Ada orang yang sudah berbulan-bulan mempersiapkan sesuatu.
Mungkin itu usaha kecil yang ingin ia mulai.
Mungkin pekerjaan baru yang ingin ia lamar.
Mungkin keputusan besar yang sudah lama menunggu di depan pintu hidupnya.
Ia membaca artikel. Menonton video. Membuat catatan. Membandingkan pilihan. Mengumpulkan informasi dari berbagai arah. Setiap minggu ada sesuatu yang baru untuk dipelajari. Setiap hari ada detail tambahan yang perlu dipahami.
Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Bahkan terlihat mengagumkan.
Orang lain mungkin melihat seseorang yang rajin, serius, dan bertanggung jawab. Seseorang yang tidak gegabah sebelum mengambil keputusan.
Dan mungkin kamu juga melihat dirimu seperti itu.
Karena memang rasanya seperti sedang bergerak maju.
Rasanya seperti sedang mendekati garis mulai.
Tapi entah kenapa, garis mulai itu tidak pernah benar-benar disentuh.
Selalu ada satu hal lagi yang perlu dipelajari.
Selalu ada satu pertimbangan lagi yang perlu dipikirkan.
Selalu ada satu alasan lagi untuk menunggu sedikit lebih lama.
Pernahkah kamu merasa sudah sangat siap, tetapi tetap belum juga melangkah?
Atau mungkin kamu merasa hanya membutuhkan sedikit informasi tambahan sebelum benar-benar memulai?
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi kadang jawaban yang tersembunyi di baliknya jauh lebih dalam daripada yang terlihat.
Persiapan yang Tidak Pernah Selesai
Ada titik yang aneh dalam proses mempersiapkan sesuatu.
Pada awalnya, persiapan memang terasa masuk akal.
Kalau kamu ingin memasak makanan yang belum pernah dibuat sebelumnya, tentu kamu perlu membaca resep.
Kalau kamu ingin membuka usaha pertama, tentu kamu perlu memahami dasar-dasarnya.
Kalau kamu ingin mengambil keputusan besar, tentu kamu perlu mengumpulkan informasi yang cukup.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Justru itulah yang biasanya dilakukan orang yang bertanggung jawab.
Masalahnya muncul ketika persiapan tidak lagi memiliki garis akhir.
Ketika setiap kali kamu merasa hampir siap, muncul kebutuhan untuk mempersiapkan sesuatu yang baru.
Satu artikel lagi.
Satu video lagi.
Satu perbandingan lagi.
Satu pertimbangan lagi.
Dan anehnya, setiap tambahan informasi itu terasa penting.
Sangat penting.
Begitu penting sampai rasanya tidak bijaksana untuk melangkah sebelum mempelajarinya terlebih dahulu.
Lalu proses itu berulang.
Dan berulang lagi.
Sampai suatu hari kamu menyadari bahwa yang bertambah bukan langkahmu.
Yang bertambah adalah tumpukan persiapanmu.
Seorang pria pernah menghabiskan hampir dua tahun mempersiapkan perpindahan kariernya.
Ia mengikuti kursus.
Mengambil sertifikasi.
Membaca buku.
Mengikuti webinar.
Setiap kali merasa siap melamar pekerjaan baru, ia menemukan keterampilan lain yang menurutnya harus dipelajari lebih dulu.
Dua tahun kemudian, kemampuan dan pengetahuannya memang meningkat.
Tetapi karier yang ingin ia masuki masih tetap berada di tempat yang sama: belum dimulai.
Yang menarik, masalahnya bukan karena ia kekurangan informasi.
Justru sebaliknya.
Pada titik tertentu, ia sudah memiliki lebih banyak informasi dibanding banyak orang yang sudah lebih dulu bekerja di bidang tersebut.
Di sinilah sesuatu mulai berubah.
Karena sering kali yang dicari bukan lagi informasi.
Yang dicari adalah kepastian.
Dan kepastian memiliki sifat yang berbeda dengan informasi.
