Mati Rasa Sebagai Cara Bertahan Yang Kebablasan

Kalau sebelumnya kamu merasa seperti berhenti ngerasain apa-apa, mungkin sekarang muncul pertanyaan yang lebih sulit: sebenarnya kenapa ini bisa terjadi? Perasaan kosong itu sering kelihatan datang begitu saja, padahal biasanya ada sesuatu yang sudah berlangsung cukup lama sebelumnya.

Awalnya, keadaan ini bahkan terasa seperti sedikit melegakan.

Setelah berkali-kali berharap lalu kecewa, berkali-kali peduli lalu terluka, berhenti merasakan semuanya memang bisa terasa lebih ringan. Setidaknya, kamu nggak lagi harus menghabiskan tenaga buat menahan sesak yang datang berulang. Kalau sebelumnya kamu merasa kehilangan banyak emosi tanpa benar-benar tahu kenapa, seperti yang dibahas di artikel tentang ketika berhenti ngerasa apa-apa, padahal dulu nggak begini, titik itu sebenarnya bukan akhir dari ceritanya.

Dulu Ini Yang Nyelametin Kamu Dari Kecewa Berulang

Ada masa ketika setiap rasa kecewa terasa begitu melelahkan sampai kamu mulai mempertanyakan, berapa kali lagi harus mengulang hal yang sama.

Mungkin awalnya kamu masih marah. Kamu masih sedih. Kamu masih berharap semuanya berubah. Tapi setiap kali hasilnya tetap sama, setiap emosi itu seperti meminta tenaga yang semakin besar untuk dipikul. Lama-lama, muncul keinginan yang sederhana: “andai aja aku nggak terlalu peduli.”

Keinginan itu terdengar sangat manusiawi.

Kalau setiap kali berharap ujungnya kecewa, berhenti berharap terasa seperti cara paling masuk akal supaya rasa sakitnya ikut berhenti. Kalau setiap kali membuka diri akhirnya disakiti, menutup diri terlihat seperti pilihan yang lebih aman.

Kamu mungkin bahkan nggak sadar kapan perubahan itu mulai terjadi.

Suatu hari kamu masih bisa ikut senang waktu mendengar kabar baik. Di waktu yang lain, kamu masih bisa sedih ketika kehilangan sesuatu. Lalu tanpa terasa, reaksi-reaksi itu mulai mengecil. Bukan karena hidupmu tiba-tiba jadi lebih mudah, tapi karena ada bagian dalam dirimu yang pelan-pelan belajar mengurangi semua yang terasa terlalu berat.

Di titik itu, mati rasa bukan terlihat seperti masalah.

Justru sebaliknya, keadaan itu terasa seperti perlindungan. Saat orang lain masih larut dalam rasa kecewa, kamu merasa lebih tenang karena ekspektasimu sudah diturunkan. Saat sesuatu berjalan nggak sesuai harapan, kamu berpikir, “Ya udah.” Saat hubungan berubah, pekerjaan mengecewakan, atau rencana berantakan, reaksimu terasa lebih datar dibanding sebelumnya.

Kalau dilihat sekilas, ini bahkan terlihat seperti kedewasaan.

Orang sering menganggap nggak terlalu bereaksi sebagai tanda seseorang sudah lebih kuat. Padahal dua hal itu belum tentu sama. Ada orang yang tenang karena benar-benar sudah memahami situasi. Ada juga yang terlihat tenang karena sudah terlalu capek ngerasain sesuatu terus-menerus.

Dari luar, keduanya memang sulit dibedakan.

Bahkan kamu sendiri mungkin sempat percaya kalau akhirnya berhasil menjadi orang yang lebih kebal. Kamu merasa sekarang nggak gampang kecewa lagi, nggak gampang sakit hati lagi, nggak gampang berharap terlalu tinggi lagi.

Dan memang, untuk sementara waktu, itu terasa berhasil.

Rasa sakit yang biasanya datang setelah kecewa memang berkurang. Hari-hari terasa sedikit lebih ringan karena kamu nggak lagi membiarkan diri berharap terlalu banyak. Energi yang biasanya habis untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk juga mulai berkurang.

Kalau hanya melihat hasil akhirnya, sulit menyalahkan cara ini.

