Prokrastinasi dan Rasa Takut Gagal

Pernah ada pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu sulit, tetapi entah mengapa terus kamu tunda?

Bukan karena kamu tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan juga karena kamu tidak punya waktu.

Mungkin hanya rak kecil yang sudah lama ingin kamu rapikan. Mungkin tumpukan pakaian yang harus dilipat. Mungkin kandang kucing yang perlu dibersihkan.

Pekerjaan-pekerjaan yang, kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tapi hari berlalu.

Besok datang.

Lalu besoknya lagi.

Dan pekerjaan itu masih ada di tempat yang sama.

Yang membuat situasi seperti ini membingungkan adalah satu hal: kamu tahu kamu mampu melakukannya.

Kalau seseorang bertanya apakah pekerjaan itu terlalu sulit, mungkin kamu akan menjawab tidak.

Kalau seseorang bertanya apakah kamu tahu caranya, mungkin kamu juga akan menjawab tahu.

Jadi apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Selama ini, prokrastinasi sering dianggap sebagai masalah disiplin atau kemalasan. Padahal, kalau kamu melihat lebih dekat, sering kali ada sesuatu yang jauh lebih rumit di bawahnya.

Ada kalanya yang membuat seseorang menunda bukan karena tugasnya terlalu berat.

Tetapi karena ada pertanyaan lain yang diam-diam ikut muncul bersamaan dengan tugas itu.

Pertanyaan yang jarang diucapkan dengan keras.

Kalau aku benar-benar mencoba, lalu hasilnya tidak cukup baik, bagaimana?

Kalau aku sudah mengeluarkan usaha dan ternyata gagal, bagaimana?

Kalau selama ini aku mengira aku mampu, lalu kenyataannya tidak seperti yang kubayangkan, bagaimana?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering muncul begitu pelan sampai hampir tidak terdengar. Yang terlihat di permukaan hanyalah penundaan.

Kamu merasa sedang menghindari pekerjaan.

Padahal mungkin ada hal lain yang sebenarnya sedang kamu hindari.

Ketika Tidak Mencoba Terasa Lebih Aman

Ada logika yang menarik di balik banyak penundaan.

Logika ini jarang disadari karena terdengar tidak masuk akal pada awalnya.

Tetapi semakin diperhatikan, semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama kamu belum mencoba, kemungkinan masih terbuka ke mana-mana.

Selama rak itu belum dirapikan, kamu masih bisa membayangkan bahwa kamu akan melakukannya dengan baik.

Selama buku itu belum mulai dibaca, kamu masih bisa membayangkan bahwa suatu hari nanti kamu akan menyelesaikannya.

Selama langkah pertama belum diambil, semua potensi masih terasa utuh.

Belum ada yang membuktikan bahwa hasilnya akan mengecewakan.

Belum ada yang membuktikan bahwa usahamu mungkin tidak cukup.

Belum ada yang membuktikan bahwa gambaran tentang dirimu selama ini perlu diubah.

Namun begitu kamu mulai mencoba, situasinya berubah.

Sekarang ada kemungkinan untuk berhasil.

Tapi bersamaan dengan itu, ada kemungkinan untuk gagal.

Dan bagi banyak orang, kemungkinan gagal sering terasa jauh lebih nyata daripada kemungkinan berhasil.

Karena kegagalan tidak hanya menyentuh tugas yang sedang dikerjakan.

Kadang kegagalan terasa seperti menyentuh sesuatu yang lebih pribadi.

Sesuatu tentang diri sendiri.

Tentang kemampuan.

Tentang nilai diri.

Tentang cerita yang selama ini kamu percayai mengenai siapa dirimu.

Mungkin karena itulah ada tugas-tugas tertentu yang justru paling sering ditunda.

Bukan tugas yang tidak penting.

Justru sebaliknya.

Tugas yang paling dekat dengan sesuatu yang kamu pedulikan.

Tugas yang hasilnya terasa berarti.

Tugas yang, kalau tidak berjalan sesuai harapan, terasa seperti mengatakan sesuatu tentang dirimu.

Kalau dipikirkan sebentar, pernahkah kamu menunda sesuatu bukan karena tidak tahu cara melakukannya, tetapi justru karena terlalu tahu betapa pentingnya hasilnya bagi dirimu?

Karena selama belum mencoba, ada satu hal yang masih bisa dipertahankan.

Harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan terkadang, harapan itu terasa lebih aman daripada kenyataan yang belum tentu sesuai dengan bayanganmu.

Bukan Takut Gagalnya, Tapi Apa yang Kamu Takutkan Setelahnya

Ketika seseorang berkata bahwa ia takut gagal, biasanya cerita berhenti di sana.

Seolah-olah rasa takut itu sudah cukup menjelaskan semuanya.

Padahal kalau diperhatikan lebih dekat, kegagalan itu sendiri sering kali bukan bagian yang paling menakutkan.

Yang lebih menakutkan adalah apa yang kamu bayangkan akan terjadi setelahnya.

Bayangkan ada sebuah meja kecil di rumah yang sudah lama ingin kamu rapikan.

Mungkin sebenarnya itu bukan tentang meja.

