Dewasa tapi Masih Mencari Persetujuan Mereka

Kamu sudah memutuskan untuk pindah kerja, sudah menghitung semuanya, dan bahkan sudah tahu kapan harus mulai. Secara logika, keputusan itu sudah selesai. Tapi sebelum benar-benar merasa mantap, masih ada satu hal yang kamu tunggu: bagaimana reaksi orang tuamu.

Mungkin kamu tidak sedang meminta mereka membayar biaya pindahan atau menentukan perusahaan mana yang harus kamu pilih. Kamu sudah punya penghasilan sendiri, bisa mengurus hidupmu sendiri, dan keputusan itu memang kamu ambil setelah mempertimbangkannya matang-matang. Tapi tetap saja, ada bagian dalam dirimu yang ingin mendengar mereka berkata bahwa pilihanmu masuk akal.

Hal yang sama bisa muncul ketika kamu memilih pasangan, membeli rumah, memulai usaha, atau mengambil keputusan yang mengubah arah hidupmu. Kamu bisa saja sudah mengatakan, “Aku sudah dewasa, ini hidupku,” tetapi setelah keputusan dibuat, perhatianmu tetap kembali ke satu tempat: apakah mereka menyetujuinya.

Kadang kamu bahkan tidak sadar sedang menunggu persetujuan itu. Kamu hanya merasa belum benar-benar tenang sebelum mendengar respons mereka.

Kalau responsnya positif, ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Seolah keputusan yang sejak awal sudah kamu yakini tiba-tiba menjadi lebih sah karena orang tuamu akhirnya mengatakan bahwa kamu berada di jalan yang benar.

Sebaliknya, satu komentar yang terdengar kecewa bisa membuat keyakinanmu ikut goyah. Padahal sebelum mendengarnya, kamu sudah merasa cukup yakin dengan pilihanmu sendiri.

Validasi yang Tidak Pernah Terasa Cukup

Pengakuan dari orang tua bisa terasa sangat melegakan, tetapi sering kali rasa lega itu tidak bertahan selama yang kamu kira. Ada sesuatu yang terasa penuh sebentar, lalu beberapa waktu kemudian muncul lagi keinginan untuk mendengar pengakuan yang sama.

Kamu mungkin sudah mendapatkan pujian ketika berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus. Orang tuamu terlihat bangga, kamu merasa akhirnya mereka melihat kemampuanmu, dan untuk beberapa saat ada rasa seperti, “Mungkin sekarang aku sudah cukup.”

Lalu datang pencapaian berikutnya.

Kamu ingin mereka tahu ketika penghasilanmu naik, ketika usahamu berkembang, ketika kamu membeli sesuatu dengan uangmu sendiri, atau ketika keputusan besar yang kamu ambil ternyata berjalan baik. Bukan semata-mata karena kamu ingin dipuji, tetapi karena keberhasilan itu seperti membawa pertanyaan lama yang sama: kali ini, apakah mereka akan menganggapmu cukup?

Masalahnya, validasi orang tua di usia dewasa tidak selalu bekerja seperti sebuah jawaban yang bisa mengakhiri pertanyaan. Kamu bisa mendapatkannya hari ini dan tetap membutuhkannya lagi beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.

Bahkan ketika mereka akhirnya mengatakan sesuatu yang selama ini ingin kamu dengar, rasanya bisa cepat berubah menjadi hal yang biasa. Kalimat yang dulu kamu bayangkan akan membuatmu tenang ternyata hanya memberi rasa lega sebentar.

Setelah itu, perhatianmu kembali tertuju pada hal lain yang mungkin perlu kamu buktikan.

Kamu mungkin mulai berpikir bahwa kalau mereka melihat pencapaian berikutnya, mereka akan semakin yakin bahwa kamu baik-baik saja. Kalau mereka melihat keputusanmu berhasil, mungkin mereka akan semakin percaya kepadamu. Kalau mereka melihat kamu mampu berdiri sendiri, mungkin akhirnya kamu tidak perlu lagi mencari pengakuan itu.

Tetapi kebutuhan untuk dianggap cukup tidak selalu mengikuti jumlah pencapaianmu.

Kamu bisa semakin mandiri secara finansial dan tetap merasa kecil ketika mendengar nada kecewa dari orang tua. Kamu bisa memiliki kehidupan yang menurut orang lain sudah berhasil, tetapi satu komentar mereka masih punya kemampuan untuk membuatmu mempertanyakan dirimu sendiri.

