Kamu bilang ke temanmu bahwa kamu tidak berharap apa-apa.
Kamu bilang itu sambil menunggu balasan pesan, sambil menunggu hasil sesuatu yang sudah kamu kerjakan, atau sebelum datang ke sebuah acara yang sebenarnya sudah lama kamu bayangkan. Kamu bahkan mungkin mengatakannya untuk meyakinkan dirimu sendiri. “Biasa aja,” katamu. “Kalau terjadi ya syukur, kalau nggak ya sudah.”
Tapi ternyata tidak seperti itu.
Balasannya datang dengan nada yang berbeda dari yang kamu kira. Hasilnya tidak sesuai dengan yang sudah kamu bayangkan. Acara yang kamu pikir akan terasa menyenangkan ternyata biasa saja, bahkan agak mengecewakan.
Dan yang membuatmu bingung bukan cuma hasilnya.
Kamu heran kenapa sesuatu yang katanya tidak kamu harapkan bisa terasa begitu mengganggu. Kalau memang dari awal kamu tidak berharap apa-apa, kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang gagal terjadi?
Mungkin karena ada hal yang sudah kamu bayangkan jauh sebelum kamu menyadarinya.
Harapan yang Sudah Terasa Hampir Pasti
Ekspektasi adalah keyakinan tentang apa yang akan terjadi, bukan sekadar keinginan agar sesuatu terjadi. Perbedaannya memang terlihat kecil, tetapi rasanya bisa sangat berbeda ketika kenyataan akhirnya datang.
Kamu bisa berharap seseorang membalas pesanmu, tanpa benar-benar yakin dia akan membalasnya seperti yang kamu inginkan. Harapan masih menyisakan ruang untuk kemungkinan lain. Kamu menginginkan sesuatu terjadi, tetapi di dalam kepala masih ada bagian yang berkata, “Bisa saja ternyata tidak.”
Ekspektasi mulai terbentuk ketika kemungkinan itu terasa semakin kecil. Kamu bukan cuma ingin sesuatu terjadi, tetapi sudah punya gambaran tentang bagaimana sesuatu itu seharusnya berjalan.
Misalnya kamu mengirim pesan kepada seseorang dan berharap dia membalas. Beberapa waktu kemudian, kamu mulai membayangkan dia akan membalas dengan cepat, menjelaskan sesuatu, atau melanjutkan percakapan seperti biasanya. Tidak ada satu pun dari itu yang pernah dia janjikan. Tapi di kepalamu, jawabannya sudah mulai terbentuk.
Itulah kenapa ekspektasi sering terasa seperti sesuatu yang sudah hampir pasti terjadi.
Harapan masih berkata, “Semoga begini.”
Ekspektasi mulai berkata, “Sepertinya memang akan begini.”
Kadang perbedaannya bahkan tidak terasa sampai kenyataan bergerak ke arah lain. Kamu baru menyadari bahwa kamu sudah membawa sebuah bayangan setelah kenyataan tidak mengikuti bayangan tersebut.
Hal yang sama bisa terjadi ketika jadwal berubah. Kamu sudah membayangkan sesuatu selesai hari ini, sehingga ketika waktunya mundur beberapa hari, yang berubah bukan cuma jadwalnya. Ada bagian dari kepalamu yang harus menerima bahwa sesuatu yang tadinya terasa sudah pasti ternyata belum terjadi.
Ekspektasi tidak selalu muncul dalam bentuk kalimat yang jelas. Sering kali ia hanya berupa gambaran yang terasa begitu masuk akal sampai kamu berhenti menganggapnya sebagai kemungkinan.
Kamu tidak merasa sedang berkata, “Aku berekspektasi ini akan terjadi.”
Kamu hanya merasa, “Ya, memang harusnya begitu.”
Ekspektasi yang Tidak Pernah Kamu Ucapkan, Bahkan pada Dirimu Sendiri
Sebagian besar ekspektasi tidak pernah punya kalimat.
Kamu tidak selalu mengatakan kepada seseorang bahwa kamu mengharapkan dia mengerti tanpa harus dijelaskan. Kamu juga tidak selalu mengatakan kepada dirimu sendiri bahwa di usia tertentu kamu seharusnya sudah berada di titik tertentu dalam hidup. Banyak hal berjalan begitu saja di dalam kepala, sampai kamu sendiri tidak merasa sedang membuat sebuah harapan tentang bagaimana sesuatu seharusnya terjadi.
Ekspektasi pada orang lain sering muncul dari hal-hal yang terasa sudah semestinya dipahami. Kamu mengira seseorang akan tahu apa yang kamu butuhkan, akan mengerti maksudmu, atau akan bersikap seperti yang kamu bayangkan tanpa pernah ada percakapan yang benar-benar mengatakan hal itu.
Pada situasi tertentu, ekspektasi bahkan tidak membutuhkan orang lain. Kamu bisa masuk ke sebuah acara dengan bayangan tentang suasananya, menjalani sebuah perjalanan dengan gambaran tentang bagaimana rasanya nanti, atau menunggu sebuah hasil sambil diam-diam sudah membayangkan seperti apa akhirnya.
Lalu ada ekspektasi yang kamu arahkan kepada dirimu sendiri.