Mungkin yang membuatmu terus melewatinya bukan karena pekerjaan itu berat.

Tetapi karena ada suara kecil yang berkata, “Kalau bahkan hal sederhana seperti ini tidak bisa kuselesaikan, apa artinya itu tentang diriku?”

Terkadang rasa takut tidak berhenti pada hasil.

Rasa takut bergerak lebih jauh.

Masuk ke cara kamu memandang dirimu sendiri.

Karena itu, banyak kegagalan terasa jauh lebih besar daripada ukuran kejadian yang sebenarnya.

Bukan karena tugasnya besar.

Tetapi karena makna yang diberikan kepadanya.

Ada orang yang melihat satu kegagalan sebagai satu kejadian.

Lalu ada orang yang melihat satu kegagalan sebagai bukti.

Bukti bahwa ia tidak cukup mampu.

Bukti bahwa ia tidak sebaik yang dibayangkannya.

Bukti bahwa selama ini ia mungkin terlalu percaya diri terhadap dirinya sendiri.

Dan ketika kegagalan mulai terasa seperti bukti, bukan sekadar pengalaman, ketakutannya menjadi jauh lebih sulit dihadapi.

Mungkin itu sebabnya beberapa pekerjaan terasa sangat berat untuk dimulai.

Bukan karena pekerjaannya sulit.

Tetapi karena hasilnya terasa seperti sedang menguji sesuatu yang lebih besar daripada pekerjaan itu sendiri.

Sedang menguji siapa dirimu.

Sedang menguji apakah kamu benar-benar mampu.

Sedang menguji apakah gambaran yang selama ini kamu pegang tentang dirimu masih bisa dipertahankan.

Lalu ada lapisan lain yang sering tidak disadari.

Banyak orang berpikir mereka takut kehilangan penilaian orang lain.

Dan memang kadang itu benar.

Kita tidak selalu nyaman ketika hasil yang kita harapkan ternyata tidak terjadi.

Kita tidak selalu nyaman ketika usaha kita terlihat oleh orang lain lalu berakhir biasa saja.

Tetapi kalau diperhatikan lebih jujur, sering kali yang paling sulit bukan kehilangan respek dari orang lain.

Melainkan kehilangan respek dari diri sendiri.

Karena orang lain mungkin hanya melihat hasil akhirnya.

Sementara kamu melihat seluruh cerita di baliknya.

Kamu tahu berapa banyak harapan yang kamu letakkan di sana.

Kamu tahu berapa lama kamu memikirkannya.

Kamu tahu betapa pentingnya hal itu bagimu.

Dan justru karena itulah kegagalan terasa begitu pribadi.

Pada tahun 1978, psikolog Edward Covington mulai meneliti hubungan antara harga diri dan pencapaian. Salah satu hal yang ia temukan adalah bahwa banyak orang berusaha melindungi perasaan berharga dalam dirinya ketika menghadapi kemungkinan gagal.

Menariknya, perlindungan itu tidak selalu terlihat seperti usaha yang lebih keras.

Kadang perlindungan itu justru muncul dalam bentuk penundaan.

Karena selama seseorang belum benar-benar mencoba, selalu ada ruang untuk berkata bahwa hasil buruk itu terjadi karena ia belum serius, belum fokus, atau belum benar-benar mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Potensi tetap terasa aman.

Gambaran diri tetap terasa utuh.

Mungkin terdengar aneh.

Tetapi bagi sebagian orang, ada sesuatu yang terasa lebih menyakitkan daripada gagal.

Yaitu sudah berusaha sebaik mungkin, lalu tetap gagal.

Karena saat itu tidak ada lagi alasan yang bisa digunakan untuk menjaga jarak antara hasil dan identitas diri.

Tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang sangat sunyi.

Kalau aku sudah memberikan yang terbaik yang kumiliki, dan hasilnya tetap tidak sesuai harapan, lalu apa yang harus kupikirkan tentang diriku sendiri?

Mungkin pertanyaan itulah yang selama ini membuat beberapa langkah terasa begitu berat.

Bukan karena kamu takut pada kegagalan.

Tetapi karena kamu takut pada cerita yang mungkin akan kamu katakan kepada dirimu sendiri setelah kegagalan itu terjadi.

Prokrastinasi sebagai Perlindungan Diri

Kalau kamu pernah membaca tentang penyebab prokrastinasi, mungkin kamu pernah menemukan berbagai penjelasan tentang kebiasaan menunda.

Sebagian menjelaskan tentang kebiasaan.

Sebagian menjelaskan tentang emosi.

Sebagian lagi menjelaskan tentang cara otak merespons tekanan.

Tetapi ada satu sudut pandang yang sering membuat banyak hal terasa lebih masuk akal.

Bagaimana kalau prokrastinasi bukan sekadar kelemahan karakter?

Bagaimana kalau prokrastinasi adalah bentuk perlindungan?

Otak manusia tidak hanya bekerja untuk membantu kita mencapai tujuan.

Ia juga bekerja untuk melindungi kita dari rasa sakit.

Dan kegagalan, bagi banyak orang, memang terasa menyakitkan.

Bukan luka fisik.

