Motivasi intrinsik dan ekstrinsik menjawab satu pertanyaan yang mungkin pernah muncul dalam dirimu: dorongan yang kamu rasakan itu sebenarnya datang dari mana? Kadang kamu bergerak karena ada sesuatu dari luar yang membuatmu ingin bergerak. Ada pujian yang ingin kamu dengar, target yang ingin kamu capai, atau kata-kata seseorang yang ingin kamu buktikan. Di waktu lain, kamu tetap ingin melakukan sesuatu meskipun tidak ada yang melihat atau menunggu hasilnya.
Arti motivasi intrinsik bisa kamu pahami sebagai dorongan yang muncul dari dalam dirimu sendiri. Kamu tertarik karena memang ingin tahu, merasa kegiatan itu berarti, atau menikmati prosesnya tanpa harus selalu mendapatkan sesuatu dari luar. Sementara itu, motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang datang dari luar dirimu, seperti pujian, target, hadiah, penilaian, atau kata-kata orang lain.
Dua sumber ini bisa terasa sangat berbeda ketika kamu mengalaminya sendiri.
Kamu mungkin pernah belajar lebih serius karena ingin mendapatkan nilai bagus. Selama ada nilai yang harus dikejar, perhatianmu terasa lebih mudah terkumpul. Kamu tahu ada hasil tertentu yang menunggu di ujungnya, sehingga dorongan untuk bergerak terasa jelas.
Tapi pengalaman itu bisa berubah ketika tidak ada nilai yang diberikan. Tidak ada orang yang bertanya hasilnya, tidak ada angka yang perlu ditunjukkan, dan tidak ada pujian yang menunggu. Di situ kamu bisa mulai melihat apakah keinginan untuk melakukan sesuatu memang masih datang dari dalam dirimu.
Hal yang sama bisa terjadi ketika kamu mendapatkan pujian. Satu kalimat sederhana dari orang lain kadang bisa membuatmu ingin melakukan sesuatu lagi. Kamu merasa dilihat, dihargai, atau dianggap mampu. Dorongan itu nyata, dan tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut.
Namun, sumber dorongan seperti ini berada di luar dirimu. Ketika orang yang memuji berhenti memperhatikan, ketika target sudah selesai, atau ketika tidak ada lagi sesuatu yang perlu dibuktikan, pengalamanmu terhadap dorongan itu bisa berubah.
Di sinilah perbedaan motivasi intrinsik dan ekstrinsik mulai terasa bukan sekadar istilah. Kamu tidak hanya sedang membedakan dua definisi, tetapi sedang melihat alasan yang membuatmu ingin bergerak. Kadang jawabannya berasal dari apa yang kamu rasakan di dalam. Kadang jawabannya muncul karena ada sesuatu di luar dirimu yang sedang menarik perhatianmu.
Dan dalam kehidupan sehari-hari, keduanya sering muncul bersamaan tanpa kamu sadari.
Dorongan yang Bergantung pada Orang yang Melihatmu
Dorongan dari luar terasa kuat ketika ada seseorang yang melihat, menilai, atau menunggu hasilnya. Kamu bisa tiba-tiba lebih serius mengejar sesuatu karena ada pujian yang ingin kamu dapatkan, nilai yang ingin kamu raih, atau target yang sudah kamu tulis karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.
Pujian bisa menjadi dorongan yang cukup kuat. Ketika seseorang mengatakan bahwa hasilmu bagus, kamu merasa ada alasan untuk mengulanginya. Kamu mungkin jadi lebih ingin belajar, berlatih, membuat sesuatu, atau menyelesaikan hal yang sebelumnya terasa biasa saja. Perhatian dari orang lain membuat apa yang kamu lakukan terasa punya hasil yang bisa langsung kamu rasakan.
Dorongan seperti ini juga bisa muncul dari angka. Kamu melihat jumlah pengikut bertambah, nilai meningkat, atau hasil yang kamu inginkan mulai terlihat. Angka itu kemudian menjadi sesuatu yang membuatmu ingin bergerak lagi. Selama perubahan itu masih terlihat, dorongannya terasa dekat.
Ada juga target yang awalnya terasa seperti milikmu sendiri, tetapi setelah dipikirkan lagi ternyata banyak dipengaruhi oleh apa yang dianggap penting oleh orang lain. Kamu ingin mencapai angka tertentu karena melihat orang lain sudah sampai di sana. Kamu ingin mendapatkan pengakuan tertentu karena pernah merasa perlu membuktikan bahwa dirimu mampu. Targetnya memang kamu yang tulis, tetapi alasan di baliknya belum tentu seluruhnya berasal dari dalam dirimu.
Hal seperti ini tidak selalu terasa jelas saat sedang dijalani. Kamu hanya tahu bahwa ketika ada sesuatu yang harus dibuktikan, kamu bisa bergerak lebih cepat.
Karena sumbernya berada di luar dirimu, perubahan di luar dirimu juga bisa mengubah dorongan tersebut. Pujian yang dulu membuatmu bersemangat bisa berhenti datang. Orang yang sebelumnya memperhatikan bisa mulai sibuk dengan urusannya sendiri. Target yang kamu kejar akhirnya tercapai, sehingga sesuatu yang sebelumnya menarik perhatianmu tidak lagi berada di depan mata.
Saat itu, dorongan yang sebelumnya terasa besar bisa ikut turun. Bukan karena dorongan itu palsu, tetapi karena sumber yang memberinya tenaga memang sedang tidak ada.
Itulah mengapa dorongan dari luar kadang terasa cepat habis setelah sesuatu selesai atau perhatian orang lain berhenti. Kamu tidak sedang kehilangan bagian dari dirimu. Yang berubah adalah keadaan di luar yang sebelumnya ikut membuatmu ingin bergerak.
Tetap saja, dorongan dari luar punya tempatnya sendiri. Pujian bisa membuatmu berani memulai sesuatu yang sebelumnya belum pernah kamu coba. Target bisa memberi arah ketika kamu belum tahu harus mengejar apa. Penilaian orang lain juga kadang membuatmu menyadari kemampuan yang sebelumnya tidak kamu lihat.
Jadi, dorongan dari luar bukan sesuatu yang harus dianggap buruk hanya karena sumbernya bukan dari dalam. Kamu memang bisa bergerak karena sesuatu di luar dirimu, dan dorongan itu tetap nyata selama kamu merasakannya. Yang membedakannya adalah apa yang terjadi ketika tidak ada lagi orang yang melihat, angka yang berubah, target yang dikejar, atau sesuatu yang perlu kamu buktikan.
Dorongan yang Tetap Ada Saat Tidak Ada yang Menilai
Dorongan dari dalam tetap terasa ketika tidak ada yang melihat, menilai, atau menunggu hasilnya. Kamu tetap ingin membaca karena memang penasaran, tetap ingin menulis karena ada sesuatu yang ingin kamu tuangkan, atau tetap tertarik mempelajari sesuatu meskipun tidak ada orang yang akan memberi nilai atas hasilnya.
Minat adalah salah satu bentuk dorongan seperti ini. Kamu bisa tertarik pada sesuatu bukan karena ada hadiah setelahnya, tetapi karena kegiatan itu sendiri membuