Insecure: Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup

Ada hari-hari ketika semuanya sebenarnya berjalan biasa saja.

Kamu bangun pagi.

Menjalani rutinitas yang sama.

Menyelesaikan pekerjaan yang memang harus diselesaikan.

Tidak ada masalah besar. Tidak ada kegagalan yang menghantam hidupmu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar salah.

Kalau seseorang bertanya bagaimana keadaanmu hari itu, mungkin kamu akan menjawab, “baik-baik saja.”

Lalu sesuatu yang kecil terjadi.

Kamu membuka media sosial.

Melihat foto teman lama.

Melihat seseorang yang usianya sama denganmu.

Melihat pencapaian yang baru saja ia bagikan.

Atau mungkin kamu membaca komentar yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Hanya satu kalimat pendek yang membuatmu berpikir lebih lama dari yang seharusnya.

Dan anehnya, suasana hati yang sejak tadi terasa biasa mulai berubah.

Bukan karena hidupmu tiba-tiba menjadi lebih buruk.

Bukan karena apa yang kamu miliki menghilang.

Semua masih sama seperti satu jam yang lalu.

Tetapi entah kenapa, sesuatu terasa berkurang.

Tiba-tiba muncul jarak antara dirimu yang sekarang dan seseorang yang menurutmu lebih baik.

Lebih berhasil.

Lebih menarik.

Lebih percaya diri.

Lebih layak dikagumi.

Perasaan itu sering datang tanpa suara yang jelas.

Ia tidak selalu berkata, “aku gagal.”

Ia tidak selalu berkata, “aku buruk.”

Kadang ia hanya berbisik pelan:

“seharusnya aku bisa lebih dari ini.”

Dan semakin lama kamu memikirkannya, semakin sulit mengabaikannya.

Yang menarik, pengalaman seperti ini tidak hanya dialami oleh orang yang sedang terpuruk.

Banyak orang mengalaminya justru ketika hidup mereka terlihat baik-baik saja.

Mereka bekerja.

Mereka punya keluarga.

Mereka punya pencapaian.

Mereka terus bergerak.

Tetapi di balik semua itu, ada perasaan yang terus mengikuti seperti bayangan.

Perasaan bahwa apa yang sudah ada masih belum cukup.

Perasaan bahwa diri yang sekarang masih belum cukup.

Perasaan bahwa ada sesuatu yang kurang, meskipun sulit menjelaskan sebenarnya apa.

Belakangan, banyak orang mengenal pengalaman ini dengan satu kata:

insecure.

Tetapi sebelum terburu-buru memberi nama pada perasaan itu, mungkin ada pertanyaan yang lebih menarik.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi ketika seseorang merasa tidak pernah cukup, bahkan ketika hidupnya tampak berjalan baik-baik saja?

Ketika Persoalannya Bukan Lagi Tentang Penampilan atau Kepercayaan Diri

Banyak orang mengira insecure hanya berkaitan dengan penampilan.

Merasa tubuh kurang ideal.

Merasa wajah kurang menarik.

Merasa kalah dibanding orang lain secara fisik.

Padahal pengalaman insecure sering jauh lebih luas daripada itu.

Kamu bisa merasa insecure tentang pekerjaan.

Tentang penghasilan.

Tentang hubungan.

Tentang kemampuan berbicara.

Tentang keputusan hidup yang pernah diambil.

Bahkan tentang hal-hal yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Kadang seseorang terlihat percaya diri di depan banyak orang, tetapi diam-diam terus mempertanyakan dirinya sendiri setiap malam.

Kadang seseorang terlihat sukses, tetapi tetap merasa tertinggal.

Kadang seseorang menerima banyak pujian, tetapi tidak pernah benar-benar mempercayainya.

Karena pada dasarnya, insecure bukan hanya tentang apa yang kamu miliki.

Ia lebih dekat dengan pertanyaan yang jauh lebih pribadi:

“Apakah aku cukup?”

Pertanyaan ini jarang muncul secara langsung.

Ia muncul dalam bentuk yang lebih halus.

Apakah aku cukup berhasil?

Apakah aku cukup pintar?

Apakah aku cukup menarik?

Apakah aku cukup penting?

Apakah aku cukup layak untuk dihargai?

