FOMO: Pengertian, Ciri-Ciri, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

FOMO muncul ketika kamu melihat orang lain sedang mengalami sesuatu dan mulai merasa bahwa kamu sedang melewatkan sesuatu yang seharusnya kamu ikuti. Rasa takut ketinggalan ini bisa muncul saat kamu melihat teman berkumpul, mengetahui orang lain sedang mencoba sesuatu yang baru, atau melihat seseorang mendapatkan pengalaman yang terasa menarik bagimu.

FOMO merupakan singkatan dari fear of missing out. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman, informasi, kesempatan, atau sesuatu yang tidak kamu dapatkan.

Yang membuat FOMO terasa berbeda dari sekadar ingin ikut adalah adanya rasa takut di balik keinginan tersebut. Kamu bukan hanya berpikir bahwa suatu kegiatan terlihat menyenangkan, tetapi mulai merasa tidak nyaman karena membayangkan apa yang akan terjadi kalau kamu tidak ikut.

Apa Itu FOMO dan Kenapa Kamu Bisa Takut Ketinggalan

FOMO berkaitan dengan perasaan bahwa kamu sedang melewatkan sesuatu sementara orang lain sedang mengalaminya. Perasaan tersebut bisa membuat perhatianmu berpindah dari apa yang sedang kamu jalani kepada apa yang sedang dilakukan orang lain.

Misalnya, kamu sebenarnya sudah punya rencana untuk beristirahat di rumah malam ini. Kemudian kamu melihat beberapa teman sedang berkumpul dan bersenang-senang. Awalnya kamu hanya melihat unggahan mereka, tetapi setelah itu muncul pikiran seperti, “Jangan-jangan aku ketinggalan sesuatu.”

Di situ FOMO mulai terasa. Yang membuatmu gelisah bukan semata-mata karena kamu ingin berkumpul, tetapi karena ada bayangan bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang tidak kamu dapatkan.

Karena itu, FOMO tidak selalu berarti kamu benar-benar menginginkan sesuatu. Kamu bisa saja tertarik pada sebuah acara, tempat, barang, kegiatan, atau pengalaman, tetapi rasa ingin ikut menjadi lebih kuat karena kamu melihat orang lain sudah lebih dulu berada di sana.

Perbedaan ini cukup penting. Ada saat ketika kamu melihat teman pergi ke suatu tempat lalu berpikir, “Aku juga ingin ke sana karena memang kelihatannya menyenangkan.” Ada juga saat ketika pikiranmu lebih dekat dengan, “Kalau aku tidak ikut, aku bakal ketinggalan.”

Keduanya bisa terlihat sama dari luar karena hasil akhirnya mungkin sama-sama membuatmu ikut. Namun, pengalaman di dalam dirimu bisa berbeda.

FOMO juga tidak selalu berkaitan dengan hal besar. Rasa takut ketinggalan dapat muncul dari hal yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Kamu bisa merasa perlu mengikuti obrolan tertentu karena takut tidak tahu informasi terbaru, ikut membeli sesuatu karena banyak orang sedang memilikinya, atau merasa harus datang ke sebuah acara karena hampir semua temanmu datang.

Kalau kamu ingin memahami pengertian dan pengalaman FOMO dengan pembahasan yang lebih khusus, kamu bisa melihat penjelasan tentang apa itu FOMO lebih jauh.

Seperti Apa FOMO dalam Kehidupan Sehari-Hari

FOMO dalam kehidupan sehari-hari sering kali tidak terasa seperti sebuah keputusan besar, tetapi muncul dari rasa tidak nyaman ketika kamu merasa berada di luar sesuatu yang sedang dialami orang lain. Kamu mungkin tetap menjalani aktivitasmu, tetapi perhatianmu terus kembali kepada apa yang sedang dilakukan orang lain.

Kamu sedang duduk santai di rumah, tetapi beberapa kali membuka media sosial untuk melihat apakah teman-temanmu masih berkumpul. Kamu sebenarnya tidak punya rencana untuk pergi, tetapi setelah melihat foto atau video baru, keinginan untuk ikut menjadi semakin kuat.

Pada situasi lain, kamu mungkin sudah merasa cukup dengan sesuatu yang kamu miliki. Namun, ketika melihat orang lain menggunakan produk atau mencoba pengalaman baru, muncul perasaan bahwa kamu juga perlu memilikinya. Bukan karena sebelumnya kamu merasa membutuhkannya, tetapi karena sekarang kamu merasa tertinggal.

