Beberapa minggu setelah masuk, kamu sadar tempat ini tidak persis seperti yang kamu bayangkan. Kamu sedang duduk di meja kerja, mengikuti rapat, atau menatap layar komputer ketika tiba-tiba ada rasa yang sulit dijelaskan: tempat ini memang seperti pekerjaan yang kamu pilih, tetapi suasananya tidak seperti gambar yang dulu ada di kepalamu.
Tidak ada satu kejadian besar yang membuat semuanya berubah. Tidak ada seseorang yang datang lalu mengatakan bahwa kenyataannya akan seperti ini. Hanya saja, semakin lama kamu berada di dalamnya, semakin terasa bahwa dunia kerja tidak sesuai bayangan. Ada jarak kecil antara apa yang kamu kira akan kamu jalani dan apa yang ternyata menjadi bagian dari hari-harimu.
Jarak itu kadang terasa sebagai kecewa. Kadang hanya berupa rasa asing karena kamu belum terbiasa dengan cara tempat ini berjalan. Bahkan ada kalanya kamu belum tahu persis apa yang membuatnya terasa berbeda. Kamu hanya tahu bahwa gambaran sebelum masuk dan kenyataan setelah berada di dalamnya tidak lagi terlihat seperti dua hal yang sama.
Bayangan yang Dibentuk Sebelum Kamu Pernah Masuk
Bayangan itu tidak datang dari mana-mana; ia disusun dari bahan yang sudah dipilih. Sebelum masuk kerja, kamu mungkin mendengar cerita dari orang yang sudah bekerja, membaca gambaran sebuah posisi, melihat bagaimana orang lain menjalani pekerjaannya, atau mendengar pembicaraan tentang seperti apa kehidupan setelah punya pekerjaan.
Semua itu memberi kamu potongan-potongan kecil untuk membentuk sebuah gambaran. Ada pekerjaan yang terlihat menarik karena jenis tugasnya. Ada tempat kerja yang terdengar menyenangkan karena orang-orang yang pernah bercerita tentangnya. Ada juga bayangan tentang bagaimana rasanya punya rutinitas sendiri, menerima penghasilan, bertemu orang baru, dan menjalani kehidupan yang terasa lebih mandiri.
Masalahnya, potongan-potongan itu memang hanya potongan. Cerita seseorang biasanya punya bagian yang paling mudah diceritakan. Gambaran pekerjaan lebih sering menjelaskan apa yang akan kamu kerjakan daripada bagaimana rasanya menjalani hari yang sama berulang kali. Dari pembicaraan orang sekitar, kamu mungkin mendapat kesan tentang hasil akhirnya tanpa pernah melihat seluruh perjalanan menuju ke sana.
Akhirnya, kamu menyusun semuanya menjadi satu gambar yang terasa cukup utuh. Bukan karena ada yang sengaja membuatmu salah paham, tetapi karena memang seperti itulah cara pikiran bekerja ketika belum punya pengalaman langsung. Kamu mengambil beberapa bagian yang tersedia, lalu membayangkan sisanya.
Karena belum pernah berada di dalamnya, bagian yang kosong biasanya diisi oleh perkiraan. Kamu membayangkan bagaimana hari kerja akan berjalan, seperti apa hubungan dengan orang-orang di sana, dan seperti apa rasanya ketika pekerjaan itu akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gambaran itu bisa terasa nyata bahkan sebelum kamu benar-benar mengalaminya. Sampai akhirnya kamu masuk, menjalani hari-hari pertama, dan perlahan menemukan bahwa tempat yang selama ini ada di kepala ternyata punya bentuk lain ketika dilihat dari dalam.
Bagian yang Tidak Pernah Ada di Bayangan
Bayangan hampir selalu berisi pencapaian dan jarang berisi harinya. Kamu mungkin membayangkan pekerjaan yang selesai, hasil yang bisa dilihat, atau rasa puas ketika sesuatu yang kamu kerjakan akhirnya berhasil, tetapi jarang membayangkan waktu yang dihabiskan untuk menunggu persetujuan yang belum datang atau duduk dalam rapat yang ternyata tidak menghasilkan apa-apa.
