Kamu mungkin pernah mendengar seseorang bercerita tentang masa kecilnya, lalu ceritanya membuatmu terdiam. Ada kekerasan, kehilangan, penelantaran, atau kejadian yang jelas-jelas membuatmu berpikir, “Itu memang masa kecil yang berat.”
Lalu setelah mendengar cerita itu, kamu tiba-tiba memikirkan masa kecilmu sendiri.
Kamu tidak mengalami hal seperti itu. Kamu masih punya orang tua yang merawatmu, masih diberi makan, disekolahkan, bahkan mungkin sering dipeluk dan diberi tahu bahwa kamu disayangi. Kalau dibandingkan dengan cerita orang lain, masa kecilmu terasa baik-baik saja.
Tapi entah kenapa, ada bagian dari masa kecilmu yang masih terasa mengganjal.
Mungkin kamu ingat bagaimana kamu belajar menyimpan masalah sendiri karena merasa tidak ada gunanya bercerita. Mungkin kamu terbiasa membaca suasana rumah sebelum mengatakan sesuatu, atau merasa harus menjadi anak yang mudah diatur supaya semuanya tetap tenang.
Kamu bahkan mungkin tidak tahu persis apa yang sebenarnya salah.
Yang kamu tahu, ada beberapa bagian dari masa kecilmu yang ketika diingat kembali tidak terasa seperti kenangan yang hangat. Bukan tragedi. Bukan sesuatu yang menurutmu cukup besar untuk disebut buruk. Hanya saja, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya terasa baik-baik saja.
Dan karena kamu tidak punya cerita yang menurutmu cukup berat, kamu akhirnya belajar meragukan perasaanmu sendiri.
Kamu berkata dalam hati, “Mungkin aku terlalu sensitif.”
Atau, “Orang tuaku juga sudah melakukan yang terbaik.”
Bisa jadi keduanya memang benar. Dan justru karena itulah perasaan ini terasa sulit untuk diberi tempat.
Ukuran “Cukup Buruk” yang Sebenarnya Tidak Pernah Adil
Kamu mungkin selama ini memakai pengalaman orang lain sebagai ukuran untuk menentukan apakah masa kecilmu cukup buruk untuk membuatmu merasa terluka. Kalau ada orang yang mengalami sesuatu yang jauh lebih berat, kamu merasa tidak punya alasan untuk menganggap pengalamanmu sendiri berarti.
Perbandingan seperti itu terlihat masuk akal, tetapi sebenarnya tidak pernah benar-benar adil.
Masa kecil bukan kompetisi tentang siapa yang paling banyak mengalami kesulitan. Rasa sakit juga tidak bekerja seperti timbangan yang menentukan bahwa pengalamanmu baru sah dirasakan setelah melewati batas tertentu.
Kamu bisa melihat seseorang mengalami sesuatu yang jauh lebih berat dan tetap merasa bahwa ada pengalaman dalam hidupmu yang membekas. Dua hal itu tidak saling membatalkan.
Masalahnya, kamu mungkin terbiasa mencari bukti yang cukup besar sebelum mengizinkan dirimu mengakui sesuatu. Selama tidak ada kejadian yang menurutmu “parah”, kamu menganggap semua yang kamu rasakan sebagai hal kecil yang seharusnya sudah selesai sejak lama.
Padahal sesuatu bisa terasa kecil dari luar dan tetap memiliki pengaruh yang panjang di dalam dirimu.
Mungkin bukan satu kejadian besar yang kamu ingat. Bisa jadi justru kumpulan hal-hal kecil yang terjadi berulang kali: perasaanmu yang sering dianggap berlebihan, kebutuhanmu yang harus menunggu, kesalahan yang membuatmu takut mengecewakan, atau suasana rumah yang membuatmu belajar terlalu cepat untuk berhati-hati.