Karena pada saat itu, pikiranmu sedang melakukan sesuatu yang menurutnya penting: menjaga supaya kamu nggak terus-menerus terluka oleh hal yang sama.

Tapi Yang Harusnya Sementara, Kok Jadi Menetap

Ada satu hal yang sering baru terasa belakangan. Yang tadinya cuma ingin mengurangi rasa sakit sebentar, pelan-pelan berubah jadi cara hidup yang terus terbawa bahkan ketika keadaan sudah berbeda.

Kamu mungkin sudah nggak lagi berada di situasi yang dulu membuatmu terluka. Orangnya mungkin sudah pergi. Masalahnya mungkin sudah selesai. Kecewanya mungkin sudah lama lewat. Tapi perasaan datar itu tetap tinggal, seolah lupa ikut pergi bersama penyebabnya.

Di sinilah semuanya mulai terasa membingungkan.

Kalau dulu kamu memilih berhenti berharap supaya nggak kecewa lagi, sekarang kamu bahkan kesulitan berharap pada hal-hal yang sebenarnya baru. Bukan karena kamu sudah tahu hasilnya akan buruk, tapi karena ada bagian dalam dirimu yang langsung memilih menjaga jarak sebelum apa pun sempat dimulai.

Pilihan itu sering terjadi tanpa kamu sadari.

Kamu jadi nggak terlalu antusias ketika mendapat kabar baik. Kamu nggak terlalu sedih saat kehilangan sesuatu. Bahkan momen yang dulu bisa bikin kamu tertawa atau terharu sekarang terasa lewat begitu saja. Hidup tetap berjalan, tapi semuanya seperti kehilangan warna yang dulu pernah ada.

Ironisnya, perlindungan yang dulu terasa membantu mulai meminta harga yang lebih besar.

Saat rasa kecewa ikut berkurang, rasa bahagia juga ikut mengecil. Saat rasa sakit dibuat lebih pelan, rasa antusias juga ikut meredup. Pikiran memang berhasil menurunkan kemungkinan kamu terluka, tapi di saat yang sama tanpa sengaja ikut menurunkan kemampuanmu untuk benar-benar menikmati sesuatu.

Karena emosi jarang datang sendirian.

Kalau kamu mematikan satu bagian supaya nggak terlalu sakit, sering kali bagian lain juga ikut terdampak. Batasnya nggak selalu bisa dipilih dengan rapi. Pikiran nggak punya tombol yang hanya mematikan kecewa sambil membiarkan bahagia tetap menyala penuh.

Itulah kenapa banyak orang yang mulai bertanya, kenapa jadi mati rasa, padahal hidupnya sekarang sebenarnya tidak seberat dulu.

Pertanyaan itu terasa aneh karena penyebabnya seperti sudah hilang. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Rutinitas berjalan. Pekerjaan tetap dilakukan. Hubungan dengan orang lain mungkin juga masih ada. Tapi di dalam diri, semuanya terasa seperti ditonton dari kejauhan.

Kamu hadir, tapi tidak benar-benar ikut merasakan.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit adalah karena prosesnya berjalan sangat pelan. Nggak ada satu hari tertentu yang bisa kamu tunjuk sambil berkata, “Hari itu aku mulai berubah.” Perubahannya terjadi sedikit demi sedikit sampai akhirnya terasa normal.

Kamu terbiasa bilang, “Ya udahlah.”

Kamu terbiasa menurunkan harapan sebelum kecewa datang.

Kamu terbiasa menahan rasa senang karena takut nanti harus kehilangan lagi.

Lama-kelamaan, semua kebiasaan kecil itu saling menumpuk. Yang awalnya cuma dipakai untuk bertahan di masa sulit akhirnya tetap menyala bahkan ketika ancamannya sudah nggak sebesar dulu.

Di titik ini, mati rasa sebagai pertahanan diri mulai kehilangan fungsi awalnya.

Dulu ia muncul untuk membantu kamu melewati masa yang berat. Sekarang justru ia membuat kamu sulit membedakan mana keadaan yang memang berbahaya dan mana yang sebenarnya sudah aman. Semua diperlakukan dengan jarak yang sama, seolah setiap harapan pasti akan berakhir dengan luka.

