Kehilangan Masa Kecil yang Tidak Pernah Terasa Seperti Kehilangan

Kamu mungkin pernah melihat anak kecil berlari-larian di tempat umum, tertawa karena hal sederhana, lalu pulang dengan pakaian kotor tanpa terlihat terlalu memikirkan apa pun. Ada sesuatu dari pemandangan itu yang terasa asing, bukan karena kamu iri, tetapi karena kamu tidak benar-benar tahu seperti apa rasanya menjalani masa kecil dengan cara seperti itu.

Ketika orang lain bercerita tentang masa kecil mereka, ceritanya mungkin terdengar seperti kumpulan hal-hal biasa. Bermain sampai sore, merengek minta sesuatu, dimarahi karena berbuat nakal, menangis karena hal kecil, lalu besoknya lupa lagi.

Kamu bisa mendengarkan semua cerita itu tanpa merasa ada sesuatu yang hilang. Justru itu yang mungkin terasa aneh.

Kamu tidak punya satu kenangan besar yang bisa kamu tunjuk sambil berkata, “Di situlah masa kecilku berakhir.” Tidak ada satu hari tertentu ketika kamu tiba-tiba berhenti menjadi anak-anak dan mulai merasa harus mengerti terlalu banyak hal.

Tidak Ada Titik yang Bisa Kamu Tunjuk sebagai ‘Awal Hilangnya’

Tidak ada satu titik yang bisa kamu tunjuk sebagai awal ketika masa kecilmu mulai hilang. Semuanya mungkin terjadi begitu perlahan sampai kamu sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang sedang diambil darimu.

Kamu hanya mulai terbiasa mengetahui kapan harus diam, kapan harus mengalah, kapan suasana rumah sedang tidak baik, atau kapan seseorang membutuhkanmu untuk menjadi lebih dewasa daripada usiamu. Hal-hal seperti itu lama-lama tidak terasa sebagai beban karena sudah menjadi bagian dari keseharian.

Ketika kamu masih kecil, mungkin tidak ada yang mengatakan bahwa kamu sedang memikul sesuatu yang seharusnya bukan milikmu. Tidak ada tanda yang memberitahumu bahwa kamu sedang melewati masa yang seharusnya lebih banyak diisi dengan bermain, mencoba, salah, lalu mencoba lagi.

Yang kamu tahu hanya satu: ada hal-hal yang harus kamu lakukan.

Kamu belajar memperhatikan perasaan orang lain sebelum memahami perasaanmu sendiri. Kamu belajar membaca suasana sebelum berani meminta sesuatu. Kamu belajar menjadi anak yang tidak merepotkan karena keadaan di sekitarmu seolah membutuhkanmu untuk mengerti lebih banyak daripada yang seharusnya kamu mengerti.

Karena semuanya berlangsung sedikit demi sedikit, tidak ada alasan bagimu untuk merasa sedang kehilangan masa kecil.

Kamu tidak sedang melihat sesuatu pergi. Kamu sedang menjalani hidup seperti yang kamu tahu.

Itulah yang membuat kehilangan ini berbeda dari kehilangan pada umumnya. Ketika seseorang pergi, ada hari terakhir. Ketika sebuah rumah ditinggalkan, ada pintu yang terakhir kali ditutup. Ketika sesuatu yang kamu miliki hilang, biasanya ada ingatan tentang kapan benda itu masih berada di tanganmu.

Tetapi masa kecil yang terbentuk di bawah parentifikasi tidak selalu punya batas seperti itu. Peran itu bisa tumbuh bersamaan dengan dirimu sendiri, sampai kamu sulit membedakan mana bagian dari dirimu sebagai seorang anak dan mana bagian yang terbentuk karena kamu merasa harus bertanggung jawab.

Kamu tidak pernah merasa masa kecilmu diambil.

Kamu hanya tidak pernah sempat berhenti untuk menyadari bahwa kamu sedang melewatinya.

Kamu Tidak Bisa Merindukan Sesuatu yang Tidak Pernah Kamu Tahu Bentuknya

Rindu membutuhkan sesuatu yang pernah kamu kenal, sementara masa kecil yang lain mungkin bukan sesuatu yang pernah kamu kenal. Kamu bisa tahu bahwa anak-anak seharusnya punya waktu untuk bermain, membuat kesalahan, atau sekadar tidak memikirkan masalah orang dewasa, tetapi mengetahui hal itu tidak sama dengan pernah mengalaminya.

Itulah sebabnya kehilangan masa kecil karena parentifikasi bisa terasa begitu sulit diberi nama. Kamu mungkin tahu ada sesuatu yang berbeda dalam pengalamanmu, tetapi sulit mengatakan apa yang sebenarnya hilang ketika sejak awal kamu tidak punya pembanding.

Kamu tidak pernah punya versi dirimu yang hanya perlu menjadi anak.

Ketika anak lain bisa pulang dan mengeluh tentang hal kecil tanpa memikirkan keadaan di rumah, kamu mungkin sudah terbiasa mempertimbangkan hal-hal lain terlebih dahulu. Ketika mereka bisa meminta sesuatu tanpa memikirkan apakah itu akan menambah beban orang tua, kamu mungkin sudah belajar menahan keinginan bahkan sebelum ada yang memintamu untuk menahannya.

Semua itu bisa terasa normal karena kamu tidak pernah mengenal keadaan yang berbeda.

Kamu tumbuh dengan mengira bahwa menjadi peka adalah hal biasa. Mengetahui kapan harus mengalah terasa biasa. Merasa bertanggung jawab atas keadaan orang lain juga bisa terasa biasa karena tidak ada masa ketika kamu membandingkannya dengan kehidupan yang lebih ringan.

