Nggak ada yang salah di sini. Gajinya oke, orang-orang di sekitarmu juga baik, dan pekerjaanmu sebenarnya nggak terlalu berat. Kamu bahkan nggak punya cerita buruk yang bisa diceritakan ke orang lain tentang tempat kerja ini.
Tapi entah kenapa, pertanyaan itu tetap muncul. Apa cuma ini?
Kamu mungkin sudah beberapa kali membayangkan pekerjaan lain, lalu membatalkannya sendiri. Bukan karena pekerjaan sekarang benar-benar menyenangkan, tapi karena kamu juga nggak tahu apa yang sebenarnya ingin kamu tinggalkan. Semuanya cukup baik untuk dipertahankan, hanya saja nggak cukup terasa benar untuk membuatmu yakin ingin terus berada di sana.
Perasaan seperti ini bisa lebih membingungkan daripada sekadar merasa nggak betah. Kalau pekerjaanmu jelas-jelas buruk, mungkin kamu tahu kenapa kamu ingin pergi. Tapi ketika semuanya terlihat baik-baik saja, rasa nggak puas itu malah seperti sesuatu yang sulit kamu jelaskan bahkan kepada dirimu sendiri.
Kenapa Sulit Pergi dari Sesuatu yang Tidak Buruk
Gaji yang cukup, lingkungan yang aman, dan pekerjaan yang masih bisa kamu jalani membuat keputusan untuk pergi terasa seperti keputusan yang sulit dibenarkan. Nggak ada satu masalah besar yang bisa kamu tunjuk sambil berkata, “Ini alasannya aku harus pergi.”
Di sinilah pengalaman stuck di pekerjaan yang tidak salah tapi tidak benar juga terasa berbeda. Kamu nggak sedang berhadapan dengan tempat kerja yang setiap hari membuatmu tertekan, tapi kamu juga nggak merasa sedang berada di tempat yang benar-benar ingin kamu tuju. Rasanya seperti berdiri di sebuah ruangan yang nggak membuatmu ingin keluar, tapi juga nggak membuatmu ingin menetap.
Kamu mungkin membandingkannya dengan orang lain dan merasa seharusnya kamu bersyukur. Ada orang yang pekerjaannya jauh lebih berat, gajinya lebih kecil, atau lingkungannya lebih buruk. Sementara kamu hanya merasa… kurang puas, tanpa bisa menunjukkan dengan tepat apa yang kurang.
Perbandingan seperti itu membuat perasaanmu semakin sulit dibaca. Karena kalau nggak ada sesuatu yang benar-benar salah, rasa nggak nyaman itu mudah dianggap sebagai bentuk kurang bersyukur, terlalu banyak berpikir, atau sekadar bosan.
Padahal, pekerjaan nggak harus menjadi buruk dulu supaya kamu bisa merasa nggak cocok dengannya. Ada jarak yang cukup lebar antara “aku benci pekerjaan ini” dan “aku ingin terus melakukan pekerjaan ini”, dan kamu bisa saja berada tepat di tengah-tengahnya.
Kamu mungkin masih bisa menjalani hari kerja seperti biasa. Datang, menyelesaikan tugas, menerima gaji, pulang, lalu mengulanginya lagi besok. Dari luar, semuanya terlihat normal karena memang nggak ada sesuatu yang cukup besar untuk disebut masalah.
Yang terasa berbeda justru ada di dalam dirimu sendiri. Setiap kali membayangkan beberapa tahun ke depan, kamu mungkin nggak merasa takut dengan pekerjaan ini, tapi juga nggak merasa antusias membayangkan masih mengerjakannya.
Kondisi seperti ini membuat keputusan untuk resign terasa jauh lebih rumit daripada yang terlihat. Kamu bukan sedang melarikan diri dari sesuatu yang menyakitkan, melainkan sedang mempertanyakan sesuatu yang selama ini masih bisa kamu jalani.
Kamu bahkan mungkin sudah punya alasan untuk tetap tinggal. Gaji masih cukup, pekerjaan sudah kamu pahami, ritmenya sudah familiar, dan kamu tahu apa yang akan terjadi hampir setiap hari. Yang belum kamu punya adalah alasan yang sama kuatnya untuk mengatakan bahwa kamu memang ingin berada di sana.
Karena itu, pertanyaan yang muncul bukan cuma “kenapa aku nggak resign?” Ada pertanyaan lain yang diam-diam lebih mengganggu: “Kalau aku nggak benar-benar ingin pergi, kenapa aku juga nggak merasa ingin tetap di sini?”