Tidak semua pengalaman seperti itu akan terlihat dramatis ketika diceritakan dalam satu kalimat. Tetapi ketika pengalaman tersebut menjadi bagian dari keseharianmu selama bertahun-tahun, cara kamu melihat dirimu sendiri dan hubungan dengan orang lain bisa ikut terbentuk di dalamnya.
Itulah sebabnya kamu tidak selalu bisa menemukan satu kejadian yang bisa ditunjuk sambil berkata, “Ini penyebabnya.”
Kadang yang tersisa bukan ingatan tentang satu peristiwa, melainkan pola perasaan yang sudah begitu lama kamu kenal sampai terasa normal.
Kamu mungkin baru menyadarinya ketika sudah dewasa. Misalnya ketika kamu merasa bersalah setiap kali mengecewakan seseorang, terlalu takut meminta sesuatu, atau merasa harus menjaga perasaan orang lain agar hubungan tetap baik.
Ketika itu terjadi, kamu mungkin kembali melihat masa kecilmu dan bertanya, “Memangnya dulu seburuk itu?”
Pertanyaan itu terdengar seperti usaha mencari kebenaran, tetapi diam-diam bisa berubah menjadi cara untuk membatalkan pengalamanmu sendiri.
Karena kamu tidak merasa punya hak untuk mengatakan bahwa masa kecilmu buruk, kamu akhirnya merasa hanya punya dua pilihan: menganggap semuanya baik-baik saja atau menganggap orang tuamu sebagai penyebab semua masalahmu.
Padahal pengalaman masa kecil tidak sesederhana dua pilihan itu.
Kamu bisa mengakui bahwa ada sesuatu yang kurang, tanpa harus mengubah seluruh cerita masa kecilmu menjadi cerita tentang penderitaan. Kamu juga bisa melihat bahwa ada bagian yang menyakitkan tanpa harus menyangkal bahwa ada bagian lain yang pernah membuatmu merasa dicintai.
Di situlah mungkin selama ini kebingunganmu berada.
Kamu tidak sedang berusaha membuktikan bahwa masa kecilmu buruk.
Kamu hanya sedang mencoba memahami kenapa ada bagian dari dirimu yang masih bereaksi terhadap sesuatu yang dulu bahkan tidak kamu anggap sebagai masalah.
Bisa Sayang, Bisa Juga Terluka Atau Dua-duanya Sekaligus
Kamu bisa menyayangi orang tuamu dan tetap mengakui bahwa ada bagian dari masa kecilmu yang melukaimu.
Kedua hal itu tidak harus dipertentangkan. Kamu tidak perlu memilih antara mengatakan, “Orang tuaku menyayangiku,” atau, “Ada hal dari cara aku dibesarkan yang masih membekas sampai sekarang.”
Mungkin orang tuamu memang berusaha memberimu kehidupan yang baik dengan kemampuan yang mereka punya. Mereka bekerja, memenuhi kebutuhanmu, mengantarmu sekolah, menjagamu ketika sakit, dan melakukan banyak hal yang sampai sekarang masih kamu ingat sebagai bentuk kasih sayang.
Tetapi kasih sayang tidak otomatis membuat semua pengalaman menjadi tidak menyakitkan.
Kamu mungkin pernah merasa tidak didengar ketika sedang takut. Kamu mungkin pernah merasa harus menekan kesedihan karena suasana rumah tidak memberi banyak ruang untuk menunjukkan perasaan. Atau mungkin kamu belajar bahwa menjadi anak yang baik berarti tidak banyak meminta, tidak banyak membantah, dan tidak membuat orang tua semakin lelah.
Tidak berarti orang tuamu tidak mencintaimu.
Dan tidak berarti perasaan yang terbentuk dalam dirimu karena pengalaman itu menjadi tidak nyata.
Kamu bisa melihat kembali masa kecilmu dengan lebih dari satu warna. Ada kenangan yang membuatmu tersenyum, ada orang tua yang pernah membuatmu merasa aman, tetapi ada juga pengalaman yang membuatmu belajar sesuatu tentang dirimu sendiri dengan cara yang tidak selalu mudah.
