Kamu mungkin pernah berada di situasi ketika sebenarnya tidak terlalu tertarik pada sesuatu, tetapi tiba-tiba merasa ingin ikut setelah melihat orang lain melakukannya. Awalnya biasa saja. Namun ketika teman-teman mulai pergi, mencoba sesuatu, atau membicarakan pengalaman mereka, muncul perasaan seperti ada sesuatu yang sedang kamu lewatkan.
Di titik itu, keputusan untuk ikut bisa terasa seperti pilihan yang paling masuk akal. Bukan karena sejak awal kamu memang menginginkannya, tetapi karena rasanya tidak nyaman kalau hanya kamu yang tidak ikut.
FOMO dan ikut-ikutan sering bertemu di situasi seperti ini. Dorongan untuk mengikuti orang lain tidak selalu muncul karena kamu tidak punya pendirian atau tidak tahu apa yang kamu mau. Kadang ada rasa takut tertinggal yang membuat sesuatu yang awalnya tidak terlalu penting tiba-tiba terasa perlu diikuti.
Ikut-Ikutan Tidak Selalu Berarti Kamu Tidak Punya Pilihan Sendiri
Mengikuti orang lain tidak otomatis berarti kamu tidak punya pilihan sendiri. Kamu bisa saja ikut karena memang tertarik, merasa cocok dengan aktivitasnya, atau memang sudah ingin mencobanya sejak awal.
Misalnya, temanmu mengajak pergi ke sebuah tempat yang sudah lama ingin kamu datangi. Ketika akhirnya kamu ikut, keputusan tersebut memang datang dari keinginanmu sendiri. Orang lain hanya menjadi kesempatan yang membuatmu akhirnya melakukannya.
Situasinya berbeda ketika kamu sebenarnya biasa saja, tetapi mulai merasa harus ikut setelah melihat hampir semua orang melakukannya. Kamu mungkin belum pernah menginginkan hal tersebut sebelumnya, tetapi tiba-tiba muncul pikiran, “Masa aku nggak ikut?”
Di sini, yang menarik bukan sekadar perilaku mengikuti orang lain, melainkan alasan yang membuatmu mengambil keputusan tersebut. Dua orang bisa melakukan aktivitas yang sama, tetapi berada dalam kondisi batin yang berbeda.
Kamu bisa mengikuti tren karena memang menyukainya. Kamu juga bisa ikut tren karena takut menjadi satu-satunya orang yang tidak mengikuti.
Perbedaan itu kadang sulit terlihat dari luar. Orang lain hanya melihat kamu ikut pergi, membeli sesuatu, mencoba sesuatu, atau membicarakan pengalaman yang sama. Mereka tidak selalu tahu apakah kamu memang menginginkannya atau hanya sedang berusaha supaya tidak merasa tertinggal.
Karena itu, perilaku ikut-ikutan tidak selalu bisa langsung disebut sebagai FOMO. Yang membuatnya berkaitan dengan FOMO adalah adanya rasa takut kehilangan pengalaman, kesempatan, atau keterlibatan ketika melihat orang lain sudah lebih dulu berada di sana.
Kamu mungkin bahkan tidak merasa sedang takut. Yang terasa justru dorongan sederhana untuk ikut.
“Aku ikut deh.”
Kalimat itu terdengar biasa. Tetapi kadang di belakangnya ada pikiran lain yang tidak langsung kamu sadari: kalau semua orang ikut dan aku tidak, nanti aku akan merasa ketinggalan.
Saat Kamu Ikut Karena Tidak Ingin Menjadi Satu-Satunya yang Tidak Ikut
Rasa tidak ingin menjadi satu-satunya yang tertinggal bisa membuat sesuatu yang awalnya biasa saja terasa semakin penting. Kamu melihat orang lain bergerak bersama, lalu mulai merasa bahwa keputusan untuk tetap diam membuatmu berada di luar sesuatu yang sedang terjadi.
Bayangkan teman-temanmu berencana pergi bersama. Kamu sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan tempatnya. Kalau tidak ada yang mengajak, mungkin kamu juga tidak akan memikirkan tempat itu lagi setelah percakapan selesai.
Namun ketika mengetahui semua temanmu akan pergi, perasaanmu bisa berubah.
Tiba-tiba muncul keinginan untuk ikut. Bukan karena tempat tersebut mendadak menjadi sangat menarik, tetapi karena kamu membayangkan mereka akan bersenang-senang tanpa kamu.
Kamu mungkin mulai membayangkan percakapan yang akan terjadi setelah mereka pulang. Mereka punya cerita yang sama, pengalaman yang sama, dan lelucon yang hanya mereka pahami karena berada di tempat yang sama. Sementara kamu tidak punya bagian dalam pengalaman itu.
Di sinilah takut ketinggalan bisa terasa lebih kuat daripada ketertarikan terhadap aktivitasnya sendiri. Yang ingin kamu hindari bukan selalu kehilangan kegiatan tersebut, tetapi perasaan menjadi orang yang tidak ikut di dalamnya.
Hal yang sama bisa terjadi ketika lingkunganmu sedang ramai membicarakan sesuatu. Orang-orang mencoba makanan tertentu, menggunakan barang tertentu, mengikuti tren tertentu, atau punya pengalaman yang sedang sering dibicarakan.
Kamu mungkin awalnya tidak terlalu peduli. Tetapi semakin sering melihat orang lain melakukannya, semakin sulit untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu.
Ada semacam dorongan untuk masuk ke dalam pengalaman yang sama.
Bukan karena kamu tiba-tiba menemukan sesuatu yang benar-benar kamu inginkan, tetapi karena tidak ikut mulai terasa seperti kehilangan tempat di antara orang-orang yang ada di sekitarmu.
Perasaan seperti ini membuat ikut-ikutan karena FOMO terlihat sangat biasa dalam kehidupan sehari-hari. Kamu tidak harus mengikuti sesuatu yang besar. Bahkan keputusan sederhana pun bisa dipengaruhi oleh rasa tidak ingin tertinggal.
Dan ketika dorongan itu muncul berulang kali, kamu bisa mulai bertanya-tanya kenapa kamu selalu ingin ikut ketika orang lain melakukan sesuatu.
Kamu Bisa Mengikuti Sesuatu yang Sebenarnya Tidak Terlalu Kamu Inginkan
Kamu bisa saja mengikuti sesuatu tanpa benar-benar punya keinginan yang kuat untuk melakukannya. Dorongan untuk ikut terkadang muncul lebih dulu daripada pertanyaan apakah hal tersebut memang kamu inginkan.
Misalnya, kamu melihat beberapa orang yang kamu kenal mulai melakukan aktivitas tertentu. Awalnya kamu tidak merasa tertarik. Kamu hanya melihat mereka membicarakannya, menunjukkan pengalamannya, atau terlihat menikmati sesuatu yang sedang mereka lakukan.
Lalu muncul pikiran sederhana, “Kayaknya aku juga harus coba.”
Perubahan itu bisa terasa begitu alami sampai kamu tidak menyadari kapan keinginanmu sendiri mulai bercampur dengan keinginan untuk tidak tertinggal. Sesuatu yang sebelumnya tidak ada dalam pikiranmu perlahan terasa seperti sesuatu yang seharusnya kamu lakukan.
Kamu akhirnya ikut.
Saat sedang melakukannya, mungkin semuanya terasa baik-baik saja. Kamu berada bersama orang lain, mendapatkan pengalaman yang sama, dan tidak lagi merasa menjadi orang yang ketinggalan.
Tetapi setelah semuanya selesai, kamu bisa saja menyadari bahwa ternyata kamu tidak terlalu menginginkan pengalaman tersebut sejak awal.
Bukan berarti aktivitasnya buruk. Bukan juga berarti kamu salah karena ikut.
Yang berubah adalah cara kamu sampai pada keputusan itu.
Kalau sejak awal kamu memang tertarik, keputusan untuk ikut biasanya terasa seperti sesuatu yang kamu pilih karena kamu menginginkannya. Ketika kamu ikut karena FOMO, dorongannya bisa terasa berbeda karena yang paling kuat justru keinginan untuk tidak berada di luar pengalaman orang lain.
Kamu mungkin lebih sibuk memikirkan apa yang akan terjadi kalau tidak ikut daripada memikirkan apakah kamu memang ingin berada di sana.
Perbedaan kecil ini bisa membuat perilaku yang dari luar terlihat sama memiliki arti yang berbeda. Dua orang bisa membeli barang yang sama, datang ke tempat yang sama, atau mengikuti tren yang sama. Salah satunya mungkin memang sudah lama menginginkannya, sementara yang lain baru tertarik setelah melihat banyak orang ikut.
Keduanya sama-sama mengatakan, “Aku mau ikut.”
Tetapi alasan di balik kalimat tersebut belum tentu sama.
Itulah kenapa perilaku ikut-ikutan tidak selalu bisa dipahami hanya dari apa yang kamu lakukan. Kadang bagian yang lebih penting justru ada pada perasaan sebelum kamu mengambil keputusan.
Kalau kamu memang ingin melakukan sesuatu, biasanya ada ketertarikan terhadap sesuatu itu sendiri. Namun kalau yang paling terasa adalah takut tidak ikut ketika semua orang sudah ikut, keputusan tersebut bisa lebih banyak digerakkan oleh rasa takut ketinggalan.
Kenapa Tidak Ikut Bisa Terasa Lebih Tidak Nyaman daripada Ikut
Tidak ikut bisa terasa seperti kehilangan sesuatu ketika kamu melihat orang lain sudah lebih dulu mengalaminya. Padahal, belum tentu ada sesuatu yang benar-benar hilang dari hidupmu hanya karena kamu tidak berada di sana.
Kamu mungkin melihat teman-temanmu pergi bersama dan langsung merasa tidak enak ketika membayangkan dirimu tidak ikut. Yang muncul bukan sekadar, “Aku tidak pergi,” tetapi perasaan bahwa ada pengalaman yang akan terjadi tanpa dirimu.
Perasaan itu bisa membuat pilihan untuk tidak ikut terasa lebih berat daripada seharusnya.
Kalau kamu memilih ikut, setidaknya rasa takut tertinggal tersebut mereda. Kamu berada di dalam pengalaman yang sama dan tidak perlu membayangkan orang lain bersenang-senang sementara kamu berada di luar.
Itu sebabnya ikut bisa terasa lebih nyaman secara emosional, bahkan ketika kamu sebenarnya tidak terlalu menginginkan kegiatannya.
Ada perbedaan antara kehilangan sesuatu yang memang kamu inginkan dan merasa kehilangan karena orang lain mendapatkannya. Dalam kondisi FOMO, keduanya bisa terasa hampir sama.
Kamu melihat orang lain mendapatkan pengalaman tertentu, lalu muncul perasaan bahwa kamu juga seharusnya mendapatkannya. Padahal sebelumnya, pengalaman tersebut mungkin tidak pernah menjadi sesuatu yang kamu cari.
Contohnya bisa sangat sederhana.
Teman-temanmu mencoba sebuah tempat baru dan membicarakannya selama beberapa hari. Kamu sebenarnya tidak terlalu penasaran. Tetapi semakin sering mendengar cerita mereka, semakin muncul rasa tidak nyaman karena kamu tidak punya pengalaman yang sama.
Akhirnya kamu ikut ketika mereka mengajak lagi.
Saat itu, keputusan untuk ikut bisa terasa melegakan. Kamu tidak lagi menjadi orang yang tidak tahu seperti apa tempat tersebut. Kamu juga punya pengalaman yang sama untuk dibicarakan.
Namun rasa lega itu tidak selalu berarti kamu memang sejak awal menginginkan pengalaman tersebut.
Kadang rasa lega hanya menunjukkan bahwa ketakutan untuk tertinggal sudah berkurang.
Hal seperti ini membuat FOMO dan ikut-ikutan sulit dibedakan dari keinginan biasa. Dari luar, kamu hanya terlihat sedang mengikuti orang lain. Dari dalam, ada proses lain yang mungkin sedang terjadi: kamu sedang berusaha menghindari rasa tidak nyaman karena merasa berada di luar.
Semakin kuat perasaan itu, semakin mudah keputusan “tidak ikut” terasa seperti sebuah kerugian.
Padahal, tidak ikut belum tentu berarti kamu kehilangan sesuatu yang memang kamu inginkan. Bisa jadi yang terasa hilang hanyalah kesempatan untuk memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain.
Dan ketika perasaan tersebut menjadi cukup kuat, kamu bisa mulai kesulitan membedakan mana keinginan yang memang berasal dari dirimu dan mana dorongan yang muncul karena takut ketinggalan.
Ketika “Aku Mau Ikut” dan “Aku Takut Ketinggalan” Mulai Sulit Dibedakan
Perbedaan antara ingin ikut dan takut ketinggalan bisa menjadi semakin samar ketika kamu terlalu sering berada di situasi yang membuatmu melihat orang lain melakukan sesuatu. Sesuatu yang awalnya hanya menarik perhatian perlahan bisa terasa seperti sesuatu yang harus kamu ikuti.
Kamu mungkin berkata kepada dirimu sendiri, “Aku memang mau ikut.”
Tetapi kalau kamu berhenti sebentar dan melihat kembali bagaimana keinginan itu muncul, ceritanya bisa berbeda. Kamu mungkin tidak pernah memikirkan aktivitas tersebut sebelumnya. Keinginan itu baru muncul setelah melihat orang lain melakukannya.
Di sinilah pertanyaan seperti, “Kalau tidak ada orang lain yang melakukannya, apakah kamu masih menginginkannya?” bisa memperlihatkan perbedaan antara dua dorongan tersebut.
Bukan berarti jawaban “iya” otomatis berarti keputusanmu bebas dari FOMO. Kamu tetap bisa tertarik pada sesuatu sekaligus merasa takut tertinggal. Kedua perasaan itu bisa muncul bersamaan dan saling bercampur.
Yang membuatnya menarik adalah ketika rasa takut ketinggalan mulai menjadi alasan yang lebih kuat daripada ketertarikanmu sendiri.
Misalnya, kamu melihat banyak orang mengikuti sebuah tren. Pada awalnya kamu hanya melihatnya sebagai sesuatu yang sedang ramai. Setelah semakin sering melihat orang lain ikut, kamu mulai merasa penasaran dan akhirnya ingin mencoba.
Di titik itu, sulit mengatakan bahwa keinginanmu sepenuhnya berasal dari luar atau sepenuhnya berasal dari dalam. Kamu memang mungkin sudah tertarik, tetapi perhatian dari orang lain membuat ketertarikan tersebut menjadi jauh lebih kuat.
Hal yang sama bisa terjadi dalam lingkungan pertemanan.
Kamu mungkin sebenarnya tidak masalah kalau tidak ikut. Tetapi ketika semua orang mulai membicarakan rencana mereka, muncul perasaan bahwa kamu seharusnya berada di sana juga. Pertanyaan “aku mau ikut atau tidak?” perlahan berubah menjadi “kalau aku tidak ikut, nanti aku ketinggalan apa?”
Perubahan pertanyaan itu terlihat kecil, tetapi bisa mengubah cara kamu memandang keputusan.
Fokusnya bukan lagi pada apa yang kamu inginkan, melainkan pada apa yang mungkin kamu lewatkan jika tidak mengikuti orang lain.
Karena itu, seseorang bisa merasa bingung dengan keputusannya sendiri setelah semuanya selesai. Kamu mungkin bertanya, “Tadi aku ikut karena memang mau, atau karena nggak enak kalau nggak ikut?”
Tidak selalu ada jawaban yang benar-benar jelas.
Kadang kamu memang tertarik. Kadang kamu hanya tidak ingin tertinggal. Kadang keduanya hadir bersamaan.
Yang membuat FOMO dan ikut-ikutan terasa kuat adalah ketika rasa takut berada di luar pengalaman orang lain mulai memengaruhi pilihanmu tanpa terasa seperti sebuah tekanan. Kamu tetap merasa sedang memilih, tetapi dorongan untuk ikut bisa muncul terutama karena orang lain sudah lebih dulu berada di sana.
Pada akhirnya, perilaku mengikuti orang lain tidak selalu berarti kamu tidak punya keinginan sendiri. Kamu bisa ikut karena memang tertarik, karena ingin merasakan pengalaman yang sama, atau karena keputusan itu memang sesuai dengan apa yang kamu inginkan.
Tetapi ada juga saat ketika kamu bergerak bukan karena benar-benar ingin berada di sana.
Kamu bergerak karena tidak nyaman membayangkan dirimu menjadi satu-satunya orang yang tidak ikut.
Di situlah “aku mau ikut” dan “aku takut ketinggalan” bisa terasa hampir sama. Dari luar, keduanya terlihat seperti keputusan yang sama. Namun dari dalam, alasan yang membuatmu memilih untuk ikut bisa sangat berbeda.
Kalau kamu ingin memahami hubungan antara rasa takut tertinggal, keputusan mengikuti orang lain, dan berbagai bentuk FOMO yang bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari, kamu bisa memahami FOMO secara lebih lengkap.
Tidak semua keputusan untuk mengikuti orang lain berasal dari keinginan yang benar-benar kamu miliki. Kadang yang membuatmu bergerak bukan karena kamu ingin berada di sana, tetapi karena kamu tidak nyaman membayangkan dirimu menjadi orang yang tertinggal.