Kamu pernah bilang pada dirimu, kali ini nggak mau berharap lagi.
Bukan karena kamu benar-benar sudah tidak peduli, tapi karena kamu tahu apa yang mungkin terjadi kalau kenyataan berjalan berbeda dari yang kamu bayangkan. Kamu sudah pernah berada di posisi ketika sesuatu yang kamu tunggu ternyata tidak datang seperti yang kamu harapkan. Karena itu, kamu merasa lebih aman kalau kali ini tidak memasang harapan apa-apa.
Tapi dua hari kemudian, tanpa sadar, kamu sudah membayangkan seperti apa nanti kalau semuanya berjalan baik. Kamu membayangkan percakapan yang akan terjadi, ekspresi wajah seseorang, atau seperti apa rasanya ketika sesuatu yang kamu tunggu akhirnya benar-benar terjadi.
Lalu kamu menangkap dirimu sendiri sedang melakukan itu dan bertanya, kenapa kita berekspektasi padahal kita sudah tahu risikonya bisa kecewa?
Pertanyaan itu terasa aneh karena di satu sisi kamu ingin menjaga diri dari kemungkinan yang tidak sesuai harapan. Di sisi lain, sebelum sesuatu benar-benar terjadi, pikiranmu sudah lebih dulu membuat gambarnya. Bahkan ketika kamu mengatakan tidak mau berharap, ternyata tetap ada sesuatu yang kamu bayangkan.
Ekspektasi sebagai Peta Sebelum Melangkah
Kamu tidak bisa melangkah ke tempat yang sama sekali tidak kamu bayangkan. Untuk memutuskan sesuatu, merencanakan sesuatu, atau sekadar menunggu sesuatu terjadi, kamu membutuhkan gambaran tentang apa yang mungkin ada di depan.
Ketika kamu menerima pesan dan membayangkan akan mendapat kabar baik, di situ sudah ada sebuah bayangan. Ketika kamu mulai pekerjaan baru dan membayangkan seperti apa hari-harimu nanti, kamu juga sedang membuat bayangan. Bahkan ketika kamu menunggu seseorang datang, kamu mungkin sudah punya gambaran tentang bagaimana pertemuan itu akan berlangsung.
Gambaran seperti itu kemudian bisa menjadi ekspektasi. Kamu tidak selalu mengucapkannya sebagai, “Aku berharap ini akan terjadi.” Kadang ekspektasi muncul begitu saja dalam bentuk sesuatu yang terasa masuk akal untuk terjadi.
Kamu membayangkan sebuah percakapan karena menurutmu ada hal yang perlu dibicarakan. Kamu memperkirakan seseorang akan bersikap tertentu karena sebelumnya memang begitu. Kamu menunggu hasil tertentu karena dari semua kemungkinan yang ada, itulah yang paling mudah kamu bayangkan.
Di situlah kenapa manusia berekspektasi tidak selalu bermula dari keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Sering kali, ekspektasi muncul karena kamu sedang mencoba memahami apa yang mungkin terjadi setelah ini.
Kamu membutuhkan semacam peta sebelum melangkah. Bukan peta yang menjamin kamu akan sampai ke tempat yang sama persis dengan bayanganmu, tetapi gambaran yang membuat langkah berikutnya terasa punya arah.
Karena itu, ekspektasi bukan hanya sesuatu yang muncul ketika kamu terlalu berharap. Ia juga bagian dari cara kamu membayangkan hari esok, membuat keputusan, membaca keadaan, dan menempatkan dirimu di dalam sesuatu yang belum terjadi.
Masalahnya, peta yang kamu punya tidak pernah benar-benar sama dengan tempat yang akan kamu datangi.
Bayangan tetap dibuat dari apa yang kamu tahu sekarang. Sementara kenyataan bisa membawa hal-hal yang belum kamu ketahui ketika bayangan itu terbentuk.
Dan di antara dua hal itulah ekspektasi mulai terasa begitu nyata.
Kenapa Pengalaman Lama Membentuk Bayangan Baru
Bukan hanya karena pernah berhasil lalu berharap lagi. Pengalaman yang tidak berjalan sesuai harapan juga bisa ikut membentuk bayangan tentang apa yang akan terjadi berikutnya.
Ketika sesuatu pernah berjalan seperti yang kamu bayangkan, pengalaman itu memberi kamu gambaran yang bisa dibawa ke situasi lain. Kamu pernah menerima respons yang kamu harapkan dari seseorang, pernah melihat sebuah rencana berjalan lancar, atau pernah merasa yakin terhadap sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi. Pengalaman seperti itu membuat bayangan tertentu terasa masuk akal untuk muncul lagi.
Tapi prosesnya tidak selalu sesederhana itu.
Kamu juga bisa berekspektasi karena pernah mengalami sesuatu yang berbeda. Setelah sebuah rencana gagal, misalnya, kamu mungkin mulai membayangkan bahwa kali berikutnya keadaan akan lebih sulit. Setelah seseorang pernah bersikap berbeda dari yang kamu kira, kamu bisa membawa bayangan tertentu ketika bertemu situasi yang mirip.
Bahkan kalimat “aku nggak mau berharap” sebenarnya sudah mengandung sebuah bayangan. Ada gambaran tentang sesuatu yang tidak akan berjalan seperti yang diinginkan, tentang kemungkinan bahwa keadaan kembali meleset, atau tentang apa yang menurutmu mungkin terjadi setelah ini.
Jadi, tidak berharap pun tidak selalu berarti tidak punya ekspektasi. Kadang bentuknya hanya berubah. Kamu tidak lagi membayangkan sesuatu berjalan sesuai keinginan, tetapi mulai membayangkan bagaimana sesuatu mungkin berjalan berdasarkan apa yang pernah kamu alami.
