Kamu mungkin pernah membuka sebuah pekerjaan berkali-kali.
Dokumennya sudah ada.
Bahannya sudah lengkap.
Ide besarnya juga sudah jelas di kepala.
Bahkan mungkin kamu sudah membayangkan seperti apa hasil akhirnya nanti.
Tapi sampai hari ini, pekerjaan itu masih belum benar-benar dimulai.
Kamu melihatnya setiap hari.
Kadang memikirkannya sebelum tidur.
Kadang merasa harus segera mengerjakannya.
Kadang berjanji bahwa besok akan menjadi hari yang tepat untuk mulai.
Lalu besok datang.
Dan pekerjaan itu masih berada di tempat yang sama.
Kalau ini sering terjadi, mungkin kamu langsung menyebutnya sebagai kebiasaan menunda.
Mungkin kamu menganggap dirimu kurang disiplin.
Mungkin kamu merasa ada sesuatu yang salah dengan dirimu karena terus mengulang pola yang sama.
Padahal belum tentu sesederhana itu.
Saat membahas tentang “prokrastinasi”, banyak orang membayangkan seseorang yang tidak peduli pada pekerjaannya.
Seseorang yang malas.
Seseorang yang tidak memiliki motivasi.
Tapi bagaimana jika yang terjadi justru kebalikannya?
Bagaimana jika kamu menunda bukan karena tidak peduli?
Bagaimana jika kamu menunda karena terlalu peduli?
Karena kamu ingin hasilnya bagus.
Karena kamu ingin hasilnya sesuai dengan yang ada di kepalamu.
Karena kamu tidak ingin mengerjakan sesuatu yang nantinya membuatmu kecewa.
Dan mungkin di situlah pola yang selama ini tidak terlihat mulai muncul.
Salah Sangka tentang Perfeksionis
Saat mendengar kata perfeksionis, kebanyakan orang membayangkan seseorang yang sangat rapi.
Seseorang yang teliti.
Seseorang yang selalu menghasilkan pekerjaan terbaik.
Gambaran itu terdengar masuk akal.
Tapi sering kali tidak sepenuhnya benar.
Perfeksionis tidak selalu menghasilkan pekerjaan yang sempurna.
Kadang mereka justru tidak menghasilkan apa-apa.
Bukan karena tidak mampu.
Bukan karena tidak punya ide.
Bukan karena tidak tahu harus mulai dari mana.
Masalahnya sering muncul jauh sebelum pekerjaan itu berjalan.
Masalahnya muncul saat pekerjaan itu masih berada di kepala.
Di sana semuanya terlihat sempurna.
Versi idealnya terlihat jelas.
Kamu bisa membayangkan bagaimana hasil akhirnya nanti.
Kamu bisa membayangkan bagaimana orang lain akan melihatnya.
Kamu bisa membayangkan seperti apa bentuk terbaiknya.
Dan selama pekerjaan itu masih berada di dalam pikiranmu, versi ideal itu tetap utuh.
Tetap indah.
Tetap sempurna.
Tapi ada sesuatu yang berubah ketika kamu mulai mengerjakannya.
Realitas mulai masuk.
Tulisan pertama ternyata tidak sebagus yang kamu bayangkan.
Ide yang terdengar luar biasa di kepala ternyata terlihat biasa saat dituangkan ke layar.
Rencana yang tampak rapi mulai menunjukkan kekurangannya.
Dan sejak saat itu, versi ideal mulai bertabrakan dengan kenyataan.
Mungkin karena itulah memulai terasa lebih berat daripada yang seharusnya.
Ada bagian dalam dirimu yang ingin hasilnya bagus.
Sangat bagus.
Sementara langkah pertama hampir selalu terlihat berantakan.
Dan dua hal itu sulit berdamai.
Seorang mahasiswa pernah membeli sebuah buku yang sudah lama ingin ia baca.
Buku itu langsung diletakkan di meja dekat tempat tidurnya.
Ia benar-benar tertarik dengan isinya.
Ia juga benar-benar ingin membacanya.
Tapi minggu demi minggu berlalu.
Buku itu tetap terlihat baru.
Bukan karena ia tidak suka membaca.
