Hari sudah selesai, tapi kepalamu belum. Kamu sudah bisa berbaring, tetapi pikiran masih berputar ke mana-mana. Lalu, tanpa benar-benar merencanakannya, kamu malah membereskan lemari yang sebenarnya sudah rapi atau membuka aplikasi belanja dan membeli sesuatu yang tidak kamu butuhkan.
Kamu tahu kebiasaan itu tidak banyak membantu. Besok mungkin kamu akan bertanya-tanya kenapa harus melakukannya lagi, padahal sejak awal kamu sudah tahu hasilnya tidak akan membuat masalahmu selesai. Namun, saat stres sedang terasa berat, pengetahuan itu seperti tidak cukup kuat untuk menghentikan apa yang sudah telanjur kamu lakukan.
Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kamu sedang menghadapi hari yang melelahkan. Hal-hal kecil yang biasanya tidak menarik perhatianmu mendadak terasa lebih penting untuk dikerjakan. Kamu bisa menghabiskan waktu merapikan barang yang tidak berantakan, mengecek sesuatu yang sebenarnya sudah kamu periksa, atau terus mengulur waktu tidur dengan alasan sebentar lagi.
Kebiasaan itu mungkin terlihat sepele jika dilihat dari luar. Tidak ada masalah besar yang langsung muncul hanya karena kamu membereskan meja tengah malam atau membeli barang murah yang sebenarnya tidak diperlukan. Namun, ketika hal serupa terus berulang setiap kali stres datang, kamu mulai menyadari bahwa yang terjadi bukan sekadar soal kegiatan yang kamu lakukan.
Yang membuatnya membingungkan adalah kamu tidak benar-benar menginginkan akibat dari kebiasaan tersebut. Kamu tidak ingin kehilangan waktu tidur, menghabiskan uang untuk barang yang tidak dibutuhkan, atau menghabiskan malam untuk pekerjaan kecil yang sebenarnya bisa menunggu. Kamu tahu semua itu, tetapi pengetahuan tersebut tidak selalu hadir dengan kekuatan yang sama ketika perasaan sedang berat.
Kenapa Kebiasaan Itu Muncul Justru Saat Kepalamu Paling Penuh?
Kamu tahu kebiasaan itu tidak membantu, tetapi justru saat kepala paling penuh, kamu bisa mengulanginya tanpa banyak berpikir. Ada jarak antara apa yang kamu pahami ketika sedang tenang dan apa yang akhirnya kamu lakukan ketika banyak hal terasa menumpuk. Jarak itu tidak selalu mudah dijelaskan, terutama ketika kamu sendiri merasa seharusnya sudah cukup tahu untuk tidak mengulanginya.
Saat stres datang, belum tentu kamu langsung bisa memahami apa yang sebenarnya sedang mengganggu pikiranmu. Bisa jadi ada percakapan yang terus teringat, pekerjaan yang belum selesai, atau beberapa persoalan kecil yang menumpuk sampai semuanya terasa berat. Kamu merasakan ketidaknyamanan itu, tetapi tidak selalu bisa menunjuk dengan jelas bagian mana yang paling membuatmu gelisah.
Di tengah keadaan seperti itu, melakukan sesuatu yang sudah kamu kenal bisa terasa lebih mudah daripada berhadapan dengan perasaan yang belum jelas bentuknya. Kamu tahu letak barang yang perlu dirapikan, tahu bagaimana menyelesaikan pekerjaan kecil, dan tahu barang apa yang bisa dibeli. Ada sesuatu yang konkret untuk dilakukan, sementara apa yang memenuhi kepalamu belum tentu bisa kamu pahami dengan cara yang sama.
Itulah sebabnya kebiasaan yang biasanya tidak terlalu menarik bisa terasa lebih mudah dilakukan ketika kamu sedang stres. Bukan karena kamu tiba-tiba lupa bahwa kebiasaan itu tidak banyak membantu, melainkan karena pada saat itu, perhatianmu mungkin lebih tertuju pada sesuatu yang bisa segera kamu kerjakan daripada pada perasaan yang belum selesai kamu pahami.
Bayangkan kamu sedang menghadapi persoalan pekerjaan yang belum menemukan jalan keluar. Kamu sudah memikirkannya sejak sore, bahkan mungkin membawa persoalan itu sampai ke rumah. Ketika malam tiba, kamu justru sibuk merapikan barang-barang di meja, memeriksa ulang catatan yang sama, atau mencari sesuatu untuk dibeli meskipun tidak ada kebutuhan mendesak.
Selama melakukan kegiatan itu, kamu tidak harus terus-menerus memikirkan persoalan pekerjaan tadi. Perhatianmu berpindah ke sesuatu yang lebih jelas dan bisa langsung kamu tangani. Untuk sementara, kamu punya sesuatu untuk dilakukan selain duduk bersama pikiran yang belum menemukan ujungnya.
