Kenapa Kamu Merasa Bersalah Saat Self Reward Padahal Itu Hasil Kerjamu Sendiri

Akhir minggu, kamu berdiri di depan kasir dengan barang yang sudah beberapa hari ingin kamu beli. Uangnya dari hasil kerjamu sendiri. Tidak ada tagihan yang baru saja muncul, tidak ada orang yang meminta kamu mengeluarkan uang itu. Kamu memang sengaja membelinya untuk diri sendiri.

Tapi tepat sebelum bayar, muncul pikiran, “Perlu nggak, ya?”

Barangnya tetap jadi dibeli. Setelah itu pun bukannya cuma merasa senang, kamu malah mulai kepikiran. Ada rasa bersalah saat self reward, seolah-olah uang yang baru saja kamu pakai untuk menyenangkan diri sendiri sebenarnya lebih baik disimpan.

Padahal kamu sudah bekerja untuk mendapatkan uang itu. Kamu tidak sedang membeli sesuatu tanpa alasan. Kamu bahkan sudah menunggu sampai merasa punya alasan yang cukup untuk membelinya.

Tetap saja, menikmati hasil kerja sendiri bisa terasa berbeda ketika uang itu keluar untuk dirimu sendiri.

Hadiah yang Rasanya Harus Dibayar Dulu

Self reward kadang baru terasa boleh kalau kamu punya alasan yang cukup besar untuk membenarkannya.

Minggu ini terasa berat. Pekerjaan sudah selesai. Target sudah lewat. Sudah lama tidak membeli sesuatu untuk diri sendiri. Kalimat-kalimat seperti itu bisa muncul sebelum kamu akhirnya memutuskan, “Ya sudah, sekali ini saja.”

Yang menarik, kamu bukan cuma sedang memutuskan mau membeli atau tidak. Kamu seperti sedang mencari alasan yang bisa membuat pembelian itu terasa sah.

Kalau alasannya terasa cukup besar, rasa bersalah mungkin sedikit mereda. Tapi kalau kamu merasa minggu ini sebenarnya biasa saja, muncul pertanyaan lain: memang pantas mengeluarkan uang sebanyak ini hanya untuk sesuatu yang aku inginkan?

Di titik itu, hadiah untuk diri sendiri seperti membutuhkan pembayaran di muka berupa sebuah alasan.

Kamu sudah mengeluarkan uangnya, tetapi sebelumnya kamu merasa harus membuktikan dulu bahwa pengeluaran itu layak terjadi. Seolah-olah membeli sesuatu yang kamu inginkan belum cukup menjadi alasan dengan sendirinya.

Karena itu, self reward bisa terasa aneh. Di satu sisi, kamu tahu persis kenapa kamu membelinya. Di sisi lain, kamu masih mencari pembenaran setelah keputusan itu dibuat.

Dan semakin kamu memikirkan apakah alasannya cukup kuat, semakin sulit rasanya menikmati sesuatu yang sejak awal memang kamu beli untuk dinikmati.

Kenapa Hadiah dari Uangmu Sendiri Bisa Terasa Seperti Pelanggaran

Bukan berarti kamu boros hanya karena merasa bersalah setelah membeli sesuatu untuk diri sendiri. Tapi rasa bersalah itu juga tidak selalu punya alasan yang gampang ditunjuk.

Kadang yang membuatnya muncul adalah nominal yang terasa terlalu besar untuk sebuah barang yang sebenarnya tidak wajib kamu punya. Kadang karena kamu baru saja membelinya setelah cukup lama menahan diri. Ada juga saat ketika semuanya terlihat masuk akal, tetapi pikiran tetap terasa tidak tenang begitu uang benar-benar berpindah dari tanganmu.

Di situ letak anehnya.

Kamu bisa memahami secara logis bahwa uang itu berasal dari hasil kerjamu sendiri. Kamu tahu tidak ada orang lain yang memaksa pembelian itu. Kamu juga tahu sejak awal barang tersebut memang kamu inginkan dan pembeliannya sudah kamu pikirkan.

Namun, mengetahui semua itu tidak otomatis membuat rasa bersalah hilang.

Ada bagian dari dirimu yang melihat pembelian tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan, sementara bagian lain langsung melihat uang yang keluar. Keduanya terjadi hampir bersamaan. Ketika satu bagian melihat barang yang akhirnya bisa kamu nikmati, bagian lain mungkin lebih dulu memikirkan apa yang sekarang tidak lagi ada di rekening.

Karena itu, kalimat “uangnya kan hasil kerja sendiri” terkadang belum cukup untuk membuat perasaan ikut tenang.

Bukan karena kamu tidak menghargai hasil kerjamu. Justru kamu sangat sadar bahwa uang itu berasal dari waktu dan tenaga yang sudah kamu keluarkan. Kesadaran itu bisa membuat uang terasa punya bobot lebih besar ketika akhirnya dipakai.

Semakin jelas kamu mengingat dari mana uang itu berasal, semakin terasa pula keputusan untuk mengeluarkannya.