Informasi bisa ditambah.
Kepastian tidak.
Tidak ada jumlah artikel yang bisa menjamin hasil sebuah keputusan.
Tidak ada jumlah riset yang bisa memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Selalu ada ruang untuk ketidakpastian.
Selalu ada kemungkinan yang tidak bisa dihitung.
Dan mungkin itulah alasan mengapa persiapan bisa berlangsung jauh lebih lama daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
Bukan karena kamu belum tahu cukup banyak.
Tetapi karena ada bagian dalam dirimu yang masih berharap suatu hari nanti akan muncul perasaan, “Sekarang aku benar-benar yakin.”
Masalahnya, perasaan itu sering tidak pernah datang.
Banyak keputusan besar dalam hidup diambil bukan ketika seseorang sudah yakin seratus persen.
Melainkan ketika ia menyadari bahwa tidak ada lagi kepastian yang bisa ditunggu.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Apakah kamu sudah siap?”
Mungkin pertanyaannya adalah:
Apa yang sebenarnya sedang kamu tunggu?
Kenapa Overthinking Bisa Terlihat Seperti Kerja Keras
Salah satu bentuk overthinking yang paling sulit dikenali adalah bentuk yang terlihat produktif.
Kalau seseorang duduk diam sepanjang hari sambil mencemaskan masa depannya, biasanya lebih mudah melihat bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
Tetapi bagaimana jika seseorang terlihat sibuk?
Bagaimana jika ada daftar yang dibuat?
Catatan yang ditulis?
Riset yang dilakukan?
Target yang dirancang?
Dari luar, semuanya tampak seperti kerja keras.
Bahkan dari dalam, rasanya juga seperti kerja keras.
Karena memang ada energi yang dikeluarkan.
Ada waktu yang digunakan.
Ada usaha yang dilakukan.
Itulah sebabnya bentuk overthinking ini sering lolos dari perhatian.
Termasuk perhatian pemiliknya sendiri.
Kalau kamu pernah membaca artikel tentang “perbedaan antara merenung dan overthinking”, kamu mungkin akan melihat pola yang mirip di sini. Dari luar keduanya terlihat sama-sama menggunakan pikiran. Tetapi arahnya berbeda. Merenung bergerak menuju pemahaman. Overthinking bergerak memutar di tempat.
Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah fungsi tersembunyinya.
Selama masih berada dalam tahap persiapan, belum ada hasil yang harus diuji.
Belum ada kegagalan yang harus dihadapi.
Belum ada risiko yang benar-benar nyata.
Persiapan terasa aman.
Karena dunia nyata belum sempat memberikan responsnya.
Seorang wanita pernah bermimpi membuka toko online kecil yang menjual produk buatannya sendiri.
Ia sudah menentukan nama.
Membuat logo.
Memilih warna merek.
Mendesain kemasan.
Mengubah desain kemasan.
Mengubahnya lagi.
Mempelajari strategi pemasaran.
Mempelajari strategi pemasaran terbaru.
Lalu mempelajari strategi yang lebih baru lagi.
Setahun berlalu.
Tokonya belum pernah dibuka.
Ketika ditanya apa yang masih kurang, jawabannya selalu berubah.
Kadang foto produk.
Kadang desain.
Kadang strategi.
Kadang waktu.
Tetapi jauh di bawah semua alasan itu, ada satu hal yang tidak pernah diucapkan.
Begitu toko itu dibuka, ia harus menghadapi kemungkinan bahwa orang mungkin tidak membeli produknya.
Dan kemungkinan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada memperbaiki logo untuk ketujuh belas kalinya.
Ini bukan tentang kemalasan.
Bukan tentang kurang disiplin.
Dan bukan tentang kurang serius.
Justru sering kali yang terjadi adalah kebalikannya.
Kamu terlalu serius.
Kamu terlalu peduli.
Kamu terlalu ingin semuanya berjalan baik.