Dan semakin sering pertanyaan-pertanyaan itu muncul, semakin mudah seseorang mulai mengukur dirinya sendiri dari luar.

Dari pencapaian.

Dari pengakuan.

Dari respons orang lain.

Dari posisi dibanding orang-orang di sekitarnya.

Masalahnya, ukuran-ukuran itu tidak pernah benar-benar diam.

Mereka terus bergerak.

Ketika satu target tercapai, muncul target berikutnya.

Ketika satu kekhawatiran hilang, muncul kekhawatiran baru.

Seolah-olah garis “cukup” selalu bergeser beberapa langkah di depan.

Mengapa Insecure Bisa Muncul Bahkan Saat Hidup Sedang Baik-Baik Saja?

Ada satu hal tentang insecure yang sering mengejutkan banyak orang.

Kita cenderung menganggap perasaan ini hanya muncul ketika hidup sedang buruk.

Saat gagal.

Saat ditolak.

Saat kehilangan sesuatu.

Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.

Kamu mungkin pernah mengalami momen ketika sebuah target akhirnya tercapai.

Hal yang selama ini dikejar akhirnya berhasil didapatkan.

Awalnya ada rasa lega.

Ada rasa puas.

Ada perasaan bahwa setelah ini semuanya akan terasa lebih baik.

Tetapi beberapa waktu kemudian, muncul sesuatu yang aneh.

Kepuasan itu mulai memudar.

Perhatianmu perlahan berpindah ke target berikutnya.

Ke orang berikutnya yang terlihat lebih maju.

Ke kekurangan berikutnya yang harus diperbaiki.

Dan tanpa sadar, perasaan yang dulu ingin kamu tinggalkan ternyata masih ada di tempat yang sama.

Hanya bentuknya yang berubah.

Ini salah satu alasan mengapa insecure sering membuat bingung.

Karena banyak orang berharap pencapaian akan menghapusnya.

Mereka berpikir:

“Nanti kalau aku sudah berhasil, perasaan ini akan hilang.”

“Nanti kalau aku sudah lebih mapan, aku akan tenang.”

“Nanti kalau aku sudah mencapai titik tertentu, aku tidak akan membandingkan diri lagi.”

Tetapi sering kali yang terjadi justru berbeda.

Pencapaian mengubah keadaan.

Namun tidak selalu mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Dan selama cara memandang diri itu tidak berubah, rasa kurang tersebut bisa menemukan alasan baru untuk tetap bertahan.

Ketika Insecure Bukan Lagi Tamu, Tetapi Menjadi Cara Melihat Diri Sendiri

Sesekali merasa kurang bukan sesuatu yang aneh.

Sesekali membandingkan diri juga bukan sesuatu yang aneh.

Sesekali meragukan kemampuan sendiri pun bukan sesuatu yang aneh.

Itu bagian dari menjadi manusia.

Masalahnya bukan pada kemunculan perasaan itu.

Masalahnya muncul ketika perasaan tersebut perlahan berubah menjadi pola.

Ketika ia tidak lagi datang sebagai tamu.

Tetapi mulai menetap sebagai cara melihat diri sendiri.

Kamu mulai meragukan dirimu bahkan sebelum mencoba.

Kamu mulai menganggap pencapaian sebagai sesuatu yang biasa, tetapi kesalahan sebagai bukti yang penting.

Kamu lebih mudah melihat apa yang kurang daripada apa yang sudah ada.

Kamu lebih cepat percaya pada kritik daripada pujian.

Dan perlahan, seluruh pengalaman hidup mulai melewati saringan yang sama.

Apa pun yang terjadi selalu berakhir pada kesimpulan yang serupa.

“Aku masih kurang.”

Mungkin itulah perbedaan terbesar antara rasa insecure yang sesekali muncul dan insecure yang sudah menjadi pola.

Yang pertama datang lalu pergi.

Yang kedua ikut menentukan bagaimana seseorang menafsirkan hampir semua hal dalam hidupnya.

Kalau kamu ingin masuk lebih dalam tentang bagaimana pengalaman ini bekerja dan mengapa banyak orang sulit mengenalinya sejak awal, kamu bisa membaca artikel “Insecure Adalah: Ketika Kamu Terus Merasa Kurang Meski Tidak Kekurangan Apa-Apa”.

Tetapi sebelum sampai ke sana, ada pertanyaan lain yang mungkin lebih menarik.

