Tidak Puas dengan Pekerjaan: Kenapa Rasa Itu Tidak Selalu Berarti Harus Resign

Ada yang datang kerja setiap hari, menyelesaikan semua tugas, dan tetap merasa jalan di tempat. Ada yang naik jabatan tapi rasa puasnya tidak pernah datang. Ada yang tahu pekerjaannya tidak buruk, tapi juga tidak pernah terasa benar-benar tepat.

Tiga rasa berbeda, dari satu akar yang sama.

Kamu mungkin mengenali salah satunya tanpa langsung tahu harus menyebutnya apa. Pekerjaanmu masih berjalan, penghasilan masih masuk, lingkungan kerja belum tentu bermasalah, bahkan dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam dirimu, ada rasa yang terus mengatakan bahwa sesuatu belum terasa pas.

Kenapa Ketidakpuasan Ini Tidak Selalu Ada Alasan yang Jelas

Tidak semua ketidakpuasan datang dengan alasan yang jelas. Ada kalanya kamu bisa menunjuk satu hal yang membuatmu tidak betah, tetapi ada juga saat ketika tidak ada satu pun bagian dari pekerjaanmu yang benar-benar bisa disalahkan.

Kamu mungkin punya pekerjaan yang cukup aman, rekan kerja yang bisa diajak bekerja sama, atasan yang tidak terlalu bermasalah, dan rutinitas yang sudah kamu kuasai. Ketika seseorang bertanya apa yang sebenarnya salah, kamu bahkan mungkin kesulitan menjawabnya. Bukan karena tidak ada yang kamu rasakan, melainkan karena rasa itu tidak punya satu penyebab yang mudah ditunjuk.

Di situlah tidak puas dengan pekerjaan bisa terasa membingungkan. Kamu tidak sedang menghadapi masalah besar yang setiap hari membuatmu ingin pergi, tetapi kamu juga tidak bisa mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Ada jarak kecil antara keadaan pekerjaanmu sekarang dan perasaanmu terhadap pekerjaan itu, dan jarak tersebut perlahan mulai terasa semakin nyata.

Kadang yang berubah bukan pekerjaannya, tetapi cara kamu memandang apa yang sedang kamu jalani. Pekerjaan yang dulu terasa cukup mungkin sekarang terasa terlalu biasa. Tanggung jawab yang dulu membuatmu bangga bisa berubah menjadi sesuatu yang sekadar harus diselesaikan. Bahkan pencapaian yang secara objektif bertambah belum tentu membuat pengalamanmu terhadap pekerjaan ikut terasa lebih berarti.

Rasa itu juga tidak selalu muncul karena kamu gagal mendapatkan sesuatu. Justru kamu bisa merasa seperti ini ketika banyak hal berjalan sesuai harapan. Kamu mendapatkan posisi yang dulu kamu inginkan, mampu menyelesaikan pekerjaan yang dulu terasa sulit, atau sudah berada cukup lama di tempat yang sama sampai semuanya terasa familiar.

Masalahnya, sesuatu yang dulu kamu anggap sebagai perkembangan bisa berhenti terasa seperti perkembangan ketika kamu sudah terbiasa dengannya. Batas tentang apa yang disebut cukup ikut bergeser, sering kali tanpa kamu sadari. Setelah satu pencapaian menjadi hal biasa, perhatianmu bisa berpindah kepada hal lain yang belum tercapai.

Karena itu, rasa tidak puas tidak selalu berarti kamu sedang berada di pekerjaan yang salah. Bisa saja pekerjaanmu memang tidak berubah banyak, sementara kebutuhanmu terhadap pekerjaan tersebut sudah berubah. Kamu masih menjalani aktivitas yang sama, tetapi makna yang kamu berikan terhadap aktivitas itu tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Hal ini membuat ketidakpuasan terasa sulit dibaca bahkan oleh dirimu sendiri. Kamu bisa merasa tidak berkembang tanpa benar-benar sedang gagal. Kamu bisa merasa pencapaianmu tidak cukup meskipun orang lain melihatnya sebagai sesuatu yang besar. Kamu juga bisa merasa ingin berada di tempat lain tanpa benar-benar punya alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa tempatmu sekarang buruk.

Ketika semuanya tidak cukup buruk untuk ditinggalkan, tetapi juga tidak cukup berarti untuk membuatmu merasa puas, rasa itu biasanya tidak datang sebagai keputusan. Ia lebih sering muncul sebagai pertanyaan yang berulang di kepalamu: kalau sebenarnya tidak ada yang salah, kenapa aku tetap merasa seperti ini?

Tiga Wajah Berbeda dari Rasa yang Sama

Kamu bisa merasa jalan di tempat meskipun setiap hari terlihat sibuk. Pekerjaan terus datang, tugas terus selesai, dan waktumu tetap penuh, tetapi setelah sekian lama kamu mulai bertanya apa sebenarnya yang berubah dalam dirimu selain bertambahnya daftar pekerjaan yang sudah kamu selesaikan.

