Kamu bisa tiba-tiba kesal hanya karena seseorang mengoreksi hal kecil yang sebenarnya nggak terlalu penting. Atau kamu merasa nggak enak saat harus minta bantuan, seolah-olah merepotkan orang lain padahal mereka sendiri yang menawarkan.
Kadang reaksinya bahkan lebih aneh lagi. Ada pujian yang seharusnya bikin senang, tapi justru membuatmu ingin menolak, mengecilkan pencapaianmu, atau buru-buru mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang istimewa.
Setelah semuanya lewat, mungkin kamu pernah bertanya dalam hati, “Kenapa aku bereaksi seperti ini?”
Kamu merasa sudah dewasa. Kamu juga mungkin merasa masa kecil sudah lama selesai dan banyak hal yang terjadi waktu itu sudah nggak lagi kamu pikirkan. Tapi ada bagian dari cara kamu melihat diri sendiri, menghadapi orang lain, atau merespons situasi tertentu yang ternyata masih membawa sesuatu dari sana.
Bukan selalu dalam bentuk ingatan yang jelas.
Kadang yang tertinggal justru muncul sebagai reaksi kecil yang terasa otomatis. Kamu marah sebelum sempat berpikir, merasa bersalah ketika menolak sesuatu, atau merasa harus melakukan semuanya sendiri meskipun sebenarnya kamu sedang kewalahan.
Di titik seperti ini, masa lalu bisa terasa jauh sekaligus dekat. Kamu nggak sedang mengingat sebuah kejadian tertentu, tetapi seperti sedang menjalankan pola yang sudah lama terbentuk.
Pola Asuh yang Kelihatan Wajar, Bukan Berarti Tanpa Bekas
Pola asuh yang terlihat baik-baik saja bukan berarti selalu meninggalkan anak tanpa bekas apa pun.
Ketika membicarakan dampak pola asuh terhadap anak, pikiranmu mungkin langsung tertuju pada hal-hal yang jelas menyakitkan. Kekerasan, penghinaan, pengabaian, atau perlakuan yang sejak awal terasa salah memang bisa meninggalkan dampak yang besar. Tetapi bentukan masa kecil nggak selalu lahir dari sesuatu yang terlihat ekstrem.
Ada juga hal-hal yang di dalam keluarga dianggap biasa.
Misalnya, kamu sering diminta untuk selalu menjadi anak yang baik, menurut, berprestasi, atau nggak membuat masalah. Semuanya mungkin disampaikan dengan alasan yang terdengar masuk akal. “Ini demi kebaikanmu.” “Orang tua cuma ingin kamu punya masa depan.” “Kamu harus belajar bertanggung jawab.”
Kalimat-kalimat seperti itu nggak otomatis berarti orang tuamu berniat buruk.
Bahkan bisa jadi mereka benar-benar merasa sedang melakukan yang terbaik untukmu berdasarkan pemahaman yang mereka punya saat itu. Masalahnya, seorang anak belum punya kemampuan untuk memisahkan antara niat orang tua dan pesan yang dia tangkap dari perlakuan tersebut.
Kalau sejak kecil kamu terus merasa bahwa kesalahan membuat orang kecewa, kamu bisa tumbuh dengan perhatian yang sangat besar terhadap kesalahan. Kalau kamu sering dianggap harus kuat dan nggak boleh merepotkan, meminta bantuan mungkin terasa asing ketika kamu sudah dewasa.
Di sinilah pengaruh pola asuh masa kecil bisa menjadi sesuatu yang sulit dilihat.
Karena yang terbentuk bukan selalu sebuah ingatan, melainkan cara kamu memahami situasi. Kamu belajar tentang bagaimana seharusnya bersikap, kapan boleh bicara, bagaimana mendapatkan penerimaan, dan seperti apa dirimu ketika melakukan sesuatu yang dianggap benar atau salah.
Proses itu berjalan pelan selama bertahun-tahun.
Kamu mungkin nggak pernah duduk dan berkata kepada dirimu sendiri bahwa mulai sekarang kamu harus takut mengecewakan orang. Tapi kalau pengalaman yang sama berulang cukup lama, tubuh dan pikiranmu bisa belajar meresponsnya secara otomatis.
Itulah kenapa sesuatu yang terlihat sederhana ketika kamu kecil bisa terasa berbeda ketika kamu dewasa.
Nasihat yang dulu terdengar biasa mungkin ternyata membuatmu terbiasa meragukan keputusan sendiri. Tuntutan yang dulu dianggap sebagai bentuk perhatian mungkin membuatmu merasa bahwa nilai dirimu selalu bergantung pada seberapa baik kamu memenuhi harapan orang lain.
Bukan berarti setiap aturan, nasihat, atau tuntutan dari orang tua pasti buruk. Anak memang membutuhkan batasan, arahan, dan pengawasan. Yang membuat sebuah pengalaman meninggalkan bentukan bukan hanya apa yang dilakukan orang tua, tetapi juga bagaimana pengalaman itu terus diterima dan dimaknai oleh anak.