FOMO juga bisa terasa ketika kamu sulit merasa tenang saat memilih untuk tidak ikut. Kamu mungkin tahu bahwa kamu tidak harus hadir di setiap acara atau mencoba setiap hal baru, tetapi tetap ada pikiran yang membuat keputusan untuk melewatkan sesuatu terasa tidak nyaman.

Pengalaman seperti ini bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang lebih mudah merasa tertinggal dalam pergaulan, ada yang mengalaminya ketika melihat pencapaian orang lain, dan ada pula yang merasakannya ketika mengikuti tren atau mendapatkan informasi terbaru.

Satu pengalaman seperti memilih ikut sebuah acara karena teman-teman datang juga tidak otomatis berarti kamu mengalami FOMO. Keputusan untuk ikut bisa saja memang sesuai dengan keinginanmu. Yang perlu diperhatikan adalah pengalaman di balik keputusan tersebut, terutama ketika rasa takut tertinggal mulai menjadi alasan utama.

Ketika FOMO muncul berulang, kamu mungkin mulai menyadari bahwa perhatianmu lebih banyak tertuju pada apa yang sedang dialami orang lain daripada apa yang sebenarnya sedang kamu jalani. Dari sinilah pengalaman FOMO bisa terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kalau kamu ingin melihat pengalaman tersebut dengan lebih jelas, pembahasan tentang ciri-ciri FOMO dalam kehidupan sehari-hari bisa membantu melihat bagaimana rasa takut ketinggalan dapat muncul dalam berbagai situasi.

Kenapa FOMO Bisa Muncul

FOMO bisa muncul ketika pengalaman orang lain terasa lebih menarik daripada keadaan yang sedang kamu jalani, terutama ketika muncul kesan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dan kamu tidak menjadi bagian darinya. Perasaan ini dapat membuat sebuah kesempatan terlihat lebih penting hanya karena orang lain sedang mengambilnya.

Bayangkan kamu sedang tidak punya rencana untuk pergi pada akhir pekan. Kemudian kamu mengetahui bahwa beberapa orang yang kamu kenal sedang pergi bersama. Informasi itu bisa saja berhenti sebagai sesuatu yang kamu ketahui, tetapi bisa juga membuatmu mulai berpikir bahwa akhir pekanmu menjadi kurang berarti karena kamu tidak ikut.

Rasa takut ketinggalan juga dapat muncul ketika kamu merasa ada kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Kamu melihat orang lain mencoba sesuatu, mendapatkan pengalaman tertentu, atau mengikuti sebuah kegiatan, lalu muncul kekhawatiran bahwa kesempatan tersebut mungkin tidak akan datang lagi.

Pada situasi tertentu, FOMO juga berkaitan dengan bagaimana kamu melihat posisi dirimu dibandingkan dengan orang lain. Ketika kehidupan orang lain terlihat lebih aktif, lebih penuh pengalaman, atau lebih mengikuti sesuatu yang sedang ramai, kamu bisa mulai merasa bahwa dirimu tertinggal.

Namun, pemicu FOMO tidak selalu sama. Hal yang membuat seseorang merasa takut ketinggalan belum tentu memberikan perasaan yang sama kepada orang lain. Bagi satu orang, pemicunya mungkin kegiatan bersama teman. Bagi orang lain, pemicunya bisa berupa tren, informasi, pengalaman, atau sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya.

Media sosial juga dapat menjadi salah satu tempat munculnya FOMO, tetapi bukan berarti setiap penggunaan media sosial otomatis membuatmu mengalami rasa takut ketinggalan. Pengalaman FOMO lebih berkaitan dengan bagaimana apa yang kamu lihat memengaruhi perhatian dan perasaanmu terhadap kehidupanmu sendiri.

Karena pemicunya dapat berbeda-beda, memahami FOMO tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kamu terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Yang lebih penting adalah melihat apa yang terjadi setelah kamu melihatnya: apakah kamu hanya mengetahui, merasa tertarik, atau mulai merasa tidak nyaman karena takut melewatkan sesuatu.

Pembahasan yang lebih mendalam tentang penyebab FOMO akan melihat lebih jauh kenapa rasa takut ketinggalan bisa muncul dan mengapa pemicunya dapat berbeda pada setiap orang.