Kamu mengira sekarang kamu seharusnya sudah lebih tenang, lebih mampu, lebih berhasil, atau sudah sampai di tempat yang dulu kamu bayangkan. Tidak ada yang perlu mengatakannya kepadamu karena suara itu sudah cukup lama tinggal di kepalamu.
Semua itu bisa terjadi tanpa satu pun kalimat yang benar-benar kamu ucapkan.
Karena ekspektasi tidak harus dinyatakan agar terasa nyata. Kadang ia justru bekerja paling kuat ketika tidak pernah diberi nama.
Kenapa Ekspektasi Tidak Selalu Terasa Seperti Ekspektasi
Mungkin karena ia menyamar jadi hal yang wajar, mungkin karena sudah terlalu lama kamu bawa.
Ada hal-hal yang awalnya cuma kamu bayangkan, lalu semakin sering terjadi sampai terasa seperti pola. Setelah cukup lama, kamu berhenti melihatnya sebagai kemungkinan. Kamu mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sewajarnya terjadi.
Kamu mungkin berkata, “Ya wajar dong kalau dia ngerti.”
Atau, “Sudah seharusnya aku bisa.”
Bahkan, “Masa segitu aja nggak bisa?”
Kalimat seperti itu terdengar seperti penilaian biasa. Tidak ada kata “ekspektasi” di dalamnya. Tidak ada pengakuan bahwa kamu sedang membawa gambaran tertentu tentang seseorang, sebuah keadaan, atau dirimu sendiri.
Justru di situlah ekspektasi bisa menjadi sulit dikenali.
Ketika sesuatu terasa wajar, kamu tidak merasa sedang memilih untuk mengharapkannya. Kamu hanya merasa sedang melihat kenyataan sebagaimana mestinya. Kalau seseorang tidak bertindak seperti yang kamu bayangkan, rasanya bukan seperti sebuah bayangan yang meleset, tetapi seperti ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Begitu juga ketika ekspektasi itu ditujukan kepada dirimu sendiri.
Kamu mungkin sudah terbiasa berpikir bahwa pada tahap tertentu kamu seharusnya lebih kuat, lebih cepat memahami sesuatu, atau sudah mampu melakukan hal yang sekarang masih terasa sulit. Karena pikiran itu sudah berulang kali muncul, ia tidak lagi terdengar seperti tuntutan. Ia terdengar seperti fakta.
Padahal ada perbedaan antara sesuatu yang memang sedang terjadi dan sesuatu yang kamu yakini seharusnya terjadi.
Perbedaan itu bisa menjadi sangat tipis ketika sebuah keyakinan sudah terlalu lama tinggal di kepala. Kamu tidak lagi melihatnya dari luar. Kamu melihat segala sesuatu melalui keyakinan tersebut.
Itulah sebabnya ekspektasi kadang sulit dikenali sebelum kenyataan bergerak ke arah yang berbeda. Bukan karena ia selalu tersembunyi, tetapi karena bentuknya sudah berubah menjadi sesuatu yang terasa biasa.
Kamu tidak lagi berpikir, “Aku berharap ini terjadi.”
Kamu hanya berpikir, “Memangnya bukankah seharusnya memang begitu?”
Setelah Ia Punya Nama
Setelah ekspektasi punya nama, sebagian rasa yang muncul mungkin tidak langsung berubah. Kamu masih bisa merasa tidak nyaman ketika sesuatu berjalan berbeda dari yang sudah kamu bayangkan. Hanya saja, sekarang ada sesuatu yang bisa kamu lihat di baliknya.
Bukan lagi sekadar, “Kenapa kenyataannya begini?”
Ada kemungkinan bahwa sebelumnya kamu sedang membawa sebuah gambaran tentang bagaimana kenyataan seharusnya berjalan. Gambaran itu mungkin tidak pernah kamu tulis, tidak pernah kamu ucapkan, bahkan tidak pernah kamu sadari sebagai sesuatu yang kamu harapkan.
Ia hanya terasa masuk akal.
Kamu mengira seseorang akan mengerti. Kamu mengira sebuah keadaan akan berjalan seperti yang kamu bayangkan. Kamu mengira dirimu sendiri akan sudah sampai di titik tertentu.
Ketika semua itu terasa wajar, ekspektasi tidak terlihat seperti ekspektasi. Ia terlihat seperti kenyataan yang belum terjadi.
Mungkin itu sebabnya ada hal-hal yang terasa lebih besar daripada yang seharusnya ketika tidak berjalan sesuai bayangan. Bukan karena kamu sejak awal menginginkan terlalu banyak, tetapi karena di dalam kepalamu sesuatu sudah terasa hampir pasti.
Kalau ekspektasi yang baru kelihatan ini sudah berkali-kali kamu coba turunkan tanpa hasil, ada pembahasan yang lebih luas yang bisa kamu baca soal cara menurunkan ekspektasi dan kenapa itu tidak sesederhana kedengarannya.
Dan mungkin setelah ia punya nama, kamu tidak lagi hanya melihat apa yang terjadi di luar dirimu, tetapi juga bayangan yang sebelumnya kamu kira sebagai kenyataan.