Kenapa Kebiasaan Buruk Sulit Dihilangkan Meski Kamu Sudah Tahu Dampaknya dan Ingin Berhenti

Kamu sudah pernah berjanji pada diri sendiri untuk berhenti. Kamu tahu kebiasaan itu merugikan, tahu kenapa kamu melakukannya, bahkan mungkin sudah beberapa kali mengatakan, “Setelah ini aku nggak akan mengulanginya lagi.”

Tapi beberapa hari kemudian, atau bahkan beberapa jam setelah niat itu muncul, kamu melakukannya lagi.

Kadang kejadiannya begitu biasa sampai kamu baru sadar setelah semuanya selesai. Ada momen ketika kamu sedang lelah, kesal, bosan, tertekan, atau hanya ingin sebentar merasa lebih ringan. Lalu kebiasaan itu muncul seperti sesuatu yang sudah tahu harus bergerak ke mana.

Setelahnya, kamu kembali ingat pada semua alasan kenapa kebiasaan itu seharusnya dihentikan.

Di titik seperti itu, kebiasaan buruk terasa sulit dihilangkan bukan karena kamu tidak tahu dampaknya. Justru kamu mungkin sudah terlalu tahu. Kamu tahu waktu yang terbuang, perasaan yang muncul setelahnya, atau hal-hal yang sebenarnya ingin kamu ubah dari kebiasaan tersebut.

Yang membuatnya membingungkan adalah jarak antara tahu dan melakukan.

Kamu bisa benar-benar ingin berhenti, tetapi keinginan itu tidak selalu menjadi hal pertama yang muncul ketika situasinya datang. Ada sesuatu yang terjadi lebih dulu, dan sering kali kamu baru menyadarinya setelah kebiasaan itu kembali berjalan.

Kenapa Tahu Dampaknya dan Berniat Berhenti Tetap Tidak Cukup?

Tahu bahwa sesuatu merugikan dan tetap melakukannya menunjukkan ada jarak yang tidak sederhana antara apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu lakukan.

Saat sedang tenang, kamu bisa melihat kebiasaan itu dari jauh. Kamu bisa mengingat akibatnya, membandingkan dengan apa yang sebenarnya kamu inginkan, lalu membuat keputusan bahwa kali ini kamu akan berhenti. Dari posisi itu, semuanya terasa cukup jelas.

Masalahnya, kebiasaan tidak selalu muncul ketika kamu sedang berada dalam posisi untuk mempertimbangkan semuanya.

Ada saat ketika kamu tidak sedang bertanya apakah tindakan itu baik atau buruk. Kamu hanya sedang menghadapi satu keadaan tertentu, lalu melakukan sesuatu yang sudah terasa familiar. Keputusan itu bahkan bisa terasa seperti bukan keputusan.

Karena itu, niat yang kuat belum tentu bertemu dengan kebiasaan pada waktu yang sama.

Kamu mungkin berniat berhenti pada malam hari setelah melihat dampaknya. Tetapi besok siang, ketika perasaan yang sama muncul lagi, yang datang lebih dulu bukan ingatan tentang niat semalam. Yang muncul justru dorongan untuk melakukan sesuatu yang selama ini sudah biasa kamu lakukan dalam keadaan seperti itu.

Di sinilah pengetahuan tentang dampak bisa terasa aneh. Kamu sudah tahu akhirnya, tetapi pengetahuan itu tidak selalu hadir pada detik ketika kebiasaan dimulai.

Bukan berarti kamu kurang memahami masalahnya. Bisa saja kamu sudah sangat paham. Kamu bahkan mungkin sudah menjelaskan kepada diri sendiri berkali-kali kenapa kebiasaan itu tidak baik untukmu.

Tetapi ada kemungkinan bahwa pemahaman tersebut datang setelah semuanya terjadi.

