Cara Menurunkan Ekspektasi, dan Kenapa Kamu Masih Kecewa Meski Sudah Mencobanya

Kamu sudah mencoba semua cara menurunkan ekspektasi yang pernah kamu baca. Kamu sudah bilang pada diri sendiri, “Jangan terlalu berharap,” sudah memasang angka yang lebih rendah sebelum hari yang penting, bahkan sudah mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk.

Tapi ketika hasilnya datang, kecewanya tetap datang juga.

Kadang malah ada rasa kecewa yang sedikit berbeda. Bukan hanya karena sesuatu tidak berjalan seperti yang kamu inginkan, tetapi karena kamu merasa sudah melakukan bagianmu. Kamu sudah berusaha tidak berharap terlalu banyak. Kamu sudah mencoba membuat bayangan di kepalamu lebih sederhana. Jadi ketika tetap terasa sakit, muncul pertanyaan lain: kenapa masih kecewa?

Mungkin masalahnya bukan karena kamu belum cukup pandai menurunkan ekspektasi. Mungkin ada sesuatu yang tetap tinggal meskipun angkanya sudah kamu turunkan.

Kalau menurunkan ekspektasi memang bekerja, kenapa rasanya begini?

Kenapa Menurunkan Ekspektasi Terdengar Mudah tapi Tidak Pernah Terasa Begitu

Mungkin karena yang diminta turun itu angkanya, sementara yang menyakitkan bukan angka. Mungkin karena bayangan yang sudah terbentuk di kepala tidak bisa begitu saja diperintah untuk mengecil hanya karena kamu sudah memutuskan untuk tidak berharap terlalu banyak. Mungkin keduanya.

Kalimat “turunkan ekspektasimu” terdengar sederhana karena ekspektasi seolah-olah hanya sesuatu yang bisa dinaikkan atau diturunkan. Seperti angka pada layar yang tinggal digeser sedikit ke bawah. Padahal, ketika kamu berharap sesuatu terjadi, yang bekerja bukan cuma angka atau target yang kamu ucapkan kepada diri sendiri.

Kamu juga sedang membayangkan sebuah kemungkinan.

Kamu membayangkan bagaimana hari itu akan berjalan, bagaimana seseorang akan meresponsmu, bagaimana hasil dari sesuatu akan terasa, atau seperti apa dirimu setelah semuanya selesai. Harapan ikut bekerja setiap kali kamu membayangkan besok, bahkan ketika kamu sudah tahu ada kemungkinan bahwa bayangan itu tidak terjadi.

Itulah sebabnya mengatakan “jangan terlalu berharap” tidak selalu membuat harapan benar-benar berhenti. Kamu bisa mengurangi apa yang secara sadar kamu izinkan untuk diharapkan, sementara bagian lain dari dirimu masih diam-diam menunggu sesuatu terjadi.

Menurunkan ekspektasi juga bisa terdengar seperti perintah pada sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya kamu pilih. Kamu bisa mengatakan bahwa hasilnya tidak perlu sempurna, tetapi tetap membayangkan hasil yang lebih baik. Kamu bisa mengatakan bahwa apa pun yang terjadi tidak masalah, tetapi tetap ada bagian dalam dirimu yang sudah lebih dulu membayangkan bagaimana seharusnya sesuatu berjalan.

Ekspektasi tidak selalu muncul sebagai kalimat yang jelas di kepala. Kadang ia hanya terasa seperti sesuatu yang “seharusnya” terjadi. Dan sebelum kamu sempat menyadarinya, harapan itu sudah ikut masuk ke dalam caramu melihat hari yang akan datang.

Karena itu, yang membuat kecewa bukan selalu besarnya ekspektasi. Kadang yang membuatnya sulit adalah karena kamu bahkan tidak sadar sedang berekspektasi.

Hal itu juga yang membuat pertanyaan tentang kenapa kita tetap berekspektasi meski sudah tahu risikonya bisa kecewa menjadi sedikit lebih rumit daripada sekadar “jangan berharap terlalu banyak”.

Ekspektasi yang Tidak Kamu Sadari Sedang Kamu Pegang

Ekspektasi yang paling sulit diturunkan adalah yang tidak pernah kamu sadari.

Kamu mungkin sudah mengatakan bahwa kamu tidak berharap banyak. Kamu sudah membuang gambaran yang menurutmu terlalu tinggi, sudah mengurangi target yang selama ini kamu pasang, dan merasa kali ini kamu benar-benar datang tanpa menuntut apa-apa dari keadaan.

