah kamu capai.
Bahkan mungkin pernah meyakinkan diri sendiri bahwa semua orang punya kekurangan masing-masing.
Tapi tetap saja ada momen-momen tertentu ketika perasaan itu muncul lagi.
Saat melihat seseorang yang terlihat lebih berhasil.
Saat berada di tengah orang-orang yang tampak lebih percaya diri.
Atau saat menyadari bahwa apa yang sudah kamu capai ternyata belum membuatmu merasa setenang yang kamu bayangkan sebelumnya.
Perasaan itu mungkin tidak selalu hadir setiap hari. Kadang ia menghilang untuk sementara. Namun entah kenapa, ia seperti selalu menemukan jalan untuk kembali.
Karena itu, setelah cukup lama mencoba mengatasinya, pertanyaannya sering berubah.
Bukan lagi bagaimana cara menghilangkannya.
Melainkan kenapa perasaan ini terus muncul.
Kenapa merasa insecure bisa bertahan begitu lama meskipun kamu sudah berusaha melakukan banyak hal untuk mengatasinya.
Jawabannya mungkin tidak berada pada kurangnya usaha.
Mungkin jawabannya berada pada sesuatu yang bekerja lebih dalam dari yang selama ini terlihat.
Otak Kamu Membandingkan Tanpa Kamu Minta
Salah satu penyebab insecure yang paling sering tidak disadari adalah kenyataan bahwa otak manusia memang suka membandingkan.
Bukan karena manusia buruk.
Bukan karena manusia iri.
Melainkan karena sejak lama otak menggunakan perbandingan untuk memahami posisi dirinya di dalam lingkungan.
Apakah aku aman?
Apakah aku tertinggal?
Apakah aku sudah cukup baik?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul tanpa perlu diundang.
Masalahnya, proses ini sering berjalan otomatis.
Kamu tidak perlu sengaja memutuskan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kadang otak melakukannya bahkan sebelum kamu menyadarinya.
Saat menghadiri reuni sekolah misalnya.
Awalnya kamu hanya ingin bertemu teman-teman lama.
Kamu mengobrol, tertawa, dan mengenang masa lalu bersama.
Lalu seseorang bercerita tentang pekerjaannya yang sekarang. Teman lain baru membeli rumah. Ada yang baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutan. Ada juga yang terlihat jauh lebih percaya diri dibandingkan dulu.
Kamu mungkin tetap tersenyum dan menikmati obrolan itu.
Namun ketika pulang ke rumah, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak ada.
“Aku sudah sejauh apa?”
“Apa aku tertinggal?”
“Apa yang sudah kulakukan selama ini cukup?”
Tidak ada yang memaksamu berpikir seperti itu.
Tidak ada yang secara langsung merendahkanmu.
Tetapi perbandingan itu tetap terjadi.
Sering kali begitu halus sampai terasa seperti kesimpulan yang objektif.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah otak sedang mencoba mengukur posisi dirinya dengan menggunakan orang lain sebagai patokan.
Di sinilah masalah berikutnya muncul.
Kita jarang memiliki informasi yang lengkap.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat prosesnya.
Kita melihat pencapaian seseorang, tetapi tidak melihat ketakutan, kegagalan, atau keraguan yang mereka alami di belakang layar.
Akhirnya tanpa sadar kita membandingkan bagian dalam diri kita dengan bagian luar orang lain.
Dan perbandingan seperti itu hampir selalu terasa tidak seimbang.
Karena itulah banyak orang merasa ada sesuatu yang kurang pada dirinya, padahal yang mereka lihat sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari kehidupan orang lain.
Pola ini memiliki lapisan yang jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Dan kebiasaan membandingkan yang jarang disadari ini akan dibahas lebih jauh pada artikel berikutnya
Semakin Kamu Mencapai, Semakin Jauh Rasanya Garis Itu
Ada satu hal yang sering membuat banyak orang bingung ketika mencoba memahami penyebab insecure.
Mereka mengira perasaan ini muncul karena belum mencapai sesuatu.
Karena belum cukup sukses.
Belum cukup pintar.
Belum cukup mapan.
Belum cukup menarik.
Logikanya terdengar masuk akal.
Kalau penyebabnya adalah kekurangan, maka ketika kekurangan itu berhasil diperbaiki, perasaan insecure seharusnya ikut berkurang.
Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Ada orang yang penghasilannya naik, tetapi tetap merasa tertinggal.
Ada yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang dulu sangat diinginkan, tetapi masih merasa dirinya kurang.
Ada yang berhasil menurunkan berat badan, tetapi tetap tidak puas ketika bercermin.
Ada juga yang terus mengumpulkan pencapaian, tetapi rasa tidak cukup di dalam dirinya tetap bertahan.
Di titik ini, masalahnya sering kali bukan lagi tentang apa yang berhasil dicapai.
