FOMO dan Perbandingan Sosial: Kenapa Hidup Orang Lain Terasa Lebih Menarik

Pernah nggak kamu melihat kehidupan orang lain, lalu tiba-tiba merasa ada sesuatu yang kurang dari hidupmu sendiri? Seseorang baru pergi ke tempat yang belum pernah kamu datangi, mendapat pekerjaan yang terlihat lebih menarik, punya lingkaran pertemanan yang ramai, atau menjalani hubungan yang tampak menyenangkan. Kamu melihatnya sebagai bagian dari hidup mereka, tetapi tanpa sadar mulai menggunakannya untuk menilai hidupmu sendiri.

Di titik itu, perbandingan sosial bisa mulai berkaitan dengan FOMO dan perbandingan sosial. Kamu bukan sekadar melihat apa yang sedang dilakukan orang lain. Kamu mulai membandingkan posisi mereka dengan posisimu, lalu muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang kamu lewatkan.

Perasaan tersebut tidak selalu muncul karena kamu iri atau tidak senang melihat orang lain mendapatkan sesuatu. Kadang kamu justru ikut senang untuk mereka. Hanya saja, setelah melihat kehidupan mereka, muncul pertanyaan kecil dalam pikiranmu: “Kenapa hidupku tidak seperti itu?”

Pertanyaan sederhana seperti itu bisa membawa perhatianmu kembali kepada apa yang belum kamu punya, belum kamu alami, atau belum kamu capai.

Saat Kehidupan Orang Lain Mulai Menjadi Ukuran untuk Melihat Hidupmu Sendiri

Perbandingan sosial bisa muncul tanpa kamu sengaja ketika pengalaman orang lain mulai kamu gunakan sebagai pembanding terhadap kehidupanmu sendiri.

Kamu mungkin melihat seorang teman mendapatkan pekerjaan baru. Kamu sebenarnya tidak sedang mencari pekerjaan dan tidak punya masalah dengan pekerjaanmu sekarang. Namun setelah mengetahui kabar tersebut, kamu mulai memikirkan posisi kariermu sendiri. “Dia sudah sampai sana, aku masih di sini.”

Hal yang sama bisa terjadi ketika kamu melihat seseorang pergi berlibur, berkumpul dengan banyak teman, membeli sesuatu yang sudah lama kamu inginkan, atau menjalani pengalaman yang belum pernah kamu rasakan. Perhatianmu yang awalnya hanya tertuju pada kehidupan mereka perlahan berpindah menjadi penilaian terhadap kehidupanmu sendiri.

Proses seperti ini tidak selalu berarti kamu membenci atau menginginkan sesuatu yang dimiliki orang tersebut. Kamu hanya sedang menggunakan kehidupan orang lain sebagai semacam cermin untuk melihat posisi dirimu.

Masalahnya, cermin itu bisa membuat perbedaan yang tadinya biasa saja terasa lebih besar.

Kamu melihat seseorang punya pengalaman tertentu, sementara kamu tidak. Pada awalnya, perbedaan itu mungkin hanya sebuah fakta. Tetapi ketika kamu mulai bertanya apakah seharusnya kamu juga mengalami hal yang sama, perbedaan tersebut mulai memiliki makna lain.

Di sinilah hubungan antara perbandingan sosial dan FOMO bisa mulai terlihat. Kamu tidak lagi hanya menyadari bahwa orang lain menjalani sesuatu yang berbeda. Kamu mulai merasa bahwa perbedaan itu mungkin berarti kamu sedang tertinggal dari sesuatu.

Kamu bisa melihat teman-temanmu berkumpul tanpa dirimu dan berpikir bahwa mereka sedang menikmati sesuatu yang kamu lewatkan. Kamu bisa melihat seseorang mengalami perkembangan karier dan mulai merasa bahwa ada kemajuan yang seharusnya juga sudah terjadi dalam hidupmu.

Padahal, kehidupan dua orang memang tidak harus berjalan dalam urutan yang sama.

Namun ketika kehidupan orang lain terus digunakan sebagai pembanding, posisi mereka bisa terasa seperti patokan untuk menilai posisi dirimu. Apa yang mereka lakukan mulai memengaruhi cara kamu melihat apa yang sedang kamu jalani.