Kamu merasa berat, lalu melakukan sesuatu yang biasa kamu lakukan. Setelah merasa sedikit lebih ringan, kamu baru melihat kembali apa yang baru saja terjadi. Dari sana muncul penyesalan, niat untuk berhenti, atau janji bahwa besok tidak akan diulang lagi.

Lalu situasi serupa datang.

Di situlah jarak antara niat dan kebiasaan kembali terlihat. Bukan karena salah satunya palsu, tetapi karena keduanya bekerja pada waktu yang berbeda.

Niatmu muncul ketika kamu sedang melihat keseluruhan cerita. Kebiasaan sering bergerak ketika kamu hanya sedang berhadapan dengan satu momen.

Dan mungkin justru momen kecil itulah yang selama ini luput kamu perhatikan.

Apa yang Terjadi di Detik Sebelum Kamu Mengulanginya?

Sesuatu biasanya sudah terjadi sebelum kamu kembali melakukan kebiasaan itu. Bisa berupa perasaan yang muncul tiba-tiba, jam tertentu ketika kamu sedang sendirian, tempat yang sudah akrab, atau keadaan yang membuatmu ingin segera keluar dari rasa tidak nyaman.

Kadang pemicunya begitu kecil sampai tidak terasa seperti pemicu. Kamu hanya merasa sedang tidak enak, sedang bosan, sedang penuh pikiran, atau sedang ingin berhenti sebentar dari sesuatu yang terasa berat. Tidak ada keputusan besar di sana. Hanya ada satu keadaan yang terasa ingin segera kamu lewati.

Lalu tubuh dan pikiran seperti sudah tahu apa yang biasanya dilakukan.

Kamu bergerak menuju kebiasaan yang sama. Bukan karena pada saat itu kamu sudah duduk dan memutuskan bahwa itulah pilihan terbaik, tetapi karena tindakan tersebut sudah sangat dikenal. Kamu tidak perlu banyak berpikir untuk melakukannya.

Yang menarik, sesuatu yang datang sebelum kebiasaan itu sering kali lebih mudah terlihat setelah kamu mengulanginya daripada sebelumnya.

Kamu mungkin baru menyadari bahwa setiap kali merasa tertekan, kamu melakukan hal yang sama. Atau setiap kali berada di tempat tertentu, pada jam tertentu, atau setelah berhadapan dengan orang tertentu, kebiasaan itu muncul lagi. Polanya terasa jelas setelah beberapa kejadian terkumpul, tetapi pada setiap kejadian tunggal, semuanya terasa seperti kebetulan.

Sesudah tindakan itu dilakukan, ada sesuatu yang kamu dapatkan.

Bukan selalu sesuatu yang besar. Bisa hanya rasa lega karena tidak perlu memikirkan hal yang membuatmu tidak nyaman untuk beberapa saat. Bisa berupa rasa selesai, rasa aman, jeda dari tekanan, atau sekadar perasaan bahwa untuk sementara kamu tidak perlu menghadapi apa yang tadi terasa berat.

Di situlah sebuah lingkaran kebiasaan bisa terbentuk tanpa kamu merasa sedang membangun apa pun.

Sesuatu terjadi lebih dulu, kamu melakukan hal yang sudah familiar, lalu ada perasaan tertentu yang muncul setelahnya. Karena bagian terakhir itu terasa nyata, kebiasaan tersebut punya alasan untuk muncul lagi ketika keadaan yang mirip datang.

Kebiasaan menunda juga bisa berjalan dengan pola yang mirip. Ketika sesuatu terasa berat untuk dihadapi, menunda bisa memberi jeda yang langsung terasa, meskipun pekerjaan yang ditinggalkan tetap menunggu setelahnya.

Yang membuat pola ini sulit dilihat adalah karena setiap bagiannya tampak kecil kalau berdiri sendiri. Perasaan yang muncul hanya sebentar. Tindakan yang dilakukan mungkin juga tidak membutuhkan waktu lama. Rasa lega setelahnya pun bisa cepat hilang.

