Kamu mendapat nilai bagus, lalu wajah orang tuamu berubah menjadi lebih hangat. Ada pujian, senyum, mungkin juga kalimat sederhana seperti, “Nah, begini dong.” Di momen seperti itu, kamu merasa sudah melakukan sesuatu yang benar.
Tetapi ada satu hal yang mungkin dulu tidak pernah kamu tanyakan: kalau nilaimu tidak bagus, apakah kehangatan itu masih akan datang?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi pengalaman seperti ini bisa meninggalkan kesan yang jauh lebih dalam daripada yang kamu sadari. Kamu belajar bahwa ada keadaan tertentu yang membuat orang tua bangga, lebih dekat, atau lebih lembut kepadamu.
Kamu juga belajar bahwa ada keadaan lain ketika suasana di rumah terasa berbeda. Ketika kamu gagal, membantah, memilih sesuatu yang tidak mereka sukai, atau tidak memenuhi harapan mereka, perhatian dan kehangatan itu bisa terasa menjauh.
Tidak selalu ada kalimat yang secara langsung mengatakan bahwa kamu harus berprestasi agar dicintai. Kadang pesannya justru muncul dari hal-hal kecil yang berulang sampai akhirnya terasa biasa.
Kamu mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa selama kamu menjadi anak yang baik, berprestasi, patuh, dan tidak membuat masalah, semuanya akan baik-baik saja. Karena itu, pola tersebut tidak selalu terlihat sebagai sesuatu yang menyakitkan ketika kamu masih kecil.
Yang kamu rasakan justru mungkin hanya keinginan untuk terus menjadi versi dirimu yang membuat mereka senang.
Cinta yang Datang dengan Syarat
Pola cinta bersyarat orang tua sering kali tidak hadir dalam bentuk penolakan yang terang-terangan. Kamu tetap diberi makan, disekolahkan, diperhatikan, bahkan mungkin sering dikatakan bahwa semua itu dilakukan karena orang tua menyayangimu.
Yang berbeda adalah bagaimana kehangatan emosional terasa mengikuti perilakumu. Ketika kamu berhasil, menurut, atau memenuhi sesuatu yang mereka anggap baik, hubungan terasa lebih ringan. Ketika kamu gagal atau memilih jalan yang tidak sesuai harapan, kedekatan itu bisa berubah.
Pujian pun bisa membawa pesan yang lebih dalam daripada yang terdengar. Kamu tidak hanya mendengar bahwa nilaimu bagus, tetapi perlahan menangkap bahwa menjadi anak yang membanggakan membuatmu lebih mudah mendapatkan penerimaan.
Hal yang sama bisa terjadi ketika kamu menjadi juara, mendapat pekerjaan yang dianggap bagus, masuk sekolah yang diinginkan, atau melakukan sesuatu yang membuat keluarga terlihat bangga. Keberhasilanmu menjadi sesuatu yang menghubungkanmu dengan rasa diterima.
Sebaliknya, kegagalan bisa terasa seperti kehilangan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pencapaian. Ketika orang tua kecewa, marah, diam, atau membandingkanmu dengan anak lain, kamu mungkin tidak hanya merasa gagal dalam melakukan sesuatu.
Kamu bisa mulai merasa bahwa dirimu sendiri yang mengecewakan.
Di situlah cinta bersyarat adalah sesuatu yang sulit dikenali. Karena kasih sayang memang bisa tetap ada, tetapi kamu merasakannya seperti sesuatu yang harus dipertahankan dengan menjadi sesuai harapan.
Kamu mungkin tidak pernah berpikir, “Orang tuaku hanya mencintaiku kalau aku berhasil.” Pikiran itu terlalu jelas untuk pengalaman yang biasanya jauh lebih samar.
Yang mungkin muncul justru kalimat-kalimat kecil dalam kepalamu: jangan bikin mereka kecewa, jangan jadi anak yang memalukan, jangan gagal lagi, harus lebih baik, harus bisa seperti orang lain.
Semakin sering pengalaman itu terjadi, semakin mudah bagimu menghubungkan penerimaan dengan pencapaian. Kamu tidak sekadar belajar bahwa prestasi itu penting, tetapi mulai belajar bahwa prestasi menentukan bagaimana dirimu dipandang.
Begitu juga dengan kepatuhan. Kalau setiap kali kamu mengikuti keinginan orang tua hubungan terasa lebih tenang, sementara perbedaan pendapat membuatmu merasa bersalah atau dijauhi, kamu bisa belajar bahwa menjadi diri sendiri punya risiko.