Kalau insecure bukan sekadar masalah kepercayaan diri…

dan kalau ia bisa muncul bahkan ketika hidup sedang berjalan cukup baik…

lalu sebenarnya dari mana perasaan ini berasal?

Dari Mana Insecure Berasal?

Ketika seseorang mulai menyadari bahwa ia sering merasa tidak cukup, biasanya muncul pertanyaan berikutnya.

“Kenapa aku begini?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tetapi sering kali di baliknya ada nada yang lebih berat.

Bukan sekadar ingin memahami.

Melainkan juga ingin menemukan siapa yang harus disalahkan.

Dan sering kali, orang pertama yang ditunjuk adalah diri sendiri. Bukan karena semua masalah memang berasal dari dirinya, tetapi karena rasa tidak cukup baik membuat banyak orang lebih mudah melihat kesalahan pada diri sendiri daripada kemungkinan lain.

Kalau kamu pernah merasa setiap kegagalan, penolakan, atau masalah selalu berakhir dengan pikiran “ini salahku”, kamu bisa membaca artikel Self Blame Adalah: Ketika Kamu Jadi Musuh Terburuk Dirimu Sendiri.

Mungkin orang tua.

Mungkin lingkungan.

Mungkin masa lalu.

Mungkin diri sendiri.

Padahal tidak semua pola yang hidup di dalam diri seseorang lahir dari satu penyebab yang jelas.

Sering kali ia terbentuk sedikit demi sedikit.

Seperti tetesan air yang jatuh di tempat yang sama selama bertahun-tahun.

Tidak terasa saat prosesnya terjadi.

Tetapi suatu hari jejaknya sudah ada.

Hal yang sama sering terjadi pada insecure.

Jarang ada satu peristiwa tunggal yang menciptakannya.

Lebih sering ia tumbuh dari berbagai cara kita belajar melihat diri sendiri dan melihat dunia di sekitar kita.

Dan menariknya, banyak dari cara tersebut sebenarnya sangat normal.

Bahkan sebagian merupakan cara kerja alami otak manusia.

Ketika Membandingkan Diri Menjadi Kebiasaan yang Tidak Disadari

Bayangkan kamu sedang duduk santai di sore hari.

Tidak ada masalah besar.

Mood juga cukup baik.

Lalu kamu membuka media sosial.

Awalnya hanya ingin melihat-lihat sebentar.

Beberapa menit kemudian, kamu melihat seseorang yang usianya sama denganmu.

Ia baru membeli rumah.

Atau baru membuka usaha.

Atau baru mencapai sesuatu yang selama ini ingin kamu capai.

Tidak ada yang salah dengan pencapaian orang tersebut.

Dan mungkin kamu juga tidak iri.

Tetapi suasana hati mulai berubah.

Perlahan.

Hampir tidak terasa.

Tiba-tiba perhatianmu berpindah dari hidupmu sendiri ke hidup orang lain.

Dari apa yang sedang kamu jalani ke apa yang belum kamu miliki.

Dari apa yang sudah ada ke apa yang masih kurang.

Yang menarik, ini bukan karena kamu lemah.

Bukan karena ada yang salah dengan karaktermu.

Sebagian besar manusia memang belajar memahami posisinya melalui perbandingan.

Sejak kecil kita terbiasa melihat siapa yang lebih cepat.

Siapa yang lebih pintar.

Siapa yang lebih disukai.

Siapa yang lebih berhasil.

Perbandingan membantu otak memahami dunia.

Tetapi masalah muncul ketika perbandingan berubah fungsi.

Bukan lagi untuk memahami posisi.

Melainkan untuk menentukan nilai diri.

Saat itulah hidup mulai terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai.

Karena selalu ada seseorang yang terlihat lebih maju.

Lebih sukses.

Lebih menarik.

Lebih percaya diri.

Lebih bahagia.

Dan semakin luas dunia yang bisa kamu lihat, semakin banyak pula orang yang bisa dijadikan pembanding.

Dulu seseorang mungkin hanya membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitar.

Hari ini ia bisa membandingkan dirinya dengan jutaan orang dalam satu genggaman.

Tidak heran jika banyak orang merasa lelah tanpa benar-benar tahu sumber kelelahannya.

