Kamu mungkin selalu jadi orang yang mengalah duluan ketika ada masalah. Bukan karena kamu selalu merasa orang lain lebih penting, tetapi karena entah kenapa, membuat suasana kembali tenang terasa lebih mudah daripada mempertahankan apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Kamu juga mungkin punya kebiasaan untuk curiga sebelum benar-benar percaya pada seseorang. Ketika seseorang terlalu baik, ada bagian dalam dirimu yang justru bertanya-tanya kapan sikap itu akan berubah. Bahkan ketika belum ada sesuatu yang terjadi, kamu sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan kecewa.
Ada juga pola lain yang mungkin lebih sulit kamu sadari: selalu menyiapkan diri untuk yang terburuk. Ketika sesuatu berjalan baik, kamu tidak sepenuhnya bisa menikmatinya karena pikiranmu sudah mencari kemungkinan apa yang bisa salah setelahnya.
Pola seperti ini bisa muncul dalam banyak bentuk. Kamu mungkin terlalu cepat meminta maaf, terlalu sering membaca suasana hati orang lain, merasa harus menjaga perasaan semua orang, atau sulit mengatakan tidak meskipun sebenarnya kamu tidak ingin melakukannya.
Yang membuatnya menarik adalah pola itu tidak hanya muncul sekali. Kamu menemukannya lagi ketika bersama pasangan, teman, keluarga, bahkan ketika berada di lingkungan kerja. Situasinya berbeda, orangnya berbeda, tetapi cara kamu bereaksi sering terasa hampir sama.
Lama-lama, pengulangan itu bisa membuatmu berpikir bahwa memang begitulah dirimu.
Kamu mungkin menyebut dirimu orang yang terlalu sensitif, terlalu waspada, terlalu mengalah, atau memang tidak enakan. Label itu terasa masuk akal karena kamu sudah melihat pola tersebut begitu lama dalam dirimu sendiri.
Padahal, sesuatu yang sudah lama kamu lakukan belum tentu sesuatu yang sejak awal menjadi bagian dari dirimu.
Mungkin ada kebiasaan yang terbentuk jauh sebelum kamu cukup dewasa untuk menyadari bahwa kamu sedang membentuknya. Saat itu, kamu hanya sedang mencari cara untuk menjalani keadaan yang kamu hadapi.
Dan karena cara tersebut pernah terasa berhasil, kamu membawanya terus.
Pola yang Terasa Seperti Sifat, Padahal Kebiasaan Bertahan
Pertanyaan yang mungkin jarang kamu tanyakan adalah: ini benar-benar sifatmu, atau kebiasaan yang sudah terlalu lama kamu gunakan?
Sifat dan pola yang terbentuk dari pengalaman bisa terlihat sangat mirip dari luar. Keduanya bisa muncul berulang kali, terasa otomatis, dan menjadi bagian dari cara kamu berhubungan dengan orang lain. Perbedaannya bukan selalu terlihat dari perilakunya, tetapi dari bagaimana perilaku itu terbentuk.
Ada bagian dari dirimu yang memang menjadi kecenderungan pribadi. Kamu mungkin sejak dulu lebih tenang, lebih suka mengamati, atau memang membutuhkan waktu sebelum merasa dekat dengan seseorang. Tidak semua hal tentang dirimu harus dicari asalnya dari masa kecil.
Tetapi ada juga pola yang terbentuk karena dulu kamu perlu menyesuaikan diri dengan keadaan. Ketika lingkungan terasa sulit diprediksi, misalnya, kamu mungkin belajar memperhatikan perubahan kecil pada orang lain. Ketika konflik terasa mengancam hubungan, kamu mungkin belajar mengalah lebih dulu.
Saat masih kecil, kamu belum punya banyak pilihan tentang bagaimana menghadapi keadaan. Kamu belum bisa begitu saja meninggalkan situasi yang membuatmu tidak nyaman, mengambil jarak dari orang yang membuatmu takut, atau memilih lingkungan yang terasa lebih aman.
Jadi, bagian dirimu yang masih kecil mencari cara yang tersedia.
Jika dengan diam suasana menjadi lebih tenang, kamu bisa belajar untuk diam. Jika dengan menuruti keinginan orang lain kamu bisa menghindari pertengkaran, kamu bisa belajar untuk menuruti. Jika dengan selalu waspada kamu bisa lebih siap menghadapi perubahan suasana, kewaspadaan itu bisa menjadi sesuatu yang terus kamu bawa.