Padahal, bagian seperti itu tetap menjadi bagian dari pekerjaan. Ada hari ketika kamu sudah siap mengerjakan sesuatu tetapi masih harus menunggu orang lain. Ada pekerjaan yang sebenarnya sederhana, tetapi terasa panjang karena harus melewati beberapa tahap sebelum selesai. Hal-hal seperti ini jarang punya tempat dalam gambaran yang terbentuk sebelum kamu masuk.
Begitu juga dengan hubungan antarmanusia. Ketika membayangkan sebuah pekerjaan, perhatianmu mungkin lebih banyak tertuju pada tugas dan tanggung jawabnya. Kamu membayangkan apa yang akan dikerjakan, bukan bagaimana rasanya harus berkoordinasi dengan orang lain, menyesuaikan cara bicara, memahami kebiasaan yang berbeda, atau berada di dalam percakapan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang kamu bayangkan.
Ada banyak waktu yang tidak terlihat ketika kamu hanya melihat pekerjaan dari luar. Waktu untuk menunggu, mengulang, menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah pernah dijelaskan, atau mengerjakan hal kecil yang tidak pernah terasa cukup penting untuk diceritakan kepada siapa pun.
Bagian-bagian itu bukan berarti pekerjaan tersebut buruk. Hanya saja, bagian seperti inilah yang biasanya tidak ikut masuk ke dalam gambar sebelum kamu berada di sana. Kamu melihat hasil akhirnya dari jauh, sementara setelah masuk kamu harus menjalani semua bagian kecil yang membuat hasil itu bisa terjadi.
Itulah sebabnya pekerjaan yang dari luar terlihat sederhana bisa terasa berbeda ketika kamu sendiri yang menjalaninya. Kamu bukan hanya bertemu dengan pekerjaan yang selama ini kamu bayangkan, tetapi juga dengan semua ruang kosong di antara satu hal dan hal lainnya.
Ruang kosong itu kadang justru mengambil sebagian besar waktu dalam sehari. Kamu datang dengan bayangan tentang apa yang akan dilakukan, lalu menemukan bahwa sebagian hari ternyata diisi oleh hal-hal yang sebelumnya bahkan tidak pernah kamu pikirkan.
Perbedaan itu bisa terasa aneh karena tidak ada satu titik yang bisa ditunjuk sebagai penyebabnya. Tidak ada satu bagian yang benar-benar salah. Hanya saja, semakin banyak hari yang kamu jalani, semakin jelas bahwa gambaran sebelum masuk memang belum pernah menunjukkan seluruh tempat itu.
Dan ketika jarak antara dua gambaran itu mulai terasa, sesuatu yang lebih dalam bisa ikut muncul. Bukan cuma pertanyaan tentang apakah pekerjaan ini memang seperti yang kamu kira, tetapi juga pertanyaan tentang keputusanmu sendiri.
Kenapa Tidak Sesuai Bisa Terasa Seperti Salah Jalan
Mungkin karena dua rasa itu bertemu di tempat yang sama. Kamu kecewa karena kenyataannya berbeda dari bayangan, tetapi di saat yang sama kamu mulai meragukan keputusan yang membawamu sampai ke tempat itu.
Keduanya bisa muncul hampir bersamaan sampai batas di antara keduanya menjadi sulit dilihat. Rasa “ini bukan seperti yang kubayangkan” perlahan terdengar seperti “mungkin aku memilih yang salah”. Padahal, dua kalimat itu sedang mengatakan hal yang berbeda.
Ketika sesuatu tidak sesuai dengan bayanganmu, yang berubah pertama kali sebenarnya adalah gambaranmu tentang tempat tersebut. Kamu melihat bagian-bagian yang sebelumnya tidak terlihat dan mulai memahami bahwa pekerjaan itu punya sisi yang belum pernah masuk ke dalam perkiraanmu.
