Ada satu momen yang mungkin baru terasa aneh setelah semuanya lewat. Kamu selesai nonton film yang biasanya bikin sesak, lalu layar berubah hitam, tapi nggak ada apa-apa yang tertinggal. Nggak sedih. Nggak lega. Rasanya cuma selesai.
Atau seseorang cerita tentang sesuatu yang menyedihkan, dan kamu tahu itu seharusnya bikin hati ikut berat. Dulu mungkin kamu langsung kepikiran terus seharian. Sekarang kamu cuma mengangguk, lalu lanjut melakukan hal lain seolah nggak terjadi apa-apa.
Yang bikin bingung bukan karena emosinya terlalu besar.
Justru karena emosinya seperti nggak muncul sama sekali.
Awalnya kamu mungkin mengira ini cuma lagi capek. Lagi banyak pikiran. Lagi sibuk. Tapi setelah beberapa minggu, bahkan beberapa bulan, kamu mulai sadar ada sesuatu yang berubah. Bukan hidupmu yang berubah paling drastis, melainkan cara kamu merasakan hidup itu sendiri.
Dulu kamu gampang tertawa karena hal kecil. Gampang kesal kalau ada sesuatu yang nggak adil. Gampang terharu waktu lihat orang lain bahagia.
Sekarang semuanya terasa datar.
Bukan berarti hidupmu baik-baik saja. Tapi juga bukan berarti hidupmu sedang hancur. Rasanya seperti apa pun yang terjadi sudah nggak benar-benar menyentuhmu.
Di titik itu, banyak orang mulai bertanya dalam hati, kenapa tiba-tiba nggak ngerasa apa-apa?
Pertanyaan itu sering muncul bukan karena ada satu kejadian besar, tetapi karena perubahan kecil yang pelan-pelan menumpuk sampai akhirnya terasa jelas. Kamu mulai sadar bahwa sudah lama sekali kamu nggak benar-benar merasakan sesuatu dengan utuh.
Kosong Itu Beda Sama Sedih, Dan Itu Yang Bikin Bingung
Sedih masih terasa seperti emosi. Kosong justru terasa seperti tidak ada emosi yang bisa dikenali.
Kalau sedang sedih, biasanya kamu masih bisa bilang, “Aku lagi sedih.” Mungkin kamu menangis. Mungkin dadamu terasa sesak. Walaupun nggak nyaman, setidaknya kamu tahu apa yang sedang terjadi.
Kalau kosong, jawabannya justru sering berhenti di, “Aku nggak tahu.”
Ada sesuatu yang hilang, tapi kamu sendiri nggak bisa menunjukkan apa tepatnya.
Itulah kenapa banyak orang merasa pengalaman ini jauh lebih membingungkan dibanding sekadar merasa sedih. Mereka terus mencoba mencari emosi yang seharusnya muncul. Mereka menunggu rasa marah datang. Menunggu air mata keluar. Menunggu hati terasa hangat lagi.
Tapi yang muncul tetap sama.
Sunyi.
Kadang orang lain melihatmu baik-baik saja karena kamu tetap bekerja, tetap ngobrol, tetap menjalani rutinitas. Dari luar, hampir tidak ada yang terlihat berbeda.
Padahal dari dalam, semuanya terasa seperti dilakukan secara otomatis.
Kamu tetap tertawa kalau ada yang bercanda, tapi setelah itu rasanya kembali datar. Kamu tetap datang ke acara keluarga, tapi pulang tanpa benar-benar merasa senang. Kamu tetap mendengar kabar baik atau kabar buruk, tetapi keduanya terasa memiliki berat yang hampir sama.
Di sinilah banyak orang mulai merasa takut.
Bukan karena mereka sedih.
Melainkan karena mereka mulai bertanya apakah mereka sudah kehilangan kemampuan untuk merasa.
Ketakutan itu sering muncul diam-diam. Kamu mungkin mulai mengingat dirimu yang dulu. Dulu rasanya lebih mudah tersentuh. Lebih mudah peduli. Lebih mudah menikmati hal-hal kecil yang sekarang terasa biasa saja.
Lalu tanpa sadar muncul pikiran yang sulit dijelaskan.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada kebingungan yang cukup dalam. Karena yang berubah bukan cuma suasana hati hari itu. Yang berubah terasa seperti hubunganmu dengan seluruh emosi yang dulu begitu akrab.
