Kamu baru saja dipuji atas sesuatu yang kamu kerjakan sendiri, tapi entah kenapa pujian itu justru membuatmu tidak nyaman. Orang lain melihat hasil yang bagus, sementara di kepalamu muncul pikiran bahwa semuanya sebenarnya terjadi karena keadaan sedang berpihak kepadamu.
Presentasi yang kamu siapkan berhari-hari berjalan lancar. Atasan mengangguk puas, rekan kerja memuji cara kamu menjelaskan sesuatu, bahkan ada yang mengatakan bahwa kamu memang pantas mendapatkan kesempatan itu. Kamu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, tetapi di dalam hati ada suara kecil yang berkata, “Aku cuma kebetulan tahu jawabannya.”
Besoknya, ketika pujian itu masih teringat, kamu mulai mencari penjelasan lain. Mungkin karena pertanyaannya mudah. Mungkin karena tim membantumu. Mungkin karena orang lain yang ikut bekerja membuat semuanya terlihat lebih baik. Kamu merasa kalau situasinya sedikit berbeda, hasilnya mungkin tidak akan sebagus itu.
Hal yang sama bisa terjadi ketika kamu mendapatkan promosi. Seharusnya kabar itu terasa seperti pengakuan atas kemampuan yang selama ini kamu bangun. Namun yang muncul justru rasa tegang, seolah ada sesuatu yang belum kamu ketahui dan suatu hari orang lain akan menyadarinya.
Kamu bisa menerima jabatan baru sambil berpikir, “Mereka belum tahu kalau aku sebenarnya tidak sehebat yang mereka kira.”
Perasaan seperti itu membuat sebuah pencapaian terasa aneh. Dari luar, kamu terlihat berhasil. Dari dalam, kamu justru merasa sedang menunggu saat ketika semua orang akhirnya tahu bahwa kamu tidak benar-benar layak berada di posisi itu.
Kenapa Prestasi Terasa Seperti Kebetulan
Setiap kali berhasil, ada bagian dari kamu yang langsung mencari alasan lain selain kemampuanmu sendiri. Hasil yang baik terasa lebih mudah dijelaskan sebagai keberuntungan, timing yang tepat, bantuan orang lain, atau keadaan yang kebetulan mendukung.
Ketika proyek berhasil, kamu mungkin lebih mudah mengingat bahwa anggota timmu sangat membantu daripada mengingat keputusan-keputusan penting yang kamu ambil sendiri. Ketika pekerjaanmu mendapat pujian, kamu mungkin berpikir bahwa orang yang menilai sedang melihat hasil akhirnya saja dan tidak tahu berapa banyak hal yang sebenarnya tidak kamu kuasai.
Masalahnya bukan kamu tidak melihat keberhasilan itu. Kamu melihatnya dengan jelas, tetapi kamu merasa ada jarak antara keberhasilan tersebut dan dirimu sendiri.
Seolah-olah hasil yang bagus memang ada di depan mata, tetapi kamu tidak merasa benar-benar menjadi orang yang menghasilkan sesuatu itu. Kamu tahu kamu mengerjakannya, tetapi bagian dalam dirimu tetap mencari penjelasan mengapa keberhasilan itu bisa terjadi tanpa harus mengakui bahwa kemampuanmu memang punya peran besar di dalamnya.
Karena itu, semakin besar pencapaianmu, semakin besar pula sesuatu yang terasa perlu kamu jelaskan. Ketika pencapaian kecil berhasil, mungkin masih mudah menganggapnya sebagai kebetulan. Tetapi ketika hal yang sama terjadi berulang kali, kamu tetap bisa menemukan alasan baru untuk menjelaskan mengapa keberhasilan itu bukan karena kemampuanmu.
Kamu mendapatkan klien besar karena katanya mereka sedang membutuhkan jasa seperti milikmu. Kamu diterima di tempat yang kamu inginkan karena kebetulan pelamarnya tidak terlalu banyak. Kamu berhasil menyelesaikan sesuatu yang sulit karena ada orang yang memberimu arahan. Bahkan ketika tidak ada penjelasan lain yang masuk akal, kamu bisa menyimpulkan bahwa kamu hanya sedang beruntung.
Yang menarik, standar pembuktian yang kamu gunakan untuk dirimu sendiri sering kali berbeda dengan standar yang kamu gunakan untuk orang lain. Ketika orang lain berhasil setelah dibantu tim, kamu tetap bisa melihat kemampuan mereka. Ketika orang lain mendapatkan kesempatan karena timing yang tepat, kamu tidak otomatis menganggap keberhasilannya palsu.
Namun ketika hal yang sama terjadi kepadamu, bantuan berubah menjadi alasan, kesempatan berubah menjadi kebetulan, dan keberuntungan terasa seperti satu-satunya penjelasan yang masuk akal.
