Kenapa Ekspektasi Tidak Sesuai Realita Terasa Seperti Janji yang Diingkari

Kamu akhirnya sampai di tempat yang sudah lama kamu bayangkan. Bisa jadi sebuah kota yang ingin kamu datangi, meja makan yang sudah kamu tunggu, hari pertama di tempat baru, atau pertemuan dengan seseorang yang selama ini hanya kamu kenal dari cerita.

Tidak ada yang benar-benar buruk ketika kamu sampai di sana. Tempatnya bagus. Makanannya enak. Orangnya ramah. Percakapannya juga berjalan. Kalau seseorang bertanya apa yang salah, kamu mungkin bahkan tidak punya jawaban yang jelas.

Tapi ada jeda aneh antara apa yang kamu lihat dan apa yang selama ini ada di kepalamu. Seperti dua foto yang diletakkan berdampingan, sama-sama menunjukkan tempat yang sama, tetapi entah kenapa tidak terasa seperti gambar yang sama.

Kamu tidak bisa bilang ada yang rusak. Kamu juga tidak bisa bilang, “Ini dia.”

Ada sesuatu yang tidak pas.

Bayangan yang Terasa Seperti Janji

Ketika ekspektasi tidak sesuai realita, yang terasa bukan sekadar meleset, tapi seperti ada janji yang diingkari.

Padahal, sering kali tidak ada siapa pun yang pernah membuat janji itu. Tidak ada kalimat yang benar-benar mengatakan bahwa semuanya akan berjalan seperti yang kamu bayangkan. Tidak ada kesepakatan bahwa pertemuan itu akan terasa hangat, perjalanan itu akan berjalan mulus, atau sebuah momen akan memiliki perasaan tertentu ketika akhirnya datang.

Tetapi bayangan yang sudah lama tinggal di kepalamu bisa terasa semakin nyata seiring waktu. Kamu membayangkannya berulang kali, mungkin tanpa sadar menambahkan detail, suasana, reaksi orang lain, bahkan perasaan yang seharusnya muncul ketika semuanya benar-benar terjadi.

Lama-lama, bayangan itu tidak lagi terasa seperti kemungkinan. Rasanya seperti sesuatu yang memang akan terjadi.

Karena itu, ketika kenyataan datang dalam bentuk yang berbeda, jaraknya bisa terasa lebih menyakitkan daripada sekadar hasil yang tidak sesuai perkiraan. Ada sensasi seperti sesuatu telah diambil darimu, padahal sejak awal tidak pernah benar-benar diberikan.

Kadang memang ada janji yang pernah diucapkan seseorang. Ada perkataan yang membuatmu punya alasan untuk mengharapkan sesuatu, lalu kenyataan yang datang ternyata berbeda. Dalam keadaan seperti itu, rasa kecewa memang tidak sepenuhnya berasal dari bayanganmu sendiri.

Tetapi di banyak situasi lain, garis antara janji yang benar-benar pernah ada dan janji yang terbentuk di dalam kepala bisa menjadi sangat kabur. Kamu mungkin tidak pernah diberi kepastian, tetapi setelah cukup lama membayangkan satu kemungkinan, kepastian itu terasa seolah-olah pernah ada.

Itulah yang membuat ekspektasi dan realita kadang terasa seperti dua pihak yang sedang berselisih, meskipun salah satunya sebenarnya bukan pihak yang pernah berjanji.

Kamu hanya sedang berhadapan dengan jarak antara sesuatu yang sudah terasa nyata di dalam kepalamu dan sesuatu yang akhirnya benar-benar terjadi.

Bayangan yang Sudah Disunting Lebih Rapi daripada Kenyataan

Gambar di kepalamu adalah versi yang sudah disunting.

Di dalamnya, perjalanan mungkin terasa lebih lancar. Pertemuan berlangsung tanpa jeda yang canggung. Makan malam tidak terganggu rasa lelah. Hari pertama di tempat baru terasa penuh hal menarik. Bahkan ketika ada masalah kecil, masalah itu mungkin tidak pernah masuk ke dalam gambar karena perhatianmu lebih banyak tertuju pada bagian yang ingin kamu lihat.

Kamu tidak sedang sengaja memalsukan kenyataan. Bayangan memang tidak datang bersama seluruh detail yang biasanya menyertai kejadian nyata.

Tidak ada macet yang perlu dilewati sampai ke tempat tujuan. Tidak ada waktu yang terasa terlalu lama ketika kamu menunggu. Tidak ada percakapan yang tiba-tiba berhenti karena kamu dan orang lain sama-sama tidak tahu harus mengatakan apa. Hal-hal kecil seperti itu biasanya tidak mendapat tempat ketika kamu membayangkan sebuah pengalaman.

Yang tersisa adalah rangkaian momen yang paling mudah dibayangkan.

Kenyataan datang dengan cara yang berbeda. Ia membawa seluruh bingkai sekaligus, termasuk bagian yang biasa saja, bagian yang melelahkan, bagian yang tidak menarik, dan bagian yang bahkan tidak kamu sadari sedang terjadi.

