Cara Mengatasi FOMO agar Kamu Tidak Terus Takut Ketinggalan

Kamu mungkin pernah melihat orang lain melakukan sesuatu, lalu tiba-tiba merasa ada yang salah kalau kamu tidak ikut. Awalnya hanya melihat, tetapi beberapa saat kemudian muncul pikiran bahwa kamu sedang tertinggal, melewatkan kesempatan, atau mungkin tidak akan mendapatkan pengalaman yang sama.

Perasaan seperti itu bisa muncul dalam banyak situasi. Kamu melihat teman pergi ke tempat tertentu, mengetahui orang lain sedang mencoba sesuatu yang baru, melihat kesempatan yang sedang ramai, atau menyadari bahwa banyak orang seolah sedang menjalani hal yang sama.

Masalahnya bukan selalu pada hal yang kamu lihat. Kadang yang membuatmu tidak tenang adalah perasaan bahwa kamu harus ikut agar tidak menjadi satu-satunya orang yang tertinggal.

Karena itu, cara mengatasi FOMO tidak selalu dimulai dengan menjauh dari semua hal yang membuatmu tertarik. Kamu justru perlu melihat lebih dekat apa yang terjadi dalam dirimu ketika rasa takut ketinggalan itu muncul.

Kenali Dulu Kapan FOMO Muncul dalam Dirimu

FOMO biasanya lebih mudah dipahami ketika kamu memperhatikan situasi yang berulang kali membuatmu merasa harus ikut. Bukan hanya melihat apa yang dilakukan orang lain, tetapi memperhatikan perubahan dalam pikiran dan perasaanmu setelah melihatnya.

Mungkin kamu merasa biasa saja sampai membuka media sosial, lalu melihat beberapa orang sedang menghadiri sebuah acara. Tiba-tiba kamu merasa tidak enak karena tidak berada di sana, meskipun beberapa menit sebelumnya kamu bahkan tidak punya rencana untuk datang.

Situasi lain bisa muncul ketika ada kesempatan yang sedang ramai dibicarakan. Semua orang seperti sedang membicarakannya, sehingga muncul pikiran bahwa kalau kamu tidak mengambil kesempatan itu sekarang, kamu akan menyesal nantinya.

FOMO juga bisa muncul ketika kamu merasa tidak diikutsertakan. Kamu mengetahui teman-temanmu berkumpul tanpa mengajakmu, lalu pikiranmu mulai mencari tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa kamu tidak ada di sana.

Ada pula kondisi ketika kamu memang sedang merasa tertinggal. Melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang belum kamu punya dapat membuat kehidupanmu sendiri terasa seperti sedang berjalan terlalu lambat.

Setiap orang bisa memiliki pemicu yang berbeda. Karena itu, mengatasi rasa takut ketinggalan menjadi lebih masuk akal ketika kamu mulai mengenali pola yang memang terjadi pada dirimu sendiri.

Coba perhatikan kapan dorongan untuk ikut biasanya muncul. Apakah setelah melihat orang lain? Apakah ketika sesuatu sedang ramai? Apakah ketika kamu merasa tidak dilibatkan? Atau justru ketika kamu sedang membandingkan keadaanmu dengan kehidupan orang lain?

Perhatian seperti ini bukan berarti kamu harus menganalisis setiap perasaan yang muncul. Kamu hanya sedang mencoba melihat hubungan antara apa yang kamu lihat dengan dorongan yang muncul setelahnya.

Misalnya, kamu melihat seseorang membeli barang yang sedang populer. Sebelum melihatnya, kamu tidak terlalu memikirkan barang tersebut. Setelah melihatnya berulang kali, kamu mulai merasa bahwa kamu juga perlu memilikinya.

Di situ ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan. Keinginan tersebut mungkin memang ada, tetapi bisa juga baru terasa penting setelah kamu melihat orang lain memilikinya.

Semakin kamu mengenali pola seperti ini, semakin mudah kamu melihat bahwa tidak semua dorongan untuk ikut muncul dari keinginan yang sudah ada sebelumnya.

Bedakan antara “Aku Ingin” dan “Aku Takut Ketinggalan”

Perbedaan antara keinginan dan rasa takut ketinggalan sering kali tidak langsung terlihat ketika kamu sedang berada di dalam situasinya. Keduanya bisa terasa hampir sama karena sama-sama membuatmu ingin melakukan sesuatu.

