Prokrastinasi Adalah: Kamu Tahu Harus Mulai, Tapi Tetap Tidak Mulai

Kamu tahu ada yang harus dikerjakan.

Sudah tahu sejak pagi.

Bahkan sebelum membuka laptop, sebelum membuat kopi, sebelum membuka aplikasi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan itu, kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan hari ini.

Tugasnya tidak hilang.

Ia ada di kepala kamu sepanjang waktu.

Anehya, justru karena selalu ada di kepala, kamu mulai merasa seperti sedang mengerjakannya.

Padahal tidak.

Kamu hanya memikirkannya.

Jam demi jam berlalu seperti itu.

Kamu membuka dokumen yang perlu dikerjakan. Menatapnya beberapa menit. Lalu menutupnya lagi.

Kamu berpindah ke hal lain yang terasa lebih ringan.

Membalas pesan.

Mengecek media sosial.

Merapikan folder.

Mencari referensi tambahan yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.

Ada banyak aktivitas yang terlihat produktif, tetapi semuanya mengarah ke tempat yang sama: menjauh dari pekerjaan yang benar-benar penting.

Dan semakin lama kamu menunda, semakin sulit rasanya untuk mulai.

Menjelang sore, pekerjaan itu masih ada.

Menjelang malam, pekerjaan itu tetap ada.

Bedanya hanya satu.

Sekarang ada tambahan rasa bersalah yang ikut duduk di sebelahnya.

Mungkin itulah alasan kenapa banyak orang akhirnya mencari istilah ini.

Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Karena pengalaman itu terasa aneh.

Kamu tahu apa yang harus dilakukan.

Kamu tahu kenapa itu penting.

Kamu tahu konsekuensi jika terus ditunda.

Tapi kamu tetap tidak bergerak.

Kalau begitu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Prokrastinasi Adalah Sesuatu yang Lebih Dalam dari Sekadar Menunda

Ketika mendengar kata prokrastinasi, banyak orang langsung membayangkan kebiasaan menunda pekerjaan.

Definisi itu tidak salah.

Tapi definisi itu juga tidak cukup menjelaskan pengalaman yang sebenarnya.

Karena tidak semua penundaan adalah prokrastinasi.

Kadang kamu menunda karena memang ada prioritas lain yang lebih penting.

Kadang kamu menunda karena sedang beristirahat.

Kadang kamu menunda karena waktunya memang belum tepat.

Prokrastinasi berbeda.

Dalam prokrastinasi, kamu tidak benar-benar meninggalkan tugas itu.

Tugas tersebut tetap ikut ke mana-mana.

Ia muncul saat kamu makan.

Ia muncul saat kamu sedang menonton video.

Ia muncul sesaat sebelum tidur.

Semakin kamu mencoba mengabaikannya, semakin sering ia muncul kembali.

Itulah yang membuat pengalaman ini melelahkan.

Kamu tidak sedang bebas dari pekerjaan itu.

Kamu sedang membawa pekerjaan itu ke mana-mana tanpa benar-benar mengerjakannya.

Dari luar, situasinya terlihat seperti masalah manajemen waktu.

Tetapi dari dalam, rasanya berbeda.

Yang kamu hindari sering kali bukan tugasnya.

Yang kamu hindari adalah perasaan yang muncul saat berhadapan dengan tugas tersebut.

Perasaan bingung.

Perasaan tidak yakin.

Perasaan takut hasilnya tidak cukup baik.

Perasaan bahwa pekerjaan itu terlalu besar untuk dimulai.

Karena itulah prokrastinasi sering terasa membingungkan.

Masalahnya terlihat seperti waktu.

Padahal yang sedang bekerja diam-diam adalah emosi.

Apakah Ini Kamu?

Kamu membuka dokumen yang harus dikerjakan.

Semua bahan sudah siap.

Kamu bahkan sudah tahu langkah pertama yang perlu dilakukan.

