Kenapa Kamu Sayang Memakai Barang Bagus yang Sudah Kamu Beli Sendiri

Baju baru itu masih punya label di lehernya. Sudah beberapa minggu dibeli, sudah beberapa kali kamu buka lemari, tapi tanganmu selalu mengambil baju yang lain.

Bukan karena kamu tidak suka. Justru karena kamu suka sekali.

Kamu sempat membayangkan kapan baju itu akan dipakai. Mungkin saat pergi ke tempat yang agak bagus, saat ada acara, atau ketika ada hari yang terasa lebih cocok untuk sesuatu yang baru. Tapi hari itu belum juga datang.

Akhirnya baju itu kembali digantung.

Hal yang sama bisa terjadi pada barang lain. Piring bagus masih berada di dalam kardus karena rasanya terlalu sayang kalau dipakai untuk makan biasa. Sepatu baru masih bersih karena kamu merasa belum menemukan kesempatan yang tepat. Barang yang kamu beli sendiri justru menjadi barang yang paling lama menunggu untuk digunakan.

Di situ muncul perasaan yang agak sulit dijelaskan. Kamu sayang pakai barang baru, padahal barang itu memang kamu beli supaya bisa dipakai.

Ada keinginan untuk menggunakannya, tetapi ada juga sesuatu yang membuat tangan berhenti sebelum benar-benar mengambilnya. Seolah-olah pemakaiannya perlu menunggu keadaan tertentu yang belum jelas kapan datang.

Dan semakin lama barang itu tersimpan, semakin masuk akal rasanya untuk menunggu sedikit lebih lama.

Acara yang Tidak Pernah Cukup Spesial

Acara yang kamu tunggu sering kali datang tanpa pernah terasa cukup spesial untuk membuka barang yang selama ini disimpan.

Ada undangan makan bersama, tetapi kamu merasa tempatnya terlalu biasa. Ada acara keluarga, tetapi kamu berpikir nanti masih ada acara lain yang lebih cocok. Ada akhir pekan yang sebenarnya cukup untuk memakai barang baru, tetapi akhirnya kamu kembali memilih barang yang sudah biasa dipakai.

Hari yang tepat seperti selalu berada sedikit lebih jauh.

Kamu mungkin sudah beberapa kali mengatakan dalam hati, “Nanti saja kalau ada acara.” Kalimat itu terdengar sederhana karena memang tidak ada yang aneh dengan menunggu kesempatan. Barang yang bagus memang kadang terasa lebih cocok untuk momen tertentu.

Masalahnya, momen tertentu itu bisa terus berubah bentuk.

Ketika akhirnya ada acara, muncul pertimbangan lain. Bukan acaranya yang kurang penting, tetapi barangnya terasa terlalu bagus untuk dipakai di situ. Kalau bukan acara itu, mungkin acara berikutnya. Kalau bukan sekarang, mungkin nanti ketika ada sesuatu yang benar-benar istimewa.

Barangnya tetap sama. Yang berubah hanya alasan untuk menunggu.

Lalu tanpa terasa, kamu memiliki barang yang sudah lama dibeli tetapi masih terlihat seperti baru karena hampir tidak pernah keluar dari tempatnya.

Ada sesuatu yang menarik dari keadaan itu. Kamu sebenarnya sudah melewati bagian paling jelas dari keputusan membeli. Barangnya sudah kamu pilih, sudah kamu bayar, sudah kamu bawa pulang. Tetapi ketika waktunya tiba untuk benar-benar menggunakannya, keputusan itu seperti belum sepenuhnya selesai.

Mungkin karena memakai barang terasa berbeda dari membelinya.

Saat membeli, barang itu masih punya kemungkinan. Kamu bisa membayangkan berbagai kesempatan untuk memakainya tanpa harus kehilangan kondisi barunya. Setelah dipakai, kemungkinan itu berubah menjadi sesuatu yang nyata: ada bekas penggunaan, ada perubahan kecil, dan ada perasaan bahwa barang tersebut sudah benar-benar menjadi bagian dari keseharianmu.