Karena setiap hari mereka tanpa sadar sedang mengikuti perlombaan yang bahkan tidak mereka pilih.

Ketika Garis “Cukup” Terus Bergeser

Ada hal lain yang sering membuat insecure bertahan lebih lama dari yang kita kira.

Yaitu kenyataan bahwa standar dalam kepala manusia jarang diam di satu tempat.

Mungkin kamu pernah mengatakan pada diri sendiri:

“Kalau target ini tercapai, aku akan tenang.”

Lalu target itu tercapai.

Dan memang ada rasa senang.

Tetapi tidak lama kemudian muncul target baru.

Kemudian target baru lagi.

Dan lagi.

Seolah-olah hidup selalu menyimpan versi dirimu yang lebih ideal beberapa langkah di depan.

Ketika penghasilan naik, definisi “cukup” ikut naik.

Ketika kemampuan meningkat, standar keberhasilan ikut berubah.

Ketika satu kekurangan berhasil diperbaiki, perhatian berpindah ke kekurangan berikutnya.

Fenomena ini sering membuat seseorang merasa seperti sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa disentuh sepenuhnya.

Bukan karena ia kurang bekerja keras.

Bukan karena ia tidak berkembang.

Melainkan karena garis finis terus bergerak.

Yang membuat situasi ini semakin membingungkan adalah dari luar semuanya terlihat baik-baik saja.

Orang lain mungkin melihat kemajuan.

Melihat pencapaian.

Melihat hasil yang nyata.

Tetapi di dalam diri, yang terlihat justru jarak menuju target berikutnya.

Akibatnya, setiap keberhasilan terasa semakin singkat.

Dan setiap kekurangan terasa semakin besar.

Lama-kelamaan seseorang tidak lagi menikmati perjalanan.

Ia hanya terus memperbarui daftar hal yang menurutnya masih belum cukup.

Ketika Nilai Diri Ditautkan pada Sesuatu di Luar Diri

Mungkin akar yang paling sulit dikenali adalah yang satu ini.

Karena sering kali ia terlihat seperti motivasi.

Seperti ambisi.

Seperti dorongan untuk berkembang.

Padahal di bawah permukaannya ada sesuatu yang berbeda.

Yaitu ketika nilai diri mulai bergantung pada sesuatu yang berada di luar diri.

Misalnya prestasi.

Selama prestasi berjalan baik, semuanya terasa aman.

Tetapi ketika gagal, seluruh gambaran diri ikut terguncang.

Atau pengakuan dari orang lain.

Selama mendapat respons positif, semuanya terasa baik.

Tetapi ketika respons itu berkurang, muncul kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah identitas ikut bergantung pada penilaian tersebut.

Masalahnya bukan pada prestasi.

Masalahnya juga bukan pada pujian.

Keduanya adalah bagian normal dari kehidupan.

Yang membuatnya rapuh adalah ketika keduanya menjadi fondasi utama untuk menentukan siapa dirimu.

Karena prestasi bisa naik dan turun.

Penilaian orang lain juga bisa berubah.

Dan ketika fondasi itu bergerak, rasa aman ikut bergerak bersamanya.

Mungkin itulah sebabnya ada orang yang terlihat sangat berhasil tetapi tetap gelisah.

Ada orang yang terus mencari pencapaian baru tetapi tidak pernah benar-benar merasa sampai.

Ada orang yang menerima banyak pengakuan tetapi tetap mempertanyakan dirinya sendiri.

Bukan karena apa yang mereka capai tidak berarti.

Melainkan karena ada perbedaan antara memiliki sesuatu yang berharga dan menjadikan sesuatu itu sebagai sumber seluruh nilai diri.

Ketiga akar ini sering saling bertemu.

Perbandingan membuat seseorang merasa tertinggal.

Standar yang terus bergerak membuat rasa cukup semakin sulit dicapai.

Lalu nilai diri yang ditautkan pada pencapaian atau penilaian orang lain membuat setiap kekurangan terasa jauh lebih mengancam daripada yang sebenarnya.

Dan ketika ketiganya bekerja bersamaan, insecure tidak lagi terasa seperti perasaan sesaat.

Ia mulai terasa seperti bagian dari cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Kalau kamu ingin melihat lebih dalam bagaimana akar-akar ini terbentuk dan mengapa sering bertahan selama bertahun-tahun, kamu bisa membaca artikel “Penyebab Insecure: Mengapa Perasaan Tidak Pernah Cukup Terus Muncul Berulang Kali”.