Kamu bisa benar-benar menginginkan sebuah pengalaman, barang, acara, atau kesempatan. Tetapi kamu juga bisa menginginkannya karena merasa orang lain sudah mendapatkannya dan kamu takut menjadi satu-satunya yang tidak ikut.

Pertanyaan sederhana bisa membantu kamu melihat perbedaannya: “Kalau tidak ada orang lain yang melakukannya, apakah aku masih menginginkannya?”

Bayangkan kamu melihat banyak orang mencoba sebuah aktivitas baru. Kamu langsung merasa ingin ikut. Lalu bayangkan tidak ada satu pun orang yang kamu kenal melakukannya dan kamu tidak pernah melihat aktivitas itu di mana-mana.

Apakah kamu masih akan mencarinya?

Kalau jawabannya iya, mungkin memang ada ketertarikan yang berasal dari dirimu. Tetapi kalau keinginan tersebut terasa jauh lebih kuat hanya setelah melihat orang lain melakukannya, ada kemungkinan rasa takut tertinggal ikut memengaruhinya.

Kamu juga bisa bertanya, “Aku benar-benar ingin ikut, atau aku hanya tidak ingin merasa tertinggal?”

Pertanyaan ini tidak bertujuan menentukan bahwa salah satu jawaban lebih baik. Kamu hanya sedang memberi ruang untuk melihat apa yang sebenarnya mendorong keputusanmu.

Kadang kamu memang ingin ikut sekaligus takut tertinggal. Dua hal tersebut juga bisa muncul bersamaan. Yang perlu diperhatikan adalah apakah rasa takutnya begitu kuat sampai membuatmu merasa harus mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kamu inginkan.

Pertanyaan lain yang bisa kamu gunakan adalah, “Apa yang sebenarnya aku takutkan kalau aku tidak ikut?”

Jawabannya mungkin sederhana. Kamu takut tidak punya bahan pembicaraan ketika bertemu teman. Kamu takut kehilangan kesempatan. Kamu takut dianggap tidak mengikuti perkembangan. Atau kamu takut melihat orang lain menikmati sesuatu sementara kamu tidak mengalaminya.

Dengan melihat ketakutan yang ada di balik dorongan tersebut, keputusanmu tidak lagi hanya ditentukan oleh kesan bahwa semua orang sedang melakukan sesuatu.

Kamu mulai bisa melihat bahwa ada perbedaan antara “aku ingin melakukan ini” dengan “aku merasa harus melakukan ini karena orang lain sedang melakukannya”.

Perbedaannya memang tipis, tetapi dampaknya pada pilihanmu bisa cukup besar. Ketika keinginan berasal dari dirimu, kamu bisa mempertimbangkannya sebagai sesuatu yang memang kamu pilih. Ketika dorongannya terutama berasal dari rasa takut ketinggalan, kamu mungkin perlu memberi sedikit jarak sebelum langsung mengikutinya.

Dan jarak itu tidak harus berupa keputusan untuk menolak. Kadang kamu hanya perlu memberi dirimu kesempatan untuk bertanya lebih dulu: kalau tidak ada tekanan untuk ikut, apa sebenarnya yang kamu pilih?

Berhenti Menjadikan Semua yang Menarik sebagai Sesuatu yang Harus Kamu Ikuti

Sesuatu yang menarik perhatianmu tidak otomatis menjadi sesuatu yang harus kamu lakukan. Kamu bisa melihat orang lain mencoba hal baru, mengikuti tren, menghadiri acara, membeli sesuatu, atau mengambil kesempatan tertentu tanpa harus memasukkan semuanya ke dalam kehidupanmu sendiri.

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi FOMO sering membuat batasnya menjadi kabur. Begitu sesuatu terlihat menarik dan banyak orang melakukannya, perhatianmu bisa berubah menjadi dorongan untuk ikut.

Padahal ada jarak antara mengetahui sesuatu dan merasa harus melakukan sesuatu.

Kamu bisa mengetahui bahwa ada sebuah tempat yang sedang ramai tanpa harus pergi ke sana. Kamu bisa tahu ada produk yang sedang banyak dibicarakan tanpa harus membelinya. Kamu juga bisa melihat teman-temanmu melakukan kegiatan tertentu tanpa harus merasa bahwa kehidupanmu kurang hanya karena kamu tidak melakukan hal yang sama.

Ketertarikan hanya berarti kamu memperhatikan sesuatu. Belum tentu itu berarti kamu menginginkannya.

