Ada satu momen setelah kamu mendapatkan pujian yang justru membuat perasaanmu tidak nyaman.
Orang-orang mungkin melihat kamu berhasil menjawab pertanyaan dalam rapat, menyelesaikan pekerjaan yang sulit, atau mendapatkan kesempatan yang selama ini kamu inginkan. Mereka melihat seseorang yang mampu dan pantas berada di posisi itu.
Tapi di dalam kepala kamu, muncul pikiran yang berbeda.
Bagaimana kalau suatu saat mereka sadar kalau aku sebenarnya tidak sehebat yang mereka kira?
Pikiran itu bisa muncul tanpa ada kejadian buruk apa pun. Tidak ada kesalahan besar yang kamu sembunyikan. Tidak ada fakta yang sengaja kamu tutupi. Tapi tetap saja ada rasa waspada seperti seseorang sedang menunggu sesuatu terbongkar.
Kamu mulai memperhatikan setiap perkataan yang kamu keluarkan. Kamu mengulang kembali presentasi yang sudah selesai hanya untuk mencari bagian yang mungkin terlihat kurang meyakinkan. Bahkan setelah semuanya berjalan baik, ada bagian dalam diri kamu yang masih merasa seperti sedang berdiri di tempat yang salah.
Yang membuat perasaan ini membingungkan adalah kamu tahu secara logika bahwa kamu tidak melakukan penipuan apa pun.
Kamu memang mengerjakan tugas itu. Kamu memang belajar untuk mencapai posisi tersebut. Kamu memang melewati proses yang membuat orang lain melihat kemampuanmu.
Tapi tetap ada ketakutan bahwa suatu hari nanti orang lain akan melihat sesuatu yang selama ini hanya kamu rasakan sendiri.
Ketakutan itu bukan muncul karena kamu sedang berbohong. Justru yang membuatnya melelahkan adalah karena tidak ada kebohongan yang bisa ditemukan.
Ketahuan Apa, Tepatnya?
Ketakutan terbesar dari rasa ini sering kali terdengar sederhana: kamu takut ketahuan.
Masalahnya, ketika kamu mencoba bertanya lebih jauh tentang apa yang sebenarnya akan ketahuan, jawabannya sering tidak jelas.
Ketahuan bahwa kamu tidak sepintar yang mereka pikirkan? Ketahuan bahwa kamu sebenarnya tidak pantas mendapatkan kesempatan itu? Ketahuan bahwa keberhasilanmu hanya terjadi karena keberuntungan?
Semakin kamu mencoba mencari bentuk konkretnya, semakin sulit menemukan sesuatu yang benar-benar bisa disebut sebagai rahasia.
Kamu tidak memalsukan nilai. Kamu tidak mengarang pengalaman. Kamu tidak memasukkan kemampuan yang tidak pernah kamu miliki ke dalam cerita tentang dirimu sendiri.
Yang ada adalah perbedaan antara bagaimana orang lain melihat kamu dan bagaimana kamu melihat diri sendiri.
Orang lain melihat hasil akhirnya. Mereka melihat pekerjaan yang selesai, pencapaian yang berhasil diraih, atau tanggung jawab yang mampu kamu jalankan. Mereka melihat bukti bahwa kamu memang bisa melakukan sesuatu.
Sementara kamu melihat bagian yang tidak terlihat oleh mereka.
Kamu tahu momen ketika kamu merasa bingung. Kamu ingat saat kamu harus mencari jawaban lebih lama dari yang kamu harapkan. Kamu tahu berapa kali kamu merasa tidak yakin sebelum akhirnya berhasil.
Karena kamu melihat seluruh proses itu, kamu merasa keberhasilan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuanmu.
Di titik inilah rasa takut ketahuan bisa muncul.
Bukan karena ada orang yang akan menemukan kebohongan, tetapi karena kamu merasa ada jarak antara apa yang orang lain percaya tentang dirimu dan apa yang kamu percayai tentang dirimu sendiri.
Perasaan ini sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai sindrom penipu. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pencapaiannya tidak sepenuhnya layak dianggap sebagai hasil dari kemampuan dirinya, meskipun sebenarnya ada bukti nyata yang menunjukkan sebaliknya.
Namun, yang menarik dari rasa ini bukan hanya soal merasa kurang percaya diri.
Bagian yang lebih rumit adalah ketika bukti-bukti yang ada tidak berhasil mengubah perasaan tersebut.
Kamu bisa mendapatkan pujian, tetapi tetap merasa orang lain terlalu baik dalam menilaimu. Kamu bisa mendapatkan hasil yang bagus, tetapi tetap merasa ada kemungkinan semuanya hanya kebetulan.
Bukti tentang keberhasilanmu ada di depan mata, tetapi perasaan tentang dirimu sendiri berjalan ke arah yang berbeda.
Ketika Pencapaian dan Perasaan Tidak Pernah Bertemu
Pencapaian yang kamu miliki bisa terlihat jelas bagi orang lain, tetapi tidak selalu terasa nyata bagi dirimu sendiri.
Kamu mungkin mendapatkan jabatan baru karena memang dianggap mampu. Kamu mungkin mendapatkan nilai tinggi karena memang sudah berusaha dan memahami apa yang kamu kerjakan. Kamu mungkin menerima pujian karena hasil yang kamu berikan memang memberi dampak.