Karena itu, menunggu acara berikutnya kadang terasa lebih mudah daripada menentukan bahwa hari ini memang cukup untuk menggunakannya.

Dan mungkin itulah kenapa satu barang baru bisa terus menunggu di lemari, bahkan ketika kamu sudah tidak ingat lagi acara seperti apa yang sebenarnya sedang kamu tunggu.

Kenapa Barang yang Kamu Beli Sendiri Terasa Terlalu Bagus untuk Dipakai

Ada sesuatu yang membuat barang itu terasa berbeda begitu sampai di tanganmu. Kamu yang memilihnya, kamu yang membayarnya, tetapi setelah dibawa pulang, memakainya justru terasa seperti keputusan yang jauh lebih besar.

Mungkin kamu takut barangnya cepat rusak. Selama masih tersimpan, kondisinya tetap seperti ketika pertama kali dibeli. Tidak ada noda, tidak ada lecet, tidak ada bagian yang berubah karena pemakaian. Rasanya ada ketenangan tertentu ketika barang itu masih utuh.

Mungkin juga ada pikiran bahwa kamu belum tentu bisa membeli barang yang sama lagi. Bukan berarti kamu sedang menghitung-hitung uang atau membuat keputusan tertentu. Hanya saja, setelah barang itu dibeli, kamu tahu bahwa kesempatan untuk mendapatkannya kembali belum tentu sama.

Kemungkinan lain terasa lebih aneh lagi. Bisa jadi selama barang itu belum dipakai, kamu belum sepenuhnya merasakan bahwa uang yang kamu keluarkan sudah berubah menjadi sesuatu yang selesai digunakan.

Ketika barang masih berada di dalam kardus, nilainya dalam bayanganmu masih terasa utuh. Kamu masih bisa membayangkan bagaimana bagusnya barang itu nanti ketika digunakan. Tetapi begitu dipakai, ada sesuatu yang berubah. Barang tersebut tidak lagi hanya menjadi barang baru yang kamu miliki, melainkan barang yang sudah mulai berkurang kondisi barunya.

Mungkin itu yang membuat tanganmu ragu.

Atau mungkin bukan itu juga.

Kamu bisa saja menyukai barangnya terlalu banyak sampai merasa sayang melihatnya berubah. Bisa juga kamu hanya belum menemukan momen yang menurutmu tepat. Beberapa alasan bisa muncul bersamaan, sementara tidak satu pun terasa cukup kuat untuk menjelaskan semuanya.

Yang menarik, perasaan itu bisa muncul justru pada barang yang kamu beli dengan pertimbangan sendiri. Tidak ada orang lain yang menyuruhmu membeli. Tidak ada yang memberikannya sebagai hadiah. Kamu sendiri yang melihatnya, menginginkannya, lalu memutuskan membawanya pulang.

Namun setelah keputusan membeli selesai, ada keputusan lain yang terasa lebih sulit: kapan barang itu benar-benar boleh mulai dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin karena membeli dan memakai memang terasa seperti dua hal yang berbeda.

Kamu bisa merasa yakin ketika memilih barang tersebut, tetapi keyakinan itu tidak otomatis ikut muncul ketika kamu hendak menggunakannya. Ada jeda kecil di antaranya. Di dalam jeda itulah berbagai pertimbangan bisa muncul tanpa kamu sadari.

Barang yang Menunggu Hari yang Lebih Baik

Barang yang kamu simpan sering kali lebih sering muncul dalam bayangan daripada benar-benar digunakan.

Kamu membayangkan baju itu ketika pergi ke tempat tertentu. Kamu membayangkan sepatu itu saat ada acara yang lebih bagus. Piring yang masih berada di dalam kardus bahkan mungkin sudah beberapa kali muncul di pikiran ketika kamu membayangkan meja makan yang ingin kamu buat terlihat lebih rapi.

Dalam bayangan, semuanya terasa pas.

Barangnya masih baru. Kesempatannya juga terasa tepat. Tidak ada alasan untuk merasa sayang karena semuanya terjadi dalam kondisi yang kamu anggap ideal.