FOMO di Media Sosial Membuat Kehidupan Orang Lain Terasa Lebih Dekat

Media sosial membuat kamu bisa melihat banyak aktivitas orang lain dalam waktu yang sangat singkat. Dalam beberapa menit, kamu bisa melihat teman sedang bepergian, menghadiri acara, berkumpul, mencoba sesuatu yang baru, atau mendapatkan pengalaman yang tidak sedang kamu alami.

Paparan seperti itu dapat membuat pengalaman orang lain terasa jauh lebih dekat dengan kehidupanmu sendiri. Kamu tidak perlu berada di tempat yang sama untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Cukup membuka layar, lalu berbagai pengalaman orang lain bisa langsung masuk ke perhatianmu.

Misalnya, kamu sedang berada di rumah pada akhir pekan. Kamu membuka media sosial dan melihat seseorang sedang menikmati perjalanan, teman lain sedang makan bersama, sementara orang lain baru saja mencoba kegiatan yang belum pernah kamu lakukan. Masing-masing unggahan mungkin terlihat biasa saja, tetapi ketika muncul berturut-turut, kamu bisa mulai merasa bahwa banyak hal sedang terjadi sementara kamu hanya berada di tempatmu sendiri.

Dari situ, rasa takut ketinggalan bisa muncul. Kamu mulai bertanya apakah seharusnya kamu juga pergi, ikut berkumpul, mencoba sesuatu, atau melakukan lebih banyak hal.

Media sosial juga membuat kamu lebih mudah mengetahui aktivitas orang lain dibandingkan sebelumnya. Informasi yang dulu mungkin hanya kamu ketahui dari cerita langsung sekarang bisa muncul setiap kali kamu membuka aplikasi.

Namun, apa yang kamu lihat tetap hanya bagian tertentu dari kehidupan orang lain. Kamu melihat perjalanan yang dibagikan, tetapi tidak melihat seluruh waktu yang mereka habiskan di rumah. Kamu melihat acara yang berlangsung, tetapi tidak melihat semua hal yang terjadi sebelum atau sesudahnya.

Karena itu, media sosial tidak otomatis menyebabkan FOMO pada setiap orang. Media sosial lebih tepat dilihat sebagai salah satu tempat atau pemicu yang dapat memperkuat rasa takut ketinggalan ketika apa yang kamu lihat mulai memengaruhi cara kamu memandang pengalamanmu sendiri.

Ketika kamu terus melihat aktivitas orang lain dan mulai merasa bahwa kehidupanmu kurang menarik karena tidak mengikuti hal yang sama, pengalaman tersebut menjadi lebih dekat dengan FOMO di media sosial. Jika ingin melihat hubungan tersebut lebih jauh, kamu bisa membaca pembahasan tentang FOMO di media sosial.

Kenapa FOMO Bisa Membuat Kamu Ikut-Ikutan

FOMO bisa membuat keputusan untuk ikut terasa lebih mendesak ketika kamu merasa orang lain sedang melakukan sesuatu yang tidak boleh kamu lewatkan. Dorongan tersebut kadang muncul sebelum kamu sempat bertanya apakah kamu memang menginginkan aktivitas itu.

Perbedaan antara keinginan dan rasa takut ketinggalan bisa terlihat sederhana. Kamu mungkin mengatakan, “Aku memang ingin ikut,” tetapi ketika diperhatikan lebih jauh, alasan yang paling kuat justru adalah, “Aku takut ketinggalan kalau tidak ikut.”

Misalnya, teman-temanmu mengajak pergi ke sebuah acara. Kamu sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan acaranya dan sudah punya rencana lain. Namun, setelah mengetahui hampir semua teman akan datang, muncul rasa tidak nyaman kalau kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut.

Akhirnya kamu datang.

Dari luar, keputusan tersebut terlihat seperti keputusan biasa. Tidak ada yang salah dengan ikut sebuah acara bersama teman. Tetapi pengalaman FOMO bisa muncul ketika rasa takut menjadi orang yang melewatkan sesuatu lebih kuat daripada keinginanmu terhadap acara tersebut.

Hal serupa dapat terjadi pada hal-hal lain. Kamu melihat banyak orang membeli sesuatu, mencoba tempat tertentu, mengikuti tren, atau membicarakan pengalaman yang sama. Semakin banyak orang yang ikut, semakin mudah muncul kesan bahwa kamu juga seharusnya berada di sana.

