Kamu mungkin pernah membuka media sosial tanpa merasa sedang mencari apa-apa. Awalnya cuma ingin melihat beberapa unggahan, membalas pesan, atau sekadar mengisi waktu. Tapi setelah beberapa menit, kamu mulai melihat teman yang sedang bepergian, orang lain berkumpul, membeli sesuatu, menghadiri acara, atau menjalani aktivitas yang terlihat menyenangkan.
Tidak ada yang salah dengan kehidupanmu sebelum membuka aplikasi itu. Namun setelah melihat kehidupan orang lain satu demi satu, muncul perasaan seperti ada sesuatu yang sedang terjadi tanpa kamu.
Di situlah FOMO di media sosial bisa mulai terasa.
Media sosial tidak selalu membuat kamu mengalami FOMO, tetapi cara informasi muncul di depanmu dapat membuat pemicunya jauh lebih sering terlihat. Sesuatu yang sebelumnya hanya sesekali kamu ketahui tentang orang lain sekarang bisa muncul berkali-kali dalam satu waktu.
Kenapa Media Sosial Begitu Mudah Memicu FOMO
Media sosial membuat pengalaman orang lain terasa jauh lebih dekat dibandingkan sebelumnya. Kamu tidak perlu bertemu langsung dengan teman untuk mengetahui mereka sedang pergi ke suatu tempat, berkumpul dengan orang lain, membeli barang baru, atau menghadiri acara tertentu.
Cukup membuka layar, berbagai aktivitas itu sudah muncul di depan mata.
Dulu, kamu mungkin hanya mengetahui sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Temanmu pergi liburan, misalnya, mungkin baru kamu ketahui ketika dia bercerita setelah pulang. Sekarang, perjalanan itu bisa kamu lihat sejak berangkat, ketika sampai di tempat tujuan, saat makan, sampai ketika mereka mengunggah foto perjalanan pulang.
Jumlah informasi yang kamu terima pun bisa datang dari banyak orang sekaligus. Dalam beberapa menit, kamu bisa melihat teman yang sedang liburan, kenalan yang menghadiri konser, seseorang yang baru membeli barang, lalu orang lain yang sedang berkumpul bersama teman-temannya.
Setiap pengalaman itu mungkin terasa biasa kalau dilihat sendiri. Masalahnya, semuanya bisa muncul berurutan dalam satu waktu.
Kamu akhirnya tidak hanya melihat satu orang sedang melakukan sesuatu. Kamu melihat banyak orang sedang menjalani aktivitas yang berbeda-beda, sementara kamu sedang duduk di tempatmu sendiri dan melihat semuanya melalui layar.
Paparan seperti ini membuat media sosial dan FOMO memiliki hubungan yang cukup dekat. Bukan karena setiap unggahan otomatis menimbulkan rasa takut tertinggal, tetapi karena kesempatan untuk melihat sesuatu yang menarik perhatianmu menjadi jauh lebih besar.
Kamu bisa saja awalnya tidak merasa ingin pergi ke mana-mana. Tetapi setelah melihat beberapa unggahan tentang perjalanan, acara, tempat makan, atau kegiatan bersama teman, perhatianmu mulai berubah.
Yang sebelumnya tidak ada dalam pikiranmu tiba-tiba menjadi sesuatu yang kamu pikirkan.
Media sosial memicu FOMO terutama ketika apa yang kamu lihat mulai terasa relevan dengan kehidupanmu sendiri. Kamu bukan sekadar mengetahui bahwa orang lain sedang melakukan sesuatu, tetapi mulai membayangkan bagaimana rasanya kalau kamu ikut berada di sana.
Dan semakin sering hal seperti itu muncul, semakin mudah pengalaman orang lain masuk ke dalam perhatianmu.
Saat Kamu Terus Melihat Apa yang Sedang Dilakukan Orang Lain
Paparan berulang bisa membuat aktivitas orang lain terasa seperti sesuatu yang terus terjadi di sekitarmu. Sekali melihat teman sedang liburan mungkin hanya membuatmu berpikir, “Oh, dia lagi jalan-jalan.” Tetapi ketika setelah itu kamu melihat orang lain pergi, orang lain berkumpul, dan orang lain menghadiri acara, kesannya mulai berubah.
Kamu bisa mulai menangkap gambaran bahwa banyak orang sedang menjalani sesuatu yang menarik, sementara kamu tidak.
Padahal, yang kamu lihat di media sosial hanyalah bagian tertentu dari kehidupan mereka. Orang biasanya membagikan momen yang memang ingin mereka tampilkan, entah karena dianggap menyenangkan, menarik, penting, atau layak dibagikan.
Kamu tidak melihat keseluruhan waktu yang mereka jalani.
Ketika seseorang mengunggah foto sedang menikmati liburan, kamu melihat momen ketika mereka berada di tempat tersebut. Kamu tidak ikut melihat waktu perjalanan yang melelahkan, waktu ketika mereka hanya duduk di kamar, atau bagian lain dari hari yang tidak dianggap menarik untuk dibagikan.
