Cara Mengatasi Insecure: Bukan Tentang Jadi Lebih PD

Kalau yang kamu cari adalah cara untuk berhenti merasa insecure sama sekali, mungkin kamu sudah mencari sesuatu yang lebih sulit dijangkau daripada yang kamu kira.

Mungkin selama ini kamu sudah mencoba banyak hal.

Berusaha lebih bersyukur.

Berusaha berhenti membandingkan diri.

Berusaha lebih percaya diri.

Berusaha mengingat semua hal baik yang ada dalam dirimu.

Dan mungkin sebagian dari usaha itu memang membantu.

Setidaknya untuk sementara waktu.

Tapi ada satu hal yang sering membuat banyak orang bingung.

Kenapa perasaan yang sama bisa kembali lagi?

Kenapa setelah merasa lebih baik selama beberapa hari, satu komentar, satu kegagalan kecil, atau satu unggahan di media sosial bisa membuat semuanya terasa berubah?

Bukan karena rasa insecure itu selalu datang dalam bentuk yang besar.

Kadang ia hanya muncul sebagai suara kecil.

Suara yang bertanya apakah kamu sudah cukup baik.

Apakah kamu sudah cukup berhasil.

Apakah kamu sudah cukup menarik.

Apakah kamu sudah cukup layak untuk dihargai.

Karena itulah banyak orang terus mencari cara mengatasi insecure.

Mereka berharap suatu hari menemukan titik di mana suara itu akhirnya berhenti berbicara.

Namun mungkin ada satu asumsi yang jarang dipertanyakan.

Yaitu bahwa mengatasi insecure berarti tidak lagi merasa insecure.

Padahal kalau diperhatikan lebih dekat, orang-orang yang terlihat lebih tenang dengan dirinya sendiri belum tentu hidup tanpa keraguan.

Mereka belum tentu hidup tanpa rasa minder.

Mereka belum tentu hidup tanpa rasa takut tertinggal.

Perbedaannya mungkin bukan pada ada atau tidaknya perasaan tersebut.

Melainkan pada hubungan mereka dengan perasaan itu.

Yang Sebenarnya Berubah

Coba perhatikan sebuah situasi yang cukup umum.

Kamu membuka LinkedIn sebentar sebelum mulai bekerja.

Lalu melihat seseorang yang seusia denganmu baru saja mendapatkan promosi.

Tidak ada yang salah dengan unggahan itu.

Tidak ada yang menyerangmu.

Tidak ada yang mengatakan bahwa kamu gagal.

Tetapi beberapa menit kemudian, suasana hatimu terasa berbeda.

Kamu mulai melihat hidupmu sendiri dari sudut yang lain.

Pencapaianmu terasa lebih kecil.

Kemajuanmu terasa lebih lambat.

Hal-hal yang tadi tidak terlalu mengganggu tiba-tiba terasa penting.

Situasi seperti ini bisa dialami hampir semua orang.

Termasuk mereka yang terlihat percaya diri.

Karena perbandingan bukan sesuatu yang hanya dimiliki oleh orang insecure.

Perbandingan adalah bagian dari cara manusia memahami posisinya di dunia.

Yang menarik bukan fakta bahwa perbandingan itu muncul.

Yang menarik adalah apa yang terjadi setelahnya.

Bagi sebagian orang, perbandingan berubah menjadi vonis.

Melihat orang lain berhasil terasa seperti bukti bahwa dirinya tertinggal.

Melihat orang lain dipuji terasa seperti bukti bahwa dirinya kurang layak.

Melihat orang lain bahagia terasa seperti bukti bahwa hidupnya sendiri tidak cukup baik.

Perbandingan tidak lagi berhenti sebagai informasi.

Ia berubah menjadi penilaian terhadap diri sendiri.

Dan ketika itu terjadi, rasa insecure biasanya ikut mengambil alih.

Namun ada orang lain yang mengalami situasi yang sama dengan hasil yang berbeda.

Mereka juga melihat unggahan yang sama.

Mereka juga merasakan ketidaknyamanan yang sama.

Mereka juga sempat membandingkan.

Tetapi perbandingan itu tidak berkembang menjadi kesimpulan tentang nilai diri mereka.

Mereka tidak otomatis menganggap dirinya gagal hanya karena orang lain berhasil.

Mereka tidak otomatis menganggap dirinya kurang berharga hanya karena orang lain mendapat lebih banyak pengakuan.

Perasaan tidak nyaman tetap ada.

Tetapi perasaan itu tidak langsung dipercaya sebagai kebenaran.

Di sinilah mungkin salah satu perubahan terbesar terjadi.