Tetapi kehidupan sehari-hari jarang berjalan seideal bayangan itu.

Hari yang datang biasanya hanya hari biasa. Makan malam berlangsung seperti biasanya. Pergi keluar tidak selalu menjadi acara khusus. Dan ketika kesempatan yang dianggap lebih baik akhirnya datang, kamu bisa kembali merasa bahwa masih ada kesempatan lain yang lebih tepat.

Barang itu pun kembali menunggu.

Semakin lama menunggu, semakin mudah membayangkan bahwa ada satu hari tertentu yang akan membuat pemakaiannya terasa berbeda. Seolah-olah ketika hari itu datang, semua keraguan akan hilang dengan sendirinya.

Padahal hari tersebut belum tentu punya bentuk yang jelas.

Kamu hanya tahu bahwa hari ini belum terasa seperti hari itu.

Di sisi lain, selama barang belum digunakan, kamu masih bisa mempertahankan gambaran tentang bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang baru. Belum ada perubahan pada barangnya. Belum ada pengalaman yang membuatmu berpikir bahwa ternyata setelah dipakai, semuanya biasa saja.

Ada kemungkinan bahwa justru karena belum dipakai, barang itu tetap berada dalam keadaan yang paling mudah kamu bayangkan.

Ia belum menjadi barang yang sudah digunakan.

Ia masih menjadi barang baru yang menunggu.

Dan mungkin karena itu, kamu bisa terus mengatakan bahwa nanti akan ada waktu yang lebih baik untuk mengeluarkannya dari lemari atau membuka kardusnya. Bukan karena kamu benar-benar tahu kapan waktunya, tetapi karena selama waktunya belum tiba, kemungkinan itu masih terbuka.

Sementara itu, barang yang dibeli untuk digunakan tetap berada di tempat yang sama.

Menunggu hari yang terasa cukup baik untuk membuatmu tidak lagi ragu.

Yang Dibeli untuk Dipakai, tapi Masih Tersimpan

Barang yang kamu beli untuk dipakai pada akhirnya bisa tetap tersimpan begitu saja.

Kamu mungkin masih menyukainya. Tidak ada keputusan untuk membuangnya, tidak ada perubahan bahwa barang itu memang kamu inginkan ketika membelinya. Hanya saja, antara keinginan memiliki dan keberanian menggunakannya ternyata bisa ada jarak yang cukup panjang.

Jarak itu kadang tidak terasa sampai kamu membuka lemari dan kembali melihat barang yang sama.

Labelnya masih ada. Kardusnya masih rapi. Sepatunya masih bersih. Piringnya masih tersusun seperti ketika pertama kali kamu membawanya pulang. Barang tersebut seperti berhenti di satu titik, sementara hari-hari terus berjalan.

Kamu juga mungkin sudah lupa kapan pertama kali mengatakan, “Nanti saja.”

Yang tersisa hanya kebiasaan untuk menunggu kesempatan yang terasa lebih tepat.

Menariknya, barang itu tidak pernah meminta menjadi sesuatu yang istimewa. Ia dibeli karena kamu melihatnya, menyukainya, dan membayangkan akan menggunakannya. Tetapi setelah berada di rumah, bayangan tentang penggunaannya bisa berubah menjadi penantian yang tidak punya batas waktu jelas.

Kalau rasa ragu pada barang yang sudah kamu beli ini ternyata bagian dari rasa bersalah yang muncul di banyak momen kamu memakai uang untuk dirimu sendiri, ada tulisan yang menelusurinya lebih luas: bersalah saat menghabiskan uang untuk diri sendiri.

Mungkin memang tidak ada satu alasan yang bisa menjelaskan kenapa kamu begitu sayang menggunakan barang baru. Kadang ada rasa takut barangnya rusak, kadang ada bayangan tentang kesempatan yang lebih tepat, dan kadang ada perasaan yang bahkan sulit kamu beri nama.

Yang jelas, barang itu dibeli untuk dipakai.

Dan untuk sementara, ia masih tersimpan.