Akhirnya, kamu memilih menjadi anak yang mudah diterima.
Bukan karena kamu selalu benar-benar ingin seperti itu, tetapi karena sejak kecil kamu menemukan bahwa cara tersebut membuat hubungan terasa lebih aman. Kamu belajar membaca suasana, menyesuaikan diri, dan memperhatikan apa yang membuat orang tua senang sebelum memikirkan apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Pola seperti ini bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah diberi nama. Bahkan ketika kamu sudah dewasa, kamu mungkin masih menganggapnya sebagai bagian normal dari cara orang tua mencintaimu.
Apalagi kalau di saat yang sama memang ada banyak bentuk kasih sayang yang nyata. Orang tuamu bisa saja bekerja keras untukmu, memenuhi kebutuhanmu, hadir ketika kamu sakit, dan melakukan banyak hal yang menunjukkan kepedulian.
Karena itu, pengalaman ini tidak sesederhana mengatakan bahwa orang tuamu tidak menyayangimu. Yang lebih sulit dilihat adalah bahwa kasih sayang yang nyata bisa hadir bersamaan dengan pengalaman bahwa penerimaan emosional harus kamu dapatkan melalui pencapaian, kepatuhan, atau menjadi anak yang sesuai harapan.
Kamu pun tumbuh dengan dua pengalaman yang berjalan berdampingan: kamu tahu bahwa mereka menyayangimu, tetapi kamu juga tahu bahwa ada versi dirimu yang lebih mudah mereka cintai daripada versi lainnya.
Dan ketika pola itu berlangsung cukup lama, perbedaannya tidak lagi hanya terasa dalam hubunganmu dengan orang tua. Perlahan, cara mereka melihatmu bisa menjadi cara kamu melihat dirimu sendiri.
Bagaimana Itu Membentuk Caramu Melihat Diri Sendiri
Ketika penerimaan terasa mengikuti pencapaianmu, kamu bisa mulai menilai dirimu berdasarkan apa yang berhasil kamu lakukan. Nilai, prestasi, pekerjaan, penghasilan, atau keputusan yang membuat orang tua bangga perlahan menjadi ukuran untuk menentukan apakah kamu merasa cukup baik.
Kamu mungkin tidak lagi membutuhkan orang tuamu untuk mengatakan bahwa kamu hebat. Suara itu bisa berubah menjadi suara di kepalamu sendiri. Setiap kali berhasil, kamu merasa sedikit lebih tenang; setiap kali gagal, rasa kecewa yang muncul bisa terasa jauh lebih besar daripada situasinya.
Istirahat pun bisa terasa seperti sesuatu yang harus mendapatkan izin. Ketika kamu tidak sedang menghasilkan sesuatu, ada bagian dalam dirimu yang bertanya apakah kamu sudah melakukan cukup banyak untuk pantas merasa tenang.
Karena sejak dulu kamu terbiasa menerima kehangatan setelah melakukan sesuatu yang dianggap benar, diam tanpa pencapaian bisa terasa asing. Kamu tahu secara logis bahwa manusia tidak harus terus berprestasi untuk punya nilai, tetapi perasaanmu belum tentu mengikuti pemahaman itu.
Kamu bisa menjadi orang yang terlihat sangat mandiri, tetapi diam-diam sulit merasa puas dengan dirimu sendiri. Begitu satu pencapaian selesai, perhatianmu segera berpindah kepada hal berikutnya yang harus dicapai.
Bukan karena kamu selalu ambisius, melainkan karena berhenti terlalu lama membuatmu berhadapan dengan pertanyaan yang lebih tidak nyaman: kalau kamu tidak sedang membuktikan apa-apa, lalu apa yang membuatmu merasa berharga?
Pertanyaan seperti itu tidak muncul begitu saja ketika dewasa. Ia bisa terbentuk dari pengalaman yang berulang ketika kamu masih belajar memahami dirimu dan hubunganmu dengan orang-orang yang paling penting dalam hidupmu.
Kamu belajar bahwa menjadi “anak baik” membawa suasana yang lebih menyenangkan. Kamu belajar bahwa keputusan tertentu membuat orang tua bangga, sementara keputusan lain membuatmu merasa bersalah, mengecewakan, atau seolah-olah telah melakukan sesuatu yang salah terhadap mereka.