Ini bukan berarti unggahan tersebut palsu. Pengalamannya tetap nyata. Hanya saja, pengalaman yang sampai kepadamu memang sudah berupa potongan tertentu.
Hal yang menarik adalah otakmu tetap bisa merespons potongan-potongan itu sebagai gambaran tentang kehidupan orang lain secara keseluruhan. Setelah melihat banyak unggahan, kamu mungkin tidak lagi merasa sedang melihat beberapa momen yang terpisah.
Semuanya terasa seperti satu gambaran besar.
Kamu melihat orang lain terus melakukan sesuatu, terus bertemu orang, terus pergi ke tempat baru, atau terus memiliki pengalaman yang menarik. Dari sinilah dampak media sosial terhadap FOMO bisa terasa semakin kuat, karena paparan tersebut tidak berhenti pada satu kejadian.
Kamu bisa melihat hal serupa hari ini, besok, lalu beberapa jam kemudian muncul lagi dari orang yang berbeda.
Semakin sering kamu melihatnya, semakin familiar pula gambaran itu. Sesuatu yang awalnya hanya menarik perhatian perlahan bisa terasa seperti standar kehidupan yang sedang dijalani banyak orang.
Lalu kamu melihat kembali keadaanmu sendiri.
Kalau saat itu kamu sedang berada di rumah, bekerja, sendirian, atau hanya menjalani rutinitas biasa, perbedaan tersebut bisa terasa semakin jelas. Bukan karena kehidupanmu tiba-tiba berubah menjadi kurang menarik, tetapi karena dalam waktu yang singkat kamu baru saja menerima begitu banyak potongan kehidupan orang lain.
Kenapa Unggahan Orang Lain Bisa Terasa Seperti Sesuatu yang Kamu Lewatkan
Perasaan FOMO karena media sosial biasanya mulai terasa berbeda ketika kamu tidak lagi sekadar melihat pengalaman orang lain, tetapi mulai merasa tidak menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Ada jarak antara mengetahui sesuatu dan merasa sedang kehilangan sesuatu.
Satu unggahan mungkin hanya menarik perhatianmu. Kamu melihat seorang teman sedang makan di tempat baru, lalu menggulir layar dan melupakannya beberapa detik kemudian.
Namun ketika kamu melihat beberapa orang melakukan hal yang sama, perhatianmu bisa berubah. Tiba-tiba terasa seperti ada sesuatu yang sedang berlangsung, dan kamu tidak ikut di dalamnya.
Di titik itu, kalimat “Aku melihat mereka melakukan sesuatu” bisa bergeser menjadi “Aku merasa seharusnya aku juga ada di sana.”
Perubahannya bisa sangat halus.
Misalnya, kamu awalnya tidak berencana pergi ke mana-mana akhir pekan ini. Kamu juga tidak merasa kehilangan apa pun. Tetapi setelah melihat beberapa teman mengunggah kegiatan mereka, muncul pikiran bahwa akhir pekanmu terasa terlalu biasa dibandingkan dengan yang sedang mereka jalani.
Kamu mungkin mulai bertanya-tanya kenapa kamu tidak ikut.
Padahal sebelumnya, tidak ada rencana yang kamu lewatkan. Tidak ada undangan yang kamu tolak. Tidak ada pengalaman tertentu yang memang seharusnya menjadi milikmu.
Yang berubah adalah apa yang sekarang kamu lihat.
Media sosial membuat kemungkinan pengalaman orang lain hadir di depanmu bahkan ketika pengalaman tersebut sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidupmu. Kamu bisa melihat sebuah acara yang bahkan tidak kamu ketahui sebelumnya, lalu beberapa menit kemudian merasa seperti telah melewatkan sesuatu.
Semakin dekat hubunganmu dengan orang yang mengunggahnya, perasaan itu juga bisa terasa lebih personal. Ketika yang kamu lihat adalah teman sendiri, kamu tidak hanya melihat sebuah tempat atau acara, tetapi juga melihat bagian dari lingkungan sosialmu yang sedang berjalan tanpa kehadiranmu.
Dari sana, unggahan yang awalnya hanya sebuah informasi bisa terasa seperti pengingat bahwa ada sesuatu yang sedang berlangsung di luar dirimu.
Dan karena hal serupa dapat muncul berkali-kali dalam satu sesi, FOMO di media sosial tidak selalu muncul dari satu unggahan yang sangat besar. Kadang justru terbentuk perlahan dari banyak hal kecil yang terus kamu lihat.
Saat Kamu Membuka Media Sosial Hanya untuk Melihat, tapi Malah Merasa Tertinggal
Kamu bisa membuka media sosial dalam keadaan baik-baik saja, tanpa merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupmu. Tidak ada masalah yang sedang kamu pikirkan, tidak ada keinginan untuk ikut kegiatan orang lain, dan tidak ada alasan khusus untuk merasa tertinggal.
Lalu kamu mulai menggulir layar.
Satu unggahan menunjukkan temanmu sedang bepergian. Berikutnya ada orang yang sedang makan bersama teman-temannya. Setelah itu muncul seseorang yang baru membeli barang yang sudah lama kamu inginkan.