Bukan berarti orang tuamu pelit memberikan pujian. Bisa jadi mereka justru sering mengatakannya. Hanya saja, ada perbedaan antara mendengar bahwa kamu berhasil dan benar-benar merasa bahwa keberhasilanmu sudah cukup untuk membuatmu merasa aman di hadapan mereka.

Karena yang kamu cari mungkin bukan sekadar kalimat “kamu hebat.”

Yang kamu cari adalah perasaan bahwa kamu akhirnya tidak perlu melakukan sesuatu lagi agar keberadaan dan pilihanmu terasa benar di mata mereka.

Dan ketika perasaan itu belum juga menetap, pencapaian berikutnya kembali terasa seperti kesempatan untuk mendapatkannya.

Kenapa Restu Itu Masih Terasa Penting

Restu orang tua masih terasa penting ketika yang kamu cari sebenarnya bukan izin untuk menjalani hidup, melainkan rasa bahwa pilihanmu sah di mata mereka. Kamu mungkin sudah mampu mengambil keputusan sendiri, tetapi ada bagian dalam dirimu yang masih ingin keputusan itu diakui oleh orang yang dulu paling menentukan apakah pilihanmu benar atau salah.

Itulah kenapa komentar sederhana dari orang tua bisa punya bobot yang jauh lebih besar daripada komentar orang lain. Ketika teman tidak setuju dengan pilihanmu, kamu mungkin bisa mendengarnya lalu tetap berjalan. Tetapi ketika yang mengatakan hal yang sama adalah orang tuamu, rasanya seperti ada sesuatu yang perlu kamu pertimbangkan ulang.

Kamu tidak selalu membutuhkan mereka untuk memilihkan jalan. Kamu hanya ingin mereka melihat jalan yang kamu pilih dan berkata bahwa kamu tidak sedang melakukan sesuatu yang keliru.

Perasaan itu bisa tetap ada meskipun secara kehidupan kamu sudah jauh berbeda dari dirimu yang dulu. Kamu sudah punya pekerjaan, penghasilan, pasangan, rumah, atau kehidupan yang sepenuhnya kamu bangun sendiri. Namun ketika berhadapan dengan orang tua, kebutuhan untuk merasa diterima bisa kembali muncul dengan bentuk yang sangat sederhana.

Kamu ingin mereka bangga.

Kamu ingin mereka percaya bahwa kamu bisa menentukan hidupmu sendiri. Dan ketika mereka menunjukkan keraguan, bagian dalam dirimu yang sudah dewasa bisa tiba-tiba berhadapan dengan perasaan lama: bagaimana kalau pilihanmu ternyata membuat mereka kecewa?

Di titik ini, kebutuhan akan restu tidak selalu berkaitan dengan ketergantungan. Kamu bisa tetap mengambil keputusan tanpa persetujuan mereka, tetapi secara emosional keputusan itu belum terasa benar-benar selesai sebelum kamu tahu bagaimana mereka menerimanya.

Ada perbedaan antara membutuhkan restu untuk bertindak dan membutuhkan restu untuk merasa tenang. Yang pertama membuat keputusanmu bergantung pada mereka, sedangkan yang kedua membuat keputusan yang sebenarnya sudah kamu ambil tetap terasa berat sampai kamu tahu bahwa mereka tidak menolaknya.

Pola seperti ini bisa terasa semakin kuat ketika sejak dulu rasa diterima banyak berkaitan dengan pencapaian atau perilaku yang dianggap benar. Kamu mungkin sudah tidak lagi mengejar nilai bagus, pekerjaan bergengsi, atau pencapaian tertentu untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi kebutuhan untuk dianggap “cukup baik” bisa berubah bentuk dan ikut masuk ke kehidupan dewasamu.

Sekarang bentuknya bukan lagi, “Aku harus berhasil supaya mereka bangga.”

Bentuknya bisa menjadi, “Aku harus membuat pilihan yang tidak membuat mereka kecewa.”

Perubahannya terlihat kecil, tetapi perasaan di baliknya tetap punya arah yang sama. Kamu masih melihat reaksi mereka sebagai sesuatu yang menentukan seberapa nyaman kamu dengan dirimu sendiri.