Di titik itu, pencapaian bukan lagi sekadar sesuatu yang kamu nikmati. Pencapaian justru bisa menjadi sesuatu yang membuatmu semakin waspada. Kamu mulai berpikir tentang ekspektasi yang akan muncul setelahnya, tentang apakah kamu bisa mengulang hasil yang sama, dan tentang kemungkinan orang lain menyadari bahwa kamu sebenarnya tidak sehebat yang mereka kira.
Semakin banyak yang kamu capai, semakin sulit rasanya menghilangkan perasaan bahwa suatu hari nanti semuanya akan terbongkar.
Nama untuk Perasaan yang Selama Ini Tidak Punya Nama
Perasaan ini punya nama. Istilah yang kemudian dikenal sebagai imposter syndrome digunakan untuk menggambarkan pengalaman ketika seseorang sulit menginternalisasi pencapaiannya sendiri dan merasa dirinya seperti tidak benar-benar layak atas keberhasilan yang sudah diraih.
Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Pauline Clance dan Suzanne Imes pada akhir 1970-an. Mereka mengamati pola pengalaman pada perempuan berprestasi yang, meskipun memiliki bukti keberhasilan yang jelas, tetap merasa pencapaian mereka bukan hasil dari kemampuan yang sebenarnya.
Ketika kamu mendengar istilah ini untuk pertama kalinya, mungkin ada bagian dari pengalamanmu yang tiba-tiba terasa lebih mudah dijelaskan. Bukan karena sebelumnya kamu tidak tahu bahwa kamu sedang meragukan diri sendiri, tetapi karena sekarang keraguan itu memiliki nama.
Itulah kenapa ketika orang mencari tahu arti imposter syndrome, yang mereka temukan bukan sekadar sebuah istilah psikologi. Mereka sering menemukan gambaran tentang pengalaman yang selama ini terasa sulit dijelaskan: berhasil tetapi tidak merasa berhasil, dipuji tetapi sulit mempercayai pujian itu, atau mendapatkan kesempatan sambil menunggu kapan orang lain menyadari bahwa kamu sebenarnya tidak pantas.
Dalam bahasa Indonesia, imposter syndrome sering dipahami sebagai perasaan seperti seorang “penipu” di tengah keberhasilan sendiri. Bukan berarti kamu benar-benar menipu orang lain, melainkan ada perasaan bahwa citra dirimu yang terlihat kompeten tidak sesuai dengan bagaimana kamu melihat dirimu sendiri.
Karena itu, ketika muncul pertanyaan “imposter syndrome adalah apa sebenarnya?”, jawabannya tidak berhenti pada definisi formal. Imposter syndrome adalah nama untuk pengalaman ketika pencapaian yang secara nyata kamu miliki terasa seperti bukan milikmu sepenuhnya.
Kamu bisa memiliki bukti bahwa kamu berhasil, tetapi tetap merasa bukti itu belum cukup untuk meyakinkan dirimu sendiri.
Rasa Ini Bukan Bukti Kamu Tidak Layak
Rasa itu bisa tetap ada bahkan ketika pencapaianmu sudah terlalu banyak untuk disebut kebetulan. Kamu mungkin sudah berkali-kali membuktikan bahwa kamu mampu, tetapi setiap keberhasilan baru tetap terasa seperti pengecualian yang suatu hari akan berhenti terjadi.
Kamu bisa melihat riwayat pekerjaanmu, proyek yang berhasil kamu selesaikan, tanggung jawab yang berhasil kamu jalankan, atau kesempatan yang datang kepadamu. Semua itu adalah hal yang nyata. Namun rasa ragu tidak selalu hilang hanya karena bukti bertambah.
Kadang justru pencapaian baru membuatmu semakin takut. Kalau sebelumnya kamu hanya perlu membuktikan bahwa kamu mampu mendapatkan sesuatu, sekarang kamu merasa harus membuktikan bahwa kamu mampu mempertahankannya. Promosi yang seharusnya menjadi pengakuan atas kemampuanmu bisa berubah menjadi tekanan karena kamu mulai membayangkan standar yang harus kamu penuhi setelahnya.
Di situlah kenapa merasa jadi penipu padahal berprestasi bisa terasa begitu membingungkan. Kamu tidak sedang gagal. Kamu justru sedang berada di tempat yang dari luar terlihat seperti keberhasilan, tetapi dari dalam terasa seperti posisi yang sewaktu-waktu bisa hilang.
