Mungkin kamu pernah mengalami momen seperti ini.
Ada sesuatu yang perlu dikerjakan. Tidak mendadak. Tidak rumit. Bahkan mungkin sebenarnya tidak terlalu sulit.
Tapi entah kenapa, kamu tidak mulai.
Kamu tahu tugas itu ada.
Kamu tahu semakin lama ditunda, semakin berat rasanya.
Kamu juga tahu suatu saat nanti kamu tetap harus mengerjakannya.
Namun tetap saja, ada jarak aneh antara mengetahui dan melakukan.
Lalu hari berganti.
Tugas itu masih ada.
Dan pertanyaan yang perlahan muncul bukan lagi tentang tugasnya.
Melainkan tentang dirimu sendiri.
“Kenapa aku selalu begini?”
Jika sebelumnya kamu pernah membaca tentang apa itu prokrastinasi, mungkin kamu sudah mengenali polanya. Kamu tahu bahwa menunda bukan sekadar kebiasaan sesekali. Ada sesuatu yang berulang di sana.
Namun mengenali bahwa kamu sering menunda masih menyisakan satu pertanyaan yang lebih penting.
Apa sebenarnya yang kamu hindari saat menunda?
Banyak orang mengira jawabannya sederhana.
Kurang disiplin.
Kurang rajin.
Kurang motivasi.
Tapi semakin lama kamu memperhatikan dirimu sendiri, semakin sulit penjelasan itu terasa cukup.
Karena ada hari-hari ketika kamu bisa bekerja berjam-jam tanpa masalah.
Ada hari ketika kamu mampu menyelesaikan banyak hal dengan fokus yang bahkan membuatmu sendiri terkejut.
Jika masalahnya benar-benar kemalasan, bukankah itu seharusnya terjadi setiap saat?
Mungkin ada sesuatu yang belum terlihat.
Mungkin penyebab prokrastinasi bukan berada di tempat yang selama ini kamu cari.
Untuk memahami itu, kita perlu melihat prokrastinasi dari sudut yang sedikit berbeda.
Jika kamu mencari penjelasan tentang kenapa orang menunda, sebagian besar jawaban akan mengarah pada manajemen waktu.
Belajar membuat jadwal.
Belajar membuat prioritas.
Belajar lebih disiplin.
Semua itu memang berguna.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan.
Jika masalahnya hanya jadwal, mengapa kamu bisa menunda tugas yang sebenarnya sudah jelas kapan harus dikerjakan?
Mengapa kamu bisa menunda sesuatu yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, lalu menghabiskan dua jam melakukan hal lain yang tidak terlalu penting?
Di sinilah sesuatu yang menarik mulai terlihat.
Sering kali yang kamu hindari bukan tugasnya.
Yang kamu hindari adalah perasaan yang muncul saat berhadapan dengan tugas itu.
Perasaan bingung.
Perasaan tidak yakin.
Perasaan bahwa kamu tidak tahu harus mulai dari mana.
Perasaan bahwa hasilnya mungkin tidak akan cukup baik.
Perasaan-perasaan itu biasanya muncul sangat cepat.
Begitu cepat sampai kamu bahkan tidak menyadarinya.
Yang kamu sadari hanya satu hal:
Tiba-tiba ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang lain.
Dan keinginan itu terasa masuk akal.
Mengecek pesan sebentar.
Merapikan meja.
Membuat kopi.
Membuka media sosial beberapa menit.
Apa saja selain memulai.
Seolah-olah otakmu sedang menarikmu menjauh dari sesuatu.
Padahal mungkin yang sedang dijauhi bukan pekerjaannya.
Melainkan rasa tidak nyaman yang datang bersamanya.
Saat Menunda Menjadi Cara Menghindari Perasaan yang Tidak Nyaman
Bayangkan suatu pagi kamu membuka laptop untuk mengerjakan laporan penting.
Kursor berkedip di layar.
Halaman kosong terbuka di depanmu.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada gangguan.
Tidak ada keadaan darurat.
Namun beberapa menit kemudian kamu mendapati dirimu sedang membaca berita yang bahkan tidak terlalu menarik.
Atau menonton video yang sebenarnya tidak sedang ingin kamu tonton.
Atau merapikan folder yang tidak mendesak untuk dirapikan.
Jika dilihat dari luar, itu tampak seperti gangguan fokus.
Tetapi jika dilihat lebih dekat, sering kali ada sesuatu yang terjadi beberapa detik sebelumnya.
Sebuah rasa kecil yang tidak nyaman.
