Kamu Mulai Meragukan Dirimu Sendiri: Tentang Gaslighting dan Kenapa Itu Membingungkan

Kamu ingat jelas kejadiannya.

Kamu ingat apa yang dikatakan. Kamu ingat nada suaranya. Kamu bahkan masih ingat bagaimana perasaanmu saat itu. Ada sesuatu yang membuatmu kecewa, lalu kamu mencoba membicarakannya dengan tenang karena kamu merasa hubungan yang baik memang seharusnya memberi ruang untuk saling mendengarkan.

Namun entah bagaimana, percakapan itu berakhir dengan cara yang sama sekali berbeda.

Bukannya merasa dipahami, kamu justru pulang sambil meminta maaf. Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena kamu mulai tidak begitu yakin apakah kamu memang punya alasan untuk marah sejak awal.

Sesampainya di rumah, kamu mencoba mengingat lagi semuanya.

Bukankah tadi dia memang mengatakan hal itu?

Bukankah tadi kamu memang mendengar kalimat itu?

Lalu kenapa sekarang rasanya seperti kamu yang salah mengerti?

Itu bukan pertama kalinya.

Dan tanpa sadar, pengalaman seperti itu mulai berulang.

Semakin sering terjadi, semakin sulit kamu mempercayai ingatanmu sendiri. Setiap kali ada perbedaan versi tentang sebuah kejadian, kamu selalu merasa versinya terdengar lebih masuk akal. Sedangkan versimu perlahan terdengar semakin kabur, bahkan di telingamu sendiri.

Mungkin baru belakangan ini kamu menemukan istilah gaslighting adalah sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman seperti itu.

Bukan karena kamu sedang belajar psikologi.

Melainkan karena akhirnya ada sebuah kata yang terdengar begitu dekat dengan kebingungan yang selama ini tidak pernah bisa kamu jelaskan.

Ketika Kamu Mulai Meragukan Ingatanmu Sendiri

Awalnya bukan rasa takut yang muncul.

Melainkan rasa bingung.

Kamu masih menjalani hubungan seperti biasa. Masih tertawa bersama. Masih berbagi cerita setiap hari. Tidak ada pertengkaran besar yang membuatmu berpikir hubungan ini sedang berada di ambang kehancuran.

Justru karena semuanya terlihat biasa, kebingungan itu terasa semakin sulit dijelaskan.

Misalnya setelah sebuah percakapan, kamu merasa ada sesuatu yang menyakitkan. Kamu mencoba mengungkapkannya, lalu dia menjawab bahwa kamu salah paham. Bahwa maksudnya bukan seperti itu. Bahwa kamu terlalu jauh mengambil kesimpulan.

Sekali dua kali, itu terdengar masuk akal.

Semua orang bisa salah paham.

Semua orang bisa keliru menangkap maksud seseorang.

Kamu pun tidak keberatan mengakui kalau memang kamu salah.

Masalahnya, situasi seperti itu mulai terjadi lebih sering.

Setiap kali kamu merasa terluka, selalu ada penjelasan yang membuatmu mempertanyakan kembali perasaanmu sendiri. Setiap kali kamu yakin mengingat sebuah percakapan, selalu ada versi lain yang terdengar lebih logis daripada versimu.

Lama-kelamaan, kamu mulai mengurangi keyakinan terhadap dirimu sendiri.

Bukan karena tiba-tiba menjadi pelupa.

Tetapi karena setiap kali kamu percaya pada ingatanmu, selalu ada seseorang yang membuatmu merasa bahwa ingatan itu tidak bisa diandalkan.

Akhirnya, sebelum mengatakan apa pun, kamu mulai berpikir lebih lama.

“Jangan-jangan aku memang salah dengar.”

“Jangan-jangan aku memang terlalu sensitif.”

“Jangan-jangan aku yang membesar-besarkan masalah.”

Kalimat-kalimat itu semakin sering muncul.

Yang berubah bukan hanya cara kamu melihat hubungan.