Tetapi ketika ketiganya terus bertemu dalam keadaan yang sama, sesuatu mulai terasa familiar.

Kamu tidak selalu mengulang kebiasaan karena kamu menginginkannya dalam arti yang utuh. Kadang kamu hanya ingin mendapatkan kembali perasaan yang datang sesudahnya.

Hadiah Kecil yang Nyata, tapi Sebentar

Hadiah dari sebuah kebiasaan buruk sebenarnya bisa terasa sangat nyata, meskipun hanya bertahan sebentar.

Ada rasa lega ketika sesuatu yang membuatmu tidak nyaman berhasil dijauhkan untuk sementara. Ada rasa tenang ketika kamu tidak perlu menghadapi sesuatu yang sedang memenuhi pikiran. Ada juga rasa selesai yang muncul hanya karena kamu akhirnya melakukan sesuatu yang sudah lama terasa familiar.

Karena itulah kebiasaan tersebut tidak hanya berisi kerugian.

Kalau yang kamu dapatkan setiap kali melakukannya hanyalah sesuatu yang buruk, mungkin hubunganmu dengan kebiasaan itu akan terasa jauh lebih sederhana. Tetapi sering kali ada bagian kecil yang terasa menyenangkan, melegakan, atau setidaknya membuat keadaan terasa lebih mudah untuk beberapa saat.

Perasaan seperti itulah yang membuat sebuah kebiasaan bisa bertahan lebih lama daripada alasan awal yang membuatnya muncul.

Pada saat kamu sedang tertekan, misalnya, kebiasaan itu bisa terasa seperti jeda dari perasaan yang terlalu penuh. Jeda tersebut memang tidak menyelesaikan masalah, tetapi untuk beberapa menit kamu tidak lagi berada tepat di dalam rasa berat itu. Pola seperti ini juga bisa terlihat dalam kebiasaan buruk saat stres, ketika yang dicari bukan hasil akhirnya, melainkan perubahan perasaan yang terjadi sesaat setelah melakukannya.

Masalahnya, hadiah tersebut biasanya tidak tinggal lama.

Setelah rasa lega lewat, keadaan yang tadi ingin kamu hindari bisa kembali. Kadang masalahnya masih sama. Kadang perasaan beratnya kembali. Kadang yang tersisa justru rasa bersalah karena kamu melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah ingin kamu tinggalkan.

Tetapi ketika keadaan serupa datang lagi, ingatan tentang rasa lega tadi tetap ada sebagai bagian dari cerita kebiasaan itu.

Di sinilah sesuatu yang kecil bisa menjadi cukup kuat untuk diulang.

Bukan karena hadiahnya besar. Justru karena hadiahnya mudah didapat dan langsung terasa.

Kamu tidak perlu menunggu berhari-hari untuk merasakan perubahan itu. Keadaan yang tidak nyaman datang, kamu melakukan sesuatu yang familiar, lalu untuk sesaat keadaan terasa lebih ringan. Hubungan sederhana seperti itu bisa lebih kuat daripada keputusan yang kamu buat ketika sedang tenang.

Pada akhirnya, kebiasaan tersebut seperti menyimpan dua sisi sekaligus.

Di satu sisi, kamu tahu ada akibat yang tidak kamu inginkan. Di sisi lain, ada sesuatu yang memang kamu dapatkan setiap kali mengulanginya.

Dan dua sisi itu bisa hidup bersamaan tanpa saling membatalkan.

Dua Cerita di Balik Kebiasaan yang Sama

Dua cerita bisa berjalan di balik kebiasaan yang sama, dan kadang kamu baru melihat salah satunya setelah kebiasaan itu sudah berlangsung cukup lama.