Bukan karena rasa insecure menghilang.

Melainkan karena rasa insecure tidak lagi terdengar seperti fakta.

Ia tetap ada.

Tetap muncul.

Tetap berbicara.

Tetapi tidak lagi menentukan seluruh cara seseorang melihat dirinya sendiri.

Perubahan lain yang sering tidak terlihat adalah cara seseorang memperlakukan keraguan terhadap dirinya sendiri.

Banyak orang membayangkan bahwa orang yang berhasil mengatasi insecure adalah orang yang sangat yakin dengan dirinya.

Seolah mereka bangun setiap pagi tanpa mempertanyakan apa pun.

Tanpa rasa takut.

Tanpa keraguan.

Tanpa pikiran bahwa dirinya mungkin tidak cukup baik.

Padahal kenyataannya sering jauh lebih biasa.

Coba perhatikan situasi yang sederhana.

Ada sesuatu yang sebenarnya ingin kamu lakukan.

Mungkin mengajukan ide yang selama ini hanya tersimpan di kepala.

Mungkin memulai usaha kecil yang sudah lama dipikirkan.

Mungkin mengunggah karya yang selama ini hanya tersimpan di galeri.

Mungkin melamar pekerjaan yang menurutmu sedikit di atas kemampuanmu saat ini.

Lalu keraguan mulai muncul.

“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau ternyata aku tidak sebagus yang kupikir?”

“Bagaimana kalau orang lain melihat kekuranganku?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan sesuatu yang aneh.

Hampir semua orang pernah mengalaminya.

Masalahnya bukan pada munculnya keraguan.

Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah keraguan itu muncul.

Bagi sebagian orang, keraguan berubah menjadi keputusan.

Begitu rasa tidak yakin datang, langkah langsung berhenti.

Mereka menunggu sampai lebih percaya diri.

Menunggu sampai lebih siap.

Menunggu sampai rasa takut berkurang.

Menunggu sampai merasa cukup.

Dan sering kali, penantian itu tidak pernah benar-benar selesai.

Karena selalu ada alasan baru untuk merasa belum siap.

Selalu ada orang lain yang terlihat lebih unggul.

Selalu ada kekurangan baru yang ditemukan.

Sementara itu, ada orang lain yang juga mengalami keraguan yang sama.

Mereka juga memikirkan kemungkinan gagal.

Mereka juga meragukan kemampuan dirinya sendiri.

Mereka juga merasa takut dinilai.

Tetapi mereka tidak lagi memperlakukan semua pikiran itu sebagai perintah.

Keraguan tetap ada.

Namun keraguan tidak lagi menjadi hakim yang menentukan apakah mereka boleh bergerak atau tidak.

Mungkin inilah salah satu perubahan yang paling jarang dibicarakan.

Karena dari luar, yang terlihat hanyalah tindakan.

Orang lain melihat seseorang yang berani mencoba.

Lalu menyimpulkan bahwa ia pasti percaya diri.

Padahal bisa jadi yang sebenarnya berubah bukan tingkat kepercayaan dirinya.

Melainkan hubungannya dengan rasa tidak percaya diri itu.

Hal yang sama juga sering terjadi pada kebutuhan akan pengakuan.

Karena kalau diperhatikan lebih dalam, banyak bentuk insecure berputar di sekitar satu kebutuhan yang sangat manusiawi.

Keinginan untuk dihargai.

Keinginan untuk diakui.

Keinginan untuk merasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti bagi orang lain.

Tidak ada yang salah dengan kebutuhan tersebut.

Pujian memang menyenangkan.

Apresiasi memang menyenangkan.

Pengakuan memang menyenangkan.

Masalahnya muncul ketika semua itu berubah fungsi.

Bukan lagi sesuatu yang menyenangkan untuk diterima.

Melainkan sesuatu yang dibutuhkan untuk merasa aman.

Perbedaannya tipis.

Sangat tipis.

Sampai-sampai banyak orang tidak menyadarinya.

Kamu menyelesaikan sesuatu yang menurutmu cukup baik.

Lalu kamu membagikannya.

Awalnya biasa saja.

Tetapi perlahan perhatianmu mulai tertuju ke satu hal.

Apakah ada yang menyukai?

Apakah ada yang memberi komentar?

Apakah ada yang memperhatikan?

Ketika responsnya baik, suasana hati ikut naik.

Ketika responsnya tidak seperti yang diharapkan, suasana hati ikut turun.

Padahal hasil kerjanya sama.

Usahanya sama.

Kemampuannya sama.

