Ada masa ketika hidup terasa seperti permainan yang aturannya dibuat untuk merugikanmu. Apa pun yang kamu lakukan, hasilnya seperti tidak pernah benar-benar berpihak.
Kamu bekerja keras, tetapi keadaan tetap berat.
Kamu berusaha memperbaiki hidup, tetapi hambatan terus datang dari berbagai arah.
Dalam situasi seperti itu, sangat mudah melihat dunia sebagai sumber utama semua masalah.
Ekonomi yang sulit, kesempatan yang tidak merata, lingkungan yang tidak mendukung, atau orang-orang yang tidak memberi ruang.
Semua itu memang nyata.
Semua itu memang bisa memengaruhi jalan hidup seseorang.
Karena itu, menyadari adanya faktor eksternal bukanlah bentuk kelemahan. Itu justru bentuk kejujuran. Hidup memang tidak selalu dimulai dari titik yang sama.
Tidak semua orang mendapat akses, dukungan, atau peluang yang setara.
Namun masalahnya bukan pada pengakuan bahwa dunia memiliki pengaruh.
Masalah muncul ketika pengaruh itu perlahan diubah menjadi penjelasan tunggal. Ketika setiap hambatan selalu diposisikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada di luar dirimu.
Di titik itu, kamu tidak lagi sekadar memahami keadaan. Kamu mulai menyerahkan seluruh kendali kepada keadaan.
Inilah pola yang sering tidak disadari.
Ketika hidup terasa sulit, otak secara alami mencari penyebab.
Itu cara kita membangun makna.
Dan sering kali, penyebab yang paling mudah ditemukan adalah sesuatu di luar diri.
Pemerintah.
Pasar.
Keluarga.
Pendidikan.
Kondisi ekonomi.
Lingkungan sosial.
Semua bisa menjadi faktor yang valid.
Tetapi ketika seluruh perhatianmu hanya tertuju ke sana, ada sesuatu yang perlahan hilang: rasa bahwa kamu masih punya peran dalam mengubah hidupmu sendiri.
Kamu mulai percaya bahwa selama dunia belum berubah, hidupmu juga tidak akan berubah.
Selama keadaan belum membaik, usahamu tidak akan berarti banyak.
Dan tanpa sadar, keyakinan itu mengubah cara kamu bertindak.
Atau lebih tepatnya, mengubah cara kamu berhenti bertindak.
Ada konsep dalam psikologi yang disebut external locus of control. Ini adalah kecenderungan untuk melihat bahwa hasil hidup lebih banyak ditentukan oleh kekuatan di luar diri daripada oleh tindakan pribadi.
Orang dengan pola ini cenderung merasa bahwa nasib, keberuntungan, sistem, atau orang lain memiliki pengaruh lebih besar daripada pilihan yang mereka buat sendiri.
Pola ini tidak selalu muncul karena kemalasan.
Sering kali, ia terbentuk dari pengalaman.
Jika seseorang berulang kali menghadapi situasi di mana usahanya tidak membuahkan hasil, wajar jika ia mulai merasa bahwa kendali memang tidak berada di tangannya.
Itu adalah respons psikologis yang sangat manusiawi.
Namun sesuatu yang manusiawi belum tentu selalu membantu. Karena ketika keyakinan itu dibiarkan menetap terlalu lama, ia bisa berubah menjadi cara pandang permanen.
Kamu mulai menilai setiap peluang dengan skeptis. Bukan karena peluang itu buruk, tetapi karena kamu sudah lebih dulu percaya bahwa hasil akhirnya tidak akan banyak berbeda.
Akhirnya, kamu menahan diri. Menunda langkah. Mengurangi inisiatif. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak ada gunanya.
Inilah yang membuat menyalahkan keadaan begitu berbahaya. Bukan karena keadaan tidak penting, tetapi karena fokus yang berlebihan pada hal yang tidak bisa kamu kendalikan akan menguras energi mentalmu.
Energi yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun kapasitas, justru habis untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa langsung kamu ubah.
Sebuah studi klasik dari psikolog Julian Rotter menunjukkan bahwa individu dengan internal locus of control cenderung lebih proaktif, lebih tahan menghadapi tekanan, dan lebih konsisten mengambil tindakan dibanding mereka yang dominan memiliki external locus of control.
Mereka bukan selalu lebih beruntung. Mereka hanya lebih percaya bahwa tindakan mereka tetap memiliki pengaruh.
Dan keyakinan itu mengubah perilaku.
Ketika kamu merasa memiliki pengaruh, kamu lebih mungkin belajar. Kamu lebih mungkin mencoba lagi setelah gagal.
Kamu lebih mungkin melihat hambatan sebagai masalah yang perlu dipecahkan, bukan sebagai bukti bahwa usaha tidak ada artinya.
Sebaliknya, ketika kamu merasa semuanya ditentukan oleh faktor luar, tindakan mulai terasa seperti formalitas.
Kamu bergerak, tetapi tanpa keyakinan.
Kamu mencoba, tetapi tanpa ekspektasi bahwa usahamu akan benar-benar mengubah hasil.
Pada akhirnya, itu menjadi ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.
Bukan karena dunia menolakmu, tetapi karena kamu berhenti memberi dirimu kesempatan untuk memengaruhi hasil.
Ini bukan berarti kamu harus mengabaikan realitas.
Ada sistem yang tidak adil.
Ada kondisi yang memang berat.