Lama-kelamaan, kamu tidak perlu lagi diberi tahu apa yang harus dilakukan. Kamu sudah hafal sendiri versi dirimu yang paling mudah diterima.
Itulah sebabnya pilihan hidup bisa terasa lebih berat daripada yang terlihat dari luar. Ketika kamu ingin mengambil keputusan yang berbeda dari harapan orang tua, yang muncul bukan hanya pertanyaan apakah keputusan itu tepat untukmu.
Ada juga pertanyaan tentang apakah mereka akan tetap melihatmu sebagai anak yang baik.
Kamu mungkin sudah dewasa ketika menyadari bahwa sebagian keputusanmu selama ini terasa seperti usaha untuk mendapatkan kembali rasa diterima. Pilihan sekolah, pekerjaan, pasangan, gaya hidup, bahkan cara kamu menjalani kehidupan sehari-hari bisa bercampur dengan keinginan untuk membuktikan bahwa kamu sudah menjadi seseorang yang layak dibanggakan.
Pada titik tertentu, kamu bisa sulit membedakan mana keinginanmu sendiri dan mana keinginan untuk tetap mendapatkan penerimaan.
Bukan berarti semua pencapaianmu palsu. Kamu bisa benar-benar menyukai pekerjaanmu, bangga dengan hasil kerjamu, atau menikmati keberhasilan yang kamu dapatkan. Yang berubah adalah beban yang diam-diam ikut menempel pada keberhasilan tersebut.
Sebuah pencapaian tidak lagi sekadar berarti “aku berhasil melakukan sesuatu.” Ia bisa terasa seperti “sekarang aku cukup baik.”
Begitu juga dengan kegagalan. Kegagalan tidak lagi berhenti sebagai pengalaman bahwa sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Ia bisa terasa seperti bukti bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirimu.
Di sinilah pengalaman cinta bersyarat orang tua dapat membentuk cara kamu memandang dirimu sendiri tanpa harus terus hadir dalam bentuk hubungan yang sama. Orang tuamu mungkin sudah tidak lagi mengomentari setiap pilihanmu, tetapi standar yang dulu kamu pelajari bisa tetap hidup dalam cara kamu menilai diri sendiri.
Kamu terus bekerja ketika sebenarnya sudah lelah. Kamu terus mengejar sesuatu yang berikutnya ketika pencapaian sebelumnya belum sempat kamu rasakan. Kamu mungkin bahkan merasa bersalah ketika tidak sedang melakukan apa-apa.
Semua itu bisa terasa seperti karakter pribadimu: perfeksionis, ambisius, sulit puas, atau terlalu memikirkan pendapat orang lain. Padahal, sebagian dari cara itu mungkin pernah menjadi cara yang masuk akal bagi seorang anak untuk merasa diterima.
Dan ketika pola tersebut sudah begitu menyatu dengan kehidupanmu, mengenalinya pun tidak selalu mudah. Kamu mungkin baru mulai melihat hubungan antara pengalaman masa kecil dan cara kamu menilai diri sendiri setelah menyadari pola-pola yang berulang dalam hubunganmu dengan orang tua.
Pola-pola itu bisa muncul dalam bentuk yang berbeda pada setiap orang, tetapi sering kali memiliki satu benang merah: perasaan bahwa penerimaan harus terus diperoleh, bukan sesuatu yang boleh kamu anggap sudah ada.
Cinta yang Harus Diperjuangkan Bukan Cinta yang Salah untuk Diinginkan
Ada perbedaan antara ingin membuat orang tua bangga dan merasa harus terus membuktikan bahwa kamu pantas dibanggakan. Keinginan pertama bisa terasa hangat, sementara yang kedua bisa membuat setiap pencapaian membawa sedikit kecemasan tentang apa yang terjadi kalau suatu hari kamu gagal.
Kamu mungkin tetap menginginkan pujian dari orang tua karena itu manusiawi. Ada bagian dalam dirimu yang memang ingin didengar, dihargai, dan merasa bahwa orang yang membesarkanmu melihat siapa dirimu.
Yang membuatnya terasa berat adalah ketika keinginan itu berubah menjadi kebutuhan untuk terus mendapatkan penerimaan. Seolah hubungan dengan mereka akan baik selama kamu tetap menjadi versi dirimu yang mereka sukai.