Jawabannya nggak selalu berupa masalah besar. Kadang yang membuatmu stuck justru karena pekerjaan itu sudah cukup nyaman untuk dipertahankan, tapi belum cukup berarti untuk membuatmu merasa benar-benar memilihnya.
Beda Antara Bertahan Karena Nyaman dan Bertahan Karena Takut
Nyaman itu satu hal. Takut itu hal lain. Keduanya bisa membuatmu tetap berada di pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun, meskipun alasan yang membuatmu bertahan sebenarnya sangat berbeda.
Kamu bisa saja memang cocok dengan pekerjaanmu sekarang. Ritmenya sudah kamu kenal, tanggung jawabnya masih bisa kamu jalani, dan kamu nggak perlu terus-menerus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru. Ada rasa tenang ketika kamu tahu apa yang akan kamu hadapi setiap pagi, siapa yang akan kamu temui, dan seperti apa kira-kira hari kerjamu berjalan.
Bertahan dalam kondisi seperti itu nggak selalu berarti kamu sedang takut berubah. Bisa jadi memang ada bagian dari pekerjaan tersebut yang masih terasa pas untukmu. Kamu nggak merasa harus mencari sesuatu yang lebih besar hanya karena pekerjaanmu sekarang terlihat biasa saja dibandingkan pilihan lain.
Tapi rasa nyaman juga bisa bercampur dengan sesuatu yang berbeda. Kamu mungkin sudah terlalu mengenal pekerjaan ini sampai membayangkan meninggalkannya terasa lebih melelahkan daripada membayangkan tetap menjalaninya.
Ketakutan terhadap perubahan sering kali nggak muncul dalam bentuk panik. Kadang bentuknya jauh lebih sederhana: kamu nggak tahu apakah pekerjaan berikutnya akan lebih baik, apakah kamu bisa mendapatkan penghasilan yang sama, atau apakah keputusan untuk pergi nantinya justru membuatmu menyesal.
Kamu lalu mulai mempertimbangkan semua kemungkinan buruk itu sebelum sesuatu benar-benar terjadi. Pekerjaan yang sekarang mungkin nggak membuatmu bahagia, tetapi setidaknya kamu tahu persis apa yang sedang kamu hadapi. Ketidakpastian di luar sana terasa lebih menakutkan daripada ketidakpuasan yang sudah kamu kenal.
Di titik itu, bertahan di pekerjaan yang biasa saja bisa terasa seperti pilihan yang paling masuk akal. Bukan karena kamu benar-benar menginginkannya, tetapi karena pilihan lain belum memberikan rasa aman yang sama.
Perbedaan antara nyaman dan takut memang nggak selalu kelihatan jelas dari luar. Bahkan dari dalam dirimu sendiri, keduanya bisa terasa hampir sama karena hasil akhirnya tetap satu: kamu masih berada di pekerjaan yang sama.
Kamu tetap datang setiap hari, tetap mengerjakan tugas, tetap menerima gaji, dan tetap menjalani rutinitas yang sudah terbentuk. Yang berubah hanya alasan di balik keputusan untuk terus berada di sana.
Ada kalanya kamu tinggal karena memang belum menemukan alasan untuk pergi. Ada juga saat ketika kamu sebenarnya sudah lama mempertanyakan pekerjaan itu, tetapi ketidakpastian membuatmu terus menunda kemungkinan untuk berubah.
Masalahnya, dua pengalaman ini bisa saling tumpang tindih. Kamu bisa merasa nyaman sekaligus takut, bersyukur sekaligus bosan, aman sekaligus bertanya-tanya apakah hidup kerjamu akan seperti ini terus.
Itulah kenapa perasaan stuck nggak selalu menghasilkan jawaban yang jelas. Kamu nggak sedang berdiri di antara pilihan yang sederhana seperti “pekerjaan buruk” dan “pekerjaan baik”. Kamu berada di tengah sesuatu yang masih bisa diterima, tetapi semakin sulit kamu rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar kamu pilih.
Dan semakin lama berada di tengah itu, pertanyaan tentang pekerjaanmu bisa berubah dari “apakah aku suka?” menjadi sesuatu yang lebih samar: “sebenarnya aku bertahan karena aku mau, atau karena aku sudah terlalu takut untuk membayangkan yang lain?”
Zona Abu-Abu yang Tidak Punya Alasan Jelas untuk Pergi atau Tinggal
Kelelahan dari zona abu-abu ini sering datang tanpa suara. Kamu nggak sampai merasa hancur setiap pagi, nggak terus-menerus membawa pekerjaan ke rumah, dan mungkin juga nggak merasa benar-benar membenci apa yang kamu lakukan.