Cerita pertama berhubungan dengan apa yang sedang kamu rasakan. Ada keadaan tertentu yang membuatmu tidak nyaman, lalu kebiasaan itu menjadi sesuatu yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan jeda. Kamu mungkin tidak pernah benar-benar memutuskan bahwa kebiasaan itu akan menjadi cara menghadapi perasaan tersebut. Ia hanya terus muncul setiap kali keadaan yang mirip datang.

Karena itu, kebiasaan tersebut lama-lama terasa seperti bagian dari situasi itu sendiri.

Ketika perasaan berat muncul, kebiasaan mengikuti. Ketika tekanan datang, kamu kembali ke hal yang sama. Bukan karena kamu selalu menginginkannya, tetapi karena pengalaman sebelumnya sudah mengajarkan bahwa setelah melakukannya, ada sedikit perubahan yang terasa.

Cerita kedua berbeda.

Ada kebiasaan yang dulunya memang punya alasan untuk dilakukan, tetapi alasan itu sudah tidak lagi ada dalam hidupmu sekarang. Dulu mungkin ada kebutuhan tertentu, situasi tertentu, atau keadaan yang membuat kebiasaan tersebut masuk akal. Seiring waktu, keadaan berubah, tetapi kebiasaannya tetap tertinggal.

Itulah yang membuat kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan kadang terasa membingungkan. Kamu sudah tidak lagi berada dalam keadaan yang sama seperti dulu, tetapi gerakannya masih terasa familiar ketika situasi tertentu muncul.

Dua cerita tersebut sebenarnya tidak harus berdiri sendiri.

Satu kebiasaan bisa sekaligus menjadi cara menghadapi perasaan yang berat dan sesuatu yang sudah terlalu lama dikenal. Mungkin dulu kebiasaan itu muncul karena memang ada alasan tertentu. Setelah alasan tersebut hilang, kebiasaan itu tetap tersimpan sebagai sesuatu yang familiar, lalu pada keadaan tertentu kembali memberikan rasa lega yang kecil.

Di titik itu, kamu tidak sedang berhadapan dengan satu alasan sederhana.

Ada masa lalu dari kebiasaan tersebut, ada keadaan yang sedang kamu rasakan sekarang, dan ada pengalaman berulang yang membuat semuanya terasa semakin otomatis. Ketiganya bisa bertemu dalam satu momen yang sangat singkat.

Itu juga menjelaskan kenapa mengetahui dampaknya tidak otomatis membuat kebiasaan tersebut hilang.

Pengetahuanmu melihat akibat akhirnya. Kebiasaanmu bergerak berdasarkan apa yang terjadi sebelum dan sesudah tindakan itu. Keduanya seperti melihat cerita dari sisi yang berbeda.

Kamu bisa tahu bahwa sesuatu akan membuatmu menyesal, tetapi pada detik ketika perasaan berat datang, yang terasa lebih dekat justru keinginan untuk mendapatkan jeda. Kamu bisa tahu bahwa kebiasaan itu sudah tidak terlalu masuk akal, tetapi ketika situasi yang familiar muncul, tubuh dan pikiranmu tetap mengenali jalan yang sama.

Karena itu, sebuah kebiasaan bisa terasa sangat kuat padahal setiap pengulangannya sendiri terlihat kecil.

Kamu tidak sedang membuat keputusan besar setiap kali mengulanginya. Kamu hanya kembali melakukan sesuatu yang sudah pernah memberikan hasil tertentu dalam keadaan yang terasa mirip.

Di sisi lain, ada sesuatu yang menarik ketika kamu melihat kebiasaan lama berdampingan dengan kebiasaan baru yang ingin kamu bangun.

Kebiasaan lama bisa terasa mudah dilakukan tanpa banyak dipikirkan, sementara sesuatu yang baru kamu niatkan justru terasa sulit untuk menetap. Perbedaan ini sering membuat kamu bertanya kenapa susah konsisten, padahal keduanya tidak datang ke dalam hidupmu dengan cerita yang sama.

