Kenapa Kamu Kecewa karena Ekspektasi Sendiri Padahal Tidak Ada yang Mengingkari Janji

Tidak ada yang menolakmu sore ini, tapi kecewanya tetap ada.

Kamu hanya duduk dan tiba-tiba sadar bahwa hidupmu sekarang terasa berbeda dari yang pernah kamu bayangkan. Dulu, mungkin kamu mengira di umur ini kamu sudah berada di tempat tertentu, sudah lebih tenang, sudah punya hubungan yang terasa pasti, atau setidaknya sudah menjadi versi dirimu yang menurutmu akan muncul dengan sendirinya setelah melewati beberapa tahun.

Tidak ada yang pernah berjanji bahwa semua itu akan terjadi. Tidak ada orang yang datang lalu membatalkan sesuatu yang sudah mereka janjikan kepadamu. Tidak ada pesan yang tidak dibalas, tidak ada orang yang tiba-tiba pergi, tidak ada kejadian tertentu yang bisa kamu tunjuk sebagai penyebab.

Tapi kamu tetap kecewa.

Yang membuatnya aneh, ketika kamu mencoba mencari siapa yang membuatmu merasa seperti ini, tidak ada nama yang bisa dipanggil. Kecewanya nyata, tetapi alamatnya kosong.

Kecewa yang Tidak Punya Alamat

Kecewa karena ekspektasi sendiri adalah kecewa yang tidak punya alamat. Kalau orang lain mengecewakanmu, setidaknya ada sesuatu yang bisa kamu tuju. Kamu bisa marah, bertanya kenapa, menagih sesuatu yang pernah dikatakan, atau memilih menjauh karena merasa hubungan itu sudah tidak sama.

Kekecewaan seperti itu punya bentuk yang lebih mudah dikenali. Ada kejadian yang bisa diingat, ada perkataan yang bisa diulang, ada seseorang yang bisa kamu sebut ketika ditanya apa yang membuatmu kecewa.

Tapi ketika yang meleset adalah bayanganmu sendiri, semua itu tidak ada.

Kamu mungkin pernah menunggu sesuatu yang lama dan membayangkan bagaimana rasanya ketika akhirnya sampai di sana. Ketika waktunya datang tetapi perasaan yang kamu bayangkan tidak muncul, tidak ada siapa-siapa yang bisa kamu datangi untuk meminta penjelasan.

Kamu hanya tahu bahwa seharusnya momen itu terasa berbeda.

Mungkin kamu mengira ketika pekerjaanmu sudah lebih stabil, kamu akan merasa lebih tenang. Mungkin kamu membayangkan setelah memiliki hubungan yang kamu inginkan, ada bagian dari hidupmu yang akhirnya terasa lengkap. Atau kamu pernah berpikir bahwa setelah melewati usia tertentu, kebingungan tentang dirimu sendiri akan perlahan hilang.

Lalu hidup benar-benar sampai di titik itu.

Hanya saja, kamu tidak merasa seperti yang kamu kira.

Tidak ada yang salah dengan hari itu. Bahkan mungkin dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tetapi di dalam dirimu ada jarak kecil antara apa yang sedang terjadi dan apa yang dulu kamu bayangkan akan terjadi.

Jarak itu bisa terasa seperti kecewa.

Yang sulit adalah kamu tidak bisa mengirim kekecewaan itu ke mana-mana. Kamu tidak bisa mengatakan seseorang telah mengecewakanmu ketika orang tersebut bahkan tidak pernah menjanjikan apa pun.

Akhirnya, kekecewaan itu berputar di dalam dirimu sendiri. Bukan sebagai tuduhan kepada siapa pun, tetapi sebagai perasaan yang terus kembali setiap kali kamu melihat kenyataan dan membandingkannya dengan bayangan yang pernah kamu punya.

Dan kadang, yang paling mengganggu bukan karena kenyataannya buruk.

Kamu hanya pernah membayangkannya akan berbeda.

Naskah yang Kamu Tulis Sendiri Tanpa Sadar

Kamu pernah menulis naskah tentang dirimu, dan tidak pernah memberitahu siapa pun.

Naskah itu tidak berupa tulisan yang benar-benar kamu simpan. Ia muncul dari banyak hal kecil yang kamu pikirkan sepanjang waktu. Tahun ini kamu kira akan sudah berada di tempat tertentu. Bulan depan kamu membayangkan sudah merasa lebih tenang. Setelah mencoba sesuatu, kamu membayangkan hasil tertentu akan mengikuti.

Semua terasa begitu masuk akal ketika pertama kali muncul di kepalamu.