Yang berubah hanyalah jumlah pengakuan yang diterima.

Di sinilah banyak orang mulai melihat sesuatu yang sebelumnya luput.

Bahwa terkadang yang dicari bukan sekadar apresiasi.

Melainkan rasa aman.

Dan rasa aman yang bergantung pada pengakuan orang lain memiliki satu masalah.

Ia selalu berada di luar kendali kita.

Hari ini ada.

Besok belum tentu.

Hari ini dipuji.

Besok mungkin diabaikan.

Hari ini dianggap menarik.

Besok mungkin tidak lagi.

Karena itu, hidup yang terlalu bergantung pada pengakuan sering terasa seperti pengejaran yang tidak pernah selesai.

Satu pencapaian menghasilkan target berikutnya.

Satu pujian menghasilkan kebutuhan akan pujian berikutnya.

Satu pengakuan menghasilkan pencarian pengakuan berikutnya.

Bukan karena seseorang kurang bersyukur.

Bukan karena seseorang terlalu manja.

Melainkan karena ia sedang berusaha mendapatkan rasa aman dari tempat yang memang tidak dirancang untuk memberikannya secara permanen.

Orang yang insecure-nya mulai berkurang bukan berarti sudah tidak menikmati pujian.

Mereka tetap senang ketika dihargai.

Tetap senang ketika diapresiasi.

Tetap senang ketika diperhatikan.

Tetapi hidup mereka tidak lagi diorganisir di sekitar pencarian itu.

Mereka tidak lagi menjadikan pengakuan sebagai bukti utama bahwa dirinya berharga.

Dan mungkin di situlah perubahan yang sebenarnya mulai terjadi.

Bukan ketika rasa tidak cukup menghilang.

Melainkan ketika rasa tidak cukup itu tidak lagi menentukan seluruh arah hidup seseorang.

Mengatasi vs Menghindari

Mungkin pada titik ini muncul pertanyaan yang cukup wajar.

Kalau begitu, kenapa banyak cara mengatasi insecure terasa berhasil untuk sementara, tetapi tidak bertahan lama?

Kenapa seseorang bisa merasa lebih baik selama beberapa hari, lalu kembali bergumul dengan perasaan yang sama?

Mungkin jawabannya bukan karena cara-cara tersebut salah.

Mungkin yang perlu dilihat adalah tujuan yang diam-diam sedang dikejar.

Karena ada perbedaan antara mengatasi insecure dan menghindari insecure.

Perbedaannya tidak selalu terlihat dari luar.

Bahkan terkadang keduanya tampak sangat mirip.

Misalnya, saat rasa tidak cukup mulai muncul, kamu segera mencari sesuatu yang bisa membuat perasaan itu pergi.

Kamu mencari distraksi.

Kamu mencari pengakuan.

Kamu mencari sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih baik secepat mungkin.

Dan sering kali cara itu memang bekerja.

Setidaknya untuk sementara.

Perasaan tidak nyaman berkurang.

Pikiran terasa lebih tenang.

Hari terasa lebih ringan.

Namun beberapa waktu kemudian, perasaan yang sama muncul lagi.

Lalu proses yang sama kembali diulang.

Bukan karena kamu kurang berusaha.

Bukan karena kamu gagal.

Tetapi mungkin karena tujuan yang sedang dikejar sejak awal adalah menghilangkan rasa tidak nyaman tersebut.

Masalahnya, insecure tidak selalu hilang hanya karena berhasil ditenangkan.

Ia sering muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.

Hari ini sebagai perbandingan sosial.

Besok sebagai kebutuhan akan pengakuan.

Lain waktu sebagai ketakutan terhadap penilaian orang lain.

Bentuknya berubah.

Tetapi pola dasarnya tetap sama.

Karena itu, menghindari insecure sering kali berarti terus bernegosiasi dengan perasaan tersebut.

Berusaha membuatnya diam.

Berusaha membuatnya pergi.

Berusaha membuatnya tidak muncul lagi.

Sementara itu, hubungan yang berbeda mulai terbentuk ketika seseorang tidak lagi menjadikan hilangnya insecure sebagai tujuan utama.

Ia mulai menyadari bahwa perasaan itu mungkin tetap datang dari waktu ke waktu.

Tetapi kehadirannya tidak harus menentukan semua keputusan.

Ia tetap bisa muncul ketika kamu melihat pencapaian orang lain.

Ia tetap bisa muncul ketika kamu menerima kritik.

Ia tetap bisa muncul ketika hasil yang kamu harapkan tidak tercapai.

Namun perasaan itu tidak lagi otomatis menentukan arah langkah berikutnya.