Sampai akhirnya memulai terasa seperti sesuatu yang terlalu besar untuk dilakukan hari ini.
Ada sebuah penelitian psikologi yang cukup menarik mengenai apa yang disebut sebagai “intolerance of uncertainty” — ketidaknyamanan terhadap ketidakpastian.
Sederhananya, sebagian orang merasa jauh lebih tidak nyaman ketika menghadapi hal yang belum pasti. Akibatnya, otak terus mencari cara untuk mengurangi ketidakpastian itu.
Salah satu caranya adalah dengan terus mencari informasi tambahan.
Masalahnya, informasi memang bisa mengurangi ketidakpastian sedikit demi sedikit.
Tetapi hampir tidak pernah menghilangkannya sepenuhnya.
Akibatnya, pencarian itu bisa berlangsung tanpa akhir.
Bukan karena otaknya lemah.
Justru karena otaknya sedang berusaha melindungi dirinya.
Hanya saja perlindungan itu perlahan berubah menjadi penghalang.
Dan ketika itu terjadi, overthinking mulai terlihat seperti kerja keras.
Padahal diam-diam ia sedang membuat jarak antara kamu dan keputusan yang ingin kamu ambil.
Yang Sebenarnya Terjadi di Balik “Belum Siap”
“Aku belum siap.”
Kalimat itu terdengar sangat masuk akal.
Sangat dewasa.
Sangat bertanggung jawab.
Karena siapa yang ingin mengambil keputusan besar tanpa persiapan?
Siapa yang ingin melangkah sebelum benar-benar siap?
Tetapi kadang ada hal menarik yang tersembunyi di balik kalimat itu.
Karena sering kali “aku belum siap” bukanlah pernyataan tentang kesiapan.
Ia adalah pernyataan tentang ketakutan.
Bukan ketakutan yang dramatis.
Bukan ketakutan yang membuat seseorang gemetar atau panik.
Lebih sering, ketakutan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih tenang.
Begitu tenang sampai sulit dikenali.
Takut hasilnya tidak sesuai harapan.
Takut terlihat tidak kompeten.
Takut membuat keputusan yang ternyata salah.
Takut menyesal setelah memilih.
Takut mengetahui bahwa kenyataan tidak seindah yang selama ini dibayangkan.
Dan selama semua itu masih berupa kemungkinan, otak memiliki satu cara yang sangat efektif untuk menghindarinya.
Menunda langkah pertama.
Bukan dengan mengatakan “aku takut.”
Tetapi dengan mengatakan “aku perlu sedikit persiapan lagi.”
Seorang mahasiswa pernah bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Selama hampir satu tahun, ia mengumpulkan informasi tentang kampus.
Membandingkan kurikulum.
Mencari pengalaman alumni.
Membaca prospek karier.
Mengikuti seminar.
Bahkan membuat spreadsheet yang berisi berbagai perbandingan.
Dari luar, semuanya terlihat seperti persiapan yang matang.
Tetapi semakin lama ia mengumpulkan informasi, semakin sulit ia mengambil keputusan.
Sampai suatu hari ia menyadari sesuatu yang membuatnya terdiam.
Ia sebenarnya sudah tahu kampus mana yang ingin dipilih sejak berbulan-bulan sebelumnya.
Yang membuatnya terus mencari informasi bukan karena ia belum tahu.
Yang membuatnya terus mencari adalah karena begitu formulir pendaftaran dikirim, keputusan itu menjadi nyata.
Dan keputusan yang nyata selalu membawa kemungkinan bahwa ia bisa salah.
Yang membuat situasi seperti ini sulit dikenali adalah karena ketakutan itu jarang muncul dalam bentuk yang jelas.
Jarang ada orang yang duduk sendirian lalu berkata kepada dirinya sendiri:
“Aku takut gagal.”
Yang lebih sering terjadi justru sebaliknya.
Ketakutan itu berubah menjadi alasan-alasan yang terdengar rasional.
Masih perlu riset sedikit lagi.