Kamu mungkin membayangkan bahwa di umur sekarang, kamu sudah lebih tahu apa yang ingin kamu lakukan. Kamu kira setelah beberapa tahun bekerja, posisi hidupmu akan terasa lebih jelas. Kamu mungkin pernah berpikir bahwa setelah bertemu seseorang yang tepat, hubunganmu akan berjalan dengan sendirinya ke arah yang kamu bayangkan.

Tidak ada yang pernah meminta kamu membuat naskah itu.

Kamu juga tidak pernah benar-benar duduk untuk memutuskan bahwa hidup harus berjalan persis seperti yang ada di kepalamu. Naskah itu terbentuk pelan-pelan dari pengalaman, keinginan, percakapan, cerita orang lain, dan gambaran tentang bagaimana hidupmu seharusnya terasa pada suatu titik.

Karena tidak pernah diucapkan, kamu mungkin bahkan tidak sadar bahwa kamu sedang mengharapkannya.

Kamu hanya menjalani hari sambil membawa bayangan tentang hari-hari berikutnya. Ketika satu bagian hidup sesuai dengan bayangan itu, semuanya terasa biasa. Kamu bahkan mungkin tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang terpenuhi.

Tapi ketika kenyataan bergerak sedikit saja dari naskah tersebut, perbedaannya terasa.

Misalnya, kamu pernah membayangkan bahwa setelah melewati masa tertentu, kamu akan menjadi lebih tenang. Kamu sudah melewati masa itu, tetapi ternyata masih ada hari ketika pikiranmu terasa penuh dan kamu masih mempertanyakan banyak hal.

Tidak ada janji yang dilanggar di sana.

Hanya ada dirimu yang dulu membayangkan satu versi masa depan, lalu bertemu dengan dirimu yang benar-benar hidup di dalamnya.

Hal yang sama bisa terjadi pada pencapaian. Kamu membayangkan bagaimana rasanya ketika akhirnya mendapatkan sesuatu yang sudah lama kamu inginkan. Mungkin kamu mengira akan merasa lega, bangga, atau setidaknya lebih puas dengan dirimu sendiri.

Ketika hal itu benar-benar terjadi, ternyata perasaanmu tidak sebesar yang kamu bayangkan.

Bukan berarti pencapaiannya tidak berarti. Hanya saja, pengalaman nyata hampir tidak pernah persis seperti pengalaman yang sudah lebih dulu dibuat oleh pikiran.

Di situlah kecewa karena harapan sendiri bisa terasa begitu membingungkan. Kamu tidak sedang membandingkan kenyataan dengan sesuatu yang pernah dijanjikan orang lain. Kamu sedang membandingkan kenyataan dengan versi masa depan yang pernah kamu buat sendiri.

Naskah itu juga bisa sangat sederhana.

Kamu kira bulan ini kamu sudah lebih baik. Kamu kira setelah percakapan itu hubunganmu akan terasa lebih dekat. Kamu kira setelah mengambil keputusan tertentu, kamu akan berhenti memikirkannya. Kamu kira ketika satu hal selesai, bagian lain dari hidupmu akan terasa lebih ringan.

Ternyata tidak.

Lalu muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, meskipun kamu sendiri tidak tahu kapan tepatnya kamu mulai mengharapkan semuanya berjalan seperti itu.

Yang membuatnya semakin sulit adalah naskah tersebut tidak pernah ditandatangani oleh siapa pun. Tidak ada orang lain yang pernah membacanya dan berkata bahwa semuanya memang akan terjadi seperti yang kamu bayangkan.

Tetapi ketika hidup keluar dari halaman yang kamu tulis sendiri, rasa kecewanya tetap muncul.

Bukan hanya karena hasilnya berbeda, tetapi karena versi dirimu yang ada di dalam naskah itu juga ikut hilang. Ada kamu yang dulu membayangkan akan menjadi seperti ini, merasa seperti itu, berada di sana, bersama orang itu, atau sudah selesai dengan hal tertentu.

Kemudian kamu bertemu kenyataan dan mendapati bahwa kamu masih menjadi dirimu yang sekarang.

Mungkin itu sebabnya sebuah ekspektasi yang sederhana pun bisa meninggalkan rasa yang cukup dalam. Bukan karena kamu menuntut hidup harus sempurna, tetapi karena selama beberapa waktu kamu sudah terbiasa melihat dirimu melalui bayangan yang belum tentu pernah benar-benar menjadi kenyataan.

Kenapa Kecewa pada Diri Sendiri Terasa Lebih Berat daripada Kecewa pada Orang Lain

Mungkin karena tidak ada orang yang bisa kamu marahi.