Mungkin inilah yang sebenarnya berubah pada banyak orang yang terlihat lebih tenang.

Bukan karena mereka berhasil menghilangkan insecure.

Melainkan karena insecure tidak lagi memegang posisi sebagai hakim yang menentukan semua hal.

Mereka tidak menunggu merasa cukup sebelum bergerak.

Mereka tidak menunggu yakin sebelum mencoba.

Mereka tidak menunggu semua keraguan menghilang sebelum mengambil keputusan.

Dan mungkin karena itu, hidup mereka perlahan tidak lagi berputar di sekitar usaha untuk merasa aman setiap saat.

Dua Area yang Layak Diamati

Kalau tidak ada langkah ajaib yang bisa membuat insecure hilang sepenuhnya, lalu apa yang sebenarnya bisa diperhatikan?

Mungkin bukan seluruh hidupmu sekaligus.

Mungkin cukup dua area yang paling sering muncul berulang kali.

Yang pertama adalah kebiasaan membandingkan diri.

Banyak orang berusaha berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Lalu merasa gagal ketika ternyata masih melakukannya.

Padahal perbandingan sering terjadi begitu cepat hingga kita bahkan tidak menyadarinya.

Kamu membuka media sosial.

Melihat pencapaian seseorang.

Lalu beberapa menit kemudian suasana hati berubah.

Sering kali yang menarik bukan fakta bahwa perbandingan itu terjadi.

Yang menarik adalah apa yang terjadi setelahnya.

Apa yang biasanya menjadi pemicunya?

Situasi seperti apa yang paling sering membuatmu merasa tertinggal?

Cerita apa yang langsung muncul di kepalamu saat melihat orang lain berada selangkah di depan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering membuka pola yang selama ini berjalan otomatis. Pola tersebut dibahas lebih dalam pada artikel tentang “perbandingan sosial yang berjalan otomatis”.

Area kedua adalah kebutuhan validasi.

Karena tidak semua apresiasi memiliki makna yang sama.

Ada perbedaan antara menikmati pengakuan dan membutuhkan pengakuan untuk merasa aman.

Perbedaannya sering baru terlihat saat pengakuan itu tidak datang.

Apa yang terjadi ketika tidak ada yang memuji?

Apa yang terjadi ketika tidak ada yang memperhatikan?

Apa yang terjadi ketika sesuatu yang kamu kerjakan tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan?

Kadang pertanyaan-pertanyaan seperti itu memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar keinginan untuk dihargai. Jika pola tersebut terasa familiar, pembahasan tentang “kenapa pujian tidak pernah cukup” mungkin bisa membantu melihatnya dari sudut yang berbeda.

Tentu saja tidak semua hal bisa dipahami sendirian.

Ada kalanya seseorang menemukan lapisan yang lebih dalam dari sekadar perbandingan sosial atau kebutuhan akan pengakuan. Pada titik tertentu, berbicara dengan konselor atau profesional bisa membantu melihat pola yang sulit terlihat dari dalam.

Tetapi sebelum sampai ke sana, sering kali perubahan dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana.

Bukan dengan memperbaiki semuanya sekaligus.

Melainkan dengan mulai melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan:

“Bagaimana caranya berhenti merasa insecure?”

Karena selama menjadi manusia, kemungkinan besar akan selalu ada hari-hari ketika kamu merasa tertinggal.

Hari-hari ketika kamu meragukan dirimu sendiri.

Hari-hari ketika kamu melihat hidup orang lain dan bertanya-tanya kenapa hidupmu tidak terlihat seperti itu.

Mungkin pertanyaan yang lebih menarik adalah:

“Bagaimana caranya agar perasaan itu tidak terus memimpin?”

Karena orang yang insecure-nya berkurang belum tentu hidup tanpa keraguan.

Belum tentu hidup tanpa rasa takut.

Belum tentu hidup tanpa perbandingan.

Mereka hanya tidak lagi menyerahkan seluruh kemudi kepada perasaan-perasaan tersebut.

Dan mungkin, ketika kata “mengatasi” tidak lagi berarti menghilangkan, maknanya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kenyataan.

Kalau kamu ingin melihat gambaran yang lebih lengkap tentang bagaimana insecure muncul, bertahan, dan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri, kamu bisa melanjutkan ke artikel Ketika Kamu Merasa Tidak Pernah Cukup.

Atau mungkin sebelum itu, ada satu pertanyaan yang layak didiamkan sejenak. “Kalau insecure tidak bisa sepenuhnya hilang, apa sebenarnya arti “mengatasi” bagimu?