Kamu juga bisa tertarik pada sesuatu karena penasaran. Setelah melihatnya lebih jauh, kamu mungkin menyadari bahwa hal tersebut memang bukan sesuatu yang ingin kamu jalani.

Masalahnya muncul ketika setiap hal yang menarik langsung diperlakukan seperti pilihan yang harus segera diambil. Kamu belum sempat mempertimbangkan apakah hal itu cocok dengan kehidupanmu, tetapi sudah merasa perlu mengejarnya karena takut kesempatan tersebut lewat.

Mengatasi FOMO bukan berarti membuat dirimu tidak tertarik pada apa pun. Kamu tetap boleh penasaran, mengikuti informasi, dan menikmati melihat apa yang dilakukan orang lain.

Yang berubah adalah hubunganmu dengan ketertarikan tersebut.

Kamu bisa berkata dalam pikiranmu, “Menarik juga,” tanpa harus melanjutkannya menjadi, “Berarti aku harus ikut.”

Perbedaan kecil seperti ini bisa membuatmu memiliki ruang untuk memilih. Kamu tidak lagi harus mengubah setiap hal yang kamu lihat menjadi keputusan pribadi.

Ada kalanya sesuatu memang cocok untukmu dan layak kamu ikuti. Ada kalanya sesuatu hanya menarik untuk dilihat dari jauh. Keduanya sama-sama valid sebagai respons terhadap sesuatu yang kamu temui.

Kamu tidak perlu mengubah semua yang menarik menjadi bagian dari kehidupanmu hanya karena kamu melihat orang lain menjalaninya.

Beri Jarak dari Hal yang Terus Memicu Rasa Takut Ketinggalan

Ketika kamu sudah mengenali situasi yang sering memunculkan FOMO, memberi sedikit jarak dari pemicunya bisa membuat dorongan tersebut tidak terus mendapat bahan bakar. Jarak ini bukan berarti kamu harus menghilangkan semua sumber informasi dari kehidupanmu.

Media sosial bisa menjadi salah satu contoh yang mudah terlihat. Kamu mungkin awalnya hanya ingin melihat beberapa hal, tetapi akhirnya terus menemukan kehidupan, aktivitas, pencapaian, atau pengalaman orang lain yang membuatmu merasa ada sesuatu yang sedang kamu lewatkan.

Semakin sering kamu melihatnya, semakin banyak hal yang bisa terasa penting. Bukan karena semua hal tersebut memang penting bagi kehidupanmu, tetapi karena perhatianmu terus diarahkan ke sana.

Kamu bisa mulai dengan memperhatikan kebiasaan mengecek sesuatu secara berulang. Misalnya, kamu baru saja melihat informasi tertentu, tetapi beberapa menit kemudian kembali mengeceknya karena takut ada sesuatu yang terlewat.

Dorongan seperti itu tidak selalu perlu langsung diikuti.

Kamu bisa memberi jeda sebelum membuka kembali sesuatu yang ingin kamu cek. Jeda tersebut memberi kesempatan untuk melihat apakah kamu memang membutuhkan informasi baru atau hanya sedang berusaha meredakan rasa tidak nyaman karena takut ketinggalan.

Hal yang sama berlaku di luar media sosial. Kamu bisa terus mengikuti percakapan tentang sebuah tren, mencari informasi tentang kesempatan tertentu, atau mendengar cerita orang lain sampai akhirnya merasa harus mengambil keputusan.

Padahal informasi yang lebih banyak tidak selalu membuat pilihan menjadi lebih jelas.

Kadang kamu justru sudah tahu cukup banyak, tetapi masih terus mencari karena belum merasa tenang dengan kemungkinan melewatkannya. Dalam keadaan seperti itu, berhenti mencari untuk sementara bisa menjadi bentuk memberi jarak, bukan berarti kamu tidak peduli.

Kamu juga tidak harus membuat aturan ekstrem seperti menghapus seluruh media sosial atau berhenti mengikuti semua orang. Yang lebih penting adalah melihat apakah paparan tertentu membuatmu semakin sulit membedakan antara apa yang kamu inginkan dan apa yang hanya membuatmu takut tertinggal.

Kalau setiap kali melihat sesuatu kamu langsung merasa harus mengejar, mungkin yang perlu diperhatikan bukan hanya hal yang kamu lihat, tetapi seberapa sering kamu membiarkan dirimu terus terpapar olehnya.

