Kamu bisa duduk satu ruangan dengan orang tuamu dan tetap merasa sayang kepada mereka. Kamu tahu mereka adalah orang yang penting dalam hidupmu, tetapi tubuhmu seperti belum sepenuhnya percaya bahwa kamu boleh benar-benar rileks.
Kamu mungkin tetap ikut berbicara, tertawa, makan bersama, atau menanyakan kabar seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang terlihat aneh. Namun di dalam dirimu ada sedikit kewaspadaan, seperti sedang memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, atau perubahan suasana sebelum kamu memutuskan seberapa jauh kamu bisa menjadi dirimu sendiri.
Perasaan itu kadang sulit dijelaskan karena kamu sendiri tahu bahwa kamu menyayangi mereka. Kamu tidak sedang membenci orang tuamu. Kamu juga tidak selalu ingin menjauh. Hanya saja, ada bagian dalam dirimu yang belum bisa merasa sepenuhnya aman ketika berada dekat dengan mereka.
Kamu mungkin bahkan merasa bersalah karena merasakan hal tersebut.
Seolah-olah rasa sayang kepada orang tua seharusnya membuatmu merasa nyaman setiap saat. Seolah hubungan yang baik dengan mereka tidak boleh menyisakan rasa takut, tegang, lelah, atau keinginan untuk menjaga jarak.
Padahal, pengalamanmu tidak selalu sesederhana itu.
Dua Perasaan yang Sering Dianggap Tidak Bisa Berdampingan
Anggapan bahwa kalau kamu menyayangi orang tuamu, kamu seharusnya merasa aman bersama mereka bisa membuat pengalamanmu sendiri terasa membingungkan. Kamu akhirnya seperti harus memilih: kalau masih sayang, berarti semuanya baik-baik saja; kalau merasa tidak aman, berarti mungkin rasa sayang itu sebenarnya tidak ada.
Cara berpikir seperti itu membuat dua hal yang sebenarnya berbeda seolah-olah harus menjadi satu. Rasa sayang berbicara tentang bagaimana kamu memandang dan merasakan keberadaan seseorang dalam hidupmu, sedangkan rasa aman berkaitan dengan bagaimana tubuh dan dirimu merespons ketika berada di dekat orang tersebut.
Kamu bisa tetap menyayangi seseorang meskipun ada bagian dari hubungan itu yang membuatmu waspada. Kamu bisa mengingat kebaikan orang tuamu, merasa berterima kasih atas hal-hal yang pernah mereka lakukan, bahkan masih menginginkan hubungan yang dekat dengan mereka, sambil tetap membawa pengalaman yang membuatmu sulit benar-benar santai.
Di situlah perasaan ini sering terasa rumit.
Ketika sejak kecil kamu terbiasa memperhatikan suasana hati orang tua, menyesuaikan diri agar tidak memicu kemarahan, atau merasa harus memenuhi harapan tertentu supaya diterima, kedekatan dengan mereka bisa membawa lebih dari sekadar rasa sayang. Ada ingatan tentang lelahnya menjaga keadaan tetap tenang, tentang cinta yang terasa harus diperoleh, atau tentang kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan yang dulu tidak selalu terpenuhi.
Karena itu, berada di dekat mereka saat kamu sudah dewasa tidak otomatis membuat semua respons tersebut hilang. Kadang tubuhmu masih mengenali situasi sebelum pikiranmu sempat mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kamu pun mungkin bertanya-tanya kenapa masih merasa seperti itu terhadap orang yang kamu sayangi.
Pertanyaan itu bisa membuatmu semakin sulit memahami dirimu sendiri, terutama ketika orang lain melihat hubunganmu dengan orang tua dari luar dan menganggap semuanya sederhana. Mereka mungkin hanya melihat bahwa kamu masih berbicara dengan orang tua, masih datang berkunjung, atau masih menunjukkan perhatian.
Mereka tidak melihat apa yang terjadi di dalam dirimu ketika kamu berada di sana.
Dan kamu tidak harus berhenti menyayangi mereka hanya karena ada bagian dari dirimu yang belum merasa aman.
Ruang untuk Mengakui Keduanya
Kamu tidak harus memilih antara mengakui rasa sayangmu dan mengakui bahwa ada sesuatu dalam hubungan itu yang membuatmu tidak sepenuhnya aman. Keduanya bisa muncul pada saat yang sama, bahkan ketika kamu sendiri belum tahu bagaimana menjelaskan hubungan antara keduanya.