Tapi ada sesuatu yang pelan-pelan mengurasmu: harus terus hidup dengan pertanyaan yang nggak pernah benar-benar selesai. Setiap kali pekerjaan terasa biasa saja, kamu bertanya apakah memang begini seharusnya rasanya bekerja. Ketika ada hal yang membuatmu nggak nyaman, kamu bertanya apakah itu cukup penting untuk dijadikan alasan pergi.
Kamu akhirnya terus menimbang sesuatu yang bahkan nggak punya ukuran yang jelas. Hari ini kamu merasa pekerjaanmu masih bisa dijalani, lalu besok muncul lagi pikiran bahwa mungkin kamu sudah terlalu lama berada di tempat yang sama.
Yang melelahkan bukan selalu pekerjaannya. Kadang yang lebih melelahkan adalah terus mencoba memahami perasaanmu sendiri terhadap pekerjaan tersebut.
Kamu nggak punya kejadian besar yang bisa dijadikan titik balik. Nggak ada konflik yang membuatmu berkata bahwa semuanya sudah selesai, nggak ada kegagalan besar yang memaksamu mencari tempat lain, dan nggak ada alasan yang terdengar cukup kuat ketika kamu mencoba menjelaskan kenapa kamu ingin pergi.
Karena itu, takut resign tanpa alasan jelas bisa terasa seperti masalah yang hanya ada di kepalamu sendiri. Kamu mungkin membayangkan bagaimana menjawab pertanyaan orang lain ketika mereka bertanya kenapa kamu keluar, lalu merasa bingung karena jawabanmu mungkin hanya, “Aku sudah nggak yakin.”
Jawaban seperti itu terdengar terlalu kecil jika dibandingkan dengan keputusan sebesar resign. Apalagi ketika orang-orang di sekitarmu melihat pekerjaanmu sebagai sesuatu yang cukup baik. Mereka mungkin nggak melihat alasan untuk pergi karena memang nggak ada sesuatu yang terlihat rusak.
Kamu pun bisa ikut meragukan dirimu sendiri. Mungkin kamu berpikir bahwa rasa bosan ini cuma sementara, bahwa semua pekerjaan memang pada akhirnya terasa seperti rutinitas, atau bahwa kamu terlalu berharap pekerjaan bisa memberi sesuatu yang sebenarnya nggak perlu diberikannya.
Lalu waktu berjalan tanpa keputusan apa pun. Kamu tetap bekerja, tetap menerima gaji, tetap menjalani hari seperti biasa, sementara pertanyaan yang sama muncul lagi setiap beberapa waktu.
Yang membuat zona ini berbeda dari rasa nggak betah yang jelas adalah ketiadaan titik akhir. Kamu nggak sedang menunggu sesuatu yang buruk berhenti, tapi juga nggak sedang menunggu sesuatu yang membuatmu yakin ingin terus tinggal.
Akibatnya, hidup kerja terasa seperti berada dalam posisi sementara yang nggak pernah benar-benar selesai. Kamu sudah cukup lama di sana untuk merasa terikat, tetapi belum cukup yakin untuk merasa bahwa tempat itu memang bagian dari masa depanmu.
Mungkin itu juga yang membuat perasaan ini sulit diberi nama. Kamu nggak bisa dengan mudah menyebutnya burnout, karena kamu masih mampu menjalani pekerjaan. Kamu juga nggak bisa menyebutnya sebagai pekerjaan buruk, karena terlalu banyak hal yang sebenarnya masih baik-baik saja.
Tapi bukan berarti karena nggak ada masalah besar, pengalaman itu menjadi nggak nyata. Ada jenis ketidakpuasan yang justru tumbuh dari hal-hal yang terlalu kecil untuk dipermasalahkan satu per satu, tetapi terlalu sering muncul untuk benar-benar diabaikan.
Kalau kamu ingin melihat perasaan ini dalam gambaran yang lebih luas, zona abu-abu ini sebenarnya hanya salah satu bentuk dari ketidakpuasan kerja yang bisa muncul ketika pekerjaanmu masih terlihat baik-baik saja, tetapi hubunganmu dengannya sudah mulai berubah.
Nggak punya alasan jelas untuk pergi bukan berarti kamu harus diam di situ selamanya. Tapi juga bukan tanda kamu harus buru-buru cari alasan buat pergi.
Ini cuma pengakuan bahwa zona ini nyata, dan cukup melelahkan dengan caranya sendiri.