Pola tersebut tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang salah. Pada masa ketika pola itu terbentuk, bisa jadi memang itulah cara yang paling masuk akal bagi dirimu untuk menghadapi apa yang sedang terjadi.
Masalahnya bukan pada kenyataan bahwa kamu pernah menggunakan cara tersebut. Yang menarik justru ketika cara lama itu terus ikut tumbuh bersamamu, bahkan setelah keadaan yang melahirkannya sudah berubah.
Kamu sekarang mungkin sudah punya lebih banyak pilihan. Kamu bisa menjauh dari hubungan yang tidak sehat, mengatakan tidak, memilih lingkungan yang sesuai dengan dirimu, atau membicarakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman.
Tetapi tubuh dan pikiranmu belum tentu langsung merasa bahwa pilihan-pilihan itu aman.
Karena itu, sesuatu yang terlihat seperti sifat bisa saja sebenarnya merupakan cara bertahan yang sudah menjadi sangat akrab. Bukan sesuatu yang kamu putuskan secara sadar setiap kali melakukannya, melainkan pola yang sudah tersimpan dalam cara kamu merespons keadaan.
Dan ketika sebuah pola sudah begitu lama menemanimu, wajar kalau kamu sulit membedakannya dari dirimu sendiri.
Kenapa Pola Lama Terus Terpakai Meski Sudah Tidak Perlu
Pola lama tetap kamu pakai karena cara itu terasa lebih aman daripada mencoba sesuatu yang belum pernah kamu lakukan.
Kamu mungkin sudah tahu bahwa tidak semua orang akan marah ketika kamu mengatakan tidak. Kamu juga mungkin sudah tahu bahwa tidak setiap perbedaan pendapat akan berakhir dengan hubungan yang rusak. Tetapi mengetahui hal itu secara logis tidak selalu membuatmu langsung merasa aman ketika harus benar-benar melakukannya.
Ada jarak antara tahu bahwa kamu aman dan merasa bahwa kamu aman.
Pola yang terbentuk sejak kecil tidak selalu mengikuti keadaanmu yang sekarang. Bagian dalam dirimu yang pernah belajar untuk menghindari konflik tidak otomatis tahu bahwa kamu sekarang sudah berada dalam situasi yang berbeda. Ia hanya mengenali pola yang dulu pernah membuat keadaan terasa lebih bisa diprediksi.
Karena itu, kamu bisa saja tetap meminta maaf meskipun sebenarnya tidak melakukan kesalahan. Kamu bisa tetap membaca ekspresi wajah seseorang untuk mencari tanda-tanda perubahan suasana, meskipun orang itu tidak sedang marah. Kamu bisa tetap mempersiapkan diri untuk ditinggalkan meskipun hubungan yang sedang kamu jalani tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Bukan karena kamu sengaja memilih untuk hidup seperti itu.
Kamu hanya sedang menggunakan cara yang paling dikenal.
Sesuatu yang sudah berkali-kali dilakukan akan terasa lebih mudah daripada sesuatu yang sama sekali baru. Bahkan ketika cara lama itu sebenarnya sudah tidak terlalu dibutuhkan, meninggalkannya bisa terasa seperti kehilangan pegangan.
Itulah mengapa pola lama kadang bertahan lebih lama daripada keadaan yang membentuknya. Dulu kamu mungkin membutuhkan kewaspadaan untuk memahami suasana rumah. Sekarang kamu mungkin sudah berada di lingkungan yang jauh lebih tenang, tetapi kewaspadaan itu masih muncul setiap kali ada perubahan kecil.
Dulu mengalah mungkin membuatmu merasa lebih aman. Sekarang kamu mungkin sudah cukup dewasa untuk mempertahankan batasmu sendiri, tetapi mengatakan apa yang kamu inginkan masih bisa menimbulkan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.
Pola tersebut seperti jalur yang sudah sering dilewati. Ketika menghadapi situasi tertentu, bagian dirimu tidak perlu mencari cara baru karena sudah memiliki respons yang siap digunakan.
Cara baru justru terasa asing.
Dan sesuatu yang asing belum tentu langsung terasa aman, meskipun secara sadar kamu tahu bahwa itu mungkin lebih sesuai dengan hidupmu sekarang. Kamu bisa memahami bahwa meminta bantuan bukan berarti merepotkan orang lain, tetapi tetap merasa bersalah ketika melakukannya. Kamu bisa memahami bahwa tidak semua kebutuhan orang lain menjadi tanggung jawabmu, tetapi tetap merasa harus segera memenuhi semuanya.