Itulah kenapa pengalaman lama begitu mudah ikut hadir dalam bayangan baru. Kamu tidak memasuki setiap kejadian dari ruang yang benar-benar kosong. Ada hal-hal yang pernah kamu lihat, rasakan, dan alami sebelumnya, lalu semuanya ikut menjadi bahan ketika kamu membayangkan apa yang mungkin terjadi.
Bayangan pertama tentang bagaimana dunia bekerja bahkan bisa terbentuk jauh sebelum kamu sadar bahwa kamu sedang membentuknya. Cara kamu melihat janji, penolakan, keberhasilan, kegagalan, atau hubungan dengan orang lain bisa tumbuh sedikit demi sedikit dari pengalaman yang kamu lewati.
Namun pengalaman bukan satu-satunya sumber ekspektasi. Ada bayangan yang bahkan tidak sepenuhnya kamu buat sendiri.
Ekspektasi yang Terasa Dititipkan Orang Sekitar
Tidak semua bayangan lahir dari dalam dirimu. Sebagian terasa seperti dititipkan oleh orang-orang dan lingkungan di sekitarmu.
Ada umur yang dianggap seharusnya sudah mencapai sesuatu. Ada sikap yang dianggap semestinya kamu miliki. Ada pekerjaan yang dipandang lebih masuk akal, hubungan yang dianggap seharusnya berjalan dengan cara tertentu, atau kehidupan yang seolah punya urutan yang sudah ditentukan.
Kamu bisa tumbuh dengan mendengar banyak gambaran tentang bagaimana hidup seharusnya berjalan. Lama-kelamaan, beberapa di antaranya mungkin terasa begitu biasa sampai kamu tidak lagi mempertanyakan dari mana asalnya.
Ekspektasi seperti ini tidak selalu datang dalam bentuk tuntutan yang jelas. Kadang hanya berupa kalimat yang terus terdengar, kebiasaan yang dianggap wajar, atau cara orang-orang di sekitarmu memandang sebuah pilihan.
Ada juga saat ketika kamu merasa seseorang sudah punya ekspektasi tertentu terhadapmu. Kamu merasa seharusnya bisa melakukan sesuatu, seharusnya mengambil keputusan tertentu, atau seharusnya menjadi versi dirimu yang sesuai dengan bayangan mereka.
Yang menarik, bayangan itu bisa tetap kamu bawa meskipun tidak ada yang benar-benar mengatakannya kepadamu.
Kamu bisa mulai bertanya apakah pilihanmu sudah sesuai dengan yang seharusnya. Kamu bisa merasa ada sesuatu yang mestinya terjadi pada titik tertentu dalam hidupmu. Kamu bahkan bisa membentuk gambaran tentang masa depan bukan karena kamu sendiri pernah menginginkannya, tetapi karena gambaran itu sudah terlalu lama berada di sekitarmu.
Di titik ini, pertanyaan “kenapa kita berharap” menjadi sedikit lebih rumit. Tidak semua harapan yang muncul berasal dari keinginan yang kamu pilih dengan sadar. Sebagian mungkin tumbuh dari pengalamanmu sendiri, sebagian dari apa yang pernah kamu alami, dan sebagian lagi dari bayangan yang sudah lebih dulu ada di lingkunganmu.
Karena itu, ketika sebuah ekspektasi muncul, tidak selalu mudah menunjuk satu sumber dan mengatakan, “Ini berasal dari sini.”
Kadang ia terbentuk dari banyak hal yang sudah kamu lewati, lalu muncul begitu saja ketika kamu sedang membayangkan apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang Tidak Bisa Dimatikan
Berekspektasi bukan sesuatu yang bisa kamu matikan seperti sakelar. Ia ikut muncul setiap kali kamu mencoba membayangkan apa yang mungkin terjadi besok.
Kamu bisa mengatakan tidak mau berharap, tetapi tetap punya gambaran tentang bagaimana sesuatu akan berjalan. Kamu bisa berusaha tidak memikirkan hasil tertentu, tetapi tetap memiliki perkiraan tentang apa yang akan kamu temui. Bahkan ketika kamu mencoba menjaga jarak dari sebuah harapan, kamu masih sedang membentuk bayangan tentang apa yang mungkin terjadi tanpa harapan itu.
Mungkin itu sebabnya pertanyaan tentang kenapa kita berekspektasi tidak selalu punya satu jawaban sederhana. Kamu berekspektasi karena kamu perlu membayangkan sebelum melangkah. Kamu membawa pengalaman lama ketika membentuk bayangan baru. Kamu juga hidup di antara berbagai gambaran tentang apa yang seharusnya terjadi, baik yang kamu buat sendiri maupun yang terasa datang dari orang lain.
Semua itu bisa bertemu dalam satu ekspektasi yang terasa begitu alami sampai kamu tidak sadar kapan sebenarnya ia mulai terbentuk.
Ekspektasi juga tidak selalu muncul sebagai harapan besar. Kadang ia hanya berupa bayangan kecil tentang bagaimana seseorang akan membalas pesanmu, bagaimana sebuah percakapan akan berlangsung, atau seperti apa hari esok ketika sesuatu yang sedang kamu tunggu akhirnya terjadi.
Kalau kamu sudah berkali-kali mencoba berhenti berharap atau menurunkan ekspektasi dan tidak berhasil, ada pembahasan yang lebih luas yang bisa kamu baca soal cara menurunkan ekspektasi.
Pada akhirnya, berekspektasi bukan tanda bahwa kamu gagal memahami risiko atau tidak belajar dari apa yang pernah terjadi. Ia adalah bagian dari caramu membayangkan sesuatu yang belum terjadi.
Dan selama masih ada hari esok yang belum kamu jalani, akan selalu ada sesuatu yang kamu bayangkan tentangnya.