Mungkin kamu tidak yakin bagaimana menyusun laporan itu.
Mungkin kamu khawatir hasilnya tidak sesuai harapan.
Mungkin ada bagian yang terasa terlalu rumit.
Rasa itu muncul sesaat.
Dan otakmu segera mencari jalan keluar.
Bukan karena kamu lemah.
Bukan karena kamu malas.
Melainkan karena otak manusia memang cenderung menjauh dari hal-hal yang terasa tidak nyaman.
Menunda sering kali menjadi jalan keluar tercepat.
Ada sebuah penelitian psikologi yang menemukan bahwa orang lebih mungkin menunda ketika sebuah tugas memunculkan emosi negatif seperti kecemasan, frustrasi, atau keraguan terhadap diri sendiri.
Menariknya, yang membuat mereka menunda bukan tingkat kesulitan tugasnya.
Melainkan perasaan yang muncul ketika memikirkan tugas itu.
Karena itu, kadang-kadang kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang berat dengan mudah.
Namun menunda pekerjaan yang sebenarnya jauh lebih sederhana.
Bukan karena tugasnya berbeda.
Tetapi karena perasaan yang ditimbulkannya berbeda.
Peribahasa lama mengatakan:
“Tak kenal maka tak sayang.”
Biasanya peribahasa ini dipakai untuk hubungan antar manusia.
Tetapi kadang ia juga berlaku untuk dirimu sendiri.
Semakin sedikit kamu mengenali apa yang sebenarnya kamu rasakan saat menunda, semakin mudah kamu percaya bahwa masalahnya hanyalah kemalasan.
Padahal mungkin selama ini ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bekerja diam-diam.
Kadang-kadang, semakin lama kamu memperhatikan kebiasaan menundamu, semakin terlihat sesuatu yang aneh.
Tugas yang sama tidak selalu terasa sama.
Ada hari ketika kamu bisa menyelesaikannya tanpa banyak berpikir.
Ada hari lain ketika tugas itu terasa seperti tembok besar yang sulit didekati.
Padahal tugasnya tidak berubah.
Yang berubah adalah sesuatu yang terjadi di dalam dirimu.
Masalahnya Bukan di Tugas, Tapi di Perasaan Tentang Tugas
Coba ingat kembali beberapa tugas yang pernah lama kamu tunda.
Mungkin sebuah proposal.
Mungkin laporan.
Mungkin pesan penting yang harus kamu kirim.
Mungkin keputusan yang sudah lama menunggu untuk dibuat.
Jika dilihat dari luar, semuanya hanyalah pekerjaan yang perlu diselesaikan.
Tetapi jika kamu melihat lebih dekat, mungkin ada sesuatu yang lain.
Perasaan yang muncul saat berhadapan dengan tugas itu.
Karena sering kali yang membuat sebuah tugas terasa berat bukan ukuran tugasnya.
Melainkan makna yang diam-diam kamu berikan padanya.
Ada tugas yang terasa seperti ujian.
Ada tugas yang terasa seperti penilaian terhadap kemampuanmu.
Ada tugas yang terasa seperti kesempatan yang tidak boleh gagal.
Dan begitu makna-makna itu menempel, tugas yang tadinya biasa saja mulai terasa berbeda.
Aku teringat kisah seorang pemilik usaha kecil yang sudah berbulan-bulan ingin menaikkan harga produknya.
Secara logika, keputusannya cukup jelas.
Biaya produksi naik.
Keuntungan mulai menipis.
Pelanggan tetap stabil.
Semua angka menunjukkan bahwa kenaikan harga memang perlu dilakukan.
Tetapi setiap kali ia membuka draft pengumuman harga baru, ia menundanya lagi.
Berhari-hari.
Berminggu-minggu.
Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.
Yang membuatnya menunda bukan keputusan menaikkan harga.
Yang membuatnya menunda adalah perasaan yang muncul ketika membayangkan pelanggan kecewa.
Membayangkan ada orang yang berhenti membeli.
Membayangkan dirinya dianggap tidak layak.
Begitu ia melihat itu dengan lebih jujur, penundaan yang selama ini tampak misterius mulai masuk akal.
Karena ternyata yang selama ini terasa berat bukan pekerjaannya.
Melainkan beban emosional yang ikut dibawa pekerjaan itu.
Mungkin kamu juga pernah mengalaminya dalam bentuk yang berbeda.
Kamu ingin memulai sebuah proyek.
Tetapi ada suara kecil yang bertanya:
“Kalau hasilnya jelek bagaimana?”
Kamu ingin mengirim lamaran.