Yang berubah adalah cara kamu melihat dirimu sendiri.

Kalau dulu kamu cukup yakin dengan apa yang kamu rasakan, sekarang kamu selalu membutuhkan konfirmasi. Kamu mulai bertanya kepada teman apakah reaksimu berlebihan. Kamu mulai mengulang-ulang percakapan di kepalamu, berharap menemukan bagian yang mungkin memang kamu pahami secara keliru.

Kadang setelah bercerita kepada orang lain, kamu justru berhenti di tengah cerita.

Karena saat diucapkan keras-keras, semuanya terasa membingungkan.

Ada bagian dari dirimu yang masih yakin bahwa kejadian itu memang membuatmu terluka. Tetapi ada bagian lain yang berkata bahwa mungkin semua ini hanya karena kamu terlalu emosional.

Kedua suara itu terus hidup bersamaan.

Dan semakin lama, suara yang meragukan dirimu sendiri mulai terdengar lebih keras.

Kalau sebelumnya kamu mudah berkata, “Aku tidak nyaman dengan itu,” sekarang kamu mulai mengganti kalimatmu menjadi, “Mungkin aku saja yang terlalu perasa.”

Perbedaannya terlihat kecil.

Tetapi dampaknya tidak kecil.

Sedikit demi sedikit, kamu tidak lagi menjadikan perasaanmu sebagai sesuatu yang bisa dipercaya. Sebelum mempercayai apa yang kamu rasakan, kamu lebih dulu menunggu apakah orang lain setuju denganmu.

Di titik inilah banyak orang mulai mencari arti gaslighting dalam hubungan.

Bukan karena mereka sedang mencari definisi.

Tetapi karena mereka ingin memastikan bahwa rasa aneh yang terus mengikuti mereka selama ini ternyata memang punya nama.

Dan mungkin yang paling melegakan bukan mengetahui istilahnya.

Melainkan mengetahui bahwa kebingungan itu bukan hanya dialami olehmu seorang.

Ketika Kamu Lebih Percaya Versinya Daripada Versimu

Yang membuat pengalaman ini begitu melelahkan bukan satu percakapan.

Melainkan akumulasi dari banyak percakapan kecil.

Hari ini mungkin tentang hal sederhana. Besok tentang janji yang menurutmu pernah dibuat. Minggu depan tentang sesuatu yang kamu yakini pernah terjadi. Hampir semuanya terlihat sepele jika dipisahkan satu per satu.

Tetapi ketika semuanya mulai menumpuk, muncul perubahan yang jauh lebih besar.

Kamu mulai merasa tidak nyaman menyampaikan keberatan.

Bukan karena tidak punya alasan.

Melainkan karena kamu sudah bisa menebak bagaimana percakapan itu akan berakhir. Kamu akan mencoba menjelaskan apa yang kamu rasakan. Lalu perlahan percakapan bergeser menjadi pembahasan tentang kenapa reaksimu terlalu berlebihan, kenapa caramu mengingat kejadian itu kurang tepat, atau kenapa kamu selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif.

Akhirnya kamu memilih diam.

Bukan karena masalahnya selesai.

Tetapi karena kamu lelah mempertanyakan dirimu sendiri setiap kali mencoba berbicara.

Yang paling aneh adalah, kamu sebenarnya masih ingat kejadian-kejadian itu.

Kamu masih ingat bagaimana ekspresi wajahnya. Masih ingat suasana ruangan. Masih ingat kalimat yang membuat dadamu terasa sesak. Namun setiap kali kamu mencoba mempercayai ingatan itu, muncul keraguan yang seolah berkata, “Kalau memang benar seperti itu, kenapa dia mengatakan sebaliknya dengan begitu yakin?”

Pelan-pelan, keyakinanmu berpindah.

Dari percaya pada pengalamanmu sendiri…

menjadi lebih percaya pada penjelasan orang lain tentang pengalamanmu.

