“Masa kecilmu gimana?”
Kamu mungkin menjawabnya hampir tanpa berpikir. “Baik-baik saja kok.”
Kamu ingat rumahmu, sekolahmu, teman-temanmu, mungkin juga beberapa hal menyenangkan yang sampai sekarang masih kamu ingat. Tidak ada satu kejadian besar yang langsung muncul di kepala sebagai sesuatu yang seharusnya membuatmu terluka.
Tapi anehnya, ada satu memori kecil yang kadang muncul begitu saja.
Mungkin suara seseorang yang dulu sering memanggil namamu dengan nada tertentu. Mungkin meja makan tempat kamu dulu lebih sering diam daripada bercerita. Atau mungkin perasaan ketika kamu pulang membawa sesuatu yang ingin kamu ceritakan, tetapi akhirnya memilih menyimpannya sendiri karena sudah tahu kira-kira bagaimana respons yang akan kamu dapat.
Kamu bahkan mungkin tidak menganggapnya penting.
Toh, tidak ada yang memukulmu. Tidak ada rumah yang hancur. Tidak ada kejadian besar yang membuat masa kecilmu terlihat seperti sesuatu yang buruk ketika diceritakan kepada orang lain.
Karena itu, ketika ada sesuatu dari masa kecil yang masih terasa berat sampai sekarang, kamu bisa bingung sendiri. Kamu tahu ada bagian dari dirimu yang seperti bereaksi terhadap sesuatu, tetapi kamu tidak merasa punya alasan yang cukup besar untuk menyebutnya sebagai luka.
Di situlah trauma masa kecil kadang menjadi sulit dikenali.
Bukan karena tidak ada yang terjadi, tetapi karena sesuatu yang terjadi dulu mungkin terlihat terlalu biasa untuk diberi nama.
Kenapa Kita Selalu Membayangkan Trauma sebagai Sesuatu yang Besar
Film, berita, dan cerita yang sering kamu dengar membuat trauma terlihat seperti sesuatu yang selalu datang bersama kejadian besar. Kamu melihat kekerasan, kehilangan, bencana, pelecehan, atau peristiwa ekstrem lainnya, lalu otakmu belajar menghubungkan kata trauma dengan pengalaman yang seperti itu.
Gambaran tersebut memang membuat trauma mudah dikenali ketika sebuah kejadian terlihat jelas buruknya. Ada sesuatu yang terjadi, ada orang yang terluka, lalu ada alasan yang tampak masuk akal mengapa pengalaman itu meninggalkan bekas.
Masalahnya muncul ketika kamu mulai membandingkan masa kecilmu dengan gambaran tersebut.
Kamu mungkin berpikir, “Aku tidak mengalami hal separah itu.” Kalimat itu terdengar seperti penjelasan, tetapi diam-diam bisa membuat pengalamanmu sendiri terasa tidak layak untuk diperhatikan.
Perbandingan seperti ini juga membuat kamu melihat masa lalu hanya dari pertanyaan tentang seberapa buruk sebuah kejadian terlihat dari luar. Padahal, sesuatu yang tampak biasa bagi orang lain belum tentu terasa biasa bagi anak yang mengalaminya setiap hari.
Itulah sebabnya ada pengalaman masa kecil yang baru terasa ganjil ketika kamu sudah dewasa. Dulu kamu hanya tahu bahwa itulah cara hidupmu, sehingga tidak ada alasan untuk mempertanyakannya.
Kamu juga mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa selama kebutuhan dasarmu terpenuhi, berarti masa kecilmu baik-baik saja. Kamu punya tempat tinggal, bisa sekolah, makan setiap hari, dan mungkin orang tuamu juga bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanmu.
Karena itu, ketika kamu mengingat masa kecil, yang muncul bukan cerita tentang sesuatu yang jelas-jelas salah. Yang muncul justru kalimat seperti, “Orang tuaku kan sudah berusaha,” atau, “Memang dulu semua anak juga begitu.”
Kalimat-kalimat itu bisa membuat pengalaman yang tidak nyaman terasa semakin sulit untuk diakui. Kamu tidak sedang mengatakan bahwa orang tuamu adalah orang jahat, tetapi kamu juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan bahwa ada sesuatu yang dulu membuatmu merasa takut, sendirian, tidak cukup, atau harus terus menyesuaikan diri.
Trauma yang tidak terlihat seperti trauma sering berada di wilayah yang membingungkan seperti ini.
Kamu bisa menyayangi keluargamu sekaligus mengakui bahwa ada pengalaman dari keluarga itu yang meninggalkan bekas. Dua hal tersebut tidak selalu harus saling meniadakan.
Luka yang Datang dari Hal-Hal yang Tampak Biasa
Kamu mungkin tumbuh dengan kebiasaan dibandingkan dengan saudaramu tanpa pernah menyadari bahwa perbandingan itu ikut membentuk cara kamu melihat diri sendiri. Setiap kali ada yang lebih pintar, lebih patuh, lebih berprestasi, atau lebih mudah dibanggakan, kamu belajar bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang selalu kurang.
Tidak ada satu kejadian dramatis dalam cerita seperti ini.