Tetapi ada bagian dari dirimu yang berbisik:
“Kalau ditolak bagaimana?”
Kamu ingin memulai sesuatu yang baru.
Tetapi muncul pertanyaan lain:
“Kalau ternyata aku tidak cukup mampu bagaimana?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul begitu cepat sampai terasa seperti bagian alami dari pikiran.
Padahal sering kali justru di sanalah akar penundaannya.
Menariknya, ada penelitian yang pernah meminta orang-orang mencatat apa yang mereka rasakan ketika menunda pekerjaan penting.
Hasilnya cukup sederhana.
Kebanyakan dari mereka tidak sedang memikirkan tugasnya.
Mereka sedang memikirkan diri mereka sendiri.
Apakah mereka cukup mampu.
Apakah hasilnya cukup baik.
Apakah mereka akan gagal.
Semakin besar keraguan itu, semakin besar dorongan untuk menjauh sementara waktu.
Dan mungkin itu menjelaskan sesuatu yang pernah membuatmu bingung.
Mengapa ada hari ketika tugas yang sama terasa ringan.
Lalu di hari lain terasa begitu berat.
Karena yang berubah sering kali bukan pekerjaannya.
Yang berubah adalah kondisi batin yang membawamu menemui pekerjaan itu.
Ada sebuah kalimat dari penulis Amerika, Anaïs Nin, yang berbunyi:
> “We don’t see things as they are, we see them as we are.”
Kita tidak selalu melihat sesuatu sebagaimana adanya.
Kita melihatnya sebagaimana kondisi diri kita saat itu.
Dan mungkin hal yang sama terjadi pada banyak tugas yang kamu tunda.
Tugas itu tidak berubah.
Tetapi ketika kamu sedang lelah, ragu, cemas, atau sedang mempertanyakan dirimu sendiri, tugas yang sama bisa terasa jauh lebih besar daripada ukuran aslinya.
Karena itu, kadang-kadang prokrastinasi bukan cerita tentang pekerjaan yang belum selesai.
Ia adalah cerita tentang perasaan yang belum sempat dilihat.
Dan selama perasaan itu tetap berada di balik layar, penundaan akan terus terlihat seperti teka-teki yang sulit dijelaskan.
Ada satu bentuk prokrastinasi yang paling sulit dikenali.
Bukan karena jarang terjadi.
Justru karena terlalu sering terjadi sampai terasa normal.
Kamu mungkin pernah mengucapkan kalimat-kalimat seperti ini kepada diri sendiri.
“Nanti malam saja kalau suasana sudah lebih tenang.”
“Besok saja kalau pikiranku lebih segar.”
“Tunggu pekerjaan yang lain selesai dulu.”
“Kalau sudah lebih siap, baru mulai.”
Semua kalimat itu terdengar masuk akal.
Dan memang sering kali masuk akal.
Karena itu, pola ini jauh lebih sulit dilihat dibanding sekadar menunda karena malas atau tidak tertarik.
Menunggu Kondisi yang Tepat (Yang Tidak Pernah Benar-Benar Datang)
Ada sesuatu yang menarik tentang cara manusia memandang masa depan.
Kita sering membayangkan bahwa versi diri kita di masa depan akan memiliki kondisi yang lebih baik daripada hari ini.
Lebih fokus.
Lebih siap.
Lebih berani.
Lebih termotivasi.
Karena itu, menunggu terasa logis.
Kita tidak merasa sedang menghindar.
Kita merasa sedang memilih waktu yang lebih tepat.
Masalahnya, waktu yang lebih tepat itu sering bergerak menjauh setiap kali kita mendekatinya.
Hari ini menunggu besok.
Besok menunggu minggu depan.
Minggu depan menunggu setelah pekerjaan lain selesai.
Dan tanpa sadar, yang berpindah bukan hanya jadwalnya.
Perasaan tidak nyaman itu ikut berpindah bersama kita.
Karena apa yang sebenarnya kita tunggu?
Jika diperhatikan lebih pelan, sering kali yang ditunggu bukan waktu.
Yang ditunggu adalah hilangnya keraguan.
Hilangnya kecemasan.
Hilangnya rasa tidak yakin.
Hilangnya kemungkinan gagal.
Padahal perasaan-perasaan itu jarang menghilang hanya karena waktu berlalu.
Mereka sering tetap ada.
Menunggu di tempat yang sama.
Ada sebuah eksperimen psikologi yang pernah mengamati bagaimana orang membuat keputusan ketika dihadapkan pada tugas yang memicu ketidaknyamanan.
