Insecure dan Butuh Validasi: Kenapa Pujian Tidak Pernah Cukup

Ada pesan yang akhirnya berhasil dikirim setelah beberapa kali ditulis ulang.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Hanya balasan untuk percakapan yang sempat tertunda beberapa hari. Setelah tombol kirim ditekan, aktivitas lain kembali berjalan seperti biasa. Kamu melanjutkan pekerjaan, membuka aplikasi lain, berpindah ke urusan berikutnya.

Tapi sesekali tanganmu kembali ke layar.

Bukan karena ada hal penting yang harus dicek.

Hanya melihat apakah sudah ada respons.

Sudah dibaca belum.

Sudah dibalas belum.

Lalu ketika belum ada apa-apa, kamu menaruh ponsel itu lagi dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Atau setidaknya mencoba terlihat biasa.

Momen seperti ini sering terasa terlalu kecil untuk diperhatikan. Begitu kecil sampai jarang dianggap memiliki arti apa pun. Padahal kadang justru di situ ada sesuatu yang menarik.

Bukan tentang pesan yang dikirim.

Bukan tentang orang yang akan membalas.

Tapi tentang betapa sering perasaan kita diam-diam menunggu sesuatu dari luar diri sendiri sebelum benar-benar bisa tenang.

Kenapa Pujian Terasa Seperti Mengisi Botol Bocor

Ada alasan mengapa pujian terasa menyenangkan.

Ada rasa lega ketika seseorang mengakui usaha yang kamu lakukan. Ketika pekerjaanmu diapresiasi. Ketika pendapatmu dianggap masuk akal. Ketika seseorang mengatakan bahwa apa yang kamu lakukan ternyata berarti.

Rasa lega itu nyata.

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Masalahnya bukan pada rasa leganya. Yang menarik justru apa yang sering terjadi setelahnya.

Karena cukup sering, rasa lega itu tidak bertahan selama yang kita bayangkan.

Sesaat setelah mendapat pengakuan, semuanya terasa lebih ringan. Pikiran yang sebelumnya ramai menjadi lebih tenang. Keraguan yang sempat muncul seperti mereda untuk sementara.

Lalu perlahan muncul pertanyaan lain.

Apa ini sudah cukup?

Bagaimana kalau besok tidak ada yang mengatakan hal yang sama?

Bagaimana kalau ternyata mereka hanya sopan?

Bagaimana kalau aku sebenarnya tidak sebaik yang mereka bilang?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu muncul dalam bentuk kalimat yang jelas. Kadang hanya berupa perasaan samar yang sulit dijelaskan. Perasaan bahwa sesuatu yang tadi terasa penuh, perlahan mulai kosong lagi.

Situasinya tidak harus besar. Kadang sekecil ini.

Kamu akhirnya membalas chat seorang teman yang sudah beberapa hari menggantung. Bukan karena tidak peduli. Hanya saja waktunya belum terasa tepat. Setelah pesan terkirim, ada sesuatu yang mulai kamu periksa diam-diam. Sudah dibaca belum. Sudah dibalas belum. Kalau balasannya hangat, ada rasa lega. Tapi lega itu tidak bertahan lama. Tidak sampai malam.

Inilah yang membuat validasi berbeda dari kepuasan biasa.

Ia tidak benar-benar mengisi.

Ia hanya meredam sebentar.

Seperti rasa haus yang berkurang sesaat setelah meneguk air, lalu kembali lagi tidak lama kemudian. Bukan karena ada yang salah dengan airnya. Tapi karena sumber rasa hausnya masih ada.

Hal yang sama sering terjadi ketika kebutuhan akan pengakuan mulai mengambil peran yang lebih besar dari yang kita sadari. Pola ini sering muncul sebagai bagian dari pengalaman yang lebih luas tentang insecure, sesuatu yang sering terasa samar karena tidak selalu muncul dalam bentuk rasa minder yang jelas.

Ketika pujian datang, kita merasa lebih baik.

Ketika pengakuan datang, kita merasa lebih tenang.

Ketika seseorang mengatakan bahwa kita sudah cukup baik, ada bagian dalam diri yang akhirnya bisa beristirahat sebentar.

Namun “sebentar” adalah kata yang penting di sini.

Karena kalau ketenangan itu sepenuhnya bergantung pada apa yang datang dari luar, maka ketenangan itu ikut pergi ketika sumbernya menghilang.

Mungkin itulah sebabnya beberapa orang bisa menerima banyak pujian tetapi tetap merasa ada sesuatu yang kurang.