Namun memahami asal-usulnya baru satu bagian dari cerita.

Karena yang lebih menarik bukan hanya dari mana insecure berasal.

Melainkan bagaimana ia muncul dalam kehidupan sehari-hari tanpa banyak disadari.

Kadang hanya melalui satu sesi scroll media sosial.

Kadang melalui satu percakapan biasa.

Kadang melalui kebutuhan sederhana untuk merasa diakui.

## Bagaimana Insecure Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

Memahami dari mana insecure berasal memang membantu.

Kamu mulai melihat bahwa perasaan itu tidak muncul begitu saja.

Ada pola yang membentuknya.

Ada cara berpikir yang perlahan membuatnya tumbuh.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, insecure jarang muncul dalam bentuk teori.

Ia tidak datang sambil memperkenalkan dirinya.

Ia tidak berkata:

“Halo, aku insecure.”

Sebaliknya, ia muncul dalam bentuk yang jauh lebih biasa.

Begitu biasa sampai sering dianggap normal.

Begitu akrab sampai banyak orang tidak lagi menyadarinya.

Kadang ia muncul saat kamu sedang sendiri.

Kadang saat berada di tengah banyak orang.

Kadang saat tidak ada masalah apa pun yang sedang terjadi.

Dan sering kali, ada dua jalan yang paling sering dipakai insecure untuk masuk ke dalam pikiran seseorang.

Yang pertama adalah perbandingan.

Yang kedua adalah validasi.

Ketika Hidup Berubah Menjadi Cermin untuk Menilai Diri Sendiri

Ada alasan mengapa satu sesi scroll media sosial bisa mengubah suasana hati seseorang dalam hitungan menit.

Bukan karena layar ponsel memiliki kekuatan khusus.

Bukan juga karena semua orang yang muncul di sana hidupnya lebih baik.

Tetapi karena tanpa sadar, kamu sedang melihat hidupmu sendiri melalui kehidupan orang lain.

Mungkin awalnya hanya melihat-lihat.

Kemudian muncul seseorang yang baru menikah.

Seseorang yang baru membeli rumah.

Seseorang yang baru mencapai target karier.

Seseorang yang terlihat lebih percaya diri.

Seseorang yang terlihat lebih bahagia.

Dan perlahan perhatianmu bergeser.

Bukan lagi melihat mereka.

Melainkan mulai menilai dirimu sendiri.

Yang menarik, proses ini sering berlangsung sangat cepat.

Bahkan sebelum kamu sempat menyadarinya.

Beberapa menit sebelumnya kamu merasa baik-baik saja.

Lalu sekarang muncul pertanyaan yang sebenarnya tidak ada sebelumnya.

“Kenapa aku belum sampai di sana?”

“Apa yang salah denganku?”

“Kenapa hidupku tidak seperti itu?”

Padahal satu jam sebelumnya pertanyaan itu tidak ada.

Tidak ada masalah baru yang muncul.

Tidak ada kegagalan baru yang terjadi.

Yang berubah hanyalah titik pembandingnya.

Dan terkadang satu perubahan kecil itu sudah cukup untuk mengubah cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Perbandingan sosial sering terasa seperti aktivitas yang pasif.

Seolah-olah kamu hanya melihat.

Padahal sebenarnya ada proses lain yang berjalan di belakang layar.

Setiap kali melihat orang lain, otak mulai menyusun posisi.

Siapa yang lebih maju.

Siapa yang lebih berhasil.

Siapa yang lebih menarik.

Siapa yang lebih diinginkan.

Siapa yang lebih dihargai.

Masalahnya, otak tidak pernah mendapatkan gambaran yang utuh.

Ia hanya melihat sebagian.

Potongan-potongan kecil.

Cuplikan yang dipilih.

Momen yang dibagikan.

Namun dari potongan-potongan itulah ia mulai membangun kesimpulan tentang diri sendiri.

Dan sering kali kesimpulan tersebut jauh lebih keras daripada kenyataan.

Yang membuat pola ini semakin sulit adalah adanya paradoks yang jarang dibicarakan.

Kebanyakan orang membayangkan bahwa perbandingan akan berhenti ketika seseorang berhasil.