Perbandingan seperti ini juga bisa terjadi dalam hal-hal yang sangat biasa. Kamu melihat orang lain memiliki hubungan yang terlihat dekat, sementara hubunganmu terasa biasa saja. Kamu melihat seseorang punya banyak aktivitas, sementara harimu terasa monoton. Kamu melihat pencapaian seseorang, lalu tanpa sadar mengukur pencapaianmu dengan ukuran yang sama.

Akhirnya, yang membuatmu tidak nyaman bukan hanya apa yang orang lain miliki.

Yang mengganggu adalah kesan bahwa kehidupan mereka sedang bergerak, sementara kehidupanmu terasa diam di tempat.

Ketika kesan itu semakin kuat, perbandingan sosial tidak lagi sekadar membantu kamu melihat perbedaan. Ia bisa ikut membentuk rasa takut bahwa ada pengalaman, kesempatan, atau kemajuan yang sedang kamu lewatkan.

Kenapa Hidup Orang Lain Bisa Terlihat Lebih Menarik daripada Hidupmu

Kehidupan orang lain sering terlihat lebih menarik karena kamu melihatnya dari luar, sementara kehidupanmu sendiri kamu jalani dari dalam.

Kamu tahu bagaimana rasanya bangun dengan tubuh yang lelah, menjalani pekerjaan yang berulang, menghadapi masalah kecil, menunggu sesuatu yang belum selesai, atau melewati hari yang terasa biasa saja. Semua bagian itu kamu alami secara langsung sehingga kamu mengetahui bukan hanya apa yang menyenangkan, tetapi juga apa yang membosankan dan melelahkan.

Ketika melihat kehidupan orang lain, kamu tidak memiliki pengalaman yang sama lengkapnya.

Kamu mungkin hanya melihat seseorang sedang menikmati perjalanan, merayakan pencapaian, bertemu teman-temannya, atau menjalani aktivitas yang menarik. Kamu melihat bagian tertentu dari kehidupan mereka, sementara bagian lain yang tidak terlihat tidak ikut masuk ke dalam perbandinganmu.

Itulah yang bisa membuat perbedaan antara kehidupanmu dan kehidupan orang lain terasa tidak seimbang.

Kamu membandingkan keseluruhan pengalaman hidupmu dengan potongan pengalaman orang lain yang paling terlihat. Kehidupanmu hadir bersama rutinitas, masalah, kegagalan, dan kebosanannya, sedangkan kehidupan orang lain bisa hadir hanya melalui satu momen yang menarik perhatianmu.

Bukan berarti apa yang kamu lihat dari orang lain itu palsu.

Seseorang memang bisa sedang menikmati hidupnya. Seorang teman memang bisa mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Orang lain memang bisa sedang bepergian, membangun hubungan baru, bertemu banyak orang, atau mencapai sesuatu yang sudah lama ia kejar.

Namun satu pengalaman yang menyenangkan belum tentu menggambarkan seluruh kehidupan seseorang.

Kamu tetap bisa melihat pengalaman tersebut dan merasa bahwa hidup orang itu lebih menarik daripada hidupmu. Perasaan itu muncul bukan hanya karena apa yang mereka jalani, tetapi juga karena kamu mengetahui begitu banyak hal tentang kehidupanmu sendiri yang tidak kamu lihat ketika memandang kehidupan mereka.

Perbandingan menjadi semakin kuat ketika perhatianmu tertuju pada hal yang sedang tidak ada dalam hidupmu.

Kamu melihat orang lain punya kesempatan untuk bepergian ketika kamu sedang sibuk dengan pekerjaan. Kamu melihat seseorang punya banyak teman ketika kamu sedang menjalani hari yang lebih sepi. Kamu melihat pencapaian seseorang ketika dirimu sedang berada dalam fase yang belum menghasilkan banyak perubahan.

Pada saat itu, kehidupan orang lain bisa terasa seperti gambaran tentang sesuatu yang seharusnya juga kamu miliki.

Kamu mungkin tidak mengetahui apakah mereka sedang menghadapi masalah lain. Kamu juga tidak selalu tahu berapa banyak waktu, tenaga, uang, atau pengorbanan yang berada di balik pengalaman yang kamu lihat. Tetapi hal-hal yang tidak kamu ketahui itu tidak ikut muncul dalam perbandingan.

Yang muncul justru hasil akhirnya.

Seseorang terlihat berhasil. Seseorang terlihat bahagia. Seseorang terlihat sibuk menjalani banyak pengalaman. Sementara kamu melihat kehidupanmu sendiri lengkap dengan semua bagian yang tidak menarik untuk dibandingkan.