Yang membuat keadaan ini semakin membingungkan adalah kenyataan bahwa kamu mungkin masih bisa berpikir dengan jernih. Kamu tahu sebuah kejadian itu menyedihkan. Kamu tahu seseorang sedang menderita. Kamu tahu sesuatu seharusnya membuatmu bahagia.
Secara logika, semuanya masih masuk akal.
Yang hilang adalah perasaan yang biasanya ikut menyertai logika itu.
Banyak orang akhirnya mencoba memaksa dirinya untuk kembali merasakan sesuatu. Mereka mencari film yang lebih sedih, lagu yang dulu selalu bikin menangis, atau membuka lagi foto-foto lama dengan harapan emosinya muncul.
Namun sering kali hasilnya tetap sama.
Bukan karena mereka sengaja menahan perasaan.
Melainkan karena memang tidak ada rasa yang datang seperti dulu.
Di titik seperti ini, sebagian orang mulai khawatir bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Mereka membandingkan diri dengan versi lama yang terasa jauh lebih hidup, lalu bertanya-tanya kapan perubahan itu sebenarnya mulai terjadi.
Padahal yang paling sulit dari pengalaman ini justru bukan rasa sakitnya.
Melainkan karena hampir tidak ada rasa sakit yang bisa dikenali sama sekali.
Kenapa Rasanya Kayak Jadi Orang Asing Buat Diri Sendiri
“Kamu kenapa?”
Kadang pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi justru di situlah kamu mendadak bingung harus menjawab apa.
Bukan karena kamu sengaja menyembunyikan sesuatu.
Melainkan karena kamu sendiri benar-benar nggak tahu apa yang sedang kamu rasakan.
Kalau sedang marah, orang biasanya bisa bilang sedang marah. Kalau sedang sedih, biasanya masih bisa menjelaskan penyebabnya. Tapi ketika semuanya terasa kosong, bahkan mencari satu kata untuk menggambarkannya pun terasa sulit.
Akhirnya jawaban yang keluar sering cuma, “Nggak apa-apa.”
Padahal bukan berarti memang nggak ada apa-apa.
Hanya saja kamu nggak bisa menemukan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam dirimu sendiri.
Perasaan seperti ini pelan-pelan membuatmu merasa asing dengan diri sendiri. Kamu masih memakai tubuh yang sama, menjalani rutinitas yang sama, berbicara dengan orang yang sama, tetapi ada jarak yang sulit dijelaskan antara dirimu sekarang dan dirimu yang dulu.
Kadang kamu melihat foto lama lalu teringat bagaimana dulu kamu bisa tertawa lepas hanya karena hal sepele. Kamu membaca chat lama dan sadar cara kamu menanggapi sesuatu dulu terasa jauh lebih hidup.
Lalu muncul pertanyaan yang cukup mengganggu.
“Ke mana perginya orang yang dulu?”
Pertanyaan itu bukan tentang penampilan atau usia. Yang terasa berubah adalah sesuatu yang lebih dalam, yaitu cara kamu mengalami hidup sehari-hari.
Bahkan ketika ada kejadian yang seharusnya berkesan, rasanya seperti semuanya lewat begitu saja. Hari ulang tahun. Kabar baik. Liburan. Pertemuan dengan teman lama.
Kamu tahu momen itu penting.
Tetapi setelah selesai, rasanya tidak ada yang benar-benar tertinggal.
Karena itulah banyak orang mulai mengira dirinya hanya sedang lelah. Memang kelelahan bisa membuat emosi terasa tumpul untuk sementara.
Namun pengalaman ini sering terasa berbeda.
Istirahat beberapa hari belum tentu mengubah apa pun. Libur kerja juga belum tentu membuat semuanya kembali seperti dulu. Yang terasa hilang bukan sekadar energi, tetapi kemampuan untuk benar-benar terhubung dengan apa yang sedang dijalani.
Di saat yang sama, orang-orang di sekitarmu mungkin tidak menyadari perubahan itu.
Kamu masih datang bekerja. Masih menjawab pesan. Masih bercanda kalau diperlukan. Dari luar, semuanya tampak berjalan normal.
Justru karena itulah pengalaman ini sering terasa semakin sepi.
Tidak banyak yang bisa melihat sesuatu yang bahkan kamu sendiri sulit menjelaskannya.
Ada orang yang mulai menyalahkan dirinya sendiri. Mereka berpikir mungkin dirinya sudah berubah menjadi orang yang dingin. Mungkin sudah tidak peduli lagi. Mungkin memang beginilah dirinya sekarang.
Padahal yang paling terasa justru kebingungan itu sendiri.