Memberi jarak juga bisa berarti tidak langsung mengambil keputusan. Kamu melihat sesuatu hari ini, merasa tertarik, lalu membiarkannya berada di pikiranmu tanpa segera melakukan apa-apa.

Setelah beberapa waktu, kamu bisa melihat apakah keinginan tersebut masih ada. Kalau masih, mungkin memang ada sesuatu yang ingin kamu pertimbangkan. Kalau sudah tidak terasa penting, kamu mendapatkan informasi bahwa dorongan sebelumnya mungkin lebih banyak datang dari rasa takut ketinggalan.

Dengan begitu, cara mengurangi FOMO tidak harus berupa larangan terhadap hal-hal yang kamu sukai. Kamu hanya memberi ruang agar setiap dorongan tidak langsung berubah menjadi tindakan.

Kembali Melihat Apa yang Sedang Kamu Jalani

Setelah memberi jarak dari hal-hal yang terus menarik perhatianmu, kamu bisa mulai melihat kembali kehidupan yang sedang kamu jalani. Bukan untuk membuktikan bahwa hidupmu lebih baik atau lebih buruk dari orang lain, tetapi untuk melihat apa yang memang sedang ada di hadapanmu.

Perhatianmu mudah berpindah ketika terlalu sering melihat kehidupan orang lain. Kamu melihat apa yang mereka lakukan, tempat yang mereka datangi, keputusan yang mereka ambil, atau pengalaman yang mereka dapatkan, sementara kehidupanmu sendiri hanya terlihat dari jarak yang sangat dekat.

Coba perhatikan apa yang sedang kamu lakukan ketika FOMO muncul. Bisa jadi kamu sebenarnya sedang menjalani sesuatu yang memang kamu pilih, tetapi perhatianmu tiba-tiba berpindah karena melihat pilihan orang lain.

Kamu bisa bertanya kepada dirimu sendiri, “Apa yang sedang aku butuhkan sekarang?”

Pertanyaan ini berbeda dengan “Apa yang sedang dilakukan orang lain?” karena pusat perhatiannya kembali kepada keadaanmu sendiri. Kamu mungkin membutuhkan waktu untuk menyelesaikan sesuatu, beristirahat, bertemu orang tertentu, atau memang sedang ingin mencoba sesuatu yang baru.

Kamu juga bisa melihat apa yang sebenarnya sedang kamu nikmati. Tidak semua hal dalam kehidupan harus terasa menarik setiap saat, tetapi ada perbedaan antara merasa kurang dengan sekadar mengetahui bahwa orang lain sedang menjalani sesuatu yang berbeda.

Ketika kamu melihat kehidupan dari luar, pilihan orang lain bisa terlihat lebih jelas daripada pilihanmu sendiri. Kamu melihat hasil, aktivitas, dan pengalaman mereka, sementara kamu menjalani proses yang jauh lebih lengkap dalam kehidupanmu sendiri.

Karena itu, mengatasi FOMO juga berkaitan dengan kemampuan untuk kembali memperhatikan kehidupanmu tanpa terus membandingkannya dengan apa yang sedang kamu lihat.

Kamu tidak harus merasa puas dengan semuanya. Kalau ada sesuatu dalam hidupmu yang memang ingin kamu ubah, keinginan itu tetap bisa kamu pertimbangkan. Hanya saja, keputusan tersebut tidak perlu muncul semata-mata karena kamu melihat orang lain melakukannya.

Perbedaan ini membuat perhatianmu kembali punya tempat berpijak. Kamu bisa melihat sesuatu di luar dirimu tanpa langsung kehilangan pandangan terhadap apa yang sedang kamu jalani.

Terima bahwa Kamu Memang Akan Melewatkan Banyak Hal

Tidak peduli seberapa banyak yang kamu lakukan, tetap akan ada banyak hal yang tidak kamu ikuti. Ada pengalaman yang terjadi ketika kamu tidak hadir, kesempatan yang kamu lewatkan, acara yang tidak kamu datangi, tren yang tidak kamu coba, dan keputusan orang lain yang tidak menjadi bagian dari hidupmu.

Melewatkan sesuatu bukan selalu berarti kamu salah memilih. Sering kali, kamu memang tidak bisa mengambil semua pilihan yang tersedia pada waktu yang sama.