Justru sebaliknya.
Ia ingin membaca buku itu dalam kondisi yang tepat.
Saat pikirannya lebih tenang.
Saat waktunya lebih luang.
Saat suasananya lebih mendukung.
Saat ia bisa benar-benar menikmati setiap halaman.
Masalahnya, kondisi yang sempurna itu tidak pernah datang.
Dan semakin lama buku itu tidak disentuh, semakin besar pula tekanan yang ia rasakan setiap kali melihatnya.
Kamu mungkin pernah mengalami sesuatu yang mirip.
Bentuknya saja yang berbeda.
Ada yang menunda mulai menulis.
Ada yang menunda mengirim lamaran.
Ada yang menunda membersihkan kamar.
Ada yang menunda menerbitkan karya yang sebenarnya sudah hampir selesai.
Bukan karena pekerjaan itu tidak penting.
Kadang justru karena pekerjaan itu terlalu penting di mata mereka.
Dan ketika sesuatu terasa terlalu penting, standar yang menyertainya ikut naik.
Pelan-pelan.
Tanpa disadari.
Sampai akhirnya standar itu menjadi begitu tinggi sehingga pekerjaan tersebut terasa terlalu berisiko untuk dimulai.
Di titik itu, yang terlihat dari luar mungkin hanyalah penundaan.
Tapi yang terjadi di dalam dirimu bisa jadi jauh lebih rumit dari sekadar menunda.
Ketika Standar Tinggi Berubah Menjadi Penundaan
Mungkin ada satu hal yang selama ini terlihat aneh.
Kalau memang kamu peduli pada hasil pekerjaanmu, bukankah seharusnya kamu lebih rajin mengerjakannya?
Bukankah standar yang tinggi seharusnya membuatmu lebih produktif?
Sekilas memang terdengar seperti itu.
Tapi kenyataannya tidak selalu demikian.
Kadang standar yang terlalu tinggi justru membuat langkah pertama terasa semakin berat.
Bukan karena pekerjaan itu sulit.
Melainkan karena pekerjaan itu mulai terasa seperti ujian.
Dan setiap ujian selalu membawa kemungkinan yang tidak nyaman.
Kemungkinan bahwa hasilnya tidak sebagus yang kamu harapkan.
Kemungkinan bahwa usaha yang sudah kamu bayangkan ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang istimewa.
Kemungkinan bahwa kamu akan kecewa pada dirimu sendiri.
Di titik itu, menunda mulai terasa lebih aman.
Karena selama pekerjaan itu belum dikerjakan, versi terbaiknya masih hidup di dalam kepala.
Masih utuh.
Masih sempurna.
Belum ada kenyataan yang bisa merusaknya.
Belum ada hasil yang bisa membuatmu kecewa.
Belum ada bukti bahwa kemampuanmu mungkin tidak setinggi yang selama ini kamu bayangkan.
Tanpa disadari, penundaan mulai berubah menjadi perlindungan.
Bukan perlindungan dari pekerjaan.
Tetapi perlindungan dari perasaan yang mungkin muncul setelah pekerjaan itu selesai.
Kamu mungkin pernah melihat pola ini dalam hal-hal yang sangat sederhana.
Misalnya saat ingin merapikan kamar.
Awalnya kamu hanya ingin mengganti seprai.
Lalu kamu berpikir sekalian saja membersihkan meja.
Sekalian merapikan lemari.
Sekalian menyusun ulang rak.
Sekalian membersihkan seluruh ruangan.
Beberapa menit kemudian pekerjaan yang tadinya sederhana berubah menjadi proyek besar.
Dan karena terasa terlalu besar, kamu memutuskan melakukannya nanti saja.
Besok mungkin.
Atau akhir pekan nanti.
Atau saat punya energi yang lebih banyak.
Yang menarik, bukan pekerjaan itu yang berubah.
Yang berubah adalah standar di kepalamu.
Sebuah tugas kecil perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dilakukan dengan sempurna.
Dan ketika kesempurnaan mulai menjadi syarat untuk memulai, memulai menjadi semakin sulit.
Hal yang sama sering terjadi pada pekerjaan yang lebih penting.
