Layar ponselmu baru saja menampilkan notifikasi pembayaran berhasil. Barang yang dari tadi kamu inginkan akhirnya benar-benar kamu beli, dan beberapa detik pertama rasanya menyenangkan.
Tapi setelah itu, ada perasaan lain yang ikut muncul.
Kamu merasa bersalah setelah belanja, padahal kalau ditanya apakah kamu menyesal membelinya, jawabannya belum tentu iya. Kamu masih suka barangnya. Kamu masih merasa senang melihatnya. Hanya saja, ada sesuatu yang terasa tidak enak setelah uang itu keluar.
Perasaan itu bisa muncul bahkan ketika tidak ada masalah dengan barang yang kamu beli. Tidak ada barang yang salah, tidak ada penyesalan karena memilihnya, dan kamu juga tidak sedang ingin mengembalikannya. Yang berubah justru perasaanmu beberapa saat setelah transaksi selesai.
Kadang kamu masih melihat halaman pesanan sambil memikirkan uang yang baru saja keluar. Barangnya terasa menyenangkan, tetapi pembayaran tadi terasa mengganjal. Dua hal itu bisa muncul dalam waktu yang hampir bersamaan.
Senang dan Tidak Enak dalam Satu Napas
Kamu bisa senang karena akhirnya membeli sesuatu yang memang kamu inginkan, sekaligus merasa tidak enak karena uangmu berkurang. Kedua perasaan itu tidak selalu datang bergantian seperti harus ada satu yang menang dan satu yang kalah.
Kamu mungkin membuka lagi foto barang yang baru dibeli, membayangkan kapan akan memakainya, lalu beberapa detik kemudian melihat nominal pembayaran di layar. Rasa senangnya masih ada, tetapi rasa tidak enaknya juga tidak hilang.
Di situ letak anehnya.
Kalau kamu menyesal, mungkin ada bagian dari pembelian itu yang ingin kamu batalkan. Kamu merasa salah memilih, salah membeli, atau berharap tadi tidak jadi mengeluarkan uang. Tetapi ketika kamu tidak menyesal, barang itu tetap kamu inginkan dan tetap membuatmu senang.
Yang membuatmu tidak nyaman justru kenyataan bahwa kamu sudah mengeluarkan uang untuk mendapatkannya.
Karena itu, kamu bisa saja mengatakan, “Aku suka barangnya,” sambil dalam waktu yang sama berpikir, “Tapi kenapa aku jadi merasa bersalah setelah membelinya?”
Perasaan itu tidak selalu punya bentuk yang jelas. Kadang hanya berupa rasa mengganjal setelah pembayaran selesai. Kadang muncul sebagai keinginan untuk mencari alasan bahwa pembelian tadi memang perlu, meskipun beberapa menit sebelumnya kamu membelinya karena memang ingin.
Barangnya tetap sama. Perasaanmu terhadap barang itu juga belum berubah. Yang terasa berbeda adalah hubunganmu dengan uang yang baru saja berpindah dari tanganmu.
Kenapa Rasa Bersalah Datang Padahal Kamu Tidak Menyesal
Bukan berarti barang yang kamu beli memang salah. Bisa juga bukan karena jumlah uang yang keluar terlalu besar. Ada kalanya rasa tidak enak itu muncul meskipun kamu sendiri tahu bahwa pembelian tersebut tidak membuatmu ingin mengembalikan barangnya.
Kamu tetap suka barang itu. Kamu tetap ingin memilikinya. Kalau seseorang bertanya apakah kamu berharap tadi tidak jadi membeli, mungkin jawabannya tidak.
Tetapi uang yang keluar terasa berbeda.
Ada sesuatu dalam tindakan membayar yang membuat perasaanmu berubah setelah semuanya selesai. Sebelum transaksi, perhatianmu mungkin tertuju pada barangnya. Setelah transaksi, perhatianmu berpindah kepada uang yang sudah tidak ada lagi di tanganmu.
Perpindahan itu bisa terasa lebih berat daripada pembeliannya sendiri.
Kamu mungkin mulai melihat nominal yang tadi sebenarnya sudah kamu ketahui sejak awal. Tidak ada angka baru yang muncul setelah pembayaran. Hanya saja, setelah uang benar-benar keluar, nominal itu terasa berbeda ketika kamu melihatnya kembali.
Di titik itu, rasa bersalah bisa menempel pada tindakan memakai uang, bukan pada barang yang kamu beli.
Itulah kenapa kamu bisa merasa tidak enak tanpa merasa salah memilih barang. Kamu tidak sedang berpikir, “Seharusnya aku membeli yang lain.” Yang muncul justru sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit dijelaskan: “Kenapa aku mengeluarkan uang untuk ini?”
Pertanyaan itu tidak selalu berarti kamu menganggap pembelian tadi buruk. Kamu bahkan mungkin masih merasa senang ketika barangnya datang, membukanya, lalu menggunakannya untuk pertama kali.