Seolah-olah ada titik tertentu di mana seseorang akhirnya merasa cukup.

Tetapi kenyataannya tidak selalu begitu.

Karena semakin tinggi seseorang naik, semakin banyak pula orang yang terlihat berada di atasnya.

Ketika penghasilan meningkat, muncul kelompok baru untuk dibandingkan.

Ketika kemampuan bertambah, muncul standar baru.

Ketika pencapaian bertambah besar, muncul pencapaian lain yang terlihat lebih besar lagi.

Seolah-olah cakrawala selalu menjauh setiap kali kamu mendekatinya.

Mungkin itulah sebabnya ada orang yang terus maju tetapi tidak pernah merasa sampai.

Bukan karena pencapaiannya kurang.

Melainkan karena fokusnya selalu tertuju pada apa yang masih berada di depan.

Kalau kamu ingin melihat lebih dalam bagaimana perbandingan sosial membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri, kamu bisa membaca artikel “Insecure dan Perbandingan Sosial”.

Karena sering kali yang melelahkan bukan hidup yang sedang dijalani.

Melainkan perlombaan yang diam-diam terus berlangsung di dalam kepala.

Ketika Pengakuan Terasa Menenangkan, Tetapi Tidak Pernah Benar-Benar Cukup

Kalau perbandingan membuat seseorang melihat ke luar, validasi membuat seseorang menunggu sesuatu dari luar.

Dan sering kali keduanya berjalan bersama.

Bayangkan kamu mengunggah sesuatu.

Mungkin sebuah foto.

Mungkin hasil pekerjaan.

Mungkin pendapat yang baru saja ditulis.

Lalu setelah itu kamu menunggu.

Beberapa menit.

Beberapa jam.

Kadang tanpa sadar berkali-kali membuka layar yang sama.

Melihat apakah ada respons baru.

Melihat apakah ada yang menyukai.

Melihat apakah ada yang mengomentari.

Melihat apakah ada yang memperhatikan.

Ketika respons itu datang, ada rasa lega.

Ada rasa hangat sesaat.

Ada perasaan bahwa apa yang kamu lakukan ternyata berarti.

Tetapi yang menarik, rasa tersebut jarang bertahan lama.

Tidak lama kemudian pikiran mulai bergerak lagi.

Mulai mencari tanda berikutnya.

Respons berikutnya.

Pengakuan berikutnya.

Dan siklus yang sama kembali berulang.

Validasi bukan sesuatu yang buruk.

Semua manusia membutuhkannya sampai tingkat tertentu.

Kita hidup bersama orang lain.

Kita ingin diterima.

Kita ingin dipahami.

Kita ingin merasa bahwa keberadaan kita memiliki arti bagi seseorang.

Itu sangat manusiawi.

Masalahnya muncul ketika validasi berubah fungsi.

Bukan lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diterima.

Tetapi menjadi sesuatu yang diperlukan untuk merasa baik-baik saja.

Di titik itu, suasana hati mulai bergantung pada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Hari yang baik bisa berubah hanya karena respons yang diharapkan tidak datang.

Kepercayaan diri bisa naik turun mengikuti reaksi orang lain.

Dan perlahan seseorang mulai menyerahkan hak untuk menilai dirinya sendiri kepada lingkungan di sekitarnya.

Pola ini sering tidak terlihat karena dari luar tampak seperti hal yang normal.

Mencari pujian terlihat normal.

Mencari pengakuan terlihat normal.

Ingin dihargai terlihat normal.

Tetapi di baliknya terkadang ada pertanyaan yang jauh lebih dalam.

Pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab.

“Kalau tidak ada yang mengakui ini, apakah tetap berharga?”

“Kalau tidak ada yang memuji, apakah aku tetap cukup?”

“Kalau tidak ada yang melihat, apakah apa yang kulakukan masih memiliki arti?”

Dan selama pertanyaan itu masih menggantung, validasi sering hanya menjadi pereda sementara.

Ia meredakan kegelisahan.

Tetapi tidak menyentuh sumber kegelisahannya.

Seperti obat yang membuat rasa sakit mereda beberapa saat tanpa mengubah penyebabnya.

Mungkin itulah alasan mengapa sebagian orang tetap merasa kosong meskipun sudah menerima banyak pengakuan.