Kamu mungkin pernah menulis sebuah pesan.
Pesan yang sebenarnya hanya perlu dikirim dalam beberapa menit.
Tapi kamu membacanya lagi.
Lalu menghapus satu kalimat.
Lalu mengganti satu kata.
Lalu membaca ulang dari awal.
Lalu menyimpannya dulu karena rasanya belum pas.
Beberapa jam berlalu.
Kadang beberapa hari.
Pesan itu masih belum terkirim.
Padahal masalahnya bukan pada kemampuanmu menulis pesan.
Masalahnya adalah kamu ingin pesan itu terasa tepat.
Sangat tepat.
Tidak menimbulkan salah paham.
Tidak terdengar aneh.
Tidak meninggalkan kesan yang buruk.
Keinginan itu terdengar wajar.
Sampai titik tertentu.
Tapi ketika setiap langkah harus memenuhi standar yang sangat tinggi, bahkan hal sederhana pun mulai terasa melelahkan.
Ada sebuah penelitian psikologi yang cukup menarik mengenai perfeksionisme dan penundaan.
Peneliti menemukan bahwa orang sering kali menunda bukan karena mereka tidak peduli pada tugas yang dihadapi.
Justru sebaliknya.
Mereka terlalu mengaitkan hasil pekerjaan dengan penilaian terhadap diri mereka sendiri.
Akibatnya, sebuah tugas biasa tidak lagi terasa seperti proses belajar atau proses mencoba.
Tugas itu berubah menjadi ukuran nilai diri.
Dan ketika sesuatu terasa seperti ukuran nilai diri, risikonya terasa jauh lebih besar.
Mungkin itulah sebabnya beberapa pekerjaan terasa sangat berat bahkan sebelum dimulai.
Karena yang dipertaruhkan bukan hanya hasilnya.
Tetapi juga cara kamu memandang dirimu sendiri.
Di sinilah hubungan antara perfeksionisme dan prokrastinasi mulai terlihat lebih jelas.
Banyak orang mengira mereka menunda karena kurang motivasi.
Padahal kadang yang terjadi adalah sesuatu yang lebih halus.
Mereka sedang menunggu dirinya merasa cukup siap.
Cukup yakin.
Cukup sempurna.
Masalahnya, rasa siap sering bergerak seperti garis di cakrawala.
Semakin dikejar, semakin menjauh.
Ada selalu satu alasan lagi untuk menunggu.
Satu persiapan lagi yang perlu dilakukan.
Satu informasi lagi yang perlu dicari.
Satu perbaikan lagi yang perlu dibuat.
Dan tanpa terasa, minggu berganti bulan.
Pekerjaan itu masih berada di tempat yang sama.
Jika kamu pernah membaca tentang akar emosional penundaan dalam artikel “penyebab prokrastinasi”, pola ini mungkin mulai terdengar familiar.
Karena sering kali yang sedang dihindari bukan pekerjaannya.
Melainkan perasaan yang mungkin muncul ketika pekerjaan itu tidak berjalan sesuai harapan.
Dan semakin tinggi harapan itu, semakin besar pula dorongan untuk menghindarinya.
Ironisnya, orang yang terlihat paling tidak bergerak kadang justru adalah orang yang paling banyak memikirkan pekerjaannya.
Mereka memikirkannya saat sarapan.
Memikirkannya saat mandi.
Memikirkannya sebelum tidur.
Memikirkannya hampir setiap hari.
Tapi tetap tidak memulainya.
Bukan karena tidak peduli.
Kadang karena terlalu peduli.
Tanda-Tanda yang Mungkin Tidak Kamu Sadari
Kadang kamu menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersiap daripada benar-benar mengerjakan.
Kamu mencari referensi.
Membuat rencana.
Menyusun daftar.
Mengatur ulang daftar.
Lalu hari itu selesai sebelum pekerjaan utamanya dimulai.
Kamu memiliki pekerjaan yang hampir selesai.
Sudah 80 persen.
Sudah 90 persen.
Tapi angka itu tidak pernah berubah menjadi 100 persen.
Kamu membuka kembali pekerjaan lama.