Karena itu, mencari validasi orang tua bukan selalu tentang ingin dipuji setiap saat. Kadang kamu hanya ingin merasakan bahwa orang yang dulu menjadi tempat pertama kamu belajar tentang benar dan salah masih melihatmu sebagai seseorang yang layak dipercaya ketika kamu menentukan hidupmu sendiri.

Dan ketika rasa percaya itu belum terasa utuh, kamu bisa terus kembali mencari tanda-tandanya.

Pola-pola seperti ini sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ada hubungan antara kebutuhan untuk terus dianggap cukup, cara kamu membaca penerimaan orang tua, dan bagaimana hubungan tersebut membentuk pengalamanmu sebagai orang dewasa; pola yang mulai terlihat ketika kamu melihat kembali keseluruhan dinamika hubungan dengan orang tua.

Bukan Kelemahan, Ini Cuma Belum Selesai

Masih menginginkan pengakuan dari orang tua ketika kamu sudah dewasa bukan berarti kamu gagal menjadi mandiri. Ada bagian dari dirimu yang memang tetap peduli pada bagaimana orang yang paling berarti dalam hidupmu melihat dirimu.

Kamu bisa membayar kebutuhanmu sendiri, menentukan pekerjaanmu sendiri, memilih pasanganmu sendiri, bahkan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan orang tuamu. Tetapi kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri tidak otomatis menghapus keinginan untuk didukung oleh mereka.

Kadang kamu bahkan tahu bahwa mereka tidak akan sepenuhnya memahami pilihanmu. Kamu tahu mereka mungkin punya pandangan berbeda tentang pekerjaanmu, pasanganmu, cara kamu mengelola uang, atau kehidupan yang kamu pilih. Namun tetap ada harapan kecil bahwa pada akhirnya mereka akan melihat alasan di balik pilihanmu dan menerimanya.

Harapan seperti itu tidak selalu berarti kamu sedang kembali menjadi anak kecil.

Kamu hanya sedang berhadapan dengan hubungan yang sudah berjalan jauh lebih lama daripada usia dewasamu. Orang tua adalah orang yang mengenalmu sebelum kamu punya pekerjaan, penghasilan, pencapaian, atau kemampuan untuk menentukan hidup sendiri. Karena itu, pendapat mereka bisa menyentuh bagian dirimu yang tidak tersentuh oleh penilaian orang lain.

Itulah mengapa satu bentuk pengakuan dari mereka kadang terasa begitu besar.

Kamu mungkin sudah tidak membutuhkan mereka untuk mengatakan apa yang harus kamu lakukan. Tetapi kamu masih bisa berharap mereka mengatakan bahwa apa yang kamu lakukan tidak membuat mereka kehilangan rasa bangga terhadapmu.

Dan mungkin di situlah letak hal yang paling sulit dijelaskan tentang mencari validasi orang tua.

Kamu tidak selalu ingin dikendalikan oleh mereka. Kamu juga tidak selalu ingin kembali bergantung pada mereka. Kamu hanya ingin tetap merasa bahwa ketika kamu tumbuh menjadi dirimu sendiri, kamu tidak harus kehilangan tempatmu di mata mereka.

Keinginan itu bisa muncul bahkan ketika hubunganmu dengan orang tua tidak sedang bermasalah. Kamu bisa mencintai mereka, menghargai mereka, dan tetap memiliki kehidupan sendiri sambil masih berharap mendapatkan pengakuan tertentu yang terasa penting bagimu.

Karena menjadi dewasa tidak membuat kebutuhan emosional terhadap orang tua tiba-tiba menghilang.

Usia bisa bertambah, penghasilan bisa berubah, keputusan yang kamu ambil bisa semakin besar, tetapi ada kebutuhan tertentu yang tetap membawa nama orang yang sama. Kamu mungkin sudah berhenti menunggu mereka menentukan hidupmu, tetapi belum sepenuhnya berhenti menunggu mereka mengatakan bahwa hidup yang kamu pilih memang layak kamu jalani.

Dan mungkin itu bukan sesuatu yang perlu disebut sebagai kelemahan.

Ada kebutuhan akan pengakuan yang masih tinggal di dalam hubunganmu dengan orang tua, bahkan setelah kamu mampu berdiri sendiri. Bukan karena kamu belum cukup dewasa, melainkan karena menjadi dewasa tidak selalu berarti semua kebutuhan lama ikut selesai pada saat yang sama.