Hanya saja, rasa tidak enak yang muncul setelah pembayaran tidak otomatis ikut hilang ketika barangnya sudah ada di tanganmu.
Perasaan yang Datang Lebih Cepat dari Alasannya
Rasa tidak enak itu kadang datang lebih dulu, sementara alasan untuk menjelaskannya baru muncul beberapa saat kemudian. Baru setelah merasa bersalah, kamu mulai mencari kalimat yang bisa membuat pembelian tadi terasa lebih masuk akal.
“Tadi memang lagi diskon.”
“Atau memang sudah lama aku butuh.”
“Lagipula, jarang-jarang beli.”
Alasan-alasan seperti itu bisa muncul bukan sebelum kamu membeli, melainkan setelah perasaan tidak enak sudah lebih dulu muncul.
Kamu seperti sedang menyusun pembelaan untuk sebuah keputusan yang sebenarnya belum kamu anggap sebagai keputusan yang salah. Barangnya masih kamu suka, tetapi pikiranmu mulai mencari alasan kenapa uang tadi boleh keluar.
Kadang alasan itu terasa meyakinkan. Kadang tidak.
Kamu bisa mengatakan bahwa barang tersebut memang akan dipakai lama, lalu beberapa menit kemudian kembali melihat nominal pembayarannya. Kamu bisa mengingat bahwa sudah lama menginginkannya, tetapi rasa bersalahnya tetap ada.
Bukan karena alasan tadi salah. Hanya saja, alasan itu datang setelah perasaan tersebut muncul.
Urutannya menjadi berbeda dari yang mungkin kamu bayangkan. Kamu tidak selalu berpikir panjang, menemukan alasan yang cukup, lalu merasa tenang ketika akhirnya membeli. Dalam beberapa situasi, kamu membeli sesuatu yang memang kamu inginkan, merasa senang sesaat, lalu rasa bersalah muncul. Setelah itu barulah pikiranmu sibuk mencari penjelasan.
Dan semakin kamu mencari alasan, semakin terasa bahwa yang sedang kamu coba pahami bukan barangnya.
Kamu sedang mencoba memahami kenapa sesuatu yang membuatmu senang bisa sekaligus membuatmu merasa tidak enak setelah uangnya keluar.
Perasaan yang Menetap Lebih Lama dari Struk Belanjanya
Rasa tidak enak itu kadang tidak berhenti ketika transaksi selesai. Struknya mungkin sudah tersimpan, notifikasi pembayaran sudah tenggelam di antara pesan lain, tetapi perasaan yang muncul setelah belanja masih ikut terbawa.
Barangnya bahkan bisa sudah sampai dan mulai kamu gunakan tanpa ada rasa menyesal terhadap barang tersebut. Kamu bisa menikmati fungsinya, menyukai bentuknya, atau merasa senang setiap kali melihatnya. Namun sesekali, ingatan tentang uang yang keluar masih muncul bersama rasa bersalah yang sama.
Yang aneh, perasaan itu tidak selalu mengikuti seberapa sering kamu memakai barangnya.
Kamu bisa saja membeli sesuatu beberapa hari lalu dan sudah lupa nominal pastinya. Tetapi ketika melihat barang tersebut, kamu kembali ingat bahwa untuk memilikinya kamu pernah mengeluarkan sejumlah uang. Barangnya hadir sebagai sesuatu yang kamu suka, sementara ingatan tentang pembayarannya membawa perasaan yang berbeda.
Di situ, rasa bersalah tidak lagi hanya berada pada beberapa detik setelah pembayaran. Ia bisa tertinggal di belakang pengalaman membeli, bahkan ketika pengalaman membeli itu sendiri sudah selesai.
Kalau rasa yang muncul adalah penyesalan, mungkin yang terus kamu ingat adalah barang yang salah, pilihan yang keliru, atau keinginan untuk tidak jadi membeli. Tetapi kamu tidak selalu mengalami itu. Kamu bisa tetap merasa bahwa barang tersebut memang kamu inginkan.
Kamu hanya masih membawa rasa tidak enak karena pernah menggunakan uangmu untuk mendapatkannya.
Kadang kamu bahkan tidak tahu harus menyebut perasaan itu sebagai apa. Kamu tidak ingin mengembalikan barangnya. Kamu tidak berharap transaksi tadi dibatalkan. Kamu juga tidak sedang kecewa dengan apa yang kamu dapatkan.
Tetapi ada bagian dari dirimu yang tetap merasa seolah-olah telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Kalau rasa bersalah ini ternyata tidak hanya muncul setelah belanja, tapi di banyak momen lain saat kamu memakai uang untuk dirimu sendiri, ada tulisan yang menelusurinya lebih luas: bersalah saat menghabiskan uang untuk diri sendiri.
Pada akhirnya, barang yang kamu beli bisa tetap menjadi barang yang kamu inginkan. Yang tidak ikut selesai ketika pembayaran berhasil justru perasaan yang muncul setelah uang itu berpindah dari tanganmu.