Kamu sedang ada di rapat, sebenarnya punya pendapat tentang sesuatu, tapi mulutmu terasa berat untuk bicara. Ada bagian dalam dirimu yang langsung berpikir, “Nanti kalau aku salah gimana?” Akhirnya kamu memilih diam, meskipun sebenarnya kamu tahu ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan.
Atau mungkin kamu sering meminta maaf lebih dulu, bahkan sebelum benar-benar tahu apa kesalahanmu. Ketika seseorang terlihat kecewa, nada bicaranya berubah, atau ada kemungkinan muncul konflik, refleks pertamamu justru mencari bagian mana dari dirimu yang mungkin membuat masalah.
Hal seperti ini bisa terasa aneh ketika kamu sudah dewasa. Kamu tahu bahwa kamu punya hak untuk berpendapat, boleh tidak setuju, dan tidak selalu harus mengikuti keputusan orang lain. Tapi mengetahui hal itu secara logika ternyata tidak selalu membuat tubuh dan pikiranmu merasa aman untuk melakukannya.
Terutama ketika kamu berhadapan dengan seseorang yang posisinya lebih tinggi. Atasan, orang yang lebih tua, mertua, atau bahkan pasangan yang lebih dominan bisa membuatmu kembali berada dalam posisi seperti anak yang harus berhati-hati sebelum bicara.
Kepatuhan yang Dulu Dipuji, Sekarang Terasa Berat
Menjadi anak yang gampang diatur dulu mungkin terlihat seperti sesuatu yang baik. Kamu tidak banyak membantah, mengikuti aturan, melakukan apa yang diminta, dan jarang membuat orang dewasa di sekitarmu kerepotan.
Kepatuhan seperti itu bahkan bisa mendapatkan pujian. Kamu dianggap anak baik, disiplin, tahu aturan, atau tidak merepotkan. Dari luar, semuanya mungkin terlihat berjalan sebagaimana mestinya.
Tapi ada kemungkinan kamu juga belajar sesuatu yang tidak pernah benar-benar diucapkan: selama kamu menurut, keadaan akan baik-baik saja.
Akhirnya, menurut bukan lagi sekadar salah satu pilihan. Menurut bisa terasa seperti cara paling aman untuk menjaga keadaan tetap tenang. Ketika punya keinginan berbeda, kamu mungkin lebih dulu memikirkan reaksi orang lain daripada apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Kebiasaan itu bisa terbawa ketika kamu dewasa. Kamu mungkin kesulitan mengatakan tidak meskipun sebenarnya keberatan, atau merasa tidak enak ketika keputusanmu berbeda dari orang lain.
Bukan karena kamu tidak punya pendapat.
Justru mungkin kamu punya banyak hal yang ingin dikatakan, tetapi sudah terlalu terbiasa menyaringnya sebelum keluar. Kamu mempertimbangkan apakah pendapatmu akan membuat orang marah, kecewa, atau menganggapmu tidak tahu diri.
Di titik tertentu, kepatuhan yang dulu membuatmu terlihat sebagai anak yang mudah diatur bisa terasa melelahkan. Bukan karena disiplin itu sendiri menjadi masalah, tetapi karena kamu terbiasa menghubungkan perbedaan pendapat dengan kemungkinan munculnya masalah.
Karena itu, ketika kamu sudah dewasa dan sebenarnya bebas mengambil keputusan sendiri, sebagian dirimu masih bisa bertindak seperti sedang menunggu izin.
Kamu mungkin sudah tidak lagi berada di rumah sebagai anak yang harus mengikuti aturan orang tua. Namun rasa harus menurut itu belum tentu ikut hilang bersama bertambahnya usia.
Kenapa Menyuarakan Pendapat Masih Terasa Seperti Melanggar Aturan
Di ruang rapat, kamu mungkin sudah tahu apa yang ingin kamu katakan, tetapi kehadiran atasan membuatmu kembali menimbang setiap kata. Bukan karena kamu tidak memahami pekerjaannya, melainkan karena ada rasa takut bahwa pendapat yang berbeda akan dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Perasaan seperti itu bisa muncul bahkan ketika orang di depanmu sebenarnya tidak sedang marah. Nada bicara yang tegas, ekspresi serius, atau sekadar pertanyaan seperti “Kamu yakin?” bisa membuatmu langsung meragukan keputusan sendiri.
Kamu mungkin akhirnya memilih jawaban yang menurutmu paling aman. Kalau atasan mengatakan sesuatu, kamu mengangguk. Kalau ada keputusan yang sebenarnya tidak kamu setujui, kamu menahannya karena terasa lebih mudah daripada menghadapi kemungkinan konflik.
Pola yang sama bisa muncul dalam hubungan dengan orang yang lebih tua. Ketika mertua memberikan pendapat tentang hidupmu, misalnya, kamu mungkin merasa harus menerima meskipun sebenarnya ada bagian dalam dirimu yang tidak setuju.
Yang membuatnya rumit, kamu bisa saja memahami secara sadar bahwa kamu sudah dewasa dan berhak menentukan hidup sendiri. Tetapi rasa “aku boleh tidak setuju” belum tentu terasa sesederhana itu ketika situasinya benar-benar terjadi.