Awalnya semua itu hanya informasi.
Kamu melihatnya, mungkin memberi tanda suka, lalu menggulir lagi. Tetapi setelah beberapa unggahan, suasana di dalam dirimu bisa berubah tanpa kamu sadari.
Kehidupanmu yang tadi terasa biasa saja tiba-tiba terlihat lebih sepi.
Kamu mulai membandingkan apa yang sedang kamu lakukan dengan apa yang sedang dilakukan orang lain. Saat mereka terlihat sibuk, berkumpul, bepergian, atau menikmati sesuatu, aktivitasmu sendiri bisa terasa kurang menarik meskipun beberapa menit sebelumnya kamu tidak mempermasalahkannya.
Yang membuatnya menarik adalah perubahan itu bisa terjadi tanpa ada satu unggahan pun yang secara langsung mengatakan bahwa kehidupan mereka lebih baik daripada kehidupanmu.
Tidak ada yang perlu mengatakan, “Kamu ketinggalan.”
Kamu hanya melihat banyak hal yang sedang terjadi pada orang lain, lalu perlahan muncul kesan bahwa hidupmu sedang berjalan di tempat sementara orang lain terus mengalami sesuatu.
Di sinilah pengalaman FOMO media sosial bisa terasa cukup aneh. Kamu sebenarnya hanya melihat layar, tetapi perasaan yang muncul seolah-olah kamu sedang berdiri di luar sebuah kehidupan yang sedang berlangsung.
Padahal, sebelum membuka media sosial, kamu bahkan tidak merasa sedang kehilangan apa pun.
Perasaan itu juga tidak selalu muncul dalam bentuk keinginan besar untuk melakukan sesuatu. Kadang hanya berupa rasa gelisah kecil ketika melihat orang lain sedang bersenang-senang, rasa tidak nyaman ketika melihat teman berkumpul tanpa kamu, atau pikiran singkat bahwa akhir-akhir ini kamu terlalu banyak melewatkan sesuatu.
Kamu mungkin menutup aplikasi tersebut dan kembali melakukan aktivitasmu.
Tetapi gambaran yang baru saja kamu lihat masih tertinggal di pikiran.
Media Sosial Tidak Selalu Menciptakan FOMO dari Nol
FOMO tidak selalu muncul karena media sosial, karena rasa takut tertinggal bisa sudah ada sebelum kamu melihat apa pun di layar. Media sosial lebih sering menjadi tempat yang membuat pemicu tersebut jauh lebih mudah muncul dan berulang.
Kalau kamu memang cukup memperhatikan apa yang dilakukan orang lain, misalnya, unggahan di media sosial memberimu jauh lebih banyak bahan untuk diperhatikan. Kamu tidak perlu menunggu bertemu teman atau mendengar cerita mereka secara langsung.
Informasinya datang kepadamu.
Satu hari saja bisa ada begitu banyak hal yang kamu lihat. Teman sedang bepergian, kenalan sedang berkumpul, seseorang menghadiri acara, orang lain mencoba sesuatu yang baru, dan berbagai pengalaman lain terus bergantian muncul di layar.
Karena itu, penyebab FOMO di media sosial tidak selalu bisa dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Media sosial bisa menjadi pemicu yang memperbesar rasa yang sebelumnya sudah ada, terutama ketika kamu sering terpapar aktivitas orang lain.
Kamu mungkin sebelumnya memang memiliki perhatian terhadap apa yang sedang dilakukan lingkunganmu. Ketika informasi tentang aktivitas tersebut hanya datang sesekali, perhatian itu mungkin juga hanya muncul sesekali.
Sekarang situasinya berbeda.
Kehidupan orang lain terasa sangat dekat karena kamu bisa melihatnya hampir setiap kali membuka media sosial. Sesuatu yang dulu mungkin hanya kamu ketahui sekali dalam beberapa hari dapat muncul berkali-kali dalam beberapa menit.
Itulah yang membuat FOMO di media sosial terasa lebih mudah muncul.
Bukan berarti setiap kali kamu melihat orang lain bersenang-senang, kamu pasti merasa tertinggal. Bukan juga berarti semua orang yang aktif menggunakan media sosial akan mengalami FOMO.
Tetapi ketika kehidupan orang lain terus hadir di depan mata, peluang untuk menemukan sesuatu yang memicu perasaan tersebut menjadi jauh lebih besar.
Kamu akhirnya tidak hanya hidup di dalam pengalamanmu sendiri. Setiap kali membuka media sosial, kamu juga melihat begitu banyak potongan pengalaman orang lain yang berlangsung bersamaan dengan hidupmu.
Dan karena semua itu muncul begitu dekat di layar, sesuatu yang sebenarnya tidak kamu alami sendiri bisa terasa seperti sesuatu yang sedang kamu lewatkan.
Kalau kamu ingin memahami FOMO secara lebih lengkap, hubungan antara media sosial dan FOMO ini hanya menjadi salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.