Masalahnya ada pada sesuatu yang bergerak diam-diam di belakang pencapaian tersebut.
Yaitu standar internal.
Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka tidak hanya mengejar tujuan.
Mereka juga terus memindahkan tujuan itu.
Awalnya mungkin kamu berpikir:
“Kalau nanti aku sudah mendapat pekerjaan tetap, aku akan lebih tenang.”
Lalu pekerjaan itu berhasil didapatkan.
Rasanya menyenangkan.
Beberapa minggu kemudian, pikiran mulai bergeser.
“Kalau gajiku lebih besar, mungkin aku akan lebih tenang.”
Ketika penghasilan meningkat, muncul lagi target berikutnya.
“Kalau nanti aku punya rumah sendiri.”
Lalu setelah itu:
“Kalau tabunganku sudah sekian.”
Kemudian:
“Kalau bisnisku sudah mencapai angka tertentu.”
Dan seterusnya.
Bukan berarti target-target itu salah.
Bukan berarti ambisi adalah masalah.
Yang menarik adalah bagaimana garis finish itu sering berpindah setiap kali kita mendekatinya.
Seolah-olah ada suara kecil yang terus berkata:
“Ya, itu bagus. Tapi belum cukup.”
Karena itulah sebagian orang merasa seperti berlari di atas treadmill.
Mereka bergerak.
Mereka berkembang.
Mereka bahkan mencapai lebih banyak hal dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Tetapi secara emosional mereka merasa masih berada di tempat yang sama.
Rasa tidak cukup itu tetap ada.
Bahkan kadang terasa lebih kuat.
Hal ini sering terlihat dalam situasi yang sangat sederhana.
Misalnya saat kamu dan beberapa teman kantor memulai pekerjaan di waktu yang hampir bersamaan.
Pada tahun pertama, kamu merasa cukup puas karena berhasil beradaptasi dengan lingkungan kerja.
Lalu salah satu teman mendapatkan promosi.
Kamu mulai berpikir bahwa target berikutnya adalah posisi yang sama.
Beberapa tahun kemudian, kamu berhasil mendapatkannya.
Tetapi saat itu terjadi, teman yang dulu menjadi patokan ternyata sudah naik ke posisi berikutnya.
Tiba-tiba pencapaian yang sebelumnya terlihat besar menjadi terasa biasa.
Kemudian kamu mulai mengejar target baru lagi.
Beberapa waktu berlalu, ada teman lain yang membeli rumah.
Target kembali bergeser.
Lalu ada yang membuka usaha sampingan.
Target bergeser lagi.
Tidak ada titik di mana kamu benar-benar berhenti dan berkata:
“Aku sudah sampai.”
Karena definisi “sampai” itu sendiri terus berubah.
Yang membuat pola ini sulit dikenali adalah karena dari luar semuanya terlihat positif.
Orang lain melihat seseorang yang berkembang.
Yang rajin belajar.
Yang terus memperbaiki diri.
Yang tidak mudah puas.
Padahal di dalam dirinya bisa saja ada kelelahan yang tidak terlihat.
Kelelahan karena selalu merasa harus mengejar versi dirinya yang berikutnya.
Kelelahan karena setiap pencapaian hanya memberikan rasa lega yang sangat singkat.
Kelelahan karena garis yang dikejar tidak pernah benar-benar diam.
Ketika pola ini berlangsung lama, seseorang bisa mulai percaya bahwa masalahnya ada pada dirinya.
Ia menganggap dirinya kurang bersyukur.
Kurang menikmati hidup.
Atau terlalu banyak mengeluh.
Padahal yang sedang terjadi mungkin jauh lebih sederhana.
Standar yang digunakan untuk menilai diri sendiri terus bergerak.
Akibatnya, rasa cukup selalu berada sedikit lebih jauh di depan.
Bukan karena kamu tidak pernah maju.
Tetapi karena ukuran yang digunakan untuk menilai kemajuan itu terus berubah tanpa disadari.
Dan selama ukuran itu terus bergerak, rasa insecure bisa tetap muncul meskipun hidupmu sebenarnya sudah berubah jauh dibandingkan sebelumnya.
Ketika Siapa Kamu Terasa Bergantung pada Apa yang Kamu Buktikan
Ada penyebab insecure lain yang sering bekerja lebih dalam dibandingkan yang terlihat di permukaan.
Bukan tentang siapa yang lebih unggul.
Bukan tentang pencapaian yang belum tercapai.
Bukan juga tentang standar yang terus bergerak.
Melainkan tentang sesuatu yang lebih mendasar.
Tentang bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.
Karena ada perbedaan antara menginginkan sesuatu dan membutuhkan sesuatu untuk merasa layak.
Kamu bisa menginginkan nilai yang bagus tanpa menjadikan nilai itu sebagai ukuran harga dirimu.