Ada masa ketika kesibukan terasa seperti tanda bahwa kamu sedang bergerak. Namun setelah pekerjaan yang sama berulang cukup lama, kamu mungkin mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Kamu tidak sedang gagal, hanya saja aktivitas yang memenuhi harimu tidak lagi membuatmu merasa sedang menuju ke mana-mana.

Rasa stagnan seperti itu punya bentuk yang cukup sunyi. Kamu tetap datang, tetap bekerja, tetap memenuhi tanggung jawab, tetapi bagian dari dirimu mulai merasa bahwa pengalamanmu tidak banyak bertambah. Kalau perasaan ini terasa akrab, kamu mungkin sedang berhadapan dengan pengalaman merasa tidak berkembang di tempat kerja tanpa benar-benar menyadari kapan rasa itu mulai muncul.

Kalau di satu sisi kamu merasa diam di tempat, di sisi lain kamu justru sudah bergerak cukup jauh. Kamu mungkin sudah mendapat kenaikan jabatan, menyelesaikan target yang dulu terasa berat, atau mencapai sesuatu yang pernah kamu bayangkan sebagai bukti bahwa semua usahamu akhirnya terbayar.

Tetapi pencapaian yang dulu terasa besar bisa kehilangan daya setelah kamu terbiasa hidup di dalamnya. Yang tersisa bukan rasa gagal, melainkan keheranan karena sesuatu yang seharusnya membuatmu puas ternyata hanya memberi rasa lega sebentar sebelum pikiranmu kembali mencari sesuatu yang belum ada.

Kamu bisa melihat keberhasilanmu sebagai sesuatu yang nyata tanpa benar-benar merasakannya sebagai sesuatu yang cukup. Dari luar, perjalananmu mungkin terlihat baik-baik saja, sementara di dalam dirimu muncul pertanyaan kenapa setelah semua yang kamu dapatkan, rasa puas itu tetap tidak bertahan lama. Pengalaman seperti ini punya ruangnya sendiri dalam kenapa sulit puas meskipun sudah berhasil.

Lalu ada bentuk ketidakpuasan yang bahkan lebih sulit dijelaskan karena kamu tidak merasa benar-benar ingin pergi. Kamu tidak membenci pekerjaanmu, tidak punya satu masalah besar yang terus mengganggu, dan tidak bisa mengatakan bahwa tempat itu sepenuhnya salah untukmu.

Kamu hanya merasa berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak terasa meyakinkan. Tinggal tidak membuatmu bersemangat, tetapi pergi juga tidak terasa seperti jawaban yang jelas. Hari-hari berjalan dalam wilayah abu-abu, sampai kamu mulai mengenali pengalaman stuck di pekerjaan yang tidak salah, tapi tidak benar juga sebagai sesuatu yang mungkin selama ini sulit kamu beri nama.

Ketiga pengalaman itu terlihat berbeda ketika kamu menjalaninya. Yang satu membuatmu bertanya apakah kamu masih berkembang, yang lain membuatmu heran kenapa keberhasilan tidak terasa cukup, sementara yang terakhir membuatmu tidak yakin apakah sebenarnya ada sesuatu yang perlu ditinggalkan.

Namun ada sesuatu yang mempertemukan ketiganya: ukuran tentang apa yang terasa cukup tidak lagi berada di tempat yang sama. Kamu masih melakukan pekerjaan yang sama, tetapi hubunganmu dengan pekerjaan itu sudah berubah. Karena itu, ketidakpuasan bisa muncul bahkan ketika tidak ada satu kejadian besar yang bisa kamu tunjuk sebagai penyebabnya.

Bedanya dengan Kelelahan yang Sudah Kamu Kenal

Ketidakpuasan terhadap pekerjaan tidak sama dengan kelelahan, meskipun keduanya bisa muncul bersamaan. Kamu bisa merasa tidak berkembang atau tidak lagi menemukan kepuasan dalam pekerjaan tanpa berada dalam kondisi ketika tubuh dan pikiranmu benar-benar sudah kehabisan tenaga.

Kelelahan biasanya terasa pada kemampuanmu untuk terus menjalani sesuatu. Setelah hari kerja yang panjang, kamu mungkin hanya ingin berhenti sejenak, tidak memikirkan pekerjaan, dan membiarkan kepala kosong. Ketika energi kembali setelah beristirahat, pekerjaan yang sama belum tentu terasa seberat sebelumnya.

Ketidakpuasan punya rasa yang berbeda. Energi kamu masih ada, kamu masih mampu mengerjakan tugas, berdiskusi, mengejar target, bahkan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, tetapi ada bagian dalam dirimu yang tidak lagi merasa terhubung dengan apa yang sedang kamu lakukan.

Kamu bisa datang ke kantor dengan tenaga yang cukup dan tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Bukan karena semuanya terasa terlalu berat, melainkan karena semuanya terasa terlalu datar. Pekerjaan terus bergerak, tetapi pengalamanmu terhadap pekerjaan itu seperti tidak ikut bergerak.