Bukan berarti setiap keputusan mengikuti orang lain adalah FOMO. Dalam kehidupan sosial, kamu memang sering memilih sesuatu karena ajakan, kebersamaan, atau pengaruh lingkungan. Yang membedakan adalah ketika ketakutan untuk tertinggal mulai menjadi bagian penting dari alasanmu memilih.

Kalau pola tersebut mulai sering kamu temui dalam pengalamanmu sendiri, pembahasan tentang FOMO dan ikut-ikutan bisa membantu melihat hubungan keduanya dengan lebih jelas.

FOMO dan Perbandingan Sosial

FOMO dapat membuat pengalaman orang lain berubah menjadi pembanding terhadap kehidupanmu sendiri. Kamu melihat apa yang mereka lakukan, kemudian tanpa sadar mulai mengukur apakah kehidupanmu memiliki hal yang sama.

Perbandingan itu tidak selalu berarti kamu iri kepada orang lain. Kamu bisa saja senang melihat teman mendapatkan pengalaman baru, tetapi pada saat yang sama muncul pikiran bahwa kamu sendiri belum mengalami hal tersebut.

Misalnya, kamu melihat seseorang sering bepergian. Kamu tidak harus menginginkan kehidupan yang sama persis. Namun, setelah melihat beberapa kali, kamu mulai merasa bahwa hidupmu terlalu biasa karena belum melakukan hal serupa.

Di titik tertentu, perbedaan antara kehidupanmu dan kehidupan orang lain terasa seperti tanda bahwa kamu sedang tertinggal. Bukan lagi sekadar, “Dia sedang melakukan itu,” tetapi berubah menjadi, “Kenapa aku tidak melakukan hal yang sama?”

Perubahan kecil dalam cara melihat tersebut bisa membuat pengalaman orang lain terasa lebih besar daripada sebelumnya. Aktivitas yang sebenarnya hanya menjadi bagian dari kehidupan seseorang mulai terlihat seperti sesuatu yang seharusnya juga kamu miliki.

FOMO dapat menjadi semakin kuat ketika kamu terus menggunakan pengalaman orang lain sebagai ukuran terhadap pengalamanmu sendiri. Kamu bukan hanya melihat apa yang mereka lakukan, tetapi mulai menilai apa yang sedang kamu jalani berdasarkan apa yang tidak kamu miliki atau tidak kamu alami.

Pada akhirnya, yang terasa berat bukan selalu aktivitas orang lain itu sendiri. Yang terasa mengganggu adalah kesan bahwa ada sesuatu yang hilang dari kehidupanmu karena kamu tidak mengikutinya.

Hubungan antara FOMO dan proses membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain dibahas lebih jauh dalam artikel tentang FOMO dan perbandingan sosial.

Apa Dampak FOMO terhadap Kehidupanmu

FOMO dapat memengaruhi cara kamu memilih dan memperhatikan sesuatu, terutama ketika rasa takut ketinggalan muncul berulang dalam berbagai situasi. Pengaruhnya tidak selalu terlihat besar, tetapi bisa terasa dari cara kamu menjalani pengalaman sehari-hari.

Kamu mungkin menjadi lebih sering memeriksa apa yang sedang dilakukan orang lain karena merasa perlu mengetahui sesuatu yang sedang berlangsung. Perhatianmu kemudian berpindah dari aktivitas yang sedang kamu jalani kepada kemungkinan bahwa ada sesuatu di luar sana yang sedang kamu lewatkan.

Pilihanmu juga bisa ikut terpengaruh. Kamu mungkin mengambil sebuah kesempatan karena memang menginginkannya, tetapi dalam situasi lain keputusan yang sama bisa muncul terutama karena takut menyesal kalau tidak ikut.

Pengalaman yang sedang kamu jalani pun dapat terasa kurang utuh ketika perhatianmu terus tertuju kepada pengalaman orang lain. Kamu sedang berkumpul dengan teman, misalnya, tetapi masih memikirkan acara lain yang sedang berlangsung di tempat berbeda.

Ketika hal seperti ini terjadi berulang, kamu bisa semakin sulit merasa cukup dengan apa yang sedang kamu jalani. Selalu ada pengalaman lain yang terlihat menarik, kegiatan lain yang tampak lebih seru, atau kesempatan lain yang terasa lebih penting karena sedang dilakukan orang lain.

Namun, dampak FOMO tidak selalu sama pada setiap orang. Situasi, frekuensi munculnya rasa takut ketinggalan, dan cara kamu meresponsnya dapat membuat pengalaman setiap orang berbeda.