Kamu bisa menginginkan karier yang baik tanpa menjadikan jabatan sebagai bukti bahwa dirimu berharga.
Kamu bisa menginginkan pengakuan tanpa menggantungkan seluruh nilai dirimu pada pengakuan tersebut.
Masalahnya, batas di antara keduanya sering kali tidak terlihat jelas.
Banyak orang tidak pernah secara sadar berkata:
“Aku hanya berharga kalau berhasil.”
Namun cara mereka menilai diri sendiri sering bergerak ke arah sana.
Akibatnya, ketika hasil berjalan sesuai harapan, mereka merasa baik-baik saja.
Tetapi ketika hasil itu goyah, rasa aman ikut goyah.
Ketika pujian datang, mereka merasa lebih percaya diri.
Ketika kritik datang, mereka mulai meragukan dirinya sendiri.
Ketika berhasil, mereka merasa layak.
Ketika gagal, mereka mulai mempertanyakan siapa dirinya.
Pada titik itu, masalahnya bukan lagi tentang apa yang terjadi.
Masalahnya adalah apa arti kejadian tersebut bagi identitas diri.
Misalnya saat kamu masih sekolah atau kuliah.
Ada masa ketika kamu dikenal sebagai salah satu siswa atau mahasiswa yang nilainya cukup baik.
Kamu terbiasa mendapatkan hasil yang memuaskan.
Guru menghargaimu.
Teman-teman menganggapmu pintar.
Lama-kelamaan tanpa sadar, nilai yang baik bukan lagi sekadar hasil belajar.
Nilai yang baik mulai menjadi bagian dari cara kamu melihat dirimu sendiri.
Kemudian suatu hari kamu mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan.
Mungkin hanya satu ujian.
Mungkin hanya satu mata kuliah.
Mungkin hanya satu semester yang tidak berjalan seperti biasanya.
Secara objektif, itu hanyalah satu hasil di antara banyak hasil lainnya.
Tetapi perasaan yang muncul jauh lebih besar daripada situasinya.
Bukan karena angka itu sendiri.
Melainkan karena angka tersebut terasa seperti mengatakan sesuatu tentang dirimu.
Seolah-olah satu kegagalan kecil tiba-tiba berubah menjadi bukti bahwa kamu tidak sebaik yang selama ini kamu kira.
Padahal yang berubah sebenarnya hanyalah hasil.
Bukan nilai dirimu sebagai manusia.
Pola seperti ini tidak selalu terlihat dari luar.
Bahkan sering kali tersembunyi di balik orang-orang yang terlihat kompeten, rajin, dan bertanggung jawab.
Karena dari luar mereka tampak percaya diri.
Tetapi di dalam dirinya ada ketegangan yang terus bekerja.
Ketegangan untuk membuktikan.
Ketegangan untuk mempertahankan citra tertentu.
Ketegangan untuk memastikan bahwa dirinya tetap layak di mata orang lain maupun di matanya sendiri.
Seperti yang dibahas sebelumnya dalam artikel tentang insecure, ini merupakan salah satu bentuk insecure yang tidak mudah terlihat dari luar.
Karena yang terlihat bukan keraguan.
Yang terlihat justru usaha yang terus-menerus.
Namun di balik usaha tersebut sering ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab.
“Kalau semua ini hilang, apakah aku masih cukup?”
Dan selama nilai diri terus bergantung pada bukti-bukti di luar diri, pertanyaan itu akan selalu memiliki ruang untuk muncul kembali.
Memahami Bukan Berarti Selesai
Memahami penyebab insecure tidak otomatis membuat perasaan itu menghilang.
Perbandingan sosial tidak langsung berhenti bekerja. Standar internal tidak langsung diam di tempat. Dan cara kita menilai diri sendiri tidak berubah hanya karena berhasil mengenali polanya.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda ketika kamu mulai melihat semua itu sebagai pola yang terbentuk, bukan sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirimu.
Karena selama ini mungkin kamu mengira penyebab insecure adalah kurangnya usaha.
Padahal bisa jadi usaha itu tidak pernah menjadi masalah utamanya.
Bisa jadi yang bekerja selama ini adalah cara otak membandingkan, cara standar terus bergeser, dan cara nilai diri diam-diam ditempelkan pada hal-hal yang berada di luar diri.
Salah satu pola yang paling sering muncul, sekaligus paling jarang disadari, adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Dan sering kali, lapisan terdalam dari kebiasaan itu tidak terlihat sampai kamu mulai memperhatikannya dengan lebih dekat.
Karena itu, pembahasan berikutnya akan masuk lebih jauh ke kebiasaan membandingkan yang jarang disadari dan mengapa perbandingan sosial sering terasa jauh lebih kuat daripada yang kita kira. Kalau kamu ingin melihat gambaran keseluruhan insecure dari berbagai sudut, kamu juga bisa memulainya dari artikel : Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup yang membahas topik ini secara lebih utuh.