Yang menarik, banyak peserta memilih menunda bukan karena tugasnya terlalu sulit.
Mereka menunda karena percaya bahwa versi diri mereka di masa depan akan lebih siap menghadapinya.
Namun ketika masa depan itu akhirnya datang, mereka merasakan hal yang hampir sama.
Seolah-olah mereka sedang menyerahkan tugas itu kepada seseorang yang sebenarnya tidak pernah datang.
Dan mungkin kamu pernah berada di titik itu.
Sebuah tugas terus berpindah dari hari ke hari.
Dari minggu ke minggu.
Bukan karena kamu melupakannya.
Justru karena kamu terus mengingatnya.
Ia hadir di belakang pikiranmu setiap hari.
Seperti buku yang belum selesai dibaca.
Seperti pesan yang belum dibalas.
Seperti keputusan yang belum dibuat.
Semakin lama ditunda, semakin besar bayangannya.
Semakin besar bayangannya, semakin berat rasanya untuk mulai.
Lalu lingkaran itu berulang lagi.
Ada sebuah peribahasa lama yang mengatakan:
> “Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau.”
Biasanya peribahasa itu dipakai untuk membandingkan kehidupan orang lain.
Tetapi kadang-kadang ia juga berlaku pada waktu.
Hari esok selalu terlihat lebih siap daripada hari ini.
Minggu depan selalu terlihat lebih tenang daripada minggu ini.
Versi dirimu di masa depan selalu terlihat lebih mampu daripada dirimu yang sekarang.
Padahal ketika masa depan itu tiba, kamu tetap bertemu dengan dirimu sendiri.
Dengan keraguan yang sama.
Dengan kecemasan yang sama.
Dengan pertanyaan yang sama.
Mungkin karena itu, banyak penyebab prokrastinasi akhirnya kembali ke tempat yang sama.
Bukan pada tugasnya.
Bukan pada jadwalnya.
Bukan pada daftar pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tetapi pada hubunganmu dengan perasaan-perasaan yang muncul ketika berhadapan dengan semua itu.
Dan mungkin di titik ini, pertanyaannya bukan lagi:
“Mengapa aku terus menunda?”
Pertanyaannya mulai berubah menjadi:
“Perasaan apa yang sebenarnya paling sering muncul sebelum aku menunda?”
Karena tidak semua orang menunda untuk alasan yang sama.
Pada sebagian orang, yang muncul adalah dorongan untuk membuat semuanya sempurna sebelum berani mulai.
Standar yang terus bergerak.
Ekspektasi yang terus naik.
Perasaan bahwa hasil pertama tidak boleh biasa saja.
Hubungan antara prokrastinasi dan perfeksionisme sering kali jauh lebih erat daripada yang terlihat di permukaan.
Pada orang lain, yang muncul adalah ketakutan yang lebih sunyi.
Takut salah.
Takut ditolak.
Takut gagal.
Takut menemukan bahwa kemampuan yang selama ini diyakini ternyata tidak sebesar yang dibayangkan.
Dan sering kali hubungan antara prokrastinasi dan rasa takut gagal bekerja diam-diam tanpa disadari selama bertahun-tahun.
Begitu diam sampai terlihat seperti kemalasan.
Padahal yang terjadi jauh lebih rumit dari itu.
Jika setelah membaca sampai di sini kamu mulai melihat pola yang berulang dalam dirimu, mungkin perjalananmu belum selesai.
Mungkin yang sedang kamu lihat baru permukaannya.
Kalau kamu ingin melihat semua bagian ini dalam satu peta yang lebih utuh, gambaran lengkapnya ada di sini.
Karena di balik prokrastinasi, sering tersembunyi hubungan yang erat antara penundaan dan perfeksionisme.
Dan pada banyak orang lain, ada hubungan yang sama kuat antara penundaan dan rasa takut gagal.
Sementara itu, memahami penyebabnya tentu berbeda dengan mengetahui apa yang bisa dilakukan setelah memahaminya.
Itulah sebabnya pembahasan tentang “cara mengatasi prokrastinasi” membutuhkan ruangnya sendiri.
Namun sebelum sampai ke sana, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kamu bawa sebentar.
Ketika kamu menunda sesuatu berikutnya nanti, jangan langsung melihat tugasnya.
Coba lihat beberapa detik sebelum penundaan itu terjadi.
Perasaan apa yang muncul saat itu?
Karena mungkin, selama ini jawabannya tidak pernah berada di kalendermu.
Jawabannya berada jauh lebih dekat daripada yang kamu kira.