Kamu bisa merasa hangat ketika mengingat hal-hal baik yang pernah dilakukan orang tuamu, lalu merasa tegang ketika harus berhadapan dengan mereka dalam situasi tertentu. Kamu bisa merindukan mereka ketika berjauhan, tetapi merasa lebih lega setelah percakapan selesai. Perasaan seperti ini tidak otomatis membuat salah satunya menjadi palsu.
Ada kalanya rasa sayang justru membuat semuanya terasa lebih rumit.
Kalau kamu tidak peduli, mungkin akan lebih mudah bagimu untuk mengambil jarak secara emosional dan tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi. Tetapi ketika kamu masih menyayangi orang tuamu, pengalaman yang menyakitkan bisa terasa lebih sulit ditempatkan. Kamu bisa kecewa tanpa ingin membenci mereka, terluka tanpa ingin menghapus semua kebaikan mereka, dan merasa lelah tanpa ingin menyangkal bahwa mereka juga pernah memberikan banyak hal dalam hidupmu.
Karena itu, pengalaman masa lalu tidak selalu bisa dipisahkan begitu saja dari hubunganmu hari ini.
Mungkin ada bagian dari dirimu yang sudah lama terbiasa merasa harus kuat. Kamu belajar membaca suasana, menahan reaksi, memenuhi harapan, atau mencari tanda bahwa kamu sedang diterima. Ketika kebutuhanmu akan pengakuan tidak selalu mendapatkan tempat, kamu mungkin tumbuh dengan perasaan bahwa kedekatan dengan orang tua perlu dijaga dengan hati-hati.
Perasaan lelah yang muncul sekarang bisa menjadi bagian dari cerita yang sama.
Begitu juga dengan kebutuhan untuk terus mendapatkan validasi dari orang tua. Ketika penerimaan terasa sangat berarti bagimu, komentar kecil dari mereka mungkin masih memiliki daya yang lebih besar daripada yang kamu inginkan. Kamu bisa tahu secara sadar bahwa kamu sudah dewasa, tetapi sebagian dirimu tetap menunggu sesuatu dari mereka yang dulu begitu penting untuk didapatkan.
Semua itu bisa hidup berdampingan dengan rasa sayang.
Kamu tidak sedang menulis ulang masa lalu dengan mengingat bagian yang menyakitkan. Kamu juga tidak sedang menghapus bagian yang baik hanya karena ada bagian yang membuatmu terluka. Kamu sedang melihat hubungan itu sebagai sesuatu yang memang pernah memberimu banyak hal sekaligus meninggalkan pengalaman yang tidak selalu mudah dibawa sampai dewasa.
Mungkin justru di situlah hubunganmu dengan orang tua menjadi lebih sulit dipahami jika hanya dilihat dari satu sisi.
Orang tua bisa menjadi tempat dari mana kamu mendapatkan kasih sayang sekaligus tempat yang membuatmu belajar waspada. Mereka bisa menjadi orang yang kamu rindukan sekaligus orang yang kehadirannya membuatmu kembali merasakan ketegangan tertentu. Mereka bisa tetap menjadi bagian penting dalam hidupmu tanpa berarti setiap bentuk kedekatan dengan mereka selalu terasa aman.
Kalau selama ini kamu merasa harus menentukan mana yang benar, mungkin yang membuatmu semakin lelah bukan hanya hubungan itu sendiri, tetapi keyakinan bahwa kamu tidak boleh merasakan dua hal sekaligus.
Padahal, kamu bisa menyayangi orang tuamu dan tetap mengakui bahwa ada pengalaman bersama mereka yang membuatmu tidak merasa sepenuhnya aman. Kamu bisa menyimpan rasa terima kasih dan luka dalam ingatan yang sama, tanpa harus memaksa salah satunya menghilang.
Dan ketika kedua sisi itu mulai terlihat sebagai bagian dari cerita yang sama, mungkin kamu tidak lagi harus bertanya mana yang sebenarnya kamu rasakan.