Masih perlu mempertimbangkan satu pilihan lagi.
Masih perlu memastikan semuanya sudah benar.
Karena alasan-alasan itu terdengar masuk akal, kamu pun mempercayainya.
Hari demi hari berlalu tanpa terasa.
Dan setiap hari terasa produktif.
Padahal diam-diam ada sesuatu yang tidak berubah.
Kamu masih berdiri di tempat yang sama.
Kadang bukan karena kamu takut keputusanmu akan buruk.
Kadang kamu takut keputusanmu ternyata biasa saja.
Ada orang yang selama bertahun-tahun membayangkan sebuah usaha yang sukses.
Ada yang membayangkan karier baru yang akhirnya membuat hidupnya berubah.
Ada yang membayangkan hubungan yang akan membuat semuanya terasa lebih baik.
Selama semua itu masih berada di kepala, kemungkinan-kemungkinan terbaik masih tetap hidup.
Tetapi ketika langkah pertama benar-benar diambil, kenyataan mulai ikut berbicara.
Dan kenyataan jarang sesempurna imajinasi.
Mungkin hasilnya tidak secepat yang diharapkan.
Mungkin respons orang lain tidak seperti yang dibayangkan.
Mungkin ada kesalahan yang harus diperbaiki di tengah jalan.
Mungkin ternyata prosesnya jauh lebih membosankan daripada yang selama ini dibayangkan.
Di titik itu, yang dipertaruhkan bukan lagi keputusan.
Yang dipertaruhkan adalah gambaran ideal yang selama ini kamu simpan.
Karena itu kadang menunggu terasa lebih nyaman daripada memulai.
Selama kamu masih mempersiapkan diri, kemungkinan terbaik masih tetap utuh.
Belum ada kenyataan yang bisa membantahnya.
Belum ada hasil yang bisa mengecewakannya.
Belum ada pengalaman yang bisa mengoreksinya.
Dan tanpa sadar, persiapan berubah menjadi tempat persembunyian yang sangat aman.
Di situlah sering kali akar dari banyak overthinking saat mengambil keputusan berada.
Bukan pada kurangnya informasi.
Tetapi pada hubungan kita dengan kemungkinan melakukan kesalahan.
Kalau kamu pernah merasa sangat takut membuat keputusan yang keliru, mungkin kamu akan melihat pola yang mirip dengan pembahasan tentang “hubungan antara overthinking dan rasa takut salah“. Karena sering kali keduanya memang berjalan berdampingan.
Ada sebuah kutipan dari Christopher Columbus yang berbunyi:
“You can never cross the ocean until you have the courage to lose sight of the shore.”
Kamu tidak bisa menyeberangi lautan kalau masih harus terus melihat pantai.
Kutipan itu bukan tentang keberanian yang besar.
Justru tentang keberanian yang sederhana.
Keberanian menerima bahwa pada titik tertentu, tidak ada lagi kepastian yang bisa ditambahkan.
Karena setiap keputusan selalu mengandung sesuatu yang tidak bisa diketahui sebelumnya.
Mungkin selama ini kamu mengira bahwa yang sedang dicari adalah kesiapan.
Padahal yang sedang dicari adalah jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh persiapan sebanyak apa pun.
Persiapan yang tidak pernah selesai bukan berarti kamu tidak siap.
Kadang itu hanya tanda bahwa ada sesuatu yang sedang kamu hindari tanpa pernah benar-benar melihatnya.
Dan sering kali sesuatu itu bukan keputusan itu sendiri.
Melainkan kemungkinan yang datang setelah keputusan dibuat.
Satu Tanda yang Membedakannya
Bukan soal berapa lama kamu mempersiapkan sesuatu.
Bukan soal berapa banyak catatan yang sudah kamu buat.
Bukan soal berapa banyak informasi yang sudah kamu kumpulkan.
Ada satu pertanyaan yang mungkin lebih dekat ke inti persoalannya.
Pertanyaan yang sederhana.