Kamu mungkin bahkan tidak menyadari kapan peralihan itu terjadi. Awalnya hanya ingin merapikan satu bagian meja, lalu berpindah ke bagian lain. Atau awalnya hanya melihat-lihat barang di toko daring, kemudian menemukan dirimu sudah menyelesaikan transaksi. Yang terasa pada saat itu bukan keputusan besar untuk menghindari masalah, melainkan dorongan kecil untuk melakukan sesuatu yang terasa lebih mudah dijalani.
Dan di situlah letak bagian yang sering membuatmu bingung. Kamu tidak harus benar-benar percaya bahwa kegiatan tersebut akan menyelesaikan masalahmu agar tetap melakukannya. Kadang, cukup karena kegiatan itu terasa lebih mudah dihadapi daripada perasaan yang sedang kamu bawa.
Jeda yang Nyata, tapi Sebentar
Jeda yang kamu rasakan saat melakukan kebiasaan itu memang nyata, meskipun kamu tahu kegiatan tersebut tidak menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ketika tanganmu sibuk merapikan barang atau perhatianmu beralih pada sesuatu yang ingin dibeli, pikiranmu tidak harus terus berada pada persoalan yang sama. Untuk beberapa saat, beban yang tadi terasa memenuhi kepala mungkin tidak lagi terasa seberat sebelumnya.
Ada perbedaan antara menyelesaikan sesuatu dan berhenti memikirkannya untuk sementara. Ketika kamu akhirnya berhasil membereskan meja, misalnya, ada hasil yang bisa langsung kamu lihat. Barang-barang menjadi lebih teratur, pekerjaan kecil selesai, dan kamu bisa merasakan bahwa setidaknya ada sesuatu yang sudah beres malam itu. Perasaan tersebut berbeda dari persoalan utama yang mungkin masih belum menemukan jalan keluar.
Hal serupa bisa terjadi ketika kamu terus mengulur waktu tidur dengan alasan masih ada sedikit hal yang ingin dikerjakan. Kamu mungkin merasa belum ingin mengakhiri hari karena masih ada kegiatan yang bisa dilakukan. Selama masih sibuk, kamu tidak harus langsung berhadapan dengan pikiran tentang pekerjaan besok, percakapan yang mengganggu, atau persoalan yang belum selesai.
Kegiatan itu memberikan sesuatu yang bisa kamu rasakan saat itu juga. Ada urusan kecil yang selesai, ada barang yang berhasil kamu pilih, atau ada sedikit waktu tambahan sebelum kamu harus menghadapi hal berikutnya. Semua itu bisa membuat keadaan terasa lebih ringan untuk sementara, meskipun kamu sendiri tidak menganggapnya sebagai penyelesaian masalah.
Karena itulah, menyebut kebiasaan tersebut sama sekali tidak berguna mungkin juga tidak menggambarkan pengalamanmu dengan tepat. Kalau kegiatan itu tidak memberikan apa-apa, mungkin kamu akan lebih mudah memahami kenapa kamu melakukannya. Namun, kamu justru mengulanginya karena pada saat tertentu, ada sesuatu yang terasa kamu dapatkan darinya.
Masalahnya, jeda itu tidak berlangsung selama persoalan yang kamu hadapi. Setelah lemari selesai dirapikan, pikiran tentang pekerjaan bisa kembali muncul. Setelah barang yang diinginkan berhasil dibeli, hal-hal yang membuatmu gelisah belum tentu berubah. Bahkan setelah kamu menghabiskan waktu lebih lama untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan kecil, kamu mungkin tetap membawa beban yang sama ketika akhirnya berbaring.
Kamu pun bisa menemukan dirimu berada dalam keadaan yang agak membingungkan. Beberapa saat sebelumnya, kamu merasa lebih tenang karena sudah melakukan sesuatu. Sekarang, ketenangan itu mulai berkurang, sementara waktu yang berlalu tidak bisa dikembalikan. Yang tersisa bukan hanya persoalan awal, tetapi juga kesadaran bahwa kamu kembali menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sebenarnya tidak banyak mengubah keadaan.
Bukan berarti jeda yang kamu rasakan tadi tidak nyata. Jeda itu memang ada, hanya saja tidak sama dengan perubahan pada hal yang membuatmu stres. Kamu sempat merasa lebih ringan, tetapi perasaan yang membutuhkan perhatianmu belum tentu ikut berubah hanya karena perhatianmu berpindah untuk sementara.
Kenapa Rasa Bersalah Sesudahnya Membuatnya Kembali?
Rasa bersalah sering muncul setelah kebiasaan itu selesai, ketika kamu kembali melihat apa yang baru saja kamu lakukan. Kamu mungkin menyadari bahwa malam sudah semakin larut, uang sudah terpakai untuk sesuatu yang tidak diperlukan, atau pekerjaan kecil yang kamu selesaikan ternyata tidak begitu penting. Lalu muncul pikiran bahwa seharusnya kamu tidak melakukan semua itu lagi.
Pada saat itu, ada dua hal yang berbeda sedang kamu hadapi. Persoalan yang sejak awal membuatmu stres mungkin masih ada, sedangkan kebiasaan yang tadi memberimu jeda kini meninggalkan akibat yang baru. Kamu bukan hanya kembali memikirkan persoalan awal, tetapi juga menyadari bahwa waktumu sudah berkurang atau ada pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu.
Pikiran tentang apa yang seharusnya kamu lakukan bisa terasa semakin kuat ketika kamu mengingat bahwa kamu sudah mengetahui akibatnya sejak awal. Kamu tahu begadang akan membuat waktu tidur berkurang. Kamu tahu membeli barang yang tidak dibutuhkan tidak akan menyelesaikan masalah. Pengetahuan itu membuat kejadian yang baru saja berlalu terasa semakin mengganggu, karena kamu tidak bisa mengatakan bahwa kamu sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Namun, rasa bersalah setelah kebiasaan itu selesai tidak otomatis membuat persoalan awal terasa lebih ringan. Kamu mungkin menyesali waktu yang terbuang sambil tetap memikirkan pekerjaan yang belum beres. Atau kamu merasa kesal karena sudah mengeluarkan uang, sementara hal yang membuatmu gelisah sejak tadi masih belum berubah. Perasaan yang semula ingin kamu beri jeda kini bertambah dengan beban dari kejadian yang baru saja berlangsung.
Ketika beban itu terasa lagi, dorongan untuk mencari jeda bisa kembali muncul. Kamu mungkin mulai menyibukkan diri dengan kegiatan lain, mengerjakan sesuatu yang tidak mendesak, atau melakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya. Bukan berarti kamu sengaja ingin mengulangi akibat yang sudah kamu sesali, tetapi keadaan yang membuatmu mencari jeda sebelumnya belum benar-benar hilang.
Di sinilah pengulangan itu mulai terasa aneh. Setelah melakukannya, kamu bisa merasa menyesal. Ketika penyesalan itu menambah berat pikiranmu, kamu kembali menginginkan sedikit jarak dari perasaan yang tidak nyaman. Kebiasaan yang sama pun kembali hadir sebagai sesuatu yang sudah kamu kenal, meskipun kamu juga sudah mengenal akibatnya.
Rasa bersalah tersebut bukan satu-satunya hal yang membuat kebiasaan itu berulang, dan tidak setiap pengulangan harus memiliki cerita yang persis sama. Namun, dalam keadaan tertentu, penyesalan yang muncul setelahnya bisa ikut menambah beban yang sebelumnya sudah ada. Akhirnya, sesuatu yang awalnya kamu lakukan untuk mendapatkan jeda justru menjadi bagian dari rangkaian pengalaman yang kembali membuatmu membutuhkan jeda.
Yang Sebenarnya Sedang Kamu Hadapi
Yang terus kamu hadapi mungkin bukan hanya kebiasaan yang berulang, tetapi juga perasaan yang selalu muncul di baliknya. Kamu bisa saja sudah berkali-kali berjanji tidak akan melakukan hal yang sama, tetapi janji itu tidak menghapus keadaan yang sebelumnya membuatmu mencari jeda. Ketika keadaan serupa datang lagi, kebiasaan yang sudah kamu kenal itu kembali terasa dekat.
Kamu mungkin mengira persoalannya terletak pada tindakan yang kamu lakukan. Kamu begadang lagi, membeli sesuatu yang tidak diperlukan, atau menghabiskan waktu untuk membereskan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa menunggu. Semua itu memang terjadi, tetapi ada bagian lain yang sering luput dari perhatianmu, yaitu apa yang sedang kamu rasakan tepat sebelum kebiasaan tersebut muncul.
Perasaan itu tidak selalu mudah dikenali. Kadang kamu tahu sedang stres, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang membuatnya terasa begitu berat. Kadang kamu hanya merasa pikiranmu penuh, sementara persoalan yang menumpuk terlalu banyak untuk dipisahkan satu per satu. Di tengah keadaan seperti itu, kegiatan yang sudah kamu kenal bisa terasa lebih jelas daripada perasaan yang belum kamu pahami.
Mungkin itu sebabnya mengetahui akibat suatu kebiasaan tidak selalu membuatmu berhenti mengulanginya. Kamu bisa memahami bahwa kebiasaan tersebut tidak menyelesaikan masalah, tetapi pemahaman itu tidak serta-merta menghilangkan sesuatu yang membuatmu ingin melakukannya. Kamu tahu apa yang terjadi setelahnya, sementara pada saat kebiasaan itu muncul, ada perasaan lain yang juga sedang kamu hadapi.
Kenapa kebiasaan seperti ini tetap bertahan padahal kamu sudah lama tahu dampaknya, itu punya cerita yang lebih panjang.
Pada akhirnya, ada perbedaan antara mengetahui bahwa suatu kebiasaan tidak membantu dan memahami mengapa kamu kembali melakukannya ketika keadaan terasa berat. Keduanya tidak selalu datang bersamaan. Dan mungkin, di antara hal-hal yang terus kamu ulangi itu, ada perasaan yang belum pernah benar-benar selesai kamu hadapi.
Kalau kamu ingin melihat pembahasan yang lebih lengkap tentang topik ini, kamu bisa membaca Kenapa Kebiasaan Buruk Sulit Dihilangkan Meski Kamu Sudah Tahu Dampaknya dan Ingin Berhenti