Karena itu, FOMO lebih tepat dipahami sebagai pengalaman yang dapat memengaruhi kehidupanmu dalam situasi tertentu, bukan sesuatu yang otomatis menghasilkan dampak yang sama pada semua orang. Untuk melihat pembahasannya secara lebih khusus, kamu bisa membaca tentang dampak FOMO dalam kehidupan sehari-hari.

Cara Mengatasi FOMO tanpa Harus Menghilangkan Semua Keinginan untuk Ikut

Mengatasi FOMO bukan berarti kamu harus berhenti mengikuti semua hal yang dilakukan orang lain. Kamu tetap bisa ikut acara, mencoba sesuatu yang baru, atau menikmati pengalaman bersama orang lain tanpa setiap keputusan tersebut didorong oleh rasa takut ketinggalan.

Hal yang perlu mulai terlihat adalah alasan di balik keinginanmu untuk ikut. Ketika kamu melihat sesuatu yang dilakukan orang lain, coba perhatikan apakah kamu memang menginginkannya atau kamu merasa harus ikut karena tidak nyaman membayangkan diri sendiri melewatkannya.

Perbedaan itu kadang tidak langsung terasa. Kamu bisa benar-benar tertarik pada suatu pengalaman sekaligus merasa takut ketinggalan. Karena itu, memahami FOMO bukan tentang mencari satu alasan yang benar, tetapi melihat apa yang sedang terjadi dalam dirimu ketika dorongan untuk ikut muncul.

Pemicu juga menjadi bagian yang penting untuk diperhatikan. Ada situasi tertentu yang membuat rasa takut ketinggalan lebih mudah muncul, misalnya setelah melihat aktivitas orang lain, mengetahui sebuah kesempatan sedang ramai, atau terus mengikuti informasi tentang sesuatu yang sedang terjadi.

Memberi jarak dari pemicu tertentu dapat membuat perhatianmu kembali kepada apa yang sedang kamu jalani. Jarak tersebut tidak harus berarti menghilangkan semuanya. Kadang kamu hanya perlu berhenti sejenak dari sesuatu yang terus membuatmu memikirkan apa yang sedang dilakukan orang lain.

Di saat yang sama, kamu bisa mulai melihat kembali pilihanmu sendiri. Apa yang sebenarnya sedang kamu inginkan? Apa yang memang penting bagimu? Dan apakah sesuatu yang terlihat menarik karena memang sesuai dengan dirimu, atau karena banyak orang lain sedang melakukannya?

Ada juga bagian yang mungkin terasa tidak nyaman: menerima bahwa kamu memang akan melewatkan banyak hal. Kamu tidak mungkin menghadiri semua acara, mencoba semua pengalaman, mengetahui semua informasi, atau mengikuti semua hal yang sedang dilakukan orang lain.

Menerima kenyataan tersebut bukan berarti kamu harus kehilangan rasa ingin tahu. Kamu masih bisa tertarik, masih bisa ikut, dan masih bisa mencoba sesuatu yang baru. Perbedaannya terletak pada apakah pilihan tersebut muncul dari keinginanmu sendiri atau semakin banyak ditentukan oleh rasa takut tertinggal.

Kalau kamu ingin memahami cara menghadapi pengalaman tersebut dengan pembahasan yang lebih mendalam, kamu bisa membaca cara mengatasi FOMO untuk melihat bagaimana rasa takut ketinggalan dapat dihadapi tanpa harus menjauh dari semua pengalaman sosial.

FOMO Bukan Sekadar Takut Melewatkan Sesuatu

FOMO bukan hanya tentang kamu tidak ikut ketika orang lain sedang melakukan sesuatu. Di dalamnya ada proses ketika pengalaman orang lain mulai memengaruhi cara kamu merasakan dan menilai kehidupanmu sendiri.

Proses itu bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Kamu melihat orang lain melakukan sesuatu, lalu muncul perhatian terhadap pengalaman tersebut. Setelah itu, kamu merasakan bahwa ada sesuatu yang mungkin sedang kamu lewatkan.

Perasaan tersebut dapat membuatmu mulai membandingkan keadaanmu dengan keadaan orang lain. Kamu melihat apa yang mereka lakukan dan kemudian melihat kembali kehidupanmu sendiri melalui perbandingan itu.