Pada pasangan yang dominan, pola ini juga bisa menjadi semakin samar. Kamu mungkin terbiasa mengikuti keputusan pasangan bukan karena selalu setuju, tetapi karena perbedaan pendapat terasa terlalu menguras tenaga.
Akhirnya, kamu bisa lebih sering bertanya, “Dia bakal marah nggak?” daripada “Aku sebenarnya setuju nggak?”
Ketika itu terus berulang, keputusan yang seharusnya sederhana bisa terasa seperti sesuatu yang membutuhkan persetujuan. Kamu bukan hanya mempertimbangkan benar atau salah, tetapi juga memperkirakan reaksi orang yang memiliki posisi lebih kuat darimu.
Pengalaman seperti ini bisa menjadi salah satu bagian yang terlihat ketika melihat ciri pola asuh otoriter secara lebih lengkap.
Yang menarik, kepatuhan semacam ini tidak selalu terlihat seperti ketakutan dari luar. Kamu bisa terlihat tenang, sopan, bahkan sangat kooperatif. Orang lain mungkin justru melihatmu sebagai seseorang yang mudah diajak bekerja sama.
Padahal di dalam dirimu, bisa saja ada proses panjang sebelum akhirnya kamu mengatakan “iya”. Kamu menimbang apakah menolak akan membuat suasana berubah, apakah pendapatmu akan dianggap tidak sopan, atau apakah orang lain akan kecewa kepadamu.
Karena itu, menyuarakan pendapat bukan sekadar soal keberanian berbicara. Ada pengalaman lama yang mungkin membuat perbedaan pendapat terasa seperti sesuatu yang harus dihindari.
Dan ketika sejak kecil kamu terbiasa bahwa kepatuhan membawa ketenangan, mengatakan “tidak” saat dewasa bisa terasa jauh lebih berat daripada yang terlihat dari luar.
Disiplin Bukan Masalahnya, Ada Ruang untuk Salah yang Hilang
Disiplin bukan masalahnya ketika kamu tumbuh dengan banyak aturan. Yang mungkin terasa berat sekarang adalah ketika sejak dulu hampir tidak ada ruang untuk melakukan kesalahan tanpa merasa bahwa kesalahan itu akan membawa konsekuensi yang besar.
Ketika salah menjawab, salah memilih, atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan selalu terasa seperti masalah, kamu bisa belajar menjadi sangat berhati-hati. Kamu tidak hanya belajar melakukan sesuatu dengan benar, tetapi juga belajar menghindari kemungkinan salah.
Kebiasaan itu bisa terlihat dalam kehidupanmu sekarang. Kamu mungkin terlalu lama mempertimbangkan keputusan sederhana karena takut memilih sesuatu yang keliru. Bahkan ketika tidak ada orang yang sedang mengawasimu, kamu tetap bisa merasakan tekanan untuk mengambil keputusan yang benar.
Ada perbedaan antara disiplin dan rasa takut melakukan kesalahan. Disiplin membantu kamu memahami aturan dan konsekuensi, sedangkan rasa takut bisa membuat setiap kesalahan terasa seperti sesuatu yang harus dihindari sedapat mungkin.
Ketika ruang untuk salah terasa sempit, kamu juga bisa terbiasa mencari kepastian dari orang lain. Kamu ingin tahu apakah pilihanmu sudah benar sebelum benar-benar berani mengambilnya sendiri.
Itulah sebabnya pengalaman masa kecil tidak selalu muncul kembali dalam bentuk ingatan yang jelas. Kadang yang terbawa sampai dewasa justru cara kamu bereaksi ketika berada dalam situasi tertentu.
Kamu bisa merasa perlu meminta izin untuk sesuatu yang sebenarnya merupakan keputusanmu sendiri. Kamu bisa merasa bersalah ketika tidak mengikuti keinginan orang lain. Kamu juga bisa merasa terlalu takut ketika seseorang yang memiliki otoritas menunjukkan ketidaksetujuan.
Semua itu tidak berarti bahwa setiap orang yang mengalami pola seperti ini akan tumbuh dengan cara yang sama. Pengalaman setiap orang tetap berbeda, termasuk bagaimana mereka memahami aturan, menghadapi kesalahan, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Namun ada satu hal yang mungkin baru terasa ketika kamu melihat kembali perjalananmu: menjadi anak yang disiplin dan penurut memang bisa terlihat sebagai keberhasilan dari luar, tetapi pengalaman di dalam diri anak tersebut bisa jauh lebih rumit.
Mungkin dulu kamu hanya belajar bahwa ada aturan yang harus diikuti.
Lalu tanpa sadar, kamu juga belajar bahwa aman berarti tidak membuat kesalahan, tidak terlalu banyak membantah, dan tidak membuat orang yang lebih berkuasa kecewa.
Ketika kamu sudah dewasa, aturan itu mungkin tidak lagi diucapkan oleh siapa pun. Tetapi sesekali, kamu masih bisa merasakannya bekerja dari dalam dirimu sendiri.
Dan mungkin di situlah letak bagian yang paling tenang untuk dilihat: disiplin bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Yang mungkin hilang dari pengalaman itu adalah ruang untuk salah, berbeda, dan mengambil keputusan sendiri tanpa selalu merasa bahwa kamu sedang melakukan sesuatu yang salah.