Tetapi kadang tidak nyaman untuk dijawab.
Kalau semua informasi yang kamu butuhkan sudah ada di tanganmu saat ini, apa yang masih akan menghalangimu untuk memulai?
Cobalah duduk sebentar bersama pertanyaan itu.
Tidak perlu terburu-buru menjawab.
Tidak perlu mencari jawaban yang benar.
Hanya duduk bersamanya.
Kalau yang muncul adalah, “tidak ada yang menghalangiku,” mungkin yang kamu butuhkan memang bukan tambahan informasi.
Mungkin yang kamu butuhkan hanyalah langkah pertama.
Tetapi kalau ada sesuatu yang masih muncul…
Rasa takut.
Keraguan.
Kecemasan.
Kekhawatiran tentang penilaian orang lain.
Kekhawatiran tentang kegagalan.
Atau sesuatu yang bahkan belum bisa kamu beri nama.
Mungkin di sanalah sebenarnya pusat dari persoalan ini berada.
Ada peribahasa lama yang mengatakan:
“Tak ada gading yang tak retak.”
Kita sering mendengarnya sejak kecil.
Tetapi semakin bertambah usia, semakin terlihat bahwa peribahasa itu bukan hanya tentang ketidaksempurnaan.
Ia juga tentang kenyataan bahwa tidak ada keputusan yang sepenuhnya bebas dari risiko.
Tidak ada langkah yang bisa dijamin sempurna.
Tidak ada pilihan yang mampu menghapus seluruh kemungkinan salah.
Dan mungkin justru karena itulah keputusan harus diambil.
Bukan setelah semua risiko hilang.
Tetapi setelah kamu cukup jujur melihat risiko itu ada.
Persiapan yang baik memang membutuhkan waktu.
Tetapi ada titik ketika tambahan waktu tidak lagi menambah kesiapan.
Ia hanya menambah jarak.
Jarak antara kamu dan langkah pertamamu.
Jarak antara apa yang sudah lama ingin kamu lakukan dan apa yang terus kamu tunda.
Dan kadang jarak itu bertambah sedikit demi sedikit tanpa pernah terasa.
Penutup
Bayangkan lagi gambaran di awal artikel.
Seseorang duduk di tengah semua persiapannya.
Catatan ada di meja.
Informasi sudah terkumpul.
Perbandingan sudah dibuat.
Rencana sudah disusun.
Dari luar, semuanya tampak siap.
Mungkin sekarang gambaran itu terlihat sedikit berbeda.
Bukan karena tiba-tiba ada jawaban yang jelas.
Bukan karena sekarang semua keraguan menghilang.
Tetapi karena mungkin pertanyaannya mulai bergeser.
Dari:
“Kapan aku benar-benar siap?”
Menjadi:
“Apa yang sebenarnya sedang aku tunggu?”
Dua pertanyaan itu terdengar mirip.
Tetapi arahnya berbeda.
Pertanyaan pertama mengajak kamu terus melihat ke luar, mencari sesuatu yang belum ada.
Pertanyaan kedua mengajak kamu melihat ke dalam, mencari sesuatu yang selama ini mungkin sudah ada di sana.
Dan mungkin itulah alasan pertanyaan kedua terasa lebih jujur.
Bukan karena lebih mudah dijawab.
Tetapi karena ia menunjuk ke tempat yang selama ini tidak banyak dilihat.
Kalau selama ini kamu merasa sedang mempersiapkan diri tanpa pernah benar-benar bergerak, mungkin tidak ada yang salah dengan keseriusanmu.
Mungkin tidak ada yang salah dengan kehati-hatianmu.
Mungkin hanya ada satu pertanyaan yang layak menemanimu pulang setelah membaca ini:
Apa yang sebenarnya sedang kamu tunggu?
Untuk memahami pola overthinking yang lebih luas dan bagaimana ia muncul dalam berbagai bentuk yang berbeda, kamu juga bisa melanjutkan ke artikel “cara mengatasi overthinking”