Tapi masih ada hal-hal kecil yang terasa seperti “sudah semestinya”.

Seseorang seharusnya mengerti tanpa perlu kamu jelaskan terlalu banyak. Usahamu seharusnya menghasilkan sesuatu. Pertemuan yang sudah kamu tunggu seharusnya terasa menyenangkan. Atau setelah melewati begitu banyak hal, kamu merasa hidup seharusnya sudah berada di tempat yang berbeda.

Kamu tidak selalu menyebut semua itu sebagai ekspektasi karena bentuknya terlalu biasa untuk terasa seperti harapan.

Ia lebih sering muncul sebagai keyakinan tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang sudah terasa masuk akal sebelum kenyataan benar-benar datang. Karena itulah, ketika kenyataan bergerak ke arah lain, yang terasa mengganggu bukan cuma hasil akhirnya, tetapi benturan antara apa yang kamu kira akan terjadi dengan apa yang benar-benar terjadi.

Ekspektasi semacam ini juga tidak selalu punya bentuk yang besar. Kadang justru semakin kecil dan sehari-hari, semakin mudah ia tidak terlihat. Kamu tidak pernah berkata, “Aku berharap dia melakukan ini.” Kamu hanya merasa aneh ketika dia tidak melakukannya.

Di titik itu, mengatakan “aku sudah menurunkan ekspektasiku” mungkin memang benar. Hanya saja, yang kamu turunkan adalah bagian yang bisa kamu lihat.

Sementara bagian yang tidak pernah punya nama tetap berada di sana.

Itulah mengapa memahami bahwa ekspektasi adalah keyakinan tentang apa yang kamu percaya akan terjadi bisa membuat pengalaman ini terlihat sedikit berbeda. Bukan karena kamu ternyata terlalu banyak berharap, tetapi karena sebagian ekspektasi memang tidak pernah terasa seperti berharap sejak awal.

Ketika yang Dikecewakan Adalah Dirimu Sendiri

Menurunkan ekspektasi pada diri sendiri bisa terasa seperti meninggalkan versi dirimu yang dulu.

Ada jenis ekspektasi yang tidak diarahkan kepada orang lain atau keadaan, tetapi kepada dirimu sendiri. Kamu punya gambaran tentang orang seperti apa yang seharusnya bisa kamu jadi, hal-hal apa yang seharusnya sudah kamu capai, dan kemampuan yang menurutmu seharusnya sudah kamu miliki sekarang.

Ketika hasilnya tidak sesuai, tidak ada orang lain yang harus mengingkari janji supaya kamu merasa kecewa. Kamu sendiri yang melihat jarak antara dirimu yang sekarang dengan dirimu yang selama ini ada di kepala.

Karena itu, mengatakan kepada diri sendiri untuk menurunkan ekspektasi bisa terasa lebih berat.

Kalau ekspektasi itu diturunkan, apa yang sebenarnya sedang kamu lepaskan? Mungkin bukan sekadar target. Mungkin ada gambaran tentang dirimu yang selama ini kamu percaya akan menjadi nyata suatu hari nanti.

Kamu mungkin pernah membayangkan akan menjadi seseorang yang lebih tenang, lebih berhasil, lebih disiplin, lebih berani, atau lebih jauh dari keadaanmu sekarang. Gambaran itu bisa hidup begitu lama sampai akhirnya terasa seperti bagian dari siapa dirimu, meskipun kenyataannya belum pernah benar-benar sampai ke sana.

Maka ketika kamu menurunkan ekspektasi terhadap dirimu sendiri, ada kemungkinan yang terasa hilang bukan hanya sebuah pencapaian, tetapi versi dirimu yang pernah kamu tunggu.

Kecewa pada diri sendiri juga punya sifat yang berbeda karena tidak selalu punya alamat yang jelas. Tidak ada orang lain yang bisa sepenuhnya kamu tunjuk sebagai penyebabnya. Yang ada hanya dirimu, hasil yang belum sesuai, dan gambaran tentang siapa yang menurutmu seharusnya sudah kamu jadi.

Di sinilah rasa kecewa karena ekspektasi sendiri bisa terasa begitu dekat dengan identitasmu. Yang terluka bukan cuma hasil dari satu kejadian, tetapi cerita yang selama ini kamu tulis tentang dirimu sendiri.