Kalau orang lain yang membuatmu kecewa, ada jarak yang bisa terbentuk di antara kalian. Kamu bisa berhenti menghubungi, menjaga jarak, atau setidaknya mengatakan dalam hati bahwa apa yang terjadi bukan sesuatu yang kamu pilih. Ada seseorang atau sesuatu di luar dirimu yang bisa menjadi tempat berhentinya rasa kecewa itu.

Tapi kali ini berbeda.

Kamu sekaligus berada di dalam cerita itu. Kamu yang pernah membayangkan sesuatu, kamu juga yang kemudian menjalani kenyataannya. Tidak ada orang lain yang benar-benar bisa kamu tinggalkan untuk membuat perasaan itu ikut pergi.

Mungkin juga karena tidak ada satu kejadian yang cukup jelas untuk menjelaskan semuanya.

Kadang kamu bahkan sulit mengatakan kapan tepatnya mulai kecewa. Tidak ada satu percakapan yang menjadi awalnya, tidak ada satu hari yang bisa kamu tunjuk sebagai penyebab. Perasaan itu seperti terkumpul dari perbedaan kecil antara apa yang kamu kira akan terjadi dan apa yang akhirnya kamu jalani.

Kamu mungkin tetap menjalani hari seperti biasa.

Tetap bekerja, tetap berbicara dengan orang lain, tetap melakukan hal-hal yang perlu dilakukan. Hanya saja, ada bagian kecil dalam dirimu yang tahu bahwa hidupmu tidak sedang terasa seperti yang dulu kamu bayangkan.

Mungkin karena kamu sekaligus penulis naskah dan tokoh di dalamnya, rasa kecewa itu terasa lebih dekat.

Ketika orang lain mengecewakanmu, setidaknya kamu bisa mengatakan, “Aku tidak menyangka dia akan melakukan itu.” Ketika ekspektasimu sendiri yang meleset, kalimat seperti itu tidak punya tempat untuk ditujukan.

Kamu tidak bisa benar-benar mengatakan bahwa seseorang telah membuatmu berharap.

Harapan itu tumbuh di dalam kepalamu sendiri.

Tapi itu juga bukan berarti kamu sedang berhadapan dengan sesuatu yang salah. Bayangan tentang masa depan memang bisa terasa begitu nyata ketika kamu menjalaninya dari hari ke hari. Kamu bisa terbiasa dengan satu kemungkinan sampai lupa bahwa kemungkinan tersebut tidak pernah menjadi kepastian.

Lalu ketika kenyataan datang dengan bentuk yang berbeda, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan karena yang hilang bukan sesuatu yang pernah kamu miliki.

Yang hilang adalah sesuatu yang pernah kamu bayangkan akan kamu miliki.

Itulah yang membuat kecewa pada diri sendiri kadang terasa berbeda dari kecewa pada orang lain. Kamu tidak punya tempat untuk mengembalikan perasaan itu. Tidak ada pintu yang bisa ditutup setelah pertengkaran selesai, tidak ada hubungan yang bisa dijauhi agar semuanya terasa lebih ringan.

Kamu tetap harus menjalani hari yang sama dengan kenyataan yang sama.

Dan mungkin itu sebabnya kekecewaan seperti ini bisa bertahan lebih lama daripada yang kamu kira. Bukan karena ia selalu lebih besar, tetapi karena ia tidak punya akhir yang jelas. Kamu tidak sedang menunggu seseorang meminta maaf. Kamu juga tidak sedang menunggu sebuah janji ditepati.

Kamu hanya sedang menyadari bahwa sesuatu yang pernah kamu kira akan terjadi ternyata tidak terjadi.

Kecewa yang Tetap Nyata

Kecewa tidak selalu membutuhkan seseorang untuk disalahkan agar terasa nyata.

Ada kalanya kamu hanya berhadapan dengan jarak antara hidup yang sedang kamu jalani dan hidup yang pernah kamu bayangkan. Jarak itu mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi kamu bisa merasakannya ketika sedang sendirian dan pikiranmu kembali pada bagaimana seharusnya semuanya berjalan.

Kamu tidak harus punya tersangka untuk bisa kecewa.

Tidak ada yang mengingkari janji. Tidak ada yang perlu ditebus. Tidak ada orang yang harus datang untuk menjelaskan kenapa kenyataan tidak sesuai dengan bayanganmu.

Kalau kamu sudah berkali-kali mencoba menurunkan ekspektasi dan kecewanya tetap datang, bagian itu dibahas lebih luas di tulisan tentang cara menurunkan ekspektasi.

Mungkin pada akhirnya, yang tersisa memang hanya perasaan itu sendiri: kamu pernah berharap sesuatu akan terasa berbeda, lalu ternyata tidak.

Dan kecewa itu tetap nyata, meskipun tidak ada yang bersalah.