Kamu ingin tahu kenapa semuanya berubah, tetapi belum menemukan jawabannya.
Dan selama belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, rasa asing terhadap diri sendiri itu sering terus bertahan. Seolah-olah ada bagian dari dirimu yang pelan-pelan menjauh, sementara kamu hanya bisa menyadarinya tanpa benar-benar tahu kapan semua itu dimulai.
Mungkin nanti akan ada penjelasan kenapa keadaan seperti ini bisa muncul, dan kenapa kadang pengalaman itu bukan muncul begitu saja, melainkan berkembang perlahan sebagai sesuatu yang awalnya mencoba melindungi diri. Namun sebelum sampai ke sana, yang paling nyata saat ini adalah satu hal: kamu sedang berusaha memahami sesuatu yang bahkan sulit diberi nama.
Kalau Sekarang Cuma Bisa Diam, Itu Bukan Berarti Ada Yang Rusak
Kalau sekarang yang paling sering kamu rasakan adalah diam, itu belum tentu berarti kamu sudah kehilangan dirimu.
Mungkin yang berubah hanyalah kenyataan bahwa belakangan ini kamu tidak lagi bisa mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirimu sendiri.
Banyak orang mengira mereka harus selalu bisa memberi nama pada setiap emosi yang muncul. Harus tahu kapan sedang sedih, kapan sedang marah, kapan sedang kecewa.
Padahal ada masa ketika semua itu terasa seperti menghilang sekaligus.
Bukan karena kamu memilih untuk berhenti merasa.
Bukan juga karena kamu sengaja menjauh dari perasaanmu sendiri.
Yang terjadi hanyalah, setiap kali mencoba melihat ke dalam, kamu tidak menemukan sesuatu yang bisa dijelaskan.
Itulah kenapa pengalaman ini sering terasa begitu sepi.
Kalau sedang sedih, orang lain biasanya bisa ikut menghibur. Kalau sedang marah, setidaknya ada sesuatu yang bisa dibicarakan. Tapi ketika kamu sendiri tidak tahu apa yang sedang dirasakan, rasanya sulit meminta orang lain untuk memahami.
Akhirnya banyak percakapan berhenti sebelum benar-benar dimulai.
Saat ditanya kabar, kamu menjawab singkat.
Saat ditanya sedang memikirkan apa, kamu hanya menggeleng.
Bukan karena tidak ingin bercerita.
Melainkan karena memang tidak ada cerita yang bisa disusun dengan jelas.
Sebagian orang juga mulai bertanya-tanya, kenapa susah nangis atau ngerasa sedih lagi, padahal dulu air mata terasa jauh lebih mudah keluar.
Pertanyaan itu sering muncul bukan karena ingin menangis.
Tetapi karena tangisan dulu terasa seperti bukti bahwa hati masih merespons sesuatu. Ketika bahkan air mata pun tidak lagi datang, yang muncul justru rasa bingung terhadap diri sendiri.
Ada hari-hari ketika semuanya berjalan seperti biasa.
Kamu bangun pagi, bekerja, makan, berbicara dengan orang lain, lalu tidur lagi. Dari luar, hidup tetap bergerak. Dari dalam, rasanya seperti hanya mengikuti arus tanpa benar-benar hadir di dalamnya.
Pengalaman seperti ini sering membuat seseorang merasa sendirian, padahal kenyataannya tidak sedikit orang pernah melewati fase yang serupa.
Mereka juga pernah bertanya dalam hati kenapa hidup terasa begitu datar.
Mereka juga pernah bingung karena tidak menemukan jawaban saat ditanya apa yang sedang dirasakan.
Dan mereka juga pernah merasa aneh karena menyadari bahwa dirinya sekarang berbeda dengan dirinya yang dulu.
Artikel ini memang tidak mencoba menjelaskan mengapa semua itu bisa terjadi.
Artikel ini juga tidak sedang mengajakmu mencari cara supaya semua perasaan itu kembali.
Kadang sebelum memahami penyebabnya, yang lebih dibutuhkan justru mengakui bahwa pengalaman itu memang ada.
Dan kalau belakangan ini kamu merasa hidup hanya berjalan tanpa benar-benar menyentuhmu, mungkin yang sedang kamu alami bukan sesuatu yang harus langsung diberi jawaban.
Mungkin, untuk saat ini, cukup diakui bahwa memang ada saat ketika seseorang berhenti ngerasa apa-apa, padahal dulu tidak seperti itu.