Dan ketika cerita itu mulai tidak sesuai, menurunkan ekspektasi bisa terasa seperti mengakui bahwa versi yang kamu bayangkan mungkin tidak akan datang dalam bentuk yang sama.

Pada sebagian orang, bagian ini kemudian bersinggungan dengan pola menjadi perfeksionis, ketika gambaran tentang diri sendiri terus dipertahankan melalui standar yang semakin sulit terlihat dari luar. Pada bagian lain, kecewa pada diri sendiri bisa bergeser menjadi kebiasaan menyalahkan diri sendiri ketika jarak antara harapan dan kenyataan terasa seperti kesalahan pribadi.

Tetapi keduanya bukan hal yang sama dengan sekadar memiliki ekspektasi.

Yang lebih sunyi adalah ketika kamu sadar bahwa menurunkan ekspektasi pada diri sendiri kadang terasa bukan seperti mengurangi tekanan, melainkan seperti melepaskan seseorang yang dulu sangat kamu percaya akan menjadi dirimu.

Ketika Kenyataan Datang dan Bayanganmu Masih Menunggu

Bayangan tidak pergi hanya karena kamu memutuskan begitu.

Kamu bisa menurunkan ekspektasi sebelum sebuah kejadian berlangsung. Kamu bisa mengatakan kepada diri sendiri bahwa hasilnya tidak perlu seperti yang kamu bayangkan, bahwa kemungkinan terburuk juga bisa terjadi, atau bahwa kamu tidak mau terlalu berharap kali ini.

Tetapi bayangan yang sudah terbentuk tidak selalu ikut turun bersama keputusan itu.

Ada sesuatu yang berbeda antara mengetahui bahwa sebuah kemungkinan belum tentu terjadi dan benar-benar melihat kemungkinan itu tidak terjadi. Sebelum kenyataan datang, kamu masih berada di ruang tempat banyak hal bisa terjadi. Di sana, bayangan punya ruang untuk terlihat lebih utuh daripada kenyataan.

Kamu bisa membayangkan percakapan yang berjalan dengan baik, hasil yang akhirnya sesuai harapan, seseorang yang memberikan respons seperti yang kamu inginkan, atau sebuah hari yang terasa lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bayangan itu tidak perlu dibuat dengan sengaja. Kadang ia terbentuk sendiri dari apa yang kamu inginkan, apa yang pernah kamu alami, dan apa yang menurutmu masuk akal untuk terjadi.

Masalahnya, bayangan punya satu kelebihan yang tidak dimiliki kenyataan: ia tidak perlu berhadapan dengan bagian-bagian yang berantakan.

Di dalam kepala, sebuah kemungkinan bisa terlihat utuh. Tidak ada jeda yang canggung, respons yang tidak terduga, bagian yang membosankan, atau detail kecil yang membuat sesuatu berjalan berbeda dari yang kamu kira. Karena itu, ketika kenyataan akhirnya datang, yang hilang bukan hanya hasil yang kamu harapkan.

Ada versi kejadian yang sebelumnya sudah sempat kamu lihat di dalam kepala.

Menurunkan ekspektasi sebelum hari H tidak selalu mengosongkan rasa kehilangan ketika versi itu tidak terjadi. Kamu mungkin sudah tahu sejak awal bahwa kenyataan bisa berbeda, tetapi mengetahui kemungkinan itu tidak membuat bayangan yang sudah terbentuk otomatis menghilang.

Itulah kenapa ekspektasi tidak sesuai realita bisa terasa seperti janji yang diingkari, meskipun sebenarnya tidak ada siapa pun yang pernah menjanjikan versi kejadian tersebut kepadamu.

Ketika Bayangan Soal Pekerjaan Tidak Datang Utuh

Ekspektasi soal pekerjaan paling sering meleset di bagian yang tidak pernah punya adegan di kepalamu.

Sebelum masuk ke sebuah pekerjaan, kamu mungkin sudah punya gambaran tertentu tentang bagaimana rasanya bekerja di sana. Gambaran itu bisa datang dari posisi yang ditawarkan, cerita orang lain, lingkungan yang kamu lihat dari luar, atau sekadar bayangan tentang seperti apa hidupmu setelah akhirnya mendapatkan pekerjaan tersebut.

Kamu membayangkan pekerjaan utamanya. Kamu membayangkan hasil yang akan didapat. Kamu mungkin juga membayangkan bahwa setelah masuk, kehidupanmu akan terasa lebih jelas karena satu bagian besar dalam hidup akhirnya sudah menemukan tempatnya.