Perbedaan ini menjadi lebih terasa ketika kamu sudah mencoba beristirahat tetapi pertanyaan yang sama tetap kembali. Setelah tidur cukup atau melewati akhir pekan tanpa memikirkan pekerjaan, kamu mungkin kembali bekerja dengan energi yang lebih baik, tetapi rasa bahwa kamu sedang berada di tempat yang tidak lagi membuatmu berkembang masih tetap ada.

Itulah kenapa ketidakpuasan yang berlangsung lama bisa terasa membingungkan. Kamu mungkin mengira masalahnya hanya karena terlalu banyak bekerja, lalu mengambil waktu untuk berhenti. Namun ketika tenaga sudah kembali sementara rasa tidak puasnya masih tinggal, pengalaman itu mulai menunjukkan bahwa yang kamu rasakan bukan sekadar kelelahan.

Di sisi lain, keduanya juga tidak selalu berdiri terpisah. Ketidakpuasan yang terus kamu bawa dari hari ke hari bisa membuat pekerjaan terasa semakin berat, terutama ketika kamu tidak lagi melihat alasan yang membuat semua energi itu terasa sepadan. Rasa terhenti yang awalnya hanya mengganggu pikiran perlahan bisa ikut menguras tenaga.

Karena itu, ada saat ketika kamu mungkin mengalami keduanya sekaligus. Kamu lelah karena terus bekerja, tetapi di balik kelelahan itu ada pertanyaan yang lebih lama tentang untuk apa semua aktivitas tersebut dijalani. Di titik seperti ini, batas antara rasa tidak puas dan kelelahan memang bisa menjadi semakin tipis, tanpa membuat keduanya berubah menjadi hal yang sama.

Pengalaman tentang kelelahan yang sudah menumpuk memiliki ruang pembahasannya sendiri ketika pekerjaan mulai mengambil terlalu banyak energi dari tubuh dan pikiranmu. Sementara itu, rasa tidak puas yang sedang kamu alami bisa tetap ada bahkan ketika kamu sebenarnya masih punya tenaga untuk menjalani hari berikutnya.

Bedanya dengan Merasa Tidak Pantas atas Apa yang Kamu Capai

Ketidakpuasan terhadap pekerjaan dan imposter syndrome bisa terasa mirip, tetapi titik yang dipertanyakan sebenarnya berbeda. Kamu bisa mengakui bahwa pencapaianmu memang nyata, tetapi tetap merasa pencapaian itu tidak lagi memberi rasa yang kamu cari.

Ketika kamu mengalami imposter syndrome, keraguannya lebih mengarah kepada dirimu sendiri. Kamu mungkin mempertanyakan apakah kamu benar-benar layak berada di posisi itu, apakah kemampuanmu memang cukup, atau apakah suatu saat orang lain akan menyadari bahwa kamu sebenarnya tidak sehebat yang mereka kira.

Ketidakpuasan kerja bergerak ke arah yang berbeda. Kamu tidak harus meragukan kemampuan atau hakmu atas pencapaian tersebut. Kamu bisa tahu bahwa kamu memang bekerja keras, memang mampu mencapai target, dan memang pantas mendapatkan posisi yang sekarang, tetapi semua itu tetap tidak membuat pekerjaanmu terasa lebih berarti.

Perbedaan kecil ini bisa mengubah cara kamu mengalami keberhasilan. Ketika pencapaian terasa seperti sesuatu yang tidak pantas kamu miliki, perhatianmu tertuju pada dirimu sendiri dan keraguan tentang kemampuanmu. Ketika pencapaian terasa nyata tetapi tidak lagi memuaskan, yang terasa kosong justru hubunganmu dengan apa yang sedang kamu jalani.

Kamu bahkan bisa mengalami keduanya pada waktu yang berbeda. Setelah mendapatkan sesuatu yang besar, kamu mungkin sempat bertanya apakah kamu benar-benar layak mendapatkannya. Setelah keraguan itu mereda dan kamu mulai menerima bahwa pencapaian tersebut memang milikmu, rasa tidak puas ternyata masih belum hilang.

Di situlah dua pengalaman yang sering dianggap sama mulai terlihat berbeda. Yang satu membuatmu sulit mempercayai pencapaian yang sudah kamu dapatkan, sementara yang lain membuatmu sulit menemukan rasa cukup setelah pencapaian itu kamu akui sebagai sesuatu yang nyata.

Mungkin itu juga yang membuat ketidakpuasan kerja tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan melihat seberapa jauh kamu sudah berjalan. Kamu bisa melihat perjalananmu sendiri dan mengakui bahwa banyak hal telah berubah, tetapi ukuran tentang apa yang membuat semua itu terasa berarti ternyata ikut bergeser.

Ini bukan sinyal bahwa kamu harus resign secepatnya, atau harus bersyukur dan diam saja. Ini cuma pengakuan bahwa ketidakpuasan punya bentuknya sendiri dan bentuk itu tidak selalu butuh keputusan besar untuk diakui.