Dari sini, pertanyaan “kenapa hidup orang lain terlihat lebih baik?” bisa terasa sangat masuk akal.

Padahal yang sedang dibandingkan belum tentu dua kehidupan secara utuh. Kamu sedang membandingkan pengalamanmu yang lengkap dengan bagian tertentu dari kehidupan orang lain yang sedang menarik perhatianmu.

Karena itu, FOMO karena perbandingan sosial tidak selalu dimulai dari keinginan kuat terhadap sesuatu. Kadang rasa takut tertinggal muncul setelah kamu melihat kehidupan orang lain dan menjadikannya sebagai ukuran untuk membaca keadaanmu sendiri.

Semakin sering perbandingan seperti itu terjadi, semakin mudah pengalaman orang lain terasa seperti bukti bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hidupmu. Bukan karena kehidupanmu tiba-tiba berubah, tetapi karena cara kamu melihatnya ikut berubah setelah melihat kehidupan orang lain.

Ketika Membandingkan Diri Membuatmu Merasa Sedang Tertinggal

Perasaan tertinggal muncul ketika perbedaan antara hidupmu dan kehidupan orang lain mulai kamu anggap sebagai tanda bahwa kamu kehilangan sesuatu.

Kamu melihat seseorang mendapatkan pengalaman baru, lalu membandingkannya dengan apa yang sedang kamu jalani. Awalnya hanya terlihat berbeda. Tetapi setelah muncul pikiran seperti “aku kapan?” atau “kok mereka sudah sampai sana?”, perbedaan tersebut mulai terasa seperti jarak yang harus kamu kejar.

Di sinilah membandingkan diri dapat membuat FOMO terasa lebih kuat.

Kamu tidak hanya melihat bahwa orang lain sedang menjalani sesuatu. Kamu mulai merasa bahwa ada pengalaman, kesempatan, atau perkembangan yang seharusnya juga sedang terjadi dalam hidupmu.

Misalnya, kamu melihat beberapa teman mulai sering bepergian. Kamu sebenarnya tidak pernah merencanakan perjalanan dalam waktu dekat. Namun setelah melihat mereka, muncul perasaan bahwa kamu sedang melewatkan sesuatu karena tidak ikut mengalami hal yang sama.

Atau kamu melihat seseorang berkembang dalam kariernya. Kamu kemudian melihat kembali pekerjaanmu sendiri dan merasa bahwa perkembanganmu terlalu lambat. Bukan hanya karena orang tersebut mengalami kemajuan, tetapi karena kemajuan mereka membuat posisi dirimu terasa semakin tertinggal.

Perasaan seperti ini bisa terjadi meskipun sebelumnya kamu tidak merasa ada masalah dengan kehidupanmu.

Sebelum melihat kehidupan orang lain, keadaanmu mungkin terasa biasa saja. Setelah melihat pencapaian, pengalaman, atau aktivitas mereka, keadaan yang sama tiba-tiba terasa kurang.

Artinya, rasa tertinggal tidak selalu berasal dari perubahan dalam kehidupanmu. Kadang yang berubah adalah pembanding yang kamu gunakan untuk melihat kehidupan tersebut.

Perbandingan sosial juga bisa membuat waktu terasa seperti perlombaan.

Kamu melihat seseorang menikah lebih dulu, membeli rumah, membangun bisnis, mendapatkan pekerjaan tertentu, atau mencapai sesuatu yang menurutmu menarik. Kemudian pengalaman mereka seperti menjadi penanda tentang di mana seharusnya kamu berada pada usia atau tahap kehidupanmu sekarang.

Padahal kamu tidak sedang menjalani perjalanan yang sama.

Tetapi ketika pencapaian orang lain digunakan sebagai patokan, perbedaan waktu bisa terasa seperti keterlambatan. Kamu bukan lagi sekadar melihat bahwa orang lain memiliki sesuatu yang belum kamu miliki. Kamu mulai membaca keadaanmu sebagai bukti bahwa kamu sedang kehilangan kesempatan.

Rasa takut tertinggal karena membandingkan diri inilah yang membuat hubungan FOMO dengan perbandingan sosial menjadi lebih jelas.

Yang membuatmu gelisah bukan hanya keberadaan sesuatu di luar sana. Kamu merasa bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman yang seharusnya bisa kamu dapatkan juga, dan jika kamu tidak segera ikut, mungkin kesempatan itu akan berlalu.

Perasaan tersebut bisa muncul dalam banyak bentuk.

Kamu bisa merasa tertinggal karena tidak mengikuti kegiatan yang dilakukan teman-temanmu. Kamu bisa merasa tertinggal karena belum mencapai pencapaian tertentu. Kamu juga bisa merasa tertinggal ketika melihat gaya hidup orang lain lalu merasa kehidupanmu tidak berkembang dengan kecepatan yang sama.

Padahal belum tentu ada sesuatu yang benar-benar hilang dari hidupmu.

Perbandingan membuat keberadaan pengalaman orang lain terasa seperti ukuran tentang apa yang tidak kamu miliki. Dari sana, FOMO bisa muncul bukan karena kamu sudah menentukan bahwa pengalaman itu penting bagimu, tetapi karena kamu melihat orang lain sedang menjalaninya.

Kamu Bisa Merasa Kehilangan Sesuatu yang Sebenarnya Tidak Kamu Inginkan

FOMO bisa terasa membingungkan ketika kamu merasa takut melewatkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu kamu inginkan.

Kamu melihat orang lain melakukan aktivitas tertentu, kemudian muncul dorongan untuk ikut. Kalau ditanya sebelum melihat mereka, mungkin kamu tidak pernah memikirkan aktivitas tersebut. Tetapi setelah melihatnya, tiba-tiba kamu merasa seperti kehilangan sesuatu karena tidak berada di sana.

Perubahan ini menunjukkan bahwa keinginan dan perasaan takut tertinggal tidak selalu berasal dari tempat yang sama.

Kamu bisa saja memang menginginkan pengalaman tertentu karena sesuai dengan minatmu. Tetapi kamu juga bisa menginginkannya setelah melihat orang lain mendapatkannya. Dalam situasi kedua, perhatianmu terhadap pengalaman tersebut muncul setelah ada pembanding.

Misalnya, kamu melihat teman-temanmu berkumpul di sebuah tempat yang sedang ramai. Kamu tidak punya rencana pergi ke sana dan sebelumnya juga tidak merasa perlu datang. Namun setelah melihat mereka bersenang-senang, muncul perasaan bahwa kamu seharusnya ikut.

Yang terasa kuat justru bukan keinginan terhadap tempat tersebut.

Yang terasa kuat adalah ketakutan bahwa kamu sedang melewatkan pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.

Hal serupa bisa terjadi pada pekerjaan, perjalanan, hubungan, gaya hidup, atau berbagai pencapaian. Kamu melihat seseorang menjalani sesuatu, lalu pengalaman tersebut terlihat lebih penting karena orang lain sedang memilikinya.

Di sinilah FOMO dan membandingkan diri bisa saling berkaitan.

Kamu membandingkan apa yang kamu jalani dengan apa yang sedang dijalani orang lain. Setelah melihat perbedaannya, kamu memberi perhatian lebih besar kepada sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu kamu pikirkan.

Akibatnya, kamu bisa merasa kehilangan sesuatu meskipun belum pernah benar-benar memutuskan bahwa sesuatu itu kamu inginkan.

Perasaan ini juga bisa membuat batas antara “aku ingin” dan “aku takut tidak punya” menjadi semakin samar.

Kamu mungkin mengatakan, “Aku juga pengin seperti itu,” padahal di balik kalimat tersebut sebenarnya ada pertanyaan lain: “Kenapa aku tidak mengalami hal yang sama seperti mereka?”

Dua hal tersebut terlihat mirip, tetapi tidak selalu memiliki makna yang sama.

Keinginan pribadi berasal dari apa yang memang kamu anggap menarik atau berarti. Sementara rasa takut tertinggal bisa muncul karena kamu melihat orang lain menjalani sesuatu dan kemudian menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembanding terhadap hidupmu.

Karena itu, melihat kehidupan orang lain bisa mengubah sesuatu yang sebelumnya biasa saja menjadi terasa mendesak.

Kamu tidak hanya mengetahui bahwa pengalaman tersebut ada. Kamu mulai merasa bahwa tidak mengalaminya berarti ada bagian hidup yang sedang kamu lewatkan.

Kalau kamu ingin memahami FOMO secara lebih lengkap, FOMO dan perbandingan sosial ini hanya menjadi salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.