Tapi pekerjaan tidak datang dalam bentuk gambaran utuh.

Ada hari-hari biasa yang sebelumnya tidak pernah kamu pikirkan. Ada percakapan yang tidak kamu bayangkan. Ada pola kerja, orang-orang, suasana, aturan, dan rutinitas yang baru terlihat setelah kamu benar-benar berada di dalamnya.

Bagian-bagian seperti itu sulit diturunkan ekspektasinya karena sebelumnya memang tidak ada di dalam ekspektasi yang kamu sadari.

Kamu bisa saja sudah berkata kepada diri sendiri sebelum masuk, “Aku tidak akan berharap pekerjaan ini sempurna.” Tetapi kamu belum tentu sedang mempersiapkan diri untuk hal-hal yang bahkan tidak pernah muncul dalam bayanganmu.

Karena itu, rasa kecewa pada pekerjaan tidak selalu muncul karena kamu mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi. Kadang kamu hanya menemukan bahwa kehidupan sehari-hari di dalamnya berbeda dari cerita yang sebelumnya kamu susun dari luar.

Ada perbedaan antara mengetahui bahwa sebuah pekerjaan mungkin tidak sesuai bayangan dan menemukan bagian-bagian kecil dari ketidaksesuaian itu setiap hari.

Yang pertama masih berupa kemungkinan.

Yang kedua sudah menjadi pengalaman.

Di titik tertentu, ketidaksesuaian itu juga bisa terasa lebih dalam daripada sekadar “pekerjaannya ternyata berbeda”. Kamu mulai mempertanyakan apakah pilihanmu memang tepat, apakah gambaran yang dulu kamu punya terlalu jauh dari kenyataan, atau apakah ada sesuatu dalam hidupmu yang ternyata tidak bergerak seperti yang kamu bayangkan.

Ketika ketidakpuasan itu bukan lagi soal bayangan awal dan sudah menjadi sesuatu yang berlangsung lama, pembahasannya mulai berada di wilayah yang berbeda: tidak puas dengan pekerjaan yang sedang kamu jalani, bukan hanya kecewa karena pekerjaan itu tidak seperti yang kamu bayangkan saat pertama masuk.

Perbedaan itu penting karena menurunkan ekspektasi terhadap sesuatu sebelum menjalaninya tidak selalu menyentuh pengalaman yang muncul setelah kamu benar-benar hidup di dalamnya.

Apa yang Sebenarnya Sedang Kamu Coba Turunkan

Mungkin yang sedang kamu coba turunkan bukan ekspektasinya.

Mungkin kamu sedang mencoba menurunkan sesuatu yang terasa lebih sulit disentuh. Sesuatu yang muncul ketika kamu sudah terlalu sering kecewa, sampai akhirnya muncul pikiran bahwa mungkin akan lebih aman kalau kamu tidak berharap terlalu banyak sejak awal.

Kamu menurunkan angka. Kamu mengurangi kemungkinan yang kamu izinkan untuk dibayangkan. Kamu mengatakan bahwa hasilnya tidak harus bagus, tidak harus sesuai rencana, tidak harus seperti yang kamu inginkan.

Dan untuk sesaat, itu bisa terasa seperti kamu sedang membuat jarak dari sesuatu yang mungkin menyakitkan.

Ada semacam harapan kecil bahwa kalau ekspektasimu cukup rendah, rasa kecewanya nanti juga akan ikut rendah.

Seolah-olah kamu sedang membeli sedikit jaminan untuk hari ketika kenyataan datang.

Masalahnya, angka bukan satu-satunya hal yang membuat sesuatu berarti.

Kamu bisa mengatakan bahwa kamu tidak berharap diterima, tetapi keinginan untuk diterima tetap ada. Kamu bisa mengatakan bahwa hasilnya tidak harus berhasil, tetapi keinginan untuk berhasil tidak otomatis hilang. Kamu bisa menurunkan gambaran tentang bagaimana sesuatu seharusnya terjadi, tetapi keinginan untuk dimengerti, dihargai, dicintai, atau merasa bahagia di dalamnya tetap bisa berada di tempat yang sama.

Karena itu, menurunkan ekspektasi tidak selalu membuat kecewa ikut turun.

Yang berubah mungkin hanya bentuk bayangannya.