Pada akhirnya, kamu bisa membawa pemahaman tentang cinta bersyarat orang tua jauh lebih lama daripada masa ketika pola itu pertama kali terbentuk. Bukan karena kamu sengaja mempertahankannya, tetapi karena sesuatu yang dipelajari berulang kali ketika kecil bisa terasa seperti kebenaran tentang dirimu sendiri.
Kamu tahu bahwa orang tuamu pernah menyayangimu. Kamu juga mungkin tahu bahwa mereka melakukan banyak hal untukmu dan tidak pernah bermaksud membuatmu merasa harus mendapatkan kasih sayang.
Dua hal itu bisa sama-sama benar.
Kasih sayang mereka bisa nyata, sementara pengalamanmu tentang bagaimana kasih sayang itu diberikan tetap meninggalkan sesuatu dalam dirimu. Mengakui pengalaman tersebut tidak otomatis berarti menyalahkan orang tua atau menghapus semua hal baik yang pernah mereka lakukan.
Mungkin orang tuamu sendiri tumbuh dengan pemahaman bahwa anak yang baik adalah anak yang patuh, berprestasi, dan tidak mengecewakan. Mungkin itulah cara cinta pernah diperlihatkan kepada mereka, sehingga tanpa sadar cara yang sama diteruskan kepadamu.
Tetapi bagi seorang anak, perbedaan antara “aku melakukan sesuatu yang salah” dan “ada yang salah dengan diriku” tidak selalu mudah dipahami. Ketika penerimaan terasa berubah mengikuti perilaku, batas di antara keduanya bisa menjadi semakin tipis.
Kamu kemudian tumbuh sambil membawa sebuah aturan yang tidak pernah benar-benar ditulis: kalau ingin tetap dekat, kamu harus menjadi seseorang yang pantas untuk didekati.
Aturan itu bisa muncul dalam banyak bentuk ketika kamu dewasa. Kamu mungkin merasa harus sukses sebelum bisa pulang dengan tenang, harus punya kabar baik sebelum menelepon, atau harus menunjukkan bahwa hidupmu berjalan baik sebelum merasa layak mendapat perhatian.
Bahkan ketika tidak ada lagi yang meminta semua itu darimu, dorongan tersebut bisa tetap terasa nyata.
Itulah mengapa cinta yang harus diperjuangkan bisa menjadi pengalaman yang membingungkan. Kamu tidak sedang mengejar sesuatu yang sepenuhnya tidak pernah kamu dapatkan. Kamu mungkin justru pernah mendapatkannya, hanya saja pengalamanmu mengajarkan bahwa kehangatan itu terasa paling dekat ketika kamu memenuhi syarat tertentu.
Dan karena kamu pernah merasakan betapa menyenangkannya diterima setelah berhasil, kamu bisa terus mengejar perasaan yang sama tanpa benar-benar menyadari apa yang sedang kamu kejar.
Mungkin yang kamu cari bukan pencapaian berikutnya. Mungkin ada bagian dari dirimu yang masih ingin merasakan bahwa dirinya cukup, bahkan ketika tidak sedang melakukan sesuatu yang membuat siapa pun bangga.
Menyadari hal itu tidak mengharuskanmu memilih antara dua cerita yang berlawanan tentang orang tua. Kamu tidak harus memutuskan bahwa mereka adalah orang tua yang buruk hanya karena ada pengalaman yang membuatmu terluka, dan kamu juga tidak harus menyangkal pengalaman itu hanya karena kamu tahu mereka menyayangimu.
Keduanya bisa hidup dalam cerita yang sama.
Kamu pernah dicintai, tetapi mungkin juga pernah belajar bahwa cinta terasa lebih dekat ketika kamu berhasil memenuhi harapan. Dan ketika pelajaran itu sudah lama menjadi bagian dari cara kamu melihat diri sendiri, tidak selalu mudah menyadari bahwa yang selama ini kamu anggap sebagai tuntutan hidup mungkin berawal dari kebutuhan sederhana seorang anak untuk merasa diterima.
Mungkin itu sebabnya beberapa hal tentang dirimu baru terasa masuk akal ketika kamu melihat kembali pola hubungan tersebut dari jarak yang lebih dewasa. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk melihat bagaimana pengalaman yang dulu terasa biasa ternyata ikut membentuk cara kamu memahami dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, keinginan untuk dicintai tanpa harus terus membuktikan sesuatu bukanlah keinginan yang berlebihan. Kamu hanya sedang menyadari betapa lama kamu pernah mengira bahwa cinta memang harus diperjuangkan.