Ada perbedaan antara apa yang kamu rasakan dan apa yang benar-benar terjadi. Kamu bisa merasa tidak cukup mampu tanpa berarti kamu memang tidak mampu. Kamu bisa merasa keberhasilanmu terjadi karena keberuntungan tanpa berarti kemampuanmu tidak ikut menghasilkan keberhasilan tersebut.
Perasaan itu nyata, tetapi perasaan bukan selalu bukti.
Mungkin selama ini kamu terlalu terbiasa melihat bagian yang kurang dari dirimu sendiri sampai lupa bahwa kemampuan seseorang tidak pernah bekerja sendirian. Keberhasilan memang bisa dipengaruhi timing, bantuan orang lain, kesempatan, kondisi yang mendukung, atau keberuntungan. Tetapi keberadaan faktor-faktor itu tidak otomatis menghapus bagian yang kamu lakukan sendiri.
Kamu tetap hadir ketika pekerjaan itu harus diselesaikan. Kamu tetap membuat keputusan ketika ada pilihan yang harus diambil. Kamu tetap menggunakan pengetahuan dan kemampuanmu ketika situasi menuntutnya. Bahwa ada faktor lain yang ikut membantu tidak membuat kontribusimu menjadi tidak nyata.
Mungkin itulah bagian yang paling sulit diterima ketika kamu terbiasa meragukan pencapaian sendiri. Kamu tidak harus memilih antara “aku berhasil sepenuhnya karena kemampuan sendiri” dan “aku berhasil hanya karena keberuntungan”. Kenyataannya bisa berada di antara keduanya.
Sebuah pencapaian bisa melibatkan banyak hal sekaligus. Ada kemampuan yang sudah kamu bangun, ada orang yang membantu, ada kesempatan yang datang pada waktu tertentu, dan ada keadaan yang memang mendukung. Semua itu bisa benar secara bersamaan.
Jadi ketika kamu melihat sebuah keberhasilan dan hanya menemukan alasan mengapa keberhasilan itu bukan karena dirimu, mungkin yang sedang kamu lihat bukan keseluruhan cerita. Kamu sedang melihat satu bagian yang membuatmu nyaman untuk menjelaskan keberhasilan itu tanpa harus menerima bahwa kamu memang punya kemampuan yang ikut membawamu sampai ke sana.
Dan mungkin karena itu pula pencapaianmu terasa seperti bukan milikmu.
Bukan karena pencapaiannya tidak nyata. Bukan karena orang lain salah ketika menganggapmu mampu. Bukan pula karena semua keberhasilanmu hanyalah kebetulan.
Rasa seperti sedang menjadi penipu bisa muncul tepat ketika kenyataan di luar dirimu tidak lagi cocok dengan gambaran yang kamu miliki tentang dirimu sendiri. Orang lain melihat seseorang yang berhasil, sementara kamu masih melihat seseorang yang takut suatu hari nanti tidak mampu memenuhi gambaran tersebut.
Kedua hal itu bisa ada pada saat yang sama.
Kamu bisa menjadi orang yang berprestasi sekaligus sering meragukan kemampuan sendiri. Kamu bisa mendapatkan pengakuan sekaligus merasa tidak pantas menerimanya. Kamu bisa melihat bahwa sesuatu berjalan baik sekaligus tetap menunggu kegagalan yang menurutmu akan membuktikan bahwa keraguanmu selama ini benar.
Dan mungkin untuk pertama kalinya, istilah imposter syndrome adalah cara yang cukup tepat untuk memberi nama pada jarak antara dua pengalaman tersebut.
Bukan untuk menghapus rasa yang kamu alami, dan bukan pula untuk mengatakan bahwa semua keraguanmu tidak penting. Hanya untuk membedakan satu hal yang sering tercampur: rasa tidak layak bukanlah bukti bahwa kamu memang tidak layak.
Ada pencapaian yang memang sudah terjadi. Ada usaha yang memang sudah kamu lakukan. Ada kemampuan yang memang sudah kamu gunakan. Semua itu tetap menjadi bagian dari ceritamu, bahkan ketika perasaanmu belum mampu mengakuinya sepenuhnya.
Pada akhirnya, mungkin yang paling tenang adalah mengakui bahwa rasa itu memang ada tanpa menjadikannya sebagai penentu kebenaran tentang dirimu.
Kamu boleh merasa bahwa keberhasilanmu terlalu besar untukmu. Kamu boleh merasa orang lain melihat sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dalam dirimu sendiri. Tetapi perasaan itu tetap hanya menjelaskan bagaimana kamu sedang memandang pencapaianmu, bukan menentukan apakah pencapaian itu benar-benar layak menjadi milikmu.
Dan dari sana, ada pembahasan yang lebih luas tentang bagaimana ciri-ciri imposter syndrome kadang baru terasa jelas setelah sebuah pencapaian itu sendiri terasa tidak nyata.