Bukan untuk melanjutkannya.
Melainkan untuk mengulang dari awal.
Karena versi yang sudah ada terasa belum cukup baik.
Kamu membaca ulang tulisanmu berkali-kali.
Tapi semakin lama melihatnya, semakin banyak kekurangan yang terlihat.
Kamu menunggu waktu yang tepat.
Suasana yang tepat.
Energi yang tepat.
Mood yang tepat.
Dan tanpa terasa, yang berlalu justru waktumu.
Kamu merasa tidak nyaman saat beristirahat.
Bukan karena masih ada pekerjaan.
Tetapi karena pekerjaan itu belum menghasilkan sesuatu yang menurutmu cukup baik.
Kamu melihat hasil akhir orang lain.
Lalu membandingkannya dengan langkah awalmu.
Kamu lupa bahwa mereka sedang menunjukkan hasil akhir.
Sementara kamu sedang melihat versi mentah milikmu sendiri.
Kamu berpikir masih perlu belajar sedikit lagi sebelum mulai.
Lalu sedikit lagi.
Lalu sedikit lagi.
Sampai akhirnya proses belajar diam-diam berubah menjadi tempat persembunyian.
Kamu menyimpan ide yang sebenarnya ingin sekali kamu wujudkan.
Bukan karena ide itu buruk.
Justru karena ide itu terlalu berarti bagimu.
Semakin penting sesuatu bagimu, semakin sulit kamu menerima kemungkinan bahwa hasilnya mungkin biasa saja.
Dan mungkin itulah yang membuatmu terus menundanya.
Bukan karena kamu tidak peduli.
Tetapi karena kamu terlalu peduli.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kamu Hindari?
Saat membahas prokrastinasi dan perfeksionisme, banyak orang menganggap keduanya sebagai dua masalah yang berbeda.
Yang satu tentang menunda.
Yang satu tentang menuntut kesempurnaan.
Padahal kadang keduanya tumbuh dari akar yang sama.
Keinginan untuk menghindari rasa tidak nyaman.
Keinginan untuk menghindari kekecewaan.
Keinginan untuk menghindari kemungkinan bahwa hasil yang lahir dari usahamu tidak akan seindah yang selama ini kamu bayangkan.
Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi mengapa kamu menunda.
Mungkin pertanyaannya sedikit berbeda.
Apakah selama ini yang kamu hindari benar-benar pekerjaannya?
Atau kemungkinan bahwa hasilnya tidak akan setinggi harapanmu sendiri?
Standar yang tinggi tidak selalu menjadi masalah.
Banyak hal baik lahir dari sana.
Banyak karya yang tumbuh dari sana.
Banyak perkembangan yang berawal dari sana.
Tapi ada saat ketika standar itu berhenti menjadi arah.
Dan mulai berubah menjadi pagar.
Pagar yang tidak menghalangimu setelah berjalan.
Melainkan menghalangimu sebelum melangkah.
Jika pola ini terasa dekat denganmu, mungkin ada lapisan lain yang juga layak dilihat lebih dalam, yaitu hubungan antara penundaan dan rasa takut gagal yang sering tersembunyi di belakangnya. Kamu bisa melanjutkannya di artikel “Prokrastinasi dan Takut Gagal”.
Dan jika suatu saat nanti kamu ingin mencari langkah yang lebih konkret untuk mulai keluar dari pola ini, pembahasannya akan tersedia di “Cara Mengatasi Prokrastinasi”.
Untuk saat ini, mungkin tidak perlu buru-buru mencari solusi.
Mungkin cukup melihat polanya terlebih dahulu.
Karena terkadang yang paling sulit bukan berubah.
Melainkan melihat dengan jujur apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirimu.
Kalau kamu ingin melihat di mana pola ini masuk dalam gambaran prokrastinasi secara keseluruhan, artikelnya ada di sini.
Dan mungkin setelah membaca sampai di sini, hanya kamu yang bisa menjawab satu pertanyaan itu.
Saat sebuah pekerjaan terus kamu tunda selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun…
Apakah yang sedang kamu lindungi sebenarnya adalah waktumu?
Atau harapanmu sendiri?