Tetapi entah kenapa, kamu merasa belum siap memulai.

Lalu kamu berkata pada diri sendiri bahwa nanti malam mungkin akan lebih fokus.

Malam datang.

Alasan baru muncul.

Besok pagi sepertinya lebih ideal.

Besok pagi datang.

Siklus yang sama terulang lagi.

Kamu menunggu waktu yang tepat seolah-olah motivasi akan datang mengetuk pintu.

Padahal yang datang biasanya hanya deadline.

Atau mungkin kamu pernah duduk di depan layar, membuka pekerjaan yang harus diselesaikan, lalu tiba-tiba merasa perlu mengecek sesuatu yang sebenarnya tidak penting.

Lima menit berubah menjadi tiga puluh menit.

Tiga puluh menit berubah menjadi satu jam.

Saat sadar apa yang terjadi, rasa bersalah mulai muncul.

Tapi anehnya, rasa bersalah itu tidak membuat kamu mulai bekerja.

Rasa bersalah itu justru membuat pekerjaan terasa semakin berat.

Ada juga momen ketika kamu menghabiskan banyak energi untuk hal-hal kecil.

Meja menjadi lebih rapi.

Folder menjadi lebih teratur.

Daftar tugas menjadi lebih cantik.

Semuanya terasa produktif.

Namun ketika hari berakhir, pekerjaan yang paling penting masih berada di tempat yang sama.

Belum disentuh.

Belum bergerak.

Belum dimulai.

Dan bagian yang paling melelahkan bukanlah tugas itu sendiri.

Bagian yang paling melelahkan adalah percakapan yang terus berulang di dalam kepala.

Kamu tahu harus mulai.

Kamu ingin mulai.

Tapi kamu tidak mulai juga.

Prokrastinasi Bukan Malas

Ada alasan kenapa banyak orang tidak suka mendengar kata prokrastinasi.

Karena kata itu sering terdengar seperti versi yang lebih sopan dari kata malas.

Dan mungkin selama ini kamu juga berpikir seperti itu.

Kalau saja aku lebih disiplin.

Kalau saja aku lebih rajin.

Kalau saja aku punya kemauan yang lebih kuat.

Mungkin semua ini tidak akan terjadi.

Masalahnya, penjelasan itu tidak selalu cocok dengan kenyataan.

Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya tidak menghabiskan waktu memikirkan pekerjaannya sepanjang hari.

Mereka tidak merasa bersalah setiap kali melihat deadline mendekat.

Mereka tidak membawa beban mental itu ke mana-mana.

Sementara kamu justru melakukannya.

Tugas itu terus muncul di kepala.

Kadang bahkan saat sedang berusaha menikmati waktu istirahat.

Kadang saat sedang berbicara dengan orang lain.

Kadang sesaat sebelum tidur, ketika ruangan sudah gelap dan tidak ada lagi distraksi yang bisa digunakan untuk menghindarinya.

Itulah yang membuat prokrastinasi terasa begitu melelahkan.

Beban pekerjaan dan beban emosinya berjalan bersamaan.

Bukan berarti semua orang yang menunda otomatis rajin.

Bukan juga berarti prokrastinasi tidak perlu diubah.

Tetapi melihatnya hanya sebagai kemalasan sering kali membuat masalah yang sebenarnya menjadi tidak terlihat.

Karena ketika kamu percaya bahwa masalahnya adalah karakter, yang kamu lakukan biasanya hanya menyalahkan diri sendiri.

Padahal mungkin ada sesuatu yang lain yang sedang bekerja di balik layar.

Sesuatu yang lebih sulit dilihat.

Sesuatu yang membuat memulai terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat dari luar.

Menariknya, semakin banyak penelitian psikologi modern mempelajari prokrastinasi, semakin jelas bahwa masalah ini tidak sesederhana kurang disiplin atau kurang motivasi.