Bukan sesuatu yang bisa dilihat.

Tetapi rasa tidak nyaman yang muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang kita simpan tentang diri sendiri.

Kalau dilihat dari sudut ini, penundaan mulai terlihat sedikit berbeda.

Kamu tidak sedang melawan tugas.

Kamu mungkin sedang berusaha menjaga jarak dari sesuatu yang terasa mengancam.

Semakin besar makna sebuah tugas, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa takut.

Itulah sebabnya terkadang pekerjaan yang paling penting justru menjadi pekerjaan yang paling lama ditunda.

Bukan karena kamu tidak peduli.

Justru karena kamu terlalu peduli.

Bukan karena tugas itu tidak berarti.

Justru karena tugas itu terasa berarti.

Dan dalam jangka pendek, perlindungan ini memang bekerja.

Selama belum mencoba, tidak ada kegagalan yang harus dihadapi.

Selama belum mulai, tidak ada hasil yang bisa mengecewakan.

Selama belum melangkah, tidak ada kenyataan yang perlu diterima.

Tetapi seperti banyak bentuk perlindungan lainnya, ada harga yang harus dibayar.

Rak yang ingin dirapikan tetap berantakan.

Pesan yang ingin dibalas tetap tidak terkirim.

Buku yang ingin dibaca tetap tertutup.

Hari demi hari berlalu.

Lalu perlahan muncul sesuatu yang lain.

Rasa bersalah.

Rasa kesal pada diri sendiri.

Rasa lelah karena terus memikirkan hal yang sama tanpa benar-benar bergerak mendekatinya.

Ironisnya, kadang rasa sakit yang muncul karena terus menunda justru bertahan lebih lama daripada kegagalan yang sejak awal sedang dihindari.

Dan mungkin itulah bagian yang jarang terlihat ketika seseorang hanya menyebut dirinya malas.

Yang terjadi sering kali jauh lebih rumit daripada itu.

Apa yang Sebenarnya Sedang Dilindungi?

Pada titik ini, mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah kamu takut gagal.

Mungkin pertanyaannya adalah sesuatu yang sedikit berbeda.

Apa yang sebenarnya sedang kamu lindungi?

Karena sering kali yang dilindungi bukan tugasnya.

Bukan rak yang berantakan.

Bukan buku yang belum dibaca.

Bukan pekerjaan yang belum dimulai.

Yang dilindungi adalah sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Gambaran tentang diri sendiri.

Cerita yang selama ini kamu pegang tentang siapa dirimu.

Tentang seberapa mampu kamu.

Tentang apa yang bisa kamu lakukan.

Tentang apa yang ingin kamu percayai mengenai dirimu sendiri.

Dan ketika sebuah tugas terasa memiliki kemampuan untuk menggoyahkan cerita itu, menunda bisa terasa lebih aman daripada menghadapi kemungkinan bahwa cerita tersebut perlu berubah.

Mungkin karena itulah rasa takut gagal sering terasa begitu pribadi.

Karena yang dipertaruhkan tidak selalu hasilnya.

Kadang yang dipertaruhkan adalah cara kamu melihat dirimu sendiri setelah hasil itu muncul.

Kalau begitu, mungkin ada satu pertanyaan yang layak duduk bersamamu beberapa saat.

Kalau kamu tidak pernah mencoba, siapa yang sebenarnya sedang kamu lindungi?

Penutup

Memahami hal ini tidak otomatis membuat ketakutan itu hilang.

Memberi nama pada rasa takut tidak selalu membuatnya pergi.

Tetapi ada perbedaan antara hidup bersama sesuatu yang tidak terlihat dan hidup bersama sesuatu yang mulai bisa kamu kenali.

Ada perbedaan antara terus menghindar tanpa tahu apa yang sedang dihindari, dan menyadari bahwa mungkin selama ini yang kamu lindungi bukan tugasnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Kalau sebelumnya kamu pernah membaca tentang apa itu prokrastinasi, tentang mengapa seseorang menunda, atau tentang hubungan antara perfeksionisme dan kebiasaan menunda, mungkin kamu mulai melihat bahwa semuanya saling terhubung dalam gambaran yang lebih besar tentang prokrastinasi secara keseluruhan.

Dan kalau suatu hari nanti kamu ingin memahami lebih jauh tentang cara mengatasi prokrastinasi, mungkin perjalanan itu tidak dimulai dari mengatur waktu atau membuat daftar tugas.

Mungkin perjalanan itu dimulai dari keberanian untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirimu.

Kalau pola yang kamu temukan dalam artikel ini terasa akrab dan kamu ingin memahaminya lebih dalam bersama seseorang yang memang terlatih untuk itu, layanan seperti Riliv atau Sejiwa menyediakan ruang untuk percakapan semacam itu.

Untuk saat ini, mungkin tidak ada yang perlu diselesaikan.

Tidak ada yang perlu dibuktikan.

Hanya satu pertanyaan yang mungkin layak menemanimu setelah halaman ini ditutup.

Kalau kegagalan tidak pernah mengatakan apa pun tentang nilai dirimu sebagai manusia, apakah masih ada alasan yang sama untuk terus menundanya?