Karena yang mereka cari sebenarnya bukan pujian berikutnya.

Melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit ditemukan melalui pujian.

Kalau kamu ingin masuk lebih jauh ke pola ini, kamu bisa membaca artikel “Insecure dan Validasi: Ketika Pengakuan Tidak Pernah Terasa Cukup”.

Karena kebutuhan akan validasi sering kali tidak berbicara tentang orang lain.

Ia berbicara tentang hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Perbandingan dan validasi terlihat seperti dua hal yang berbeda.

Tetapi sering kali keduanya saling menguatkan.

Semakin banyak kamu membandingkan diri, semakin besar kebutuhan untuk mendapatkan bukti bahwa kamu masih cukup baik.

Semakin bergantung pada validasi, semakin mudah dirimu terguncang ketika melihat orang lain yang tampak lebih unggul.

Dan ketika keduanya bertemu, insecure mulai memiliki bahan bakar yang hampir tidak pernah habis.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa lelah tanpa tahu persis apa yang sedang mereka lawan.

Karena yang mereka hadapi bukan satu peristiwa.

Bukan satu kegagalan.

Bukan satu kekurangan.

Melainkan sebuah pola yang terus berputar.

Pola yang membuat seseorang terus melihat ke luar untuk menentukan bagaimana seharusnya ia melihat dirinya sendiri.

Lalu muncul pertanyaan yang sering dicari banyak orang setelah menyadari pola tersebut.

Jika insecure bekerja dengan cara seperti ini…

apakah ia benar-benar bisa diatasi?

Tentang “Mengatasi” Insecure

Ketika seseorang mulai menyadari pola-pola insecure dalam dirinya, biasanya muncul harapan yang sangat wajar.

“Bagaimana cara menghilangkannya?”

Mungkin itulah alasan banyak orang mencari kata kunci seperti “cara mengatasi insecure”.

Mereka lelah.

Lelah membandingkan diri.

Lelah merasa kurang.

Lelah terus mempertanyakan nilai dirinya sendiri.

Dan kelelahan itu bisa dimengerti.

Karena tidak ada yang menyenangkan dari terus-menerus merasa belum cukup.

Namun ada satu hal yang menarik.

Ketika orang berbicara tentang mengatasi insecure, sering kali yang dibayangkan adalah sebuah titik akhir.

Sebuah kondisi di mana perasaan itu hilang sepenuhnya.

Tidak muncul lagi.

Tidak mengganggu lagi.

Tidak pernah kembali lagi.

Seolah-olah suatu hari seseorang akan bangun tidur dan berkata:

“Sekarang aku sudah bebas dari insecure.”

Tetapi kehidupan jarang bekerja sesederhana itu.

Mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan:

“Bagaimana cara berhenti merasa insecure?”

Melainkan:

“Apa yang berubah pada orang yang insecure-nya tidak lagi mengendalikan hidupnya?”

Karena keduanya tidak selalu sama.

Ada orang yang masih sesekali merasakan insecure.

Masih membandingkan diri.

Masih merasakan keraguan.

Masih mengalami momen ketika ia mempertanyakan dirinya sendiri.

Tetapi perasaan-perasaan itu tidak lagi menentukan arah hidupnya.

Perasaan itu datang.

Lalu pergi.

Tidak langsung dipercaya.

Tidak langsung dijadikan kesimpulan.

Tidak langsung dianggap sebagai kebenaran.

Mungkin perbedaannya ada di sana.

Bukan pada hilangnya perasaan.

Melainkan pada berubahnya hubungan dengan perasaan tersebut.

Bayangkan dua orang mengalami hal yang sama.

Keduanya melihat seseorang yang lebih berhasil.

Keduanya merasakan sedikit rasa tertinggal.

Keduanya merasakan ketidaknyamanan yang serupa.

Orang pertama langsung menganggap perasaan itu sebagai bukti.

“Berarti aku memang kurang.”

“Berarti aku gagal.”

“Berarti aku tertinggal.”

Sementara orang kedua mungkin tetap merasakan ketidaknyamanan yang sama.

Tetapi ia tidak buru-buru menjadikannya kesimpulan.

Ia melihatnya sebagai pengalaman.

Sebagai emosi.

Sebagai sesuatu yang muncul dan layak diperhatikan.

Bukan sebagai hakim yang memiliki keputusan akhir tentang dirinya.