Mungkin kamu belajar bahwa kebutuhanmu sebaiknya disimpan sendiri. Mungkin kamu belajar bahwa konflik harus dihindari. Mungkin kamu belajar membaca ekspresi orang lain sebelum memikirkan apa yang sebenarnya kamu rasakan.
Hal-hal seperti itu tidak selalu muncul karena satu orang sengaja ingin membuatmu terluka.
Kadang sebuah pola terbentuk dari banyak keadaan yang saling bertemu. Orang tua juga punya keterbatasan, tekanan, pengalaman hidup, dan cara mereka sendiri dalam memahami bagaimana seharusnya membesarkan anak.
Memahami hal itu tidak berarti kamu harus menghapus apa yang kamu rasakan.
Kamu bisa mengerti alasan seseorang bertindak seperti itu tanpa harus berpura-pura bahwa dampaknya tidak pernah ada. Memahami konteks tidak sama dengan menyangkal pengalamanmu sendiri.
Karena itu, mungkin ada bagian dalam dirimu yang selama ini bingung ketika mencoba melihat masa kecilmu secara keseluruhan.
Kalau orang tuamu menyayangimu, kenapa kamu masih merasa ada sesuatu yang kurang?
Kalau banyak hal dalam keluargamu baik-baik saja, kenapa beberapa kenangan tertentu masih membuatmu tidak nyaman?
Kalau tidak ada kejadian besar yang bisa kamu tunjuk, kenapa kamu masih membawa perasaan tertentu sampai dewasa?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu membutuhkan jawaban yang membuat salah satu pihak menjadi penjahat dan pihak lain menjadi korban. Kadang yang kamu temukan justru lebih rumit dari itu.
Ada cinta di sana.
Ada juga luka.
Ada hal-hal yang dulu membuatmu merasa diperhatikan, sekaligus ada hal-hal yang membuatmu merasa sendirian. Ada niat baik yang mungkin memang nyata, sekaligus ada dampak yang mungkin baru kamu sadari bertahun-tahun kemudian.
Kamu tidak harus menghapus salah satunya agar yang lain menjadi benar.
Mungkin justru karena keduanya bisa hadir bersamaan, pengalaman masa kecilmu terasa begitu sulit untuk diceritakan. Kamu takut ketika mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, kalimat itu akan terdengar seperti tuduhan terhadap orang tua yang sebenarnya kamu sayangi.
Akhirnya kamu memilih diam.
Bukan karena tidak ada yang kamu rasakan, tetapi karena kamu tidak menemukan bahasa yang cukup aman untuk menjelaskannya.
Dan mungkin itu sebabnya kamu selama ini lebih nyaman mengatakan, “Masa kecilku biasa saja.”
Padahal di balik kalimat itu, masih ada bagian dari dirimu yang belum benar-benar mengerti kenapa beberapa hal terasa berbeda ketika kamu mengingatnya sekarang.
Tidak Semua yang Tidak Beres Butuh Nama yang Besar
Tidak semua pengalaman yang membekas dalam dirimu harus memiliki nama yang besar agar layak kamu akui.
Kamu mungkin tidak pernah merasa perlu menyebut masa kecilmu sebagai trauma. Bahkan mungkin kata itu terasa terlalu berat untuk digunakan ketika melihat keseluruhan hidupmu. Tetapi tidak memakai kata tersebut bukan berarti semua pengalamanmu otomatis tidak memiliki pengaruh.
Ada hal-hal yang memang tidak mudah kamu masukkan ke dalam satu kategori.
Mungkin kamu tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kamu juga tidak ingin mengubah kenangan baik yang kamu punya menjadi sesuatu yang buruk hanya karena sekarang kamu memahami beberapa bagian yang dulu tidak kamu mengerti.
