Beberapa menit setelah semuanya reda, kamu mungkin justru bingung dengan dirimu sendiri.
Tadi kamu marah begitu besar. Atau tiba-tiba menangis. Atau merasa panik hanya karena satu hal kecil yang sebenarnya, kalau dipikir sekarang, tidak seharusnya membuatmu bereaksi sejauh itu.
Yang tersisa setelahnya bukan cuma rasa lelah, tapi juga pertanyaan yang sulit dijawab: kenapa tadi aku sebegitu marah? Kenapa aku sampai sesedih itu? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan reaksiku sendiri?
Kamu bahkan mungkin sudah tahu bahwa reaksimu tadi terasa terlalu besar. Kamu bisa melihatnya setelah semuanya tenang, ketika suara di kepalamu tidak lagi sekeras beberapa menit sebelumnya. Tapi mengetahui bahwa reaksimu besar tidak otomatis membuatmu tahu dari mana datangnya semua itu.
Kadang yang paling membingungkan justru bukan kejadian yang membuatmu bereaksi, melainkan dirimu sendiri setelah kejadian itu berlalu.
Kamu melihat kembali apa yang terjadi dan merasa tidak mengenali intensitas perasaanmu sendiri. Pemicu awalnya mungkin sederhana, tetapi sesuatu di dalam dirimu seperti ikut terbuka begitu saja.
Ukuran Reaksi yang Tidak Sebanding dengan Kejadiannya
Besar-kecilnya reaksi tidak selalu mengikuti besar-kecilnya kejadian yang sedang terjadi di depanmu.
Satu kalimat pendek bisa membuatmu sangat tersinggung. Seseorang yang terlambat membalas pesan bisa membuatmu merasa ditinggalkan. Teguran biasa dari orang lain bisa terasa seperti penolakan yang jauh lebih dalam daripada yang sebenarnya mereka maksudkan.
Kalau hanya melihat kejadian hari ini, reaksimu memang terlihat sulit dipahami. Tetapi reaksi emosional tidak selalu hanya berhubungan dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Kadang ada sesuatu yang lebih lama ikut tersentuh ketika kejadian kecil itu muncul.
Itulah kenapa kamu bisa merasa, “Aku tahu ini sepele, tapi kenapa rasanya sebesar ini?”
Rasa yang muncul tetap nyata meskipun pemicunya terlihat kecil. Kamu bukan sedang membuat-buat perasaan itu, dan bukan berarti setiap reaksimu harus dianggap benar hanya karena perasaan tersebut kuat. Yang mungkin belum terlihat adalah bahwa satu kejadian bisa membawa lebih dari satu makna ketika menyentuh bagian tertentu dari pengalamanmu.
Kamu mungkin sedang merespons orang yang ada di depanmu sekarang, tetapi sebagian dari reaksimu bisa saja berkaitan dengan sesuatu yang pernah kamu rasakan jauh sebelumnya.
Karena itu, ada kalanya ukuran reaksimu memang tidak sebanding dengan ukuran kejadian yang baru saja terjadi. Bukan karena kamu sengaja membesar-besarkan keadaan, melainkan karena kejadian itu mungkin menyentuh sesuatu yang ukurannya jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.
Tubuh yang Bereaksi Lebih Dulu daripada Pikiran
Tubuhmu kadang sudah bereaksi sebelum pikiranmu sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jantungmu bisa tiba-tiba berdebar. Suaramu meninggi sebelum kamu sadar bahwa kamu sedang marah, atau tubuhmu terasa ingin menjauh dari seseorang bahkan ketika pikiranmu belum menemukan alasan yang jelas untuk pergi.
Momen seperti itu bisa membuatmu merasa seolah-olah reaksimu muncul begitu saja. Padahal, tubuh sering menyimpan cara merespons sesuatu berdasarkan apa yang pernah kamu alami sebelumnya.
Kamu mungkin pernah berada dalam situasi ketika menunjukkan kemarahan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Atau ketika menangis tidak membuat siapa pun datang menenangkanmu. Bisa juga kamu pernah belajar bahwa diam, menghindar, atau membaca suasana secepat mungkin adalah cara yang lebih aman untuk menghadapi keadaan tertentu.
Hal-hal seperti itu tidak selalu kamu ingat sebagai sebuah kejadian yang jelas. Kamu mungkin bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang penting ketika mengalaminya. Tetapi tubuhmu bisa saja mengenali pola yang terasa mirip ketika sesuatu di masa sekarang menyentuh bagian yang sama.
Itulah sebabnya reaksimu terkadang muncul lebih cepat daripada pemahamanmu.
Kamu belum sempat berpikir, “Apakah aku benar-benar sedang terancam?” atau “Apakah orang ini memang sedang menyerangku?” tetapi tubuhmu sudah mengambil posisi untuk menghadapi sesuatu. Kamu meninggikan suara, menutup diri, ingin pergi, menangis, atau tiba-tiba merasa sangat takut.
Reaksi itu tidak selalu menunjukkan bahwa kamu lemah atau tidak mampu mengendalikan diri. Bisa jadi, ada bagian dalam dirimu yang pernah belajar bahwa respons seperti itu diperlukan agar kamu bisa melewati keadaan yang terasa tidak aman.
Yang dulu mungkin berguna, pada situasi tertentu bisa muncul lagi meskipun keadaanmu sekarang sudah berbeda.
Kamu mungkin sedang berbicara dengan orang yang sebenarnya tidak bermaksud menyakitimu, tetapi nada suaranya membuat tubuhmu langsung menegang. Kamu mungkin sedang menerima kritik biasa, tetapi ada sesuatu di dalam dirimu yang langsung merasa ditolak. Pikiranmu kemudian baru menyusul, mencoba memahami kenapa perasaan yang muncul terasa begitu besar.
Di situlah kebingungan sering muncul. Kamu melihat kejadian yang sedang berlangsung dengan logikamu sekarang, tetapi tubuhmu bisa saja sedang merespons sesuatu dengan cara yang pernah dipelajarinya dulu.
Karena itu, tidak semua reaksi yang terasa tiba-tiba benar-benar muncul tanpa alasan. Ada kemungkinan alasan itu tidak berada sepenuhnya di dalam kejadian yang sedang kamu hadapi sekarang.
Tubuhmu mungkin sedang mengingat sesuatu yang tidak sedang kamu pikirkan.
Bukan Berlebihan, Hanya Belum Selesai
Reaksimu mungkin bukan sekadar sesuatu yang berlebihan, tetapi cara sesuatu yang belum selesai dalam dirimu muncul ke permukaan.
Kamu mungkin sudah lama tidak memikirkan kejadian tertentu. Bahkan bisa jadi kamu merasa sudah melewatinya. Namun ketika sebuah situasi di masa sekarang menyentuh perasaan yang serupa, respons yang muncul bisa terasa jauh lebih besar daripada yang kamu mengerti.
Ada bagian dari pengalamanmu yang mungkin belum pernah benar-benar punya tempat untuk dipahami. Bukan berarti kamu terus hidup di masa lalu, tetapi pengalaman lama tidak selalu hilang hanya karena waktu sudah berjalan jauh.
Itu sebabnya kamu bisa merasa bingung setelah sebuah reaksi besar berlalu. Pikiranmu melihat kejadian yang baru saja terjadi dan berkata bahwa semuanya tidak seharusnya sebesar itu, sementara perasaanmu seperti membawa sesuatu yang jauh lebih lama.
Kamu mungkin bertanya kenapa kamu begitu mudah tersinggung, kenapa penolakan kecil terasa sangat menyakitkan, atau kenapa nada bicara seseorang bisa membuatmu ingin langsung menjauh. Pertanyaan-pertanyaan itu kadang tidak punya jawaban kalau kamu hanya melihat apa yang terjadi beberapa menit sebelumnya.
Karena yang muncul ke permukaan belum tentu hanya milik hari ini.
Mungkin ada rasa takut yang pernah kamu kenal ketika masih kecil. Mungkin ada kesedihan yang dulu tidak sempat kamu pahami. Mungkin juga ada kebutuhan sederhana untuk merasa aman, didengar, atau diterima yang dulu terlalu sering harus kamu simpan sendiri.
Semua itu tidak berarti setiap reaksi yang kamu lakukan tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kamu tetap bisa menyakiti orang lain ketika sedang marah, tetap bisa mengatakan sesuatu yang kemudian kamu sesali, dan tetap bisa melihat bahwa sebuah reaksi tidak selalu tepat hanya karena ada alasan di belakangnya.
Tetapi melihat reaksi itu hanya sebagai bukti bahwa kamu terlalu sensitif, terlalu emosional, atau tidak bisa mengendalikan diri juga membuat ceritanya menjadi terlalu sederhana.
Ada kemungkinan reaksimu punya sumber yang lebih dari satu.
Kejadian yang baru saja terjadi mungkin hanya menjadi pemicu. Perasaan yang muncul setelahnya bisa membawa jejak dari pengalaman yang jauh lebih lama, termasuk pengalaman yang sudah tidak kamu ingat dengan jelas.
Mungkin itu juga yang membuat beberapa reaksi terasa sulit dijelaskan. Kamu tidak selalu tahu kenapa satu hal tertentu bisa menyentuhmu sedalam itu, sementara orang lain mungkin melewatinya tanpa merasakan apa-apa.
Ada sesuatu yang berbeda di dalam pengalaman masing-masing orang. Dan ketika pengalaman lama bertemu dengan situasi baru, respons yang muncul tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari apa yang terlihat di permukaan.
Kamu akhirnya mungkin tidak lagi melihat dirimu sebagai seseorang yang sekadar bereaksi berlebihan.
Kamu bisa mulai melihat bahwa ada bagian dari dirimu yang mungkin masih membawa sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang dulu tidak punya kesempatan untuk dipahami atau dirasakan sepenuhnya.
Di titik itu, pertanyaannya bukan lagi hanya “kenapa aku seperti ini?”, tetapi mulai bergeser menjadi “apa yang sebenarnya sedang muncul lewat reaksiku?”
Jawabannya mungkin tidak langsung jelas. Karena sesuatu yang sudah lama tersimpan di dalam dirimu tidak selalu muncul dalam bentuk kenangan yang utuh. Kadang ia muncul sebagai marah yang terasa terlalu besar, sedih yang datang tiba-tiba, rasa takut yang sulit dijelaskan, atau keinginan kuat untuk menjauh dari sesuatu yang sebenarnya tidak sedang membahayakanmu.
Reaksi itu mungkin terlihat seperti masalah yang muncul hari ini. Tetapi bisa jadi, ia sedang membawa cerita yang dimulai jauh sebelum hari ini.
Dan ketika kamu mulai melihat kemungkinan itu, menyebut dirimu “berlebihan” mungkin terasa tidak lagi cukup untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ada pengalaman-pengalaman lain yang mungkin membuat pola seperti ini semakin terlihat, terutama ketika bagian dirimu yang lebih kecil masih membawa sesuatu yang belum selesai.