Kalau sekarang kamu membaca tanda-tanda yang mungkin sudah lama ada, mungkin kamu mulai melihat bahwa hubungan yang menguras tidak selalu dimulai dari pertengkaran besar. Kadang ia tumbuh sangat pelan, sampai tanpa sadar kamu bukan hanya kehilangan keberanian untuk berbicara, tetapi juga kehilangan keyakinan terhadap apa yang sebenarnya kamu rasakan.

Dan mungkin itulah bagian yang paling sulit dijelaskan kepada orang lain.

Karena dari luar, hubungan itu masih terlihat baik-baik saja.

Sementara dari dalam…

kamu mulai tidak begitu yakin lagi pada dirimu sendiri.

Gaslighting Adalah Saat Kamu Perlahan Kehilangan Kepercayaan pada Dirimu Sendiri

Banyak orang menjelaskan bahwa gaslighting adalah bentuk manipulasi yang membuat seseorang meragukan realitasnya sendiri.

Kalimat itu memang benar.

Tetapi ketika kamu sedang berada di dalamnya, pengalaman itu jarang terasa sebesar definisinya.

Yang kamu alami mungkin hanya percakapan-percakapan kecil.

Seseorang berkata, “Aku tidak pernah ngomong begitu.”

Atau, “Kamu ingatnya memang suka salah.”

Atau mungkin, “Kamu terlalu sensitif. Aku cuma bercanda.”

Kalimat-kalimat seperti itu terdengar biasa.

Kalau hanya terjadi sekali, mungkin memang tidak ada yang aneh.

Namun ketika kalimat-kalimat serupa terus muncul dalam berbagai situasi, sesuatu mulai berubah di dalam dirimu. Kamu tidak lagi hanya mempertanyakan ucapan orang lain, tetapi mulai mempertanyakan kemampuanmu sendiri untuk memahami kenyataan.

Perlahan, kamu menjadi lebih berhati-hati.

Sebelum menyampaikan perasaan, kamu memikirkan berkali-kali apakah perasaan itu valid. Sebelum mengingat sebuah kejadian, kamu bertanya pada diri sendiri apakah ingatanmu cukup akurat untuk dipercaya.

Padahal dulu kamu tidak seperti itu.

Dulu kamu bisa mengatakan bahwa sesuatu membuatmu sedih tanpa harus meminta izin kepada siapa pun.

Sekarang bahkan kesedihanmu sendiri terasa seperti sesuatu yang harus dibuktikan.

Yang membuat keadaan ini semakin rumit adalah semuanya tidak selalu terjadi dalam suasana yang penuh kemarahan.

Ada hari ketika dia kembali bersikap hangat.

Ada hari ketika kamu tertawa bersama seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ada hari ketika kamu merasa hubungan kalian baik-baik saja.

Lalu di kesempatan lain, kamu kembali dibuat bingung oleh percakapan yang membuatmu pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Kontras seperti itulah yang sering membuat seseorang sulit memahami apa yang sedang terjadi.

Kalau semuanya selalu buruk, mungkin lebih mudah untuk mengambil jarak.

Namun ketika hubungan masih dipenuhi momen-momen yang terasa indah, kebingungan justru semakin besar. Kamu terus bertanya apakah masalahnya benar-benar ada, atau hanya muncul di kepalamu sendiri.

Sering kali kamu mulai berhenti bercerita kepada orang lain.

Bukan karena tidak ada yang ingin diceritakan.

Melainkan karena kamu takut terdengar tidak masuk akal. Setiap kali mencoba menjelaskan, ceritanya terasa berantakan. Kamu sendiri sudah tidak begitu yakin mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya hasil dari keraguan yang terus menumpuk.

Dan tanpa sadar, kamu mulai menyimpan semuanya sendirian.

Kenapa Ini Terasa Sangat Membingungkan?

Kalau orang yang membuatmu ragu adalah orang asing, mungkin lebih mudah untuk mengabaikannya.

Tetapi ini bukan orang asing.