Ini Bukan Kontradiksi yang Harus Diselesaikan
Kamu tidak harus menyelesaikan perasaan yang sebenarnya tidak sedang saling bertentangan. Rasa sayang dan rasa tidak aman bisa berasal dari pengalaman yang berbeda, tetapi keduanya tetap bisa hadir dalam hubungan yang sama.
Kamu mungkin masih menyayangi orang tuamu dengan cara yang sangat tulus. Kamu masih bisa mengkhawatirkan keadaan mereka, ingin tahu kabar mereka, merasa sedih ketika mereka sakit, atau mengingat berbagai kebaikan yang pernah mereka berikan kepadamu. Semua itu tidak menjadi kurang nyata hanya karena ada bagian dalam dirimu yang masih waspada ketika berada di dekat mereka.
Begitu juga sebaliknya.
Rasa tidak aman yang kamu rasakan tidak otomatis menghapus semua hal baik yang pernah ada. Ketegangan yang muncul ketika mendengar nada suara tertentu tidak membuat kenangan tentang kasih sayang menjadi palsu. Rasa lelah setelah berinteraksi dengan mereka tidak berarti seluruh hubunganmu dengan mereka hanya berisi luka.
Mungkin selama ini kamu terlalu sering melihat hubungan dalam bentuk yang harus jelas: dekat atau jauh, sayang atau benci, bersyukur atau kecewa, memaafkan atau marah. Padahal hubungan dengan orang tua sering kali tidak punya batas yang serapi itu.
Ada kenangan yang membuatmu tersenyum dan ada kenangan yang masih membuatmu menegang. Ada bagian dari dirimu yang ingin dekat dan ada bagian lain yang ingin berhati-hati. Ada rasa terima kasih yang tetap tinggal, sementara beberapa luka juga belum berubah menjadi sesuatu yang mudah kamu ceritakan.
Semua itu bisa menjadi bagian dari hubungan yang sama.
Kamu juga tidak harus mengubah salah satu perasaan itu menjadi bukti bahwa perasaan lainnya keliru. Kalau kamu berkata bahwa kamu sayang kepada orang tuamu, itu tidak berarti kamu sedang menyangkal pengalamanmu sendiri. Dan ketika kamu mengakui bahwa kamu tidak selalu merasa aman bersama mereka, itu juga tidak berarti kamu sedang menghapus kasih sayang yang masih kamu miliki.
Barangkali yang membuatnya terasa seperti kontradiksi adalah harapan bahwa hubungan dengan orang tua seharusnya hanya memiliki satu wajah.
Kamu mungkin pernah berpikir bahwa semakin kamu dewasa, semakin mudah semua hal itu terasa sederhana. Tetapi kedewasaan tidak selalu membuat hubungan lama menjadi hitam putih. Kadang justru semakin kamu mengenal dirimu sendiri, semakin kamu bisa melihat bahwa seseorang dapat memiliki tempat yang sangat berarti dalam hidupmu sekaligus membawa pengalaman yang tidak selalu terasa nyaman.
Orang tuamu tetap bisa menjadi orang yang kamu sayangi.
Dan kamu tetap bisa menjadi seseorang yang pernah merasa terluka, lelah, tidak cukup, atau harus terlalu waspada di dekat mereka.
Tidak ada satu perasaan yang harus memenangkan perasaan lainnya supaya ceritamu menjadi masuk akal. Kamu tidak harus memilih rasa sayang sebagai satu-satunya kebenaran, tetapi kamu juga tidak harus memilih rasa sakit untuk membuktikan bahwa pengalamanmu valid.
Mungkin keduanya memang akan tetap menjadi bagian dari dirimu.
Kamu menyayangi mereka karena ada sesuatu dalam hubungan itu yang memang berarti bagimu. Kamu merasa tidak sepenuhnya aman karena ada sesuatu dalam pengalamanmu yang juga nyata. Kedua hal itu tidak perlu saling membatalkan hanya agar hubungan tersebut terlihat lebih mudah dipahami.
Pada akhirnya, mungkin tidak ada yang perlu dipilih dari dua perasaan itu.
Kamu bisa tetap menyayangi orang tuamu sambil mengetahui bahwa berada bersama mereka tidak selalu membuat seluruh bagian dari dirimu merasa aman. Dan dua kenyataan itu bisa tetap ada dalam dirimu, tanpa salah satunya harus menghilang agar yang lain dianggap benar.