Kalau kamu memilih menghabiskan waktu untuk satu hal, ada kemungkinan kamu tidak bisa berada di tempat lain pada waktu tersebut. Kalau kamu menggunakan uang untuk satu kebutuhan, ada hal lain yang mungkin harus menunggu. Kalau kamu memilih satu kegiatan, waktu yang sama tidak bisa digunakan untuk mengikuti kegiatan lainnya.

Pilihan selalu membawa kemungkinan untuk melewatkan sesuatu.

FOMO bisa terasa berat ketika kamu menganggap setiap hal yang terlewat sebagai kerugian yang seharusnya bisa kamu hindari. Padahal kehidupan memang berjalan dengan banyak pilihan yang tidak bisa semuanya diambil.

Kamu mungkin melihat seseorang sedang menikmati sebuah pengalaman dan berpikir bahwa kamu seharusnya berada di sana. Tetapi kamu tidak bisa sekaligus menjalani semua pengalaman yang muncul di sekitar kamu.

Bahkan ketika kamu berhasil mengikuti satu hal yang sebelumnya membuatmu takut tertinggal, akan selalu ada hal lain yang muncul setelahnya. Kalau setiap hal baru dianggap sebagai sesuatu yang harus dikejar, rasa takut ketinggalan tidak punya titik akhir yang jelas.

Karena itu, cara berhenti FOMO bukan dengan memastikan bahwa kamu tidak pernah melewatkan apa pun. Yang lebih realistis adalah memahami bahwa melewatkan sesuatu memang menjadi bagian dari memiliki pilihan.

Kamu bisa memilih sesuatu dan tetap mengetahui bahwa ada pilihan lain yang tidak kamu ambil. Pengetahuan itu tidak harus berubah menjadi penyesalan atau dorongan untuk mengejar semuanya.

Saat FOMO Muncul Lagi, Kamu Tidak Harus Langsung Mengikutinya

FOMO mungkin tetap muncul meskipun kamu sudah memahami pola yang membuatnya muncul. Kamu masih bisa merasa penasaran, takut tertinggal, atau tiba-tiba ingin ikut ketika melihat sesuatu yang sedang dilakukan orang lain.

Perbedaannya ada pada apa yang kamu lakukan setelah perasaan itu muncul.

Kamu bisa merasakan takut ketinggalan tanpa langsung menganggap perasaan tersebut sebagai tanda bahwa kamu harus bertindak. Rasa itu bisa hadir sebagai sesuatu yang kamu sadari, sementara keputusan tetap bisa dipertimbangkan secara terpisah.

Ketika melihat sesuatu yang menarik, kamu bisa kembali pada pertanyaan yang sebelumnya sudah kamu gunakan. “Kalau tidak ada orang lain yang melakukannya, apakah aku masih menginginkannya?” Dari sana, kamu bisa melihat apakah yang muncul lebih banyak berupa keinginan atau ketakutan untuk tertinggal.

Kamu juga bisa memberi waktu sebelum memutuskan. Tidak semua keputusan harus dibuat pada saat rasa FOMO sedang kuat.

Kalau setelah beberapa waktu kamu masih menginginkannya, kamu bisa mempertimbangkannya sebagai pilihanmu sendiri. Kalau dorongannya mereda, kamu mungkin akan melihat bahwa yang membuatmu ingin ikut sebelumnya adalah perasaan bahwa kamu sedang tertinggal.

Dalam proses ini, mengatasi rasa takut ketinggalan bukan berarti membuat FOMO hilang untuk selamanya. FOMO bisa muncul lagi karena kehidupanmu terus bersentuhan dengan pilihan, pengalaman, dan kehidupan orang lain.

Yang berubah adalah hubunganmu dengan rasa tersebut.

Kamu tidak lagi harus memperlakukan setiap dorongan sebagai perintah untuk ikut. Kamu bisa melihatnya, memahami dari mana dorongan itu datang, lalu tetap memiliki ruang untuk menentukan apakah sesuatu memang kamu inginkan.

Kalau kamu masih ingin melihat FOMO dari gambaran yang lebih luas, kamu bisa memahami kembali bagaimana rasa takut ketinggalan bekerja dalam kehidupan sehari-hari melalui pembahasan tentang memahami FOMO secara lebih lengkap. Pada akhirnya, mengurangi FOMO bukan berarti kamu tidak pernah merasa tertinggal lagi.

Mungkin rasa itu tetap muncul sesekali. Hanya saja, ketika muncul, kamu tidak lagi otomatis menganggapnya sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang harus kamu kejar.