Hanya kalimat-kalimat yang berulang, ekspresi kecewa yang kamu kenal, dan perasaan bahwa menjadi dirimu sendiri tidak pernah benar-benar cukup. Karena berlangsung begitu lama, semuanya bisa terasa seperti bagian normal dari masa kecil, bukan sesuatu yang mungkin meninggalkan luka masa kecil yang tidak disadari.
Hal yang sama bisa terjadi ketika perasaanmu tidak pernah benar-benar divalidasi. Ketika kamu sedih, kamu mungkin diminta berhenti menangis. Ketika kamu takut, kamu dianggap terlalu cengeng. Ketika kamu marah, kamu dianggap tidak tahu diri.
Akhirnya, kamu belajar bukan hanya untuk menyembunyikan perasaan, tetapi juga meragukan apakah perasaan itu memang pantas ada.
Kamu mungkin juga dibesarkan dengan kasih sayang yang terasa bergantung pada perilakumu. Ketika kamu berprestasi, suasana rumah terasa lebih hangat. Ketika kamu melakukan kesalahan, perhatian berubah menjadi dingin, kecewa, atau menjauh.
Tidak ada kekerasan fisik di sana, tetapi kamu bisa tumbuh dengan perasaan bahwa cinta harus diperoleh dengan menjadi anak yang sesuai harapan. Pengalaman seperti ini mudah dilewatkan karena dari luar keluarga tersebut mungkin terlihat baik-baik saja.
Justru karena terlihat biasa, pengalaman itu sering tidak punya tempat dalam cara kamu memahami masa kecilmu. Kamu tidak punya satu peristiwa yang bisa ditunjuk sambil berkata, “Ini penyebabnya.”
Yang ada adalah pola yang terus berulang.
Kamu mungkin selalu diminta mengalah karena dianggap anak yang lebih dewasa. Kamu belajar memahami suasana hati orang lain sebelum memahami perasaanmu sendiri. Kamu tahu kapan harus diam, kapan harus menurut, dan kapan sebaiknya tidak meminta terlalu banyak.
Ketika pola seperti itu berlangsung bertahun-tahun, kamu bisa menganggap kemampuan tersebut sebagai bagian dari kepribadianmu. Kamu merasa memang dari dulu kamu orangnya terlalu sensitif, terlalu berhati-hati, atau terlalu terbiasa memikirkan perasaan orang lain.
Padahal, sebagian dari dirimu mungkin sedang membawa pengalaman masa kecil yang membekas tanpa pernah kamu beri perhatian khusus.
Hal yang membuatnya semakin sulit dikenali adalah kenyataan bahwa kamu mungkin juga punya banyak kenangan indah. Kamu bisa mengingat ulang tahun yang menyenangkan, liburan bersama keluarga, makanan kesukaan yang dibuat di rumah, atau momen ketika orang tuamu benar-benar menunjukkan kasih sayang.
Kenangan baik itu nyata.
Tetapi keberadaannya tidak otomatis membuat semua pengalaman yang menyakitkan menjadi tidak berarti. Masa kecilmu bisa memiliki banyak hal yang baik sekaligus memiliki bagian yang membuatmu belajar tentang rasa takut, penolakan, kesepian, atau ketidakcukupan terlalu dini.
Karena itu, pengalaman yang terlihat kecil dari luar belum tentu terasa kecil bagi anak yang harus menjalaninya berulang kali. Seorang anak belum punya jarak dan kemampuan seperti orang dewasa untuk memahami bahwa perilaku orang di sekitarnya mungkin bukan kesalahannya.
Yang dia tahu hanyalah apa yang dia rasakan.
Dan ketika perasaan itu terus berulang tanpa pernah dipahami, ia bisa ikut terbawa ketika anak tersebut tumbuh menjadi kamu.
Ada pengalaman yang baru terasa berat ketika kamu sudah cukup jauh dari masa kecilmu untuk melihatnya dengan cara yang berbeda. Saat masih kecil, kamu mungkin hanya menganggap semua itu sebagai cara hidup yang memang harus dijalani.
Kamu belum punya pilihan untuk pergi dari situasi tersebut. Kamu juga belum punya cukup pengalaman untuk membandingkannya dengan hubungan yang lebih aman, sehingga sesuatu yang terus terjadi di rumah bisa terasa seperti keadaan yang normal.
Itulah yang membuat trauma yang tidak terlihat seperti trauma begitu mudah terlewatkan.
Kamu mungkin tidak mengingat satu kejadian tertentu sebagai titik awalnya. Yang kamu ingat justru suasana, kebiasaan, atau perasaan yang berulang dan dulu tidak pernah kamu pertanyakan.
Mungkin kamu selalu merasa harus berhati-hati sebelum berbicara. Mungkin kamu terbiasa membaca ekspresi wajah orang tua sebelum mengatakan sesuatu. Atau mungkin kamu belajar bahwa menunjukkan kebutuhan sendiri hanya akan membuat keadaan menjadi lebih rumit.
Semua itu bisa terlihat terlalu sederhana ketika diceritakan satu per satu.