Kebiasaan yang sudah lama berulang membawa banyak pengalaman di belakangnya. Ia sudah punya tempat, waktu, perasaan, dan situasi yang sering bertemu. Sementara sesuatu yang baru masih belum memiliki cerita sebanyak itu.

Mungkin itu sebabnya melihat sebuah kebiasaan hanya sebagai tindakan yang harus dihentikan terasa terlalu sederhana.

Di balik satu tindakan yang sama, bisa ada perasaan yang ingin dijauhkan, ada rasa lega yang dicari, ada alasan lama yang sudah hilang, dan ada pengalaman yang membuat semuanya semakin familiar.

Kamu melihat satu kebiasaan dari luar.

Tetapi kebiasaan itu sendiri membawa cerita yang jauh lebih panjang daripada tindakan yang terlihat.

Yang Kamu Ulangi Itu Punya Cerita

Yang kamu ulangi mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi di dalamnya ada cerita yang tidak selalu kelihatan saat kamu hanya melihat tindakannya.

Ada perasaan yang datang lebih dulu. Ada keadaan tertentu yang membuat kebiasaan itu terasa familiar. Ada sesuatu yang kamu dapatkan setelah melakukannya, meskipun hanya sebentar. Dan mungkin ada alasan lama yang sudah tidak lagi kamu ingat, tetapi jejaknya masih ada dalam cara kamu merespons keadaan tertentu.

Itulah sebabnya kebiasaan buruk sulit dihilangkan hanya dengan melihat akibat akhirnya.

Kamu melihat bahwa kebiasaan itu merugikan. Kamu tahu apa yang seharusnya berbeda. Kamu bahkan bisa benar-benar ingin berhenti. Tetapi semua pengetahuan itu hanya melihat satu bagian dari cerita yang jauh lebih panjang.

Bagian lainnya ada di detik-detik sebelum kamu mengulanginya.

Ada saat ketika sesuatu terasa berat, lalu kamu mencari sesuatu yang sudah kamu kenal. Ada saat ketika rasa tidak nyaman datang, lalu kebiasaan tersebut menawarkan jeda yang sebentar. Ada juga saat ketika kamu tidak lagi tahu kenapa masih melakukannya, tetapi tindakan itu tetap terasa seperti jalan yang paling familiar.

Semua itu bisa terjadi tanpa sebuah keputusan besar.

Mungkin karena kebiasaan memang tidak selalu bertahan lewat alasan yang masih masuk akal. Kadang ia bertahan karena pernah berguna. Kadang karena pernah memberi rasa lega. Kadang karena terlalu sering hadir dalam keadaan yang sama sampai akhirnya terasa seperti bagian dari keadaan itu sendiri.

Dan ketika kamu hanya melihat pengulangannya, semua cerita tersebut mudah hilang dari pandangan.

Yang terlihat hanya satu hal: kamu melakukannya lagi.

Padahal di belakang satu pengulangan itu ada banyak hal yang sudah terjadi sebelum tanganmu bergerak, sebelum keputusanmu muncul, bahkan sebelum kamu sempat menyadari bahwa kebiasaan itu sedang dimulai.

Mungkin itu juga yang membuat hubunganmu dengan sebuah kebiasaan tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan pertanyaan apakah kamu ingin berhenti atau tidak.

Kamu bisa ingin berhenti dan tetap mengulanginya. Kamu bisa tahu dampaknya dan tetap kembali kepadanya. Kamu bisa sadar bahwa kebiasaan itu sudah tidak cocok dengan keadaanmu sekarang, tetapi masih merasakan sesuatu yang membuatnya sulit benar-benar terasa asing.

Karena yang kamu ulangi bukan hanya sebuah tindakan.

Ia membawa perasaan, pengalaman, keadaan, dan cerita yang sudah menempel cukup lama.

Dan mungkin, ketika kamu melihatnya kembali, yang selama ini terlihat seperti satu kebiasaan ternyata memang tidak pernah hanya menjadi satu hal.