Semua itu adalah sesuatu yang bisa dilihat dan dibuktikan.
Namun, perasaan tentang dirimu sendiri tidak selalu mengikuti arah yang sama.
Ada bagian dalam dirimu yang tetap merasa belum cukup siap. Ada suara kecil yang mengatakan bahwa kamu sebenarnya hanya berhasil karena keadaan mendukung, karena bantuan orang lain, atau karena belum ada situasi yang benar-benar menguji kemampuanmu.
Akhirnya, dua hal ini berjalan berdampingan.
Pencapaianmu terus bertambah, tetapi keyakinan bahwa kamu memang pantas mendapatkannya tidak ikut bergerak dengan kecepatan yang sama.
Itulah kenapa seseorang bisa terlihat percaya diri dari luar, tetapi tetap merasa ragu ketika sendirian.
Orang lain melihat hasil. Kamu mengingat keraguan sebelum hasil itu muncul.
Orang lain melihat keberhasilan. Kamu mengingat semua bagian ketika kamu merasa tidak yakin.
Perbedaan sudut pandang ini membuat pencapaian yang seharusnya menjadi bukti kemampuan justru terasa seperti sesuatu yang harus kamu jelaskan atau pertahankan.
Misalnya ketika seseorang memuji pekerjaanmu, reaksi pertama kamu mungkin bukan menerima pujian tersebut.
Kamu malah mencari alasan kenapa pujian itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar.
Mungkin kamu berpikir, “Mereka belum tahu bagian yang sulitnya,” atau “Kalau mereka melihat bagaimana aku mengerjakannya, mungkin mereka tidak akan menganggap aku sehebat itu.”
Padahal, proses sulit yang kamu alami tidak menghapus hasil yang kamu capai.
Tetapi dalam kondisi ini, pikiranmu bisa memperlakukan kesulitan sebagai bukti bahwa kamu sebenarnya tidak cukup mampu.
Kamu melihat perjuanganmu sebagai tanda kelemahan, sementara orang lain melihat kemampuanmu bertahan melewati proses tersebut sebagai bagian dari alasan kenapa kamu berhasil.
Di sinilah rasa takut ketahuan menjadi semakin kuat.
Kamu bukan takut orang menemukan kebohongan. Kamu takut orang melihat sisi dirimu yang penuh keraguan, lalu menyimpulkan bahwa penilaian mereka selama ini salah.
Padahal, keraguan itu tidak membatalkan kenyataan bahwa kamu memang sudah melakukan sesuatu.
Yang membuat konflik ini terasa berat adalah karena keduanya bisa hadir bersamaan.
Kamu bisa berhasil dan tetap merasa tidak yakin. Kamu bisa dianggap mampu dan tetap merasa seperti orang yang sedang berpura-pura. Kamu bisa memiliki bukti pencapaian dan tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
Rasa Takut yang Tidak Butuh Bukti
Rasa takut seperti ini menjadi rumit karena ia tidak selalu membutuhkan kejadian nyata untuk muncul.
Tidak ada seseorang yang datang dan mengatakan bahwa kamu tidak pantas. Tidak ada bukti bahwa kemampuanmu sebenarnya palsu. Tidak ada momen ketika rahasia besar tentang dirimu terbongkar.
Tetapi rasa takut itu tetap ada.
Ia tidak bergantung pada apa yang terjadi di luar, karena sumbernya bukan berasal dari sesuatu yang kamu sembunyikan. Sumbernya berasal dari cara kamu melihat hubungan antara pencapaianmu dan dirimu sendiri.
Ketika kamu merasa ada jarak antara keduanya, keberhasilan baru tidak selalu membuat jarak itu mengecil.
Bahkan terkadang, semakin besar pencapaian yang kamu dapatkan, semakin besar pula tekanan yang muncul.
Kamu mulai merasa bahwa ekspektasi orang lain ikut meningkat. Kalau sebelumnya orang melihat kamu sebagai seseorang yang mampu, sekarang kamu merasa harus terus membuktikan bahwa penilaian tersebut benar.
Bukan karena orang lain benar-benar meminta hal itu, tetapi karena ada bagian dalam dirimu yang merasa harus menjaga gambaran tersebut.
Akhirnya, ketakutan terbesar bukan lagi tentang kehilangan pencapaian.
Ketakutannya adalah kemungkinan bahwa suatu hari orang lain melihat dirimu sama seperti kamu melihat dirimu sendiri saat sedang ragu.
Itulah kenapa rasa takut ketahuan bisa terasa sangat nyata meskipun tidak memiliki bukti yang jelas.
Ia tidak membutuhkan kebohongan untuk muncul. Ia hanya membutuhkan perasaan bahwa ada bagian dari dirimu yang tidak sejalan dengan apa yang orang lain lihat.
Perasaan seperti ini sering menjadi bagian dari ciri-ciri imposter syndrome yang baru terasa setelah seseorang mengalami pencapaian, ketika hasil yang terlihat oleh orang lain tidak sepenuhnya terasa sebagai sesuatu yang benar-benar menjadi miliknya.
Dan mungkin bagian yang paling membingungkan dari rasa ini adalah ketika kamu terus mencari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah hilang.
Bukan kemampuanmu. Bukan pencapaianmu. Bukan alasan kenapa kamu bisa sampai di posisi tersebut.
Yang terasa hilang adalah keyakinan bahwa semua itu memang pantas kamu miliki.