Karena itu, kamu boleh membiarkan ceritamu tetap rumit.
Masa kecilmu bisa memiliki banyak hal yang baik sekaligus menyisakan pengalaman yang tidak nyaman. Orang tuamu bisa memiliki niat yang baik sekaligus memiliki keterbatasan yang berdampak pada caramu tumbuh. Kamu bisa bersyukur atas apa yang mereka berikan sekaligus masih membawa sesuatu dari hal-hal yang dulu tidak pernah dibicarakan.
Tidak ada kewajiban untuk membuat salah satunya hilang.
Mungkin yang membuatmu gelisah selama ini bukan karena kamu ingin menemukan siapa yang salah, tetapi karena ada bagian dari dirimu yang akhirnya mulai melihat kembali pengalaman lama dengan pemahaman yang berbeda.
Hal yang dulu kamu anggap normal mungkin sekarang terasa berbeda. Cara kamu bereaksi terhadap penolakan, konflik, kedekatan, atau kekecewaan mungkin membuatmu bertanya-tanya dari mana semua itu berasal.
Dan ketika pertanyaan itu mengarah ke masa kecil, kamu bisa merasa tidak nyaman karena jawabannya tidak sederhana.
Kamu tidak menemukan satu kejadian besar yang bisa menjelaskan semuanya. Yang kamu temukan mungkin hanya potongan-potongan kecil yang selama ini kamu simpan tanpa pernah menghubungkannya.
Mungkin kamu baru sadar bahwa sejak kecil kamu jarang meminta bantuan. Mungkin kamu terbiasa mengatakan “nggak apa-apa” bahkan ketika sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu. Atau mungkin kamu begitu terbiasa menyesuaikan diri sampai sulit membedakan mana yang benar-benar kamu inginkan dan mana yang kamu lakukan supaya keadaan tetap baik.
Kesadaran seperti itu tidak otomatis membuktikan bahwa masa kecilmu buruk.
Ia hanya menunjukkan bahwa ada pengalaman yang mungkin ikut membentuk dirimu.
Kamu tidak harus segera memberi nama pada pengalaman itu. Kamu juga tidak harus memutuskan bahwa seluruh masa kecilmu ternyata berbeda dari yang selama ini kamu percaya.
Kadang cukup dengan mengakui bahwa ada bagian yang terasa tidak beres.
Pengakuan itu tidak perlu menjadi tuduhan. Tidak perlu menjadi pengadilan terhadap masa lalu. Dan tidak perlu menghapus kasih sayang yang memang pernah ada.
Mungkin selama ini kamu berpikir bahwa kalau masa kecilmu tidak seburuk itu, berarti kamu seharusnya baik-baik saja.
Padahal hidup tidak selalu bekerja sesederhana itu.
Kamu bisa tumbuh dengan cukup kasih sayang dan tetap membawa pola tertentu yang baru terasa ketika dewasa. Kamu bisa memiliki kenangan masa kecil yang menyenangkan dan tetap merasa ada bagian yang ingin kamu pahami lebih dalam.
Mungkin itulah yang membuat pengalamanmu sulit disebut dengan satu kata.
Bukan karena kamu mengada-ada.
Bukan juga karena masa kecilmu harus dibuktikan sebagai sesuatu yang buruk.
Hanya ada sesuatu yang pernah terjadi, sesuatu yang kamu rasakan, dan sesuatu yang mungkin masih tinggal di dalam caramu menjalani hidup sampai sekarang.
Dan untuk mengakuinya, kamu tidak selalu membutuhkan nama yang besar.
Kadang cukup dengan berkata kepada dirimu sendiri bahwa ada bagian dari masa kecilmu yang memang tidak baik-baik saja, tanpa harus mengubah seluruh cerita menjadi hitam atau putih.
Mungkin di situlah cerita masa kecilmu bisa tetap menjadi cerita tentang cinta, sekaligus tentang luka yang pernah kamu bawa.