Padahal hidup terus berubah.

Masalahnya, cara bertahan yang pernah berhasil sering kali lebih mudah dipertahankan daripada diperiksa lagi apakah masih benar-benar dibutuhkan. Karena selama kamu tidak terlalu berharap, kamu memang lebih jarang kecewa.

Tetapi kamu juga mulai lebih jarang benar-benar merasa hidup.


Ini Bukan Solusi Ideal, Cuma Pengakuan Yang Jujur

Mungkin yang paling melelahkan bukan karena kamu sudah nggak bisa merasakan apa-apa, tapi karena kamu masih ingat rasanya dulu.

Kamu masih ingat pernah benar-benar bersemangat menunggu sesuatu. Pernah tertawa sampai lupa waktu. Pernah sedih karena benar-benar peduli. Semua itu pernah terasa begitu alami, sampai sekarang rasanya seperti milik orang lain.

Lalu muncul pertanyaan yang diam-diam terus berputar.

Apakah aku memang berubah? Atau aku cuma terlalu lama bertahan dengan cara yang seharusnya cuma dipakai sebentar?

Jawaban itu mungkin nggak sesederhana memilih salah satunya.

Yang sedang terjadi bukan berarti ada yang rusak di dalam dirimu. Bisa jadi pikiranmu hanya terlalu lama mempertahankan cara yang dulu berhasil melindungi kamu. Sesuatu yang awalnya muncul untuk membantu melewati masa sulit, perlahan berubah menjadi kebiasaan yang terus berjalan meski keadaan sudah berbeda.

Karena pikiran nggak selalu tahu kapan harus berhenti bertahan.

Kalau sebuah cara pernah membuatmu selamat dari rasa sakit yang terasa berat, wajar kalau cara itu terus dipakai lagi. Bukan karena kamu sengaja memilih hidup tanpa rasa, tetapi karena bagian dalam dirimu menganggap itu masih pilihan yang paling aman.

Di situlah letak beratnya.

Orang lain mungkin melihatmu baik-baik saja. Kamu masih bekerja, masih mengobrol, masih menjalani rutinitas seperti biasa. Dari luar, semuanya tampak normal. Tapi hanya kamu yang tahu betapa seringnya semua itu terasa seperti dilakukan secara otomatis.

Bukan karena kamu nggak peduli.

Justru sering kali karena dulu kamu terlalu peduli.

Terlalu sering kecewa. Terlalu sering berharap. Terlalu sering mengumpulkan tenaga untuk merasakan hal yang akhirnya kembali melukai. Sampai suatu hari, berhenti merasakan terlihat jauh lebih ringan daripada harus mengulang siklus yang sama.

Kalau dipikir lagi, pilihan itu memang masuk akal pada saat itu.

Yang membuatnya terasa berat adalah ketika perlindungan itu tetap tinggal jauh setelah ancamannya berlalu. Kamu mungkin sudah tidak berada di tempat yang sama, tidak bersama orang yang sama, bahkan tidak menghadapi masalah yang sama. Tetapi cara bertahan itu masih terus bekerja, seolah setiap hari masih harus dijalani dengan kewaspadaan yang sama.

Mungkin itulah kenapa mati rasa emosional tanpa sebab jelas sering terasa begitu membingungkan.

Bukan karena benar-benar tanpa sebab. Hanya saja penyebabnya sudah terlalu jauh tertinggal di belakang, sementara cara bertahannya masih ikut berjalan sampai hari ini.

Dan kadang, pengakuan paling jujur memang sesederhana itu.

Bahwa yang sedang kamu alami belum tentu lahir karena kamu lemah, dingin, atau kehilangan kemampuan untuk peduli. Bisa jadi ini hanyalah cara lama yang belum sempat berhenti bekerja, meski hidup sudah bergerak ke tempat yang berbeda.

Artikel ini berhenti di sana.

Bukan untuk mengatakan bahwa mati rasa adalah sesuatu yang harus dipertahankan. Bukan juga untuk menyuruhmu segera menghilangkannya. Kadang, sebelum mencari ke mana harus melangkah, yang lebih dulu perlu dipahami adalah bagaimana kamu bisa sampai berada di titik ini.