Ada momen ketika kamu bahkan tidak sedang menyesali barang yang dibeli. Kamu hanya merasa tidak nyaman melihat uang yang sebelumnya tersimpan sekarang sudah berubah menjadi sesuatu yang kamu inginkan.

Perasaan itu bisa muncul bahkan ketika tidak ada masalah nyata yang sedang terjadi.

Kamu mungkin membuka aplikasi rekening sekali lagi setelah sampai rumah. Bukan karena ingin membatalkan pembelian, tetapi seperti ingin memastikan bahwa keputusan tadi benar-benar aman. Angka yang terlihat di layar kemudian membuat pikiran kembali ke pembelian yang baru saja dilakukan.

“Harusnya tadi nggak usah.”

Kalimat seperti itu bisa muncul tanpa benar-benar menjelaskan apa yang salah dari keputusan tersebut.

Saat Menikmatinya Ikut Dihitung

Barang yang kamu beli akhirnya sampai di tangan. Mungkin kamu sudah membukanya, memakainya, atau duduk menikmati sesuatu yang memang sejak awal ingin kamu berikan sebagai hadiah untuk diri sendiri.

Tapi di tengah rasa senang itu, pikiran tentang uang bisa ikut masuk.

Kamu sedang menikmati barang tersebut, tetapi perhatianmu tiba-tiba bergeser ke berapa banyak uang yang sudah keluar. Sesuatu yang seharusnya menjadi momen menikmati hasil kerja malah bercampur dengan hitungan yang sebelumnya tidak ada.

Barangnya terasa menyenangkan. Pengeluarannya terasa mengganggu.

Kamu bisa saja sedang makan sesuatu yang sudah lama ingin dicoba, lalu tiba-tiba teringat bahwa uang yang dipakai untuk itu sebenarnya bisa digunakan untuk hal lain. Atau ketika memakai barang yang baru dibeli, kamu mulai menghitung berapa lama uang sebanyak itu dikumpulkan dari pekerjaan.

Hitungan itu tidak selalu muncul sebagai keputusan yang jelas. Kadang hanya lewat sebentar, lalu hilang. Tetapi setelah muncul, pengalaman menikmati hadiah tersebut tidak lagi sepenuhnya terasa ringan.

Kamu tetap senang karena akhirnya memiliki atau mencoba sesuatu yang kamu inginkan. Hanya saja, rasa senang itu sekarang ditemani kesadaran bahwa ada uang yang sudah keluar untuk mendapatkannya.

Di sinilah self reward bisa terasa berbeda dari yang kamu bayangkan.

Kamu membelinya sebagai penghargaan, tetapi setelah mendapatkannya, sebagian perhatianmu justru masih tertinggal pada harga yang sudah dibayar.

Hadiah itu sudah berada di tanganmu. Rasa senangnya ada. Rasa bersalahnya juga ada.

Senang dan Bersalah yang Datang Berbarengan

Pada akhirnya, kamu bisa merasa senang dan bersalah pada saat yang sama.

Kamu bisa benar-benar menyukai barang yang kamu beli. Kamu bisa menikmati makanan yang kamu pilih. Kamu bisa merasa puas karena akhirnya memberikan sesuatu kepada diri sendiri setelah sekian lama hanya memikirkan hal-hal yang perlu dibayar.

Tetapi rasa bersalah tidak selalu pergi hanya karena rasa senang itu ada.

Kadang keduanya berjalan berdampingan tanpa salah satunya benar-benar menghilangkan yang lain. Kamu menikmati sesuatu sambil sesekali mengingat uang yang sudah dikeluarkan. Kamu merasa keputusan itu menyenangkan, lalu beberapa saat kemudian bertanya lagi apakah tadi seharusnya kamu membeli atau tidak.

Perasaan seperti ini juga tidak selalu berarti kamu menyesali hadiahnya.

Ada perbedaan antara tidak menyukai sesuatu yang sudah dibeli dan merasa tidak nyaman karena uang dipakai untuk diri sendiri. Barangnya bisa tetap kamu suka. Pengalamannya bisa tetap menyenangkan. Yang mengganggu justru bagian ketika uang itu keluar dari tanganmu.

Kalau rasa bersalah ini ternyata tidak berhenti di hadiah untuk dirimu saja, tapi muncul di banyak momen kamu mengeluarkan uang untuk diri sendiri, ada tulisan lain yang menelusurinya lebih luas: bersalah saat menghabiskan uang untuk diri sendiri.

Pada akhirnya, mungkin memang ada dua hal yang kamu rasakan ketika melihat kembali pembelian itu.

Kamu senang karena akhirnya memiliki sesuatu yang kamu inginkan. Dan pada waktu yang sama, ada bagian dari dirimu yang masih memandangi uang yang sudah keluar.

Keduanya bisa terasa nyata, bahkan ketika kamu sendiri tidak tahu harus menyebut salah satunya lebih benar.