Mengapa Kita Ingin Mengontrol Cara Orang Melihat Kita?

Saya akan bicara terang-terangan bahwa faktanya hampir semua orang ingin mengontrol bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Keinginan ini jarang diucapkan secara langsung, tetapi hampir selalu terlihat dalam perilaku sehari-hari. Kita memilih kata dengan hati-hati. Kita menyesuaikan cara berbicara tergantung siapa lawan bicara kita. Kita menampilkan sisi tertentu dari diri kita, sambil menyembunyikan bagian lain. … Baca Selengkapnya

Ekspektasimu tentang Cara Orang Berbicara Bisa Jadi Sumber Luka

Ada satu kalimat yang sering muncul di kepala kita setelah percakapan yang tidak nyaman. “Harusnya dia bisa ngomong lebih halus.” Kalimat ini terasa sangat wajar. Bahkan terasa benar. Karena memang benar: banyak hal bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik. Tetapi ada satu hal yang sering tidak kita sadari. Kalimat “harusnya dia lebih halus” sebenarnya … Baca Selengkapnya

Semakin Butuh Diakui, Semakin Mudah Tersinggung

Kamu mungkin pernah melihat situasi seperti ini. Dua orang menerima komentar yang sama. “Kerjamu sebenarnya bagus, tapi bagian ini masih bisa diperbaiki.” Orang pertama mengangguk. Ia melihatnya sebagai masukan. Mungkin ia setuju, mungkin tidak. Tapi komentar itu berhenti sebagai komentar. Orang kedua langsung merasa tidak nyaman. Nada bicara orang yang memberi komentar mulai dipertanyakan. Maksudnya … Baca Selengkapnya

Kenapa Kritik Terasa Seperti Serangan Pribadi?

“Karyamu kurang rapi.” Kalimatnya pendek. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada hinaan. Tapi entah kenapa, dadamu langsung terasa tidak nyaman. Ada dorongan untuk membela diri. Atau menjelaskan panjang lebar. Atau diam dengan perasaan kesal yang kamu simpan sendiri. Secara logika, itu hanya komentar tentang hasil kerja. Secara emosional, rasanya seperti penilaian terhadap dirimu sebagai manusia. … Baca Selengkapnya