Ada orang yang harus bekerja dua kali lebih keras untuk mencapai hasil yang sama.
Mengakui hal itu penting. Mengabaikannya justru naif.
Tetapi ada perbedaan besar antara memahami hambatan dan menjadikannya identitas. Antara mengenali keterbatasan dan menyerahkan seluruh agensi pada keterbatasan itu.
Jika kamu terus-menerus memusatkan perhatian pada apa yang tidak bisa kamu kontrol, kamu akan kehilangan sensitivitas terhadap apa yang sebenarnya masih bisa kamu ubah.
Kamu mungkin tidak bisa mengontrol kondisi ekonomi. Tetapi kamu bisa mengontrol kemampuan yang kamu bangun.
Kamu mungkin tidak bisa memilih keluarga tempat kamu lahir. Tetapi kamu bisa memilih bagaimana kamu merespons warisan pola pikir yang kamu terima.
Kamu mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi masa depan selalu dibentuk oleh keputusan yang kamu ambil hari ini.
Dan di sinilah letak kekuatan yang sering diremehkan: respons.
Hidup tidak selalu memberimu kendali atas peristiwa. Tetapi hampir selalu memberimu kendali atas sikap, pilihan, dan tindakan setelah peristiwa itu terjadi.
Respons bukan hal kecil. Respons adalah titik temu antara realitas dan kebebasan.
Dua orang bisa menghadapi situasi yang sama, tetapi menghasilkan kehidupan yang sangat berbeda. Bukan karena kondisi mereka berbeda, melainkan karena cara mereka memaknai dan merespons kondisi itu tidak sama.
Satu orang melihat hambatan sebagai alasan untuk berhenti. Yang lain melihatnya sebagai informasi untuk menyesuaikan strategi.
Satu orang berkata, “Sistem memang tidak adil, jadi percuma.” Yang lain berkata, “Sistem memang tidak adil, jadi saya harus lebih cermat.”
Keduanya sama-sama melihat realitas. Tetapi hanya satu yang tetap mempertahankan daya geraknya.
Jika kamu pernah membaca artikel saya sebelumnya tentang cara pola pikir membentuk kondisi hidup, kamu akan melihat bahwa topik ini sebenarnya masih berada dalam benang merah yang sama. Artikel tentang “Cara Orang Miskin Berpikir” membahas bagaimana pola mental tertentu bisa membuat seseorang tetap terjebak, bahkan ketika peluang mulai terbuka.
Salah satu pola yang paling kuat adalah kebiasaan menempatkan kendali hidup sepenuhnya di luar diri.
Menyalahkan keadaan sering terasa logis karena ia memberi penjelasan yang cepat. Dan kadang, penjelasan memang diperlukan agar kita bisa memahami apa yang sedang terjadi.
Tetapi penjelasan yang baik seharusnya membuka ruang tindakan, bukan menutupnya.
Jika sebuah penjelasan justru membuatmu merasa semakin tidak berdaya, maka itu bukan lagi alat pemahaman. Itu sudah berubah menjadi penjara mental.
Sering kali, yang membuat seseorang tetap diam bukanlah kurangnya peluang, tetapi keyakinan bahwa peluang itu tidak akan mengubah apa pun.
Dan keyakinan seperti itu jarang lahir dari fakta objektif. Ia lebih sering lahir dari pola pikir yang terlalu lama memberi kuasa pada hal-hal di luar diri.
Perubahan tidak selalu dimulai dari keadaan yang membaik. Sering kali, perubahan dimulai dari keputusan untuk kembali mengambil sebagian kendali.
Bukan kendali atas segalanya. Itu mustahil.
Tetapi kendali atas apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu pelajari, keputusan apa yang kamu ambil, dan bagaimana kamu merespons setiap tantangan yang datang.
Itulah wilayah yang benar-benar milikmu.
Dan justru karena wilayah itu milikmu, di sanalah perubahan paling nyata bisa dimulai.
Menyalahkan keadaan mungkin memberimu rasa lega sesaat. Ia membuatmu merasa bahwa kegagalanmu memiliki alasan yang jelas. Kadang itu penting, terutama ketika kamu perlu memproses rasa kecewa.
Tetapi rasa lega bukanlah strategi hidup.
Jika terus dipelihara, ia bisa berubah menjadi kebiasaan yang mengikis rasa tanggung jawab terhadap hidupmu sendiri.
Bukan tanggung jawab dalam arti menyalahkan diri atas semua hal. Melainkan tanggung jawab untuk tetap mengambil peran, bahkan ketika keadaan tidak ideal.
Karena hidup jarang menunggu kondisi sempurna sebelum memberimu kesempatan untuk bergerak.
Sering kali, kesempatan itu justru muncul ketika kamu memutuskan untuk bergerak di tengah ketidaksempurnaan.
Kamu tidak harus mengendalikan seluruh dunia untuk mengubah arah hidupmu. Kamu hanya perlu berhenti menyerahkan seluruh kendali pada dunia.
Keadaan memang memengaruhi hidupmu. Itu fakta.
Tetapi keadaan tidak harus menjadi penentu mutlak dari siapa kamu akan menjadi.
Selama kamu masih bisa memilih respons, selama itu pula kamu masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
Dan sering kali, perubahan terbesar tidak dimulai ketika dunia berubah. Ia dimulai ketika kamu berhenti menunggu dunia berubah, lalu mulai mengubah cara kamu meresponsnya.