Ini adalah seseorang yang pernah membuatmu merasa aman. Seseorang yang pernah membuatmu percaya bahwa kamu diterima sepenuhnya. Mungkin bahkan seseorang yang pernah membuatmu merasa akhirnya menemukan rumah setelah perjalanan yang panjang.

Karena itulah kebingungan ini terasa begitu dalam.

Bagaimana mungkin orang yang sama bisa membuatmu merasa sangat dicintai, tetapi juga membuatmu perlahan kehilangan kepercayaan pada dirimu sendiri?

Kedua pengalaman itu terasa saling bertentangan.

Namun keduanya benar-benar pernah kamu alami.

Itulah sebabnya banyak orang kesulitan memahami kenapa bertahan di dalam hubungan seperti ini. Bukan semata-mata karena mereka takut sendirian, tetapi karena ada dua kenyataan yang terus hidup berdampingan. Mereka masih mengingat kehangatan yang pernah ada, sambil mencoba memahami kenapa sekarang semuanya terasa begitu membingungkan.

Di titik tertentu, kebingungan itu mulai berubah menjadi rasa bersalah.

Bukan lagi bertanya, “Kenapa dia berkata seperti itu?”

Melainkan bertanya, “Apa memang aku yang bermasalah?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun pelan-pelan ia mulai mengubah cara kamu memandang dirimu sendiri.

Kamu menjadi lebih mudah meminta maaf.

Lebih mudah menyalahkan diri sendiri.

Lebih mudah menganggap bahwa mungkin memang kamulah sumber dari semua konflik yang terjadi.

Kalau keadaan itu berlangsung cukup lama, rasa tersebut bisa berkembang menjadi kebiasaan menyalahkan diri sendiri yang muncul di tengah hubungan. Kamu tidak lagi sekadar merasa bersalah atas satu kejadian, tetapi mulai melihat hampir semua masalah sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirimu.

Lama-kelamaan, kamu juga mulai merasakan rasa tidak cukup baik yang tumbuh di dalam hubungan.

Bukan karena ada satu kejadian besar yang mengubahmu.

Tetapi karena begitu banyak keraguan kecil yang terus menumpuk setiap hari. Sedikit demi sedikit, kamu kehilangan keyakinan bahwa apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan ingat juga layak dipercaya.

Dan mungkin itulah yang paling sulit diakui.

Bukan bahwa hubungan ini membuatmu sering menangis.

Bukan bahwa hubungan ini membuatmu sering bertengkar.

Melainkan bahwa hubungan ini membuatmu berhenti mempercayai dirimu sendiri.

Mungkin Yang Selama Ini Kamu Rasakan Memang Punya Nama

Tidak semua orang langsung bisa menyebut pengalaman ini sebagai gaslighting.

Sebagian orang baru memahami setelah hubungan itu berakhir. Sebagian lagi baru menyadarinya ketika membaca pengalaman orang lain yang terasa begitu mirip dengan hidupnya sendiri. Ada juga yang masih berada di dalam hubungan itu sambil terus bertanya-tanya apakah semua ini hanya ada di kepalanya.

Tidak tahu juga merupakan pengalaman yang nyata.

Karena ketika seseorang terus-menerus dibuat meragukan penilaian dirinya sendiri, kebingungan menjadi sesuatu yang sangat masuk akal. Sulit merasa yakin terhadap apa pun ketika setiap keyakinanmu selalu dipertanyakan.

Mungkin karena itulah memahami hubungan yang perlahan menguras tidak selalu dimulai dari melihat luka yang paling besar.

Kadang semuanya justru dimulai dari menyadari satu perubahan kecil.

Dulu kamu percaya pada apa yang kamu rasakan.

Sekarang…

kamu selalu bertanya kepada dirimu sendiri apakah kamu boleh mempercayainya lagi.

Dan mungkin, untuk saat ini, mengetahui bahwa pengalaman itu memiliki nama tidak langsung membuat semua kebingungan hilang.

Tetapi setidaknya, kamu tidak lagi harus menyebutnya sebagai “aku memang terlalu sensitif.”

Karena bingung…

tidak selalu berarti kamu yang salah.