Tetapi karena keputusan untuk masuk ke tempat itu dibuat berdasarkan bayangan yang sama, kenyataan yang berbeda tadi bisa terasa seperti penilaian terhadap keputusanmu. Seolah-olah kalau tempat ini tidak seperti yang kamu kira, berarti keputusanmu memilihnya juga ikut menjadi salah.
Perasaan itu semakin mudah muncul ketika kamu belum punya ukuran lain untuk membandingkan pengalaman tersebut. Kamu hanya punya gambaran sebelum masuk dan kenyataan yang sedang kamu jalani sekarang. Di antara keduanya, belum banyak pengalaman yang bisa membuat perbedaan itu terasa biasa.
Ada juga hal lain yang membuatnya semakin rumit. Bayangan itu mungkin bukan sekadar gambaran tentang pekerjaan, tetapi juga salah satu alasan kenapa kamu memilihnya sejak awal. Ketika kenyataannya berbeda, yang terganggu bukan cuma bayangan tentang tempat kerja, melainkan cerita yang sebelumnya kamu buat tentang kenapa kamu berada di sana.
Karena itu, rasa kecewa bisa bercampur dengan keraguan. Kamu tidak hanya melihat tempat ini dan berpikir bahwa ternyata kenyataannya berbeda, tetapi juga melihat dirimu sendiri dan bertanya-tanya kenapa dulu kamu membayangkannya seperti itu.
Dari sana, jarak kecil antara bayangan dan kenyataan bisa terasa jauh lebih besar. “Tidak sesuai” berubah menjadi sesuatu yang terasa lebih pribadi, seolah-olah perbedaan itu mengatakan sesuatu tentang kemampuanmu membaca keadaan atau tentang keputusan yang kamu buat.
Padahal, pengalaman setelah masuk memang memiliki informasi yang sebelumnya belum kamu punya. Sebelum menjalani hari-harinya, ada banyak hal yang hanya bisa kamu bayangkan. Setelah berada di dalamnya, kamu melihat bagian yang sebelumnya tidak mungkin terlihat dari luar.
Itulah yang membuat “tidak sesuai” dan “salah jalan” terasa begitu dekat, meskipun keduanya bukan hal yang sama. Yang satu menggambarkan jarak antara dua gambaran, sementara yang lain sudah memberi makna tertentu pada jarak tersebut.
Dua Gambaran tentang Tempat yang Sama
Ada gambaran yang kamu bawa masuk dan ada gambaran yang sekarang kamu hidupi. Keduanya berbicara tentang tempat yang sama, tetapi dibuat dari pengalaman yang berbeda.
Gambaran pertama terbentuk ketika kamu masih berada di luar. Kamu menyusunnya dari cerita, informasi, percakapan, dan perkiraan tentang bagaimana pekerjaan itu nantinya. Gambaran kedua muncul setelah kamu benar-benar berada di dalamnya, ketika hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terlihat mulai mengisi ruang yang kosong.
Karena itu, keduanya memang tidak harus terlihat sama. Yang satu dibuat sebelum kamu menjalani hari-harinya, sedangkan yang lain terbentuk dari hari-hari yang benar-benar kamu jalani.
Mungkin yang terasa mengganggu bukan hanya kenyataan bahwa pekerjaan itu berbeda dari bayanganmu, tetapi karena selama ini kamu mengira kedua gambaran tersebut seharusnya sama. Ketika ternyata tidak, perbedaannya terasa seperti sesuatu yang harus diberi arti.
Kalau selisih antara bayangan dan kenyataan ini sudah berkali-kali kamu coba kecilkan dengan menurunkan ekspektasi, ada bahasan yang lebih luas dan bisa kamu baca soal cara menurunkan ekspektasi.
Pada akhirnya, tetap ada dua gambaran tentang tempat yang sama: satu yang pernah kamu bawa di kepala sebelum masuk, dan satu lagi yang terbentuk setelah kamu benar-benar berada di dalamnya.
Keduanya hanya lahir dari sisi waktu yang berbeda.