Dari sana, keinginan untuk mengikuti bisa muncul. Kamu mungkin mulai berpikir untuk datang, mencoba, membeli, mengetahui, atau melakukan hal yang sama. Pilihan tersebut kemudian terasa semakin penting karena ada bayangan bahwa kamu akan tertinggal kalau tidak mengikutinya.

Tetapi pengalaman FOMO tidak selalu berhenti pada keputusan untuk ikut. Setelah kamu mengikuti sesuatu pun, perhatianmu bisa kembali mencari hal lain yang sedang dilakukan orang lain. Ada pengalaman berikutnya, kegiatan berikutnya, atau kesempatan berikutnya yang kembali terlihat menarik.

Rangkaian seperti ini menunjukkan bahwa FOMO tidak hanya berkaitan dengan satu tindakan. Yang lebih penting adalah bagaimana kamu melihat sesuatu, merasakan kemungkinan tertinggal, membandingkannya dengan kehidupanmu sendiri, kemudian membiarkan perasaan tersebut ikut masuk ke dalam pilihanmu.

Bentuknya juga bisa berbeda-beda. Bagi seseorang, FOMO mungkin terasa ketika melihat teman-temannya berkumpul. Bagi orang lain, rasa takut ketinggalan bisa muncul ketika melihat pencapaian, tren, pengalaman, atau informasi yang sedang ramai.

Karena itu, FOMO tidak selalu terlihat dari luar. Dua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi alasan di balik pilihan mereka bisa berbeda. Satu orang mungkin ikut karena memang ingin, sementara orang lain ikut karena merasa tidak nyaman kalau menjadi satu-satunya yang melewatkan.

Ketika kamu melihat FOMO dengan cara seperti ini, pertanyaannya tidak lagi sekadar apakah kamu sedang ikut atau tidak ikut. Perhatiannya bergeser kepada hubungan antara pengalaman orang lain dan cara kamu menjalani kehidupanmu sendiri.

Saat Kamu Mulai Memahami Kenapa Kamu Takut Ketinggalan

Kamu tidak mungkin mengikuti semua pengalaman orang lain. Akan selalu ada sesuatu yang sedang dilakukan orang lain ketika kamu sedang menjalani kehidupanmu sendiri.

Ada teman yang sedang bepergian ketika kamu memilih tinggal di rumah. Ada orang yang sedang menghadiri acara ketika kamu sedang mengerjakan sesuatu yang lain. Ada tren baru yang sedang ramai ketika perhatianmu sedang berada pada hal yang sama sekali berbeda.

Melewatkan sesuatu dalam keadaan seperti itu sebenarnya tidak bisa dihindari. Kehidupan selalu berjalan di banyak tempat sekaligus, sementara kamu hanya bisa berada di satu tempat dan menjalani pilihanmu sendiri pada satu waktu.

Yang menjadi menarik adalah ketika rasa takut melewatkan sesuatu mulai terasa lebih kuat daripada pengalaman yang sedang kamu jalani. Kamu bisa berada di sebuah tempat tetapi terus memikirkan tempat lain. Kamu bisa memilih untuk tidak ikut, tetapi pikiranmu tetap sibuk membayangkan apa yang sedang terjadi tanpa dirimu.

Di titik itu, FOMO bukan lagi sekadar soal ada atau tidak adanya sebuah kesempatan. Rasa takut ketinggalan mulai berhubungan dengan cara kamu melihat pilihanmu sendiri.

Kamu mungkin tetap memilih untuk ikut. Kamu mungkin juga memilih untuk tidak ikut. Keduanya bisa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Yang membedakan adalah apa yang terjadi di balik pilihan tersebut. Apakah kamu memang menginginkannya, atau keputusan itu terasa perlu karena kamu takut menjadi orang yang melewatkan sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang langsung. Kadang kamu memang ingin ikut sekaligus takut ketinggalan. Kadang kamu baru menyadari alasan di balik pilihan setelah semuanya selesai.

FOMO kemudian bisa dilihat bukan hanya sebagai rasa takut kehilangan sebuah pengalaman, tetapi sebagai pengalaman ketika apa yang dilakukan orang lain mulai ikut menentukan bagaimana kamu merasakan hidupmu sendiri.

Dan mungkin di situlah pemahaman tentang FOMO menjadi lebih dekat dengan kehidupanmu. Bukan tentang bagaimana caranya agar kamu tidak pernah melewatkan apa pun, karena itu memang tidak mungkin, tetapi tentang menyadari kapan rasa takut ketinggalan mulai ikut menentukan apa yang kamu pilih.