Banyak peneliti mulai melihat prokrastinasi sebagai bentuk penghindaran emosional. Yang dihindari sering kali bukan pekerjaannya, melainkan perasaan yang muncul saat berhadapan dengan pekerjaan itu.

Rasa cemas ketika tidak tahu harus mulai dari mana.

Rasa ragu apakah hasilnya akan cukup baik.

Atau ketidaknyamanan yang muncul ketika sebuah tugas terasa terlalu besar untuk dihadapi sekaligus.

Dari luar, semuanya terlihat seperti menunda pekerjaan. Dari dalam, yang terjadi sering kali adalah usaha untuk menjauh dari perasaan yang tidak ingin dirasakan.

Dan selama sesuatu itu tidak terlihat, kamu akan terus mengira bahwa masalahnya hanyalah kurang disiplin.

Apa yang Sebenarnya Kamu Hindari?

Menariknya, saat seseorang menunda, yang terlihat selalu tugasnya.

Laporan yang belum selesai.

Proposal yang belum dikirim.

Presentasi yang belum dibuat.

Skripsi yang belum disentuh.

Bisnis yang belum dimulai.

Semua perhatian tertuju pada pekerjaan yang belum dilakukan.

Padahal ada pertanyaan lain yang jauh lebih menarik.

Bukan apa yang sedang kamu tunda.

Tetapi apa yang sebenarnya kamu hindari saat menundanya.

Karena tidak semua tugas terasa berat karena ukuran pekerjaannya.

Ada tugas yang berat karena ketidakpastian.

Kamu tidak yakin bisa melakukannya dengan baik.

Ada tugas yang berat karena ekspektasi.

Hasilnya terasa terlalu penting untuk gagal.

Ada tugas yang berat karena standar yang kamu pasang sendiri.

Kamu ingin hasilnya sempurna bahkan sebelum pekerjaan itu dimulai.

Ada juga tugas yang berat karena sekali kamu mulai, kamu tidak lagi bisa bersembunyi di balik rencana.

Kamu harus berhadapan dengan kenyataan.

Dengan kemungkinan berhasil.

Dengan kemungkinan gagal.

Dengan kemungkinan hasilnya biasa-biasa saja.

Dan kadang-kadang, kemungkinan itulah yang paling tidak nyaman.

Karena selama pekerjaan itu masih ada di kepala, semuanya masih mungkin terjadi.

Versi terbaik dari dirimu masih bisa dibayangkan.

Versi sempurna dari hasil kerja itu masih bisa dipertahankan.

Tetapi begitu kamu mulai, semua kemungkinan itu mulai bertabrakan dengan realitas.

Mungkin karena itulah menunda terasa lebih aman.

Bukan lebih baik.

Bukan lebih menyenangkan.

Hanya lebih aman.

Dan jika itu benar, maka pertanyaan yang perlu dilihat bukan lagi:

“Mengapa aku tidak mulai?”

Melainkan:

“Apa yang sebenarnya aku lindungi ketika aku tidak mulai?”

Pertanyaan itu mungkin tidak nyaman.

Tetapi sering kali di sanalah sesuatu yang penting mulai terlihat.

Karena prokrastinasi jarang dimulai dari kalender.

Jarang dimulai dari manajemen waktu.

Dan jarang selesai hanya dengan membuat daftar tugas yang lebih rapi.

Di balik kebiasaan menunda, sering kali ada sesuatu yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.

Sesuatu yang tidak bisa dilihat hanya dengan menatap pekerjaan yang belum selesai.

Sesuatu yang baru terlihat ketika kamu berhenti bertanya tentang tugasnya, lalu mulai bertanya tentang dirimu sendiri.

Mungkin itu sebabnya memahami prokrastinasi tidak berhenti pada definisinya.

Karena setelah kamu tahu namanya, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih menarik.

Apa yang sebenarnya membuat seseorang terus menunda, meskipun ia tahu bahwa menunda tidak pernah membuat keadaan menjadi lebih mudah?