Tetapi bagi seorang anak, pengalaman yang berulang bukan sekadar kejadian kecil yang berdiri sendiri. Pengalaman tersebut ikut membentuk cara anak memahami hubungan, dirinya sendiri, dan apa yang harus dilakukan supaya tetap merasa aman.
Kamu mungkin kemudian membawa pola itu tanpa sadar sampai dewasa.
Kamu merasa harus selalu menyenangkan orang lain supaya hubungan tetap baik. Kamu merasa bersalah ketika mengecewakan seseorang. Kamu sulit menerima kritik karena kesalahan kecil terasa seperti bukti bahwa kamu memang tidak cukup baik.
Ketika hal seperti itu muncul sekarang, kamu mungkin hanya melihat perilaku orang dewasa yang sedang kamu jalani. Hubungannya dengan masa kecil tidak selalu terlihat jelas.
Itulah mengapa ada luka masa kecil yang tidak disadari selama bertahun-tahun. Bukan karena pengalaman tersebut tidak pernah memengaruhimu, tetapi karena kamu sudah terlalu terbiasa hidup dengan pengaruhnya.
Kamu bahkan bisa menganggap beberapa bagian dari dirimu sebagai sifat bawaan.
Kamu mungkin berkata bahwa kamu memang terlalu sensitif, terlalu takut ditolak, terlalu suka mengalah, atau terlalu sulit percaya kepada orang lain. Padahal, sifat yang kamu lihat sekarang bisa saja memiliki sejarah yang jauh lebih panjang daripada yang kamu sadari.
Bukan berarti setiap sifat sulit yang kamu miliki pasti berasal dari trauma masa kecil. Tidak semua pengalaman tidak menyenangkan akan menjadi trauma, dan tidak semua orang akan membawa dampak yang sama dari pengalaman yang serupa.
Yang membuat sebuah pengalaman penting untuk diperhatikan bukan sekadar bagaimana kejadian itu terlihat dari luar.
Ada anak yang terlihat baik-baik saja karena belajar diam. Ada anak yang terlihat mandiri karena terlalu cepat belajar bahwa tidak ada orang yang akan datang ketika ia membutuhkan bantuan. Ada juga anak yang terlihat penurut karena sudah memahami bahwa penolakan terhadap keinginan orang dewasa bisa membuat suasana menjadi tidak aman.
Dari luar, semuanya bisa terlihat seperti anak yang mudah diatur.
Dari dalam, pengalaman tersebut bisa terasa sangat berbeda.
Kamu mungkin tidak pernah menyebut dirimu terluka karena memang tidak pernah merasa punya alasan untuk menggunakan kata itu. Kamu hanya tahu bahwa ada beberapa situasi tertentu yang sampai sekarang terasa lebih berat daripada seharusnya.
Dan mungkin baru ketika dewasa kamu mulai melihat bahwa sesuatu yang dulu kamu anggap biasa ternyata tidak sepenuhnya biasa bagimu.
Bukan Soal Seberapa Besar Kejadiannya
Pengalaman masa kecil tidak harus terlihat dramatis untuk meninggalkan sesuatu yang masih kamu bawa sampai dewasa. Ada hal-hal yang begitu biasa terjadi sampai kamu sendiri tidak menyadari bahwa kamu pernah belajar sesuatu darinya.
Kamu belajar tentang dirimu dari cara orang lain memperlakukanmu. Kamu belajar tentang cinta dari bagaimana kasih sayang diberikan. Kamu belajar tentang keamanan dari bagaimana rumah merespons ketika kamu takut, marah, sedih, atau membutuhkan sesuatu.
Karena itu, pertanyaan tentang masa lalu tidak selalu berhenti pada apa yang sebenarnya terjadi.
Ada pertanyaan lain yang mungkin lebih dekat dengan pengalamanmu sekarang: kenapa sesuatu yang sudah lama berlalu masih terasa berat ketika muncul kembali?
Pertanyaan itu tidak membutuhkan masa kecil yang terlihat buruk di mata orang lain. Ia hanya melihat bahwa ada pengalaman yang mungkin pernah dianggap biasa, tetapi ternyata meninggalkan sesuatu yang tidak ikut berlalu ketika masa kecilmu selesai.
Kamu tidak harus memiliki satu cerita besar untuk memiliki sesuatu yang masih terasa berat.
Kadang yang tersisa justru berasal dari hal-hal yang terlalu sering terjadi untuk kamu anggap sebagai kejadian. Kalimat yang terus kamu dengar, perasaan yang terus kamu tahan, atau kebutuhan yang terlalu lama kamu abaikan karena sejak kecil kamu belajar bahwa begitulah caranya bertahan di dalam hubungan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukan apakah pengalamanmu cukup buruk untuk disebut trauma, tetapi kenapa pengalaman itu masih terasa berat sampai sekarang.
Jika kamu mulai melihat bahwa beberapa pengalaman masa kecil masih muncul dalam cara kamu merasa, berpikir, atau menjalani hubungan setelah dewasa, pembahasan tentang ciri-ciri trauma masa kecil yang baru kamu sadari setelah dewasa akan membawa pertanyaan itu lebih jauh.