Di situlah perbandingannya sejak awal sudah tidak sepenuhnya seimbang. Kamu membandingkan sesuatu yang sudah dirapikan dengan sesuatu yang masih utuh.

Bayangan punya kebebasan untuk hanya menampilkan bagian yang terasa penting. Kenyataan tidak punya pilihan seperti itu.

Karena itu, sebuah pengalaman bisa berjalan cukup baik dan tetap terasa kurang. Bukan karena kenyataannya buruk, melainkan karena kenyataan harus berhadapan dengan gambar yang sejak awal tidak pernah memuat seluruh isinya.

Kenapa Kenyataan yang Cukup Baik Pun Tetap Terasa Mengecewakan

Mungkin karena kamu membandingkan kenyataan dengan gambar, bukan dengan nol.

Kalau kamu tidak punya bayangan apa pun sebelumnya, sebuah makan malam yang berjalan biasa saja mungkin hanya terasa sebagai makan malam yang biasa saja. Tetapi ketika di kepalamu sudah ada gambaran tentang percakapan yang mengalir, suasana yang hangat, dan perasaan yang seharusnya muncul, pengalaman yang sama bisa terasa seperti sesuatu yang kurang.

Perbedaannya bukan selalu terletak pada apa yang terjadi, tetapi pada apa yang sudah ada sebelum kejadian itu dimulai.

Kamu datang membawa satu gambaran, lalu pulang dengan gambaran yang lain. Di antara keduanya ada jarak yang mungkin sebenarnya kecil kalau dilihat dari luar, tetapi terasa cukup besar ketika kamu yang mengalaminya.

Ada juga sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Ketika gambaran yang sudah lama kamu simpan tidak terjadi, bukan hanya gambarnya yang hilang. Perasaan yang kamu kira akan muncul bersamanya juga tidak pernah benar-benar datang.

Itu bisa membuat sebuah kejadian yang sebenarnya cukup baik terasa seperti meninggalkan ruang kosong.

Bukan karena kamu kehilangan sesuatu yang pernah kamu miliki, tetapi karena ada versi kejadian yang sudah lebih dulu kamu kenal di dalam kepala. Kamu sudah sempat melihatnya, meskipun hanya dalam bayangan. Kamu sudah sempat merasakan bagaimana kira-kira semuanya akan berjalan.

Ketika kenyataan tidak mengikuti gambaran itu, yang terasa hilang bukan sebuah benda atau kejadian nyata. Yang hilang adalah kemungkinan yang sebelumnya terasa begitu dekat dengan kenyataan.

Mungkin itu sebabnya kamu bisa mengatakan, “Sebenarnya nggak ada yang salah,” sambil tetap merasa kecewa.

Dua hal itu tidak harus saling bertentangan. Kamu bisa melihat bahwa pengalaman yang kamu jalani cukup baik, sekaligus merasakan bahwa pengalaman itu tidak menjadi seperti yang selama ini kamu bayangkan.

Dan mungkin di situlah bagian yang paling membingungkan: kenyataan tidak harus buruk untuk terasa mengecewakan.

Dua Gambaran yang Sama-Sama Nyata

Bayangan yang kamu punya dan kenyataan yang kamu jalani sama-sama menjadi bagian dari pengalamanmu.

Yang satu pernah hidup di dalam kepalamu sebelum kejadian itu berlangsung. Yang satu lagi muncul ketika kejadian itu benar-benar terjadi, lengkap dengan detail yang tidak pernah masuk ke dalam bayangan sebelumnya.

Karena itu, rasa tidak cocok di antara keduanya tidak selalu berarti salah satunya keliru. Bayangan itu memang pernah terasa nyata bagimu, dan kenyataan yang datang juga benar-benar terjadi.

Kadang yang membuat jaraknya terasa besar bukan karena kenyataannya terlalu jauh, melainkan karena bayangan itu sudah terlalu dekat.

Kamu bisa saja mengetahui bahwa tidak ada yang benar-benar salah, tetapi tetap merasakan ada sesuatu yang tidak sesuai. Perasaan itu tidak otomatis membuat kenyataan menjadi buruk, sama seperti kenyataan yang baik tidak otomatis membuat bayangan sebelumnya menjadi tidak berarti.

Keduanya hanya menunjukkan dua gambaran yang berbeda tentang sesuatu yang sama.

Kalau jarak antara bayangan dan kenyataan ini sudah berkali-kali kamu coba kecilkan dengan menurunkan ekspektasi, ada bahasan yang lebih luas soal cara menurunkan ekspektasi dan kenapa jaraknya sering tetap ada.

Mungkin memang ada pengalaman yang terasa berbeda hanya karena kenyataan akhirnya memiliki bentuk yang tidak pernah sama persis dengan gambar yang sudah lebih dulu kamu kenal.

Dan untuk beberapa hal, tidak ada yang perlu dibuat salah agar jarak itu terasa nyata.