Di sinilah kebiasaan yang terbawa dari masa kecil bisa terasa begitu melekat. Ia tidak selalu muncul sebagai ingatan tentang apa yang pernah terjadi. Kadang yang tersisa justru cara kamu menghadapi sesuatu.
Kamu tidak perlu terus mengingat kejadian masa kecil tertentu untuk membawa pengaruhnya. Polanya bisa sudah menjadi bagian dari respons sehari-hari, muncul begitu cepat sampai kamu tidak sempat bertanya dari mana asalnya.
Karena itu, perubahan keadaan tidak selalu langsung diikuti perubahan pola.
Kamu mungkin sudah tumbuh menjadi orang dewasa dengan pilihan yang jauh lebih banyak, tetapi ada bagian dalam dirimu yang masih menggunakan aturan lama tentang bagaimana supaya tetap aman, diterima, atau tidak kehilangan hubungan. Aturan itu pernah punya tempat dalam hidupmu.
Hanya saja, belum tentu aturan tersebut masih menggambarkan kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.
Mengenali Pola, Bukan Menghakiminya
Kamu bisa mulai melihat pola itu dengan rasa ingin tahu, bukan dengan kekecewaan pada dirimu sendiri.
Mungkin selama ini kamu sering bertanya, “Kenapa aku selalu begini?” ketika kembali mengalah dalam sebuah percakapan, kembali mencurigai seseorang yang sebenarnya tidak melakukan apa-apa, atau kembali merasa harus menjaga keadaan agar semua orang tetap baik-baik saja. Pertanyaan seperti itu mudah berubah menjadi penilaian terhadap diri sendiri, seolah ada sesuatu yang salah dalam dirimu karena kamu belum bisa bersikap berbeda.
Padahal, mengenali pola tidak harus dimulai dari keinginan untuk segera menghilangkannya.
Kamu bisa memperhatikannya sebagai sesuatu yang berulang. Kapan kamu biasanya mulai merasa harus mengalah? Dalam situasi seperti apa kamu tiba-tiba menjadi sangat waspada? Apa yang biasanya kamu lakukan ketika merasa seseorang mulai menjauh?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus langsung menghasilkan jawaban. Untuk sementara, mungkin cukup menyadari bahwa respons tersebut memang sering muncul dan bentuknya ternyata mirip dari satu situasi ke situasi lainnya.
Di titik ini, kamu mungkin mulai melihat perbedaan antara “aku memang seperti ini” dan “aku sudah terbiasa seperti ini”.
Perbedaannya kecil ketika dilihat dari luar, tetapi bisa terasa berbeda ketika kamu melihatnya dari dalam. Yang pertama membuat pola terasa seperti identitas yang tidak bisa dipisahkan dari dirimu. Yang kedua membuka kemungkinan bahwa ada bagian dari dirimu yang belajar melakukan sesuatu karena pada suatu masa cara itu pernah terasa diperlukan.
Kamu juga tidak harus menyalahkan masa kecilmu untuk memahami pola yang sekarang kamu bawa. Tidak semua hal harus memiliki satu penyebab yang jelas, dan tidak semua kebiasaan yang kamu miliki harus dikaitkan dengan satu kejadian tertentu.
Yang lebih penting adalah melihat bahwa dirimu yang sekarang tidak selalu harus dinilai berdasarkan respons yang dulu terbentuk.
Mungkin ada bagian dari dirimu yang masih membawa cara lama dalam menghadapi kedekatan, konflik, penolakan, atau ketidakpastian. Bagian itu tidak perlu diperlakukan sebagai musuh yang harus dilawan. Ia hanya menunjukkan sesuatu yang sudah lama dikenal oleh dirimu.
Ketika kamu mulai melihatnya seperti itu, pola tersebut tidak lagi sekadar terasa sebagai “sifat buruk” atau sesuatu yang membuatmu berbeda dari orang lain. Ia menjadi bagian dari perjalanan bagaimana kamu belajar menghadapi dunia ketika masih kecil.
Dan mungkin dari sana, kamu mulai menyadari bahwa tidak semua yang selama ini kamu sebut sebagai dirimu benar-benar berasal dari pilihanmu sendiri.
Ada pola dari masa kecil yang ikut tumbuh bersamamu, diam-diam, sampai suatu hari kamu mulai mengenalinya sebagai bagian dari dirimu.