Bukan karena mereka tidak bersyukur.

Bukan karena mereka serakah.

Dan bukan karena mereka sengaja mencari perhatian.

Kadang yang terjadi jauh lebih sederhana dari itu.

Pengakuan yang mereka terima terus menyentuh permukaan, sementara sesuatu yang mereka cari sebenarnya berada sedikit lebih dalam.

Semakin Banyak yang Datang, Semakin Banyak yang Dibutuhkan

Kalau pola ini berhenti setelah satu kali validasi, mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas.

Tapi sering kali tidak begitu.

Yang datang hari ini perlahan menjadi standar untuk besok.

Apa yang dulu terasa istimewa, lama-kelamaan terasa biasa.

Apa yang dulu cukup, perlahan terasa kurang.

Ini bukan hanya terjadi pada barang, pencapaian, atau pengalaman hidup. Hal yang sama sering terjadi pada pengakuan.

Ketika seseorang pertama kali memuji hasil kerjamu, mungkin kamu mengingatnya selama berhari-hari.

Beberapa waktu kemudian, pujian yang sama tidak lagi memberi efek yang sama.

Bukan karena pujiannya berubah.

Tapi karena dirimu sudah mulai terbiasa.

Validasi memiliki sifat yang aneh. Semakin sering diterima, semakin cepat otak menyesuaikan diri terhadapnya.

Akibatnya, standar yang tadinya terasa tinggi perlahan berubah menjadi titik awal yang baru.

Dan tanpa disadari, garis “cukup” bergeser lagi.

Lalu bergeser lagi.

Lalu bergeser lagi.

Pola ini mudah terlihat di hal-hal kecil.

Kamu memesan tiket bioskop lebih awal karena takut kehabisan. Setelah berhasil mendapat kursi yang diinginkan, kamu menceritakannya kepada seorang teman. Responsnya biasa saja. Tidak buruk, hanya biasa.

Lalu kamu bercerita kepada teman yang lain. Kali ini responsnya lebih antusias. Ia ikut senang, bertanya banyak hal, bahkan mengatakan bahwa film itu memang layak ditunggu. Dan di situ ada sesuatu yang terasa sedikit lebih lega.

Menariknya, kamu mungkin tidak bisa sepenuhnya menjelaskan mengapa respons kedua terasa lebih melegakan.

Padahal ceritanya sama.

Filmnya sama.

Tiketnya sama.

Yang berubah hanya respons yang kamu terima.

Karena yang kamu cari sebenarnya bukan konfirmasi tentang filmnya.

Yang kamu cari sedikit lebih dalam dari itu.

Mungkin itulah yang membuat kebutuhan akan validasi sering sulit dikenali.

Dari luar, semuanya terlihat normal.

Manusia memang makhluk sosial. Wajar jika kita senang ketika didengar. Wajar jika kita bahagia ketika orang lain ikut menghargai sesuatu yang berarti bagi kita.

Tetapi ketika rasa tenang mulai terlalu bergantung pada seberapa besar respons yang datang, sesuatu yang lain perlahan ikut terbentuk.

Kita mulai mengukur nilai pengalaman melalui mata orang lain.

Kita mulai menilai apakah sesuatu layak disyukuri berdasarkan seberapa banyak orang yang ikut mengakuinya.

Dan tanpa sadar, kepuasan yang tadinya berasal dari pengalaman itu sendiri mulai bergeser ke reaksi yang muncul setelahnya.

Di titik ini, validasi tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap.

Ia mulai mengambil peran yang lebih besar.

Karena itulah semakin banyak validasi yang datang tidak selalu membuat seseorang merasa semakin aman.

Kadang justru sebaliknya.

Semakin sering seseorang bergantung pada konfirmasi dari luar, semakin sulit baginya menentukan kapan sesuatu sudah cukup.

Bukan karena ia rakus.

Bukan karena ia haus perhatian.

Melainkan karena standar yang digunakan untuk merasa cukup terus bergerak mengikuti apa yang datang dari luar dirinya.

Dan sesuatu yang terus bergerak akan selalu sulit dikejar.

Berapa pun langkah yang berhasil diambil hari ini, besok garis itu sudah berada sedikit lebih jauh dari kemarin.

Perbedaan Antara Menghargai dan Membutuhkan

Salah satu alasan mengapa kebutuhan akan validasi sulit dikenali adalah karena dari luar ia sering terlihat sama dengan hal yang sehat.

Dua orang bisa sama-sama senang ketika dipuji.

Dua orang bisa sama-sama tersenyum ketika diapresiasi.

Dua orang bisa sama-sama merasa bahagia ketika usahanya diakui.

Namun yang membedakan keduanya sering kali bukan apa yang terjadi saat validasi datang.

Yang membedakan adalah apa yang terjadi ketika validasi itu tidak datang.

Karena menghargai apresiasi dan membutuhkan apresiasi adalah dua hal yang terlihat mirip dari luar, tetapi memiliki akar yang berbeda.

Ketika kamu menghargai apresiasi, pujian menambah sesuatu yang sudah ada.

Ketika kamu membutuhkannya, pujian sering kali menjadi sesuatu yang menopang apa yang belum terasa kokoh.

Perbedaannya tipis.

Sangat tipis.

Sampai-sampai kadang hanya bisa terlihat dalam momen yang tidak diperhatikan siapa pun.

Cara paling mudah membedakannya adalah dengan melihat apa yang terjadi ketika tidak ada yang melihat.

Kamu membuang sampah karena tempat sampah sudah penuh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang memperhatikan. Tidak ada yang memberi komentar. Kamu melakukannya karena memang sudah waktunya dilakukan. Setelah selesai, kamu kembali ke aktivitas sebelumnya. Tidak ada yang berubah dalam perasaanmu.

Lalu bayangkan situasi yang hampir sama.

Kali ini ada seseorang yang melihat. Ia tersenyum lalu mengatakan bahwa kamu memang selalu peduli pada hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.

Apakah ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda?

Apakah tindakan yang sama memiliki rasa yang sama?

Atau ada bagian kecil dalam dirimu yang terasa sedikit lebih hangat ketika komentar itu datang?

Tidak ada jawaban yang benar di sini.

Dan bukan berarti salah satu respons lebih baik daripada yang lain.

Tapi jarak antara kedua situasi itu bisa menunjukkan sesuatu.

Karena kebutuhan akan validasi bukan tentang seberapa sering kamu menerima pujian.

Bukan juga tentang seberapa senang kamu ketika diapresiasi.

Yang lebih penting adalah apa yang terjadi ketika apresiasi itu tidak ada.

Apakah kamu tetap bisa berdiri di tempat yang sama?

Apakah kamu tetap bisa memandang apa yang kamu lakukan dengan cara yang sama?

Atau ada sesuatu yang mulai bergeser?

Ada sesuatu yang menarik tentang manusia.

Kita sering mengira bahwa yang kita cari adalah pengakuan dari orang lain.

Padahal sering kali yang kita cari bukan pengakuan itu sendiri.

Yang kita cari adalah perasaan aman yang muncul sesaat setelah pengakuan itu datang.

Karena ketika seseorang mengatakan bahwa kita cukup baik, ada bagian dalam diri yang untuk sementara berhenti mempertanyakan dirinya sendiri.

Dan mungkin itulah alasan mengapa validasi terasa begitu menenangkan.

Bukan karena kata-kata orang lain memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tetapi karena kata-kata itu mampu membungkam sesuatu yang sudah lama berbicara di dalam kepala kita.

Meski hanya untuk sementara.

Ada orang yang terus mencari pengakuan tanpa pernah menyadarinya.

Bukan karena ia ingin menjadi pusat perhatian.

Bukan karena ia selalu ingin dipuji.

Melainkan karena ada ketenangan tertentu yang terasa lebih mudah ditemukan ketika datang dari luar dirinya sendiri.

Dan selama ketenangan itu masih bergantung pada apa yang diberikan orang lain, mungkin akan selalu ada rasa menunggu.

Menunggu pesan dibalas.

Menunggu pendapat disetujui.

Menunggu usaha dihargai.

Menunggu seseorang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Pertanyaannya mungkin bukan apakah kamu pernah mencari validasi.

Hampir semua orang pernah.

Pertanyaannya adalah: ketika validasi itu tidak datang, apa yang muncul menggantikannya?

Karena kadang yang datang bukan ketenangan.

Bukan penerimaan.

Bukan juga sikap biasa saja.

Kadang ada suara lain yang lebih keras.

Suara yang mulai mencari kesalahan.

Suara yang mulai mempertanyakan nilai diri sendiri.

Dan itu adalah cerita yang berbeda. Jika setelah membaca sampai sini kamu mulai mengenali pola-pola tersebut dalam dirimu, mungkin pertanyaan berikutnya bukan lagi “kenapa ini terjadi”, tetapi “apa yang bisa dilakukan setelah menyadarinya”. Itu yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel tentang cara mengatasi insecure.