Dua anak bisa berada dalam situasi yang terlihat mirip, tetapi membawa pengalaman yang berbeda ketika tumbuh dewasa.
Karena itu, dampak pola asuh terhadap anak nggak selalu bisa dilihat dari pertanyaan sederhana seperti apakah orang tuanya baik atau buruk. Ada jarak antara niat orang tua, cara perlakuan diberikan, dan apa yang akhirnya dipelajari seorang anak tentang dirinya sendiri.
Jarak itulah yang kadang baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Bentukan yang Baru Kamu Sadari di Reaksi Sehari-Hari
Kamu mungkin langsung merasa harus menjelaskan diri ketika seseorang mengkritikmu, bahkan sebelum tahu apakah kritik itu memang perlu dijawab. Reaksi itu bisa terasa seperti bagian dari kepribadianmu, padahal cara kamu menghadapi kritik juga bisa berkaitan dengan apa yang dulu kamu pelajari tentang kesalahan dan penerimaan.
Ketika kesalahan sejak kecil terasa seperti sesuatu yang membuat orang kecewa, dikoreksi bisa membawa perasaan yang lebih besar daripada situasinya. Kritik kecil dari pasangan, teman, atau rekan kerja akhirnya terasa seperti penolakan terhadap dirimu secara keseluruhan.
Hal yang sama bisa muncul ketika kamu membutuhkan bantuan.
Kamu mungkin lebih mudah membantu orang lain daripada mengatakan bahwa kamu sendiri sedang kesulitan. Saat seseorang menawarkan bantuan, bukannya merasa lega, kamu malah merasa nggak enak, takut merepotkan, atau berpikir bahwa seharusnya kamu bisa mengatasinya sendiri.
Bentukannya kadang bahkan muncul dalam hubungan yang sebenarnya aman.
Kamu bisa terbiasa membaca perubahan nada bicara orang lain, memperhatikan ekspresi wajahnya, atau memikirkan kembali percakapan yang baru saja terjadi. Bukan karena ada masalah yang jelas, tetapi karena sejak dulu kamu terbiasa memperhatikan tanda-tanda apakah seseorang sedang kecewa, marah, atau nggak puas denganmu.
Cara seperti ini bisa terasa normal karena sudah lama menjadi bagian dari keseharianmu.
Begitu juga dengan konflik. Ada orang yang langsung ingin menyelesaikan masalah, ada yang memilih diam, dan ada yang merasa harus segera membuat suasana kembali baik meskipun dirinya sendiri belum selesai dengan perasaannya.
Kamu mungkin nggak sadar kenapa pertengkaran kecil terasa begitu mengganggu. Yang kamu rasakan hari ini bisa saja jauh lebih besar daripada percakapannya, karena yang bereaksi bukan hanya dirimu yang sekarang, tetapi juga pola respons yang sudah lama kamu kenal.
Bentukan lain bisa terlihat dari cara kamu menerima penghargaan terhadap diri sendiri. Ketika seseorang mengatakan bahwa kamu hebat, pintar, atau berhasil melakukan sesuatu, kamu mungkin spontan menyangkalnya, tertawa untuk mengalihkan pembicaraan, atau merasa bahwa pujian itu berlebihan.
Kalau hal seperti ini terus berulang, kamu bisa mengira memang begitulah kepribadianmu.
Padahal, pola asuh dan kepribadian dewasa nggak selalu bisa dipisahkan dengan sederhana. Cara kamu melihat kemampuan diri, menghadapi kesalahan, menerima perhatian, dan merespons hubungan dengan orang lain berkembang dari banyak pengalaman, termasuk pengalaman yang terjadi ketika kamu masih kecil.
Pengalaman itu juga nggak harus selalu kamu ingat secara detail.
Kamu mungkin nggak bisa mengingat kapan pertama kali belajar bahwa menangis membuat orang lain nggak nyaman, kapan mulai merasa bahwa meminta sesuatu adalah hal yang merepotkan, atau kapan terbiasa menyimpan pendapat supaya suasana tetap tenang. Yang tersisa sekarang mungkin hanya respons otomatisnya.
Karena itu, memahami cara pola asuh membentuk karakter nggak berarti mencari satu kejadian yang bisa menjelaskan seluruh dirimu. Bentukan itu biasanya lebih mirip pola yang berulang, sampai akhirnya terasa seperti cara alami untuk menjalani hidup.
Kamu bisa tumbuh menjadi orang yang sangat mandiri, tetapi di balik kemandirian itu ada kesulitan untuk menerima pertolongan. Kamu bisa terlihat sangat tenang dalam konflik, tetapi sebenarnya sedang menahan banyak hal karena sejak dulu terbiasa menjaga suasana tetap baik.
Ada juga kemungkinan sebaliknya. Kamu mungkin cepat marah atau defensif ketika merasa dikritik, bukan karena setiap kritik memang menyerangmu, tetapi karena situasi tersebut menyentuh bagian dirimu yang sejak lama sensitif terhadap penolakan.
Kalau kamu mulai melihat pola-pola seperti ini, gambaran yang lebih lengkap tentang ciri dampak pola asuh yang terbawa sampai dewasa bisa membantu melihat bentukan tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara lebih utuh.
Bukan Soal Menyalahkan, Tapi Soal Mengenali
Mengenali bahwa pola tertentu mungkin terbentuk sejak kecil nggak berarti kamu harus mencari siapa yang paling salah. Masa kecilmu terjadi dalam keadaan yang nggak bisa kamu pilih, sementara orang tua juga membesarkanmu dengan pengetahuan, pengalaman, dan cara pandang yang mereka punya saat itu.
Kamu bisa mengakui bahwa sesuatu meninggalkan bekas tanpa harus mengubah seluruh cerita masa kecilmu menjadi cerita tentang kesalahan orang lain.
Mungkin orang tuamu memang menyayangimu. Mungkin mereka juga melakukan banyak hal yang baik untukmu. Dan mungkin, di waktu yang sama, ada cara mereka memperlakukanmu yang ikut membentuk respons tertentu dalam dirimu sampai sekarang.
Dua hal itu bisa ada bersamaan.
Kesadaran seperti ini kadang terasa aneh karena selama ini kamu mungkin mengenal masa kecil hanya dalam dua kemungkinan: semuanya baik-baik saja atau semuanya buruk. Padahal pengalaman manusia nggak selalu sesederhana itu.
Ada hal yang dulu terasa biasa, tetapi baru terasa maknanya setelah kamu dewasa.
Kamu mungkin baru menyadari kenapa sulit mengatakan tidak. Kenapa kesalahan kecil bisa membuatmu merasa sangat bersalah. Kenapa pujian justru membuatmu nggak nyaman. Atau kenapa dalam hubungan tertentu kamu seperti otomatis mengambil peran yang sudah sangat kamu kenal sejak dulu.
Bukan berarti setiap reaksi hari ini pasti berasal dari pola asuh.
Kepribadianmu juga dibentuk oleh banyak hal lain, termasuk pengalaman di luar keluarga, hubungan ketika dewasa, lingkungan, dan pilihan-pilihan yang kamu buat sepanjang hidup. Pola asuh hanyalah salah satu bagian dari cerita yang membentuk cara kamu melihat diri sendiri dan dunia di sekitarmu.
Tetapi ketika sebuah pola muncul berulang kali, ada sesuatu yang menarik untuk diperhatikan.
Bukan untuk mencari kesalahan di masa lalu, melainkan untuk memahami kenapa dirimu yang sekarang bisa bereaksi dengan cara tertentu. Kamu mulai melihat bahwa beberapa respons yang selama ini terasa otomatis mungkin sebenarnya pernah punya fungsi ketika kamu masih kecil.
Dulu, menahan diri mungkin membuatmu merasa lebih aman. Dulu, menjadi anak yang selalu menurut mungkin membuat hubungan terasa lebih mudah. Dulu, berusaha keras agar nggak mengecewakan orang mungkin menjadi cara untuk mendapatkan penerimaan.
Ketika kamu sudah dewasa, situasinya mungkin sudah berubah.
Orang-orang di sekitarmu bukan lagi orang yang sama. Kamu juga sudah punya kemampuan untuk menentukan banyak hal dalam hidupmu sendiri. Tetapi pola yang terbentuk jauh sebelumnya nggak selalu ikut berubah hanya karena usia bertambah.
Itulah bagian yang sering membuat pengalaman ini terasa membingungkan.
Kamu bisa tahu secara logis bahwa sebuah situasi sebenarnya aman, tetapi tetap merasa tegang. Kamu bisa tahu bahwa meminta bantuan bukan sesuatu yang salah, tetapi tetap merasa bersalah ketika melakukannya. Kamu bisa tahu bahwa kritik seseorang bukan berarti mereka menolak dirimu, tetapi tubuhmu tetap bereaksi seolah-olah sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar.
Mengenali bentukan seperti ini bukan berarti menemukan label baru untuk dirimu.
Kamu nggak harus mengatakan bahwa semua yang terjadi sekarang adalah akibat masa kecil. Kamu juga nggak perlu memaksa setiap kebiasaan, emosi, atau masalah dalam hidupmu supaya punya hubungan dengan pola asuh.
Kadang cukup menyadari bahwa ada bagian dari dirimu yang belajar merespons dunia dengan cara tertentu sejak lama.
Dan mungkin itu yang membuat masa kecil tetap punya tempat dalam kehidupan orang dewasa. Bukan karena masa lalu menentukan seluruh hidupmu, tetapi karena beberapa hal yang dulu kamu pelajari bisa terus muncul dalam cara kamu menjalani hari ini.
Pada akhirnya, mengenali bentukan dari pola asuh bukan tentang mengadili masa lalu, melainkan melihat dirimu sendiri dengan sedikit lebih jernih. Ada reaksi yang mungkin selama ini kamu anggap aneh, berlebihan, atau memang sudah menjadi sifatmu, padahal bisa jadi ada cerita yang lebih panjang di belakangnya.