Dari luar, keduanya mungkin terlihat tidak berbeda.

Tetapi hubungan mereka dengan perasaan tersebut sangat berbeda.

Dan sering kali perbedaan itu jauh lebih penting daripada perasaan itu sendiri.

Karena itulah banyak upaya mengatasi insecure berakhir membuat orang semakin lelah.

Mereka mencoba mengusir perasaan itu secepat mungkin.

Mereka mencoba tidak memikirkannya.

Mereka mencoba menutupinya.

Mereka mencoba menggantinya dengan pikiran yang lebih positif.

Kadang berhasil sesaat.

Kadang terasa membantu untuk sementara waktu.

Tetapi tidak jarang perasaan yang sama muncul lagi dalam bentuk yang berbeda.

Mungkin karena selama ini yang dilawan adalah gejalanya.

Bukan hubungan dengan gejala tersebut.

Ada perbedaan tipis antara mengatasi dan menghindari.

Dan kadang keduanya terlihat sangat mirip.

Seseorang bisa terus sibuk agar tidak sempat merasa insecure.

Seseorang bisa terus mengejar pencapaian baru agar tidak perlu berhadapan dengan rasa kurang.

Seseorang bisa terus mencari validasi agar tidak perlu mendengar suara keraguan di dalam dirinya.

Dari luar semua itu terlihat seperti kemajuan.

Padahal di dalamnya mungkin masih ada usaha untuk menjauh dari sesuatu yang belum benar-benar dipahami.

Mungkin itulah sebabnya beberapa orang tetap merasa kosong meskipun terus bergerak maju.

Karena bergerak menjauh tidak selalu sama dengan menyelesaikan sesuatu.

Ketika insecure mulai berkurang pengaruhnya, sering kali yang berubah bukan kehidupan di luar.

Melainkan cara seseorang memandang apa yang terjadi di dalam dirinya.

Ia mulai melihat perbandingan sosial dengan cara yang berbeda.

Ia mulai memperhatikan kapan dirinya sedang mengukur nilai diri melalui kehidupan orang lain.

Ia mulai menyadari kapan kebutuhan akan validasi sedang mengambil alih.

Bukan untuk menghakimi dirinya.

Bukan untuk menghilangkan semua itu.

Tetapi untuk mengenalinya saat ia muncul.

Karena sesuatu yang dikenali sering kali memiliki kekuatan yang berbeda dibanding sesuatu yang berjalan tanpa disadari.

Kalau kamu ingin masuk lebih dalam ke pembahasan tentang hubungan baru dengan perasaan insecure ini, kamu bisa membaca artikel “Cara Mengatasi Insecure: Ketika Tujuannya Bukan Menghilangkan, Tetapi Memahami”.

Karena kadang perubahan terbesar tidak dimulai ketika seseorang berhasil mengusir perasaannya.

Melainkan ketika ia berhenti melarikan diri darinya.

Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup

Mungkin setelah membaca sampai di sini, kamu menyadari bahwa insecure bukan sekadar masalah kepercayaan diri.

Ia bukan hanya tentang penampilan.

Bukan hanya tentang kegagalan.

Bukan hanya tentang kurangnya motivasi.

Ia bisa muncul dari perbandingan yang berjalan otomatis.

Dari standar yang terus bergerak.

Dari kebutuhan akan pengakuan.

Dari cara seseorang memandang dirinya sendiri selama bertahun-tahun.

Dan mungkin itulah alasan mengapa perasaan ini sering terasa begitu dekat.

Karena ia tidak hidup di satu bagian kecil kehidupan.

Ia bisa menyentuh hampir semua hal.

Pekerjaan.

Hubungan.

Pencapaian.

Mimpi.

Bahkan cara seseorang berbicara kepada dirinya sendiri ketika tidak ada orang lain yang mendengar.

Tetapi setelah melihat semua itu, mungkin pertanyaan yang tersisa bukan lagi:

“Bagaimana cara menghilangkan insecure?”

Melainkan sesuatu yang sedikit berbeda.

Jika perasaan insecure yang selama ini muncul dalam hidupmu bisa berbicara dengan jujur…

apa sebenarnya yang ingin ia katakan?

Dan selama ini, bagian mana dari dirimu yang sedang berusaha ia tunjukkan?