Bahkan ketika kamu sudah dewasa, kamu mungkin baru menyadari bahwa ada bagian dari masa kecil yang tidak pernah benar-benar kamu jalani. Bukan karena kamu mengingatnya sebagai masa yang buruk setiap hari, tetapi karena ketika melihat kembali, kamu menemukan terlalu banyak hal yang terasa seperti tanggung jawab dan terlalu sedikit hal yang terasa seperti menjadi anak-anak.

Kesadaran itu juga tidak selalu datang sebagai kesedihan.

Kadang ia muncul ketika kamu melihat seseorang membicarakan kenakalan masa kecilnya dengan tertawa, sementara kamu tidak punya cerita serupa. Kadang muncul ketika seseorang berkata bahwa dulu mereka bisa pulang bermain tanpa memikirkan apa pun, lalu kamu menyadari bahwa kalimat sesederhana itu tidak punya tempat yang jelas dalam ingatanmu.

Ada jarak yang tidak bisa kamu jelaskan.

Kamu bisa memahami cerita masa kecil orang lain. Kamu bahkan bisa tertawa ketika mereka menceritakannya. Tetapi memahami sebuah pengalaman dari cerita orang lain tetap berbeda dari memiliki pengalaman itu sendiri.

Mungkin itulah bagian yang paling sulit dari kehilangan seperti ini: kamu tidak selalu merasa sedang merindukan masa kecil.

Kamu hanya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak pernah kamu miliki cukup lama untuk bisa dirindukan.

Anak yang tidak sempat jadi anak-anak tidak selalu tumbuh dengan kesadaran bahwa dirinya sedang kehilangan sesuatu. Ia tumbuh dengan menjalankan peran yang ada, mengikuti keadaan yang ada, dan menerima bahwa begitulah hidup memang seharusnya berjalan.

Karena itu, ketika suatu hari kamu menoleh ke belakang, yang kamu temukan bukan satu kenangan tentang sesuatu yang direnggut.

Yang kamu temukan justru ruang yang terasa kosong, tetapi kamu tidak tahu harus mengisinya dengan kenangan yang mana.

Tidak ada foto dalam ingatan tentang hari ketika kamu berhenti menjadi anak. Tidak ada percakapan yang menandai bahwa sejak saat itu kamu harus lebih dewasa. Tidak ada satu peristiwa yang cukup jelas untuk dijadikan awal dari semuanya.

Hanya ada kamu yang tumbuh.

Dan mungkin baru setelah cukup jauh dari masa itu, kamu mulai melihat bahwa sebagian dari pertumbuhan tersebut terjadi karena kamu tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk tumbuh sebagai anak-anak.

Ini Bukan Cerita yang Butuh Ending

Tidak semua kehilangan datang dengan akhir yang bisa kamu kenali. Ada yang hanya menjadi bagian dari cara kamu tumbuh, lalu baru terasa ketika kamu sudah terlalu jauh untuk kembali melihatnya sebagai sesuatu yang pernah terjadi.

Kamu mungkin tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada masa kecilmu. Bukan karena masa itu berakhir pada satu hari tertentu, tetapi karena sejak awal kamu tidak tahu bahwa ada sesuatu yang sedang berakhir.

Masa kecilmu mungkin berjalan sambil kamu belajar memahami terlalu banyak hal. Kamu belajar membaca wajah orang lain, menjaga suasana tetap baik, menahan keinginan, atau merasa bertanggung jawab atas sesuatu yang sebenarnya terlalu besar untuk dipikul seorang anak.

Lalu waktu terus berjalan.

Kamu tumbuh, menjalani sekolah, bertemu orang lain, mulai memiliki kehidupanmu sendiri. Dari luar, semuanya mungkin terlihat seperti pertumbuhan yang biasa.

Hanya saja, ada bagian dari dirimu yang tidak punya banyak cerita untuk diceritakan ketika orang mulai membicarakan masa kecil.

Bukan karena kamu lupa.

Mungkin memang tidak banyak yang bisa diingat sebagai masa ketika kamu hanya perlu menjadi anak-anak.

Dan kehilangan seperti ini tidak selalu membutuhkan sebuah nama yang besar. Kadang kamu hanya menyadari bahwa ada pengalaman yang seharusnya pernah kamu miliki, tetapi tidak pernah menjadi bagian dari hidupmu dengan cara yang sama seperti orang lain.

Kamu tidak bisa mengingat kapan tepatnya itu hilang karena mungkin memang tidak pernah ada satu titik ketika semuanya benar-benar terasa hilang.

Yang ada hanyalah masa kecil yang berjalan dengan cara yang kamu kenal.

Kemudian kamu menjadi dewasa.

Dan baru dari jarak itu, beberapa hal yang dulu terasa biasa mulai terlihat berbeda.

Mungkin itu sebabnya cerita tentang parentifikasi tidak selalu terasa seperti cerita tentang sesuatu yang pernah dirampas. Kadang ia lebih mirip cerita tentang sesuatu yang tidak pernah sempat kamu sadari tidak kamu punya.

Tidak ada ending yang rapi untuk bagian seperti itu.

Tidak ada satu kalimat yang bisa mengembalikan tahun-tahun yang sudah lewat, atau satu kesimpulan yang bisa membuat seluruh pengalaman itu tiba-tiba memiliki bentuk yang jelas.

Cerita itu mungkin hanya berhenti di sini, pada kesadaran bahwa kamu pernah menjadi anak yang harus mengerti terlalu banyak sebelum sempat benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi anak-anak.

Dan mungkin masih ada bagian lain dari pengalaman itu yang baru terlihat ketika semuanya dilihat sebagai satu kesatuan.