Kamu tidak lagi membayangkan semuanya berjalan sempurna, tetapi masih ada bagian dalam dirimu yang berharap sesuatu berjalan cukup baik. Kamu tidak lagi menunggu hasil terbaik, tetapi tetap ada sesuatu yang ingin kamu dapatkan dari kejadian itu.

Dan ketika sesuatu yang kamu inginkan tidak terjadi, rasa kecewa masih punya tempat untuk datang.

Mungkin itu sebabnya pengalaman ini terasa membingungkan. Kamu sudah berusaha tidak berharap terlalu banyak, tetapi ketika sesuatu tetap tidak sesuai, kamu masih merasa kehilangan. Lalu kamu mulai bertanya apakah berarti ekspektasimu sebenarnya masih terlalu tinggi.

Padahal, kecewa tidak selalu menunjukkan bahwa kamu meminta terlalu banyak.

Kadang kecewa hanya memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang memang kamu inginkan.

Keinginan itu bisa sangat sederhana. Kamu ingin usahamu menghasilkan sesuatu. Kamu ingin seseorang memahami maksudmu. Kamu ingin sebuah kesempatan berjalan baik. Kamu ingin merasa bahwa keputusan yang kamu ambil membawa hidupmu ke tempat yang memang kamu inginkan.

Tidak semuanya harus menjadi ekspektasi yang tinggi untuk terasa penting.

Itulah bagian yang mungkin tidak ikut turun ketika kamu menurunkan angka. Kamu bisa mengubah apa yang kamu bayangkan akan terjadi, tetapi belum tentu bisa mengubah arti dari apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Mungkin selama ini kamu mengira rasa kecewa datang karena kamu berharap terlalu tinggi. Padahal, dalam beberapa keadaan, rasa kecewa justru muncul karena sesuatu itu memang berarti bagimu.

Dan ketika angka di kepalamu sudah turun tetapi keinginan di baliknya masih ada, kenyataan tetap bisa terasa jauh.

Bukan karena kamu gagal menurunkan ekspektasi.

Mungkin karena ada bagian dari dirimu yang sejak awal tidak sedang meminta terlalu banyak. Ia hanya sedang menginginkan sesuatu.

Yang Tertinggal setelah Angkanya Turun

Setelah semua angka diturunkan, yang tertinggal bukan selalu hampa.

Kamu mungkin sudah mengurangi harapan tentang bagaimana sesuatu seharusnya berjalan. Kamu sudah mencoba melihat kemungkinan yang lebih sederhana, membayangkan hasil yang tidak terlalu tinggi, dan mengatakan kepada diri sendiri bahwa apa pun yang terjadi nanti tidak perlu sebesar yang sebelumnya kamu bayangkan.

Tetapi di balik semua itu, masih ada keinginan yang tidak ikut berubah.

Kamu masih ingin sesuatu berjalan baik. Masih ingin dimengerti. Masih ingin berhasil. Masih ingin merasa bahwa penantianmu tidak sia-sia. Masih ingin sebuah hubungan, pekerjaan, keputusan, atau kesempatan berakhir dengan sesuatu yang memang berarti bagimu.

Keinginan seperti itu tidak selalu punya angka.

Karena itu, ia juga tidak selalu bisa diturunkan dengan cara yang sama seperti ekspektasi.

Mungkin selama ini kamu terlalu sering melihat rasa kecewa sebagai tanda bahwa kamu berharap terlalu banyak. Seolah-olah kalau kecewanya masih ada, berarti ada sesuatu yang belum berhasil kamu kurangi dari dalam dirimu.

Padahal, tidak semua rasa kecewa berasal dari ekspektasi yang terlalu tinggi.

Kadang ada jarak antara apa yang terjadi dan apa yang kamu inginkan, bahkan ketika apa yang kamu inginkan sebenarnya sederhana. Jarak itu tetap terasa karena sesuatu di sana memang penting bagimu.

Menurunkan ekspektasi mungkin bisa mengubah gambaran tentang apa yang akan terjadi. Tetapi tidak selalu mengubah alasan kenapa kamu menginginkan sesuatu sejak awal.

Dan mungkin itu yang membuat kecewa tetap datang setelah semua usaha untuk tidak terlalu berharap.

Angkanya sudah turun.

Bayangannya sudah dibuat lebih kecil.

Tetapi keinginannya masih ada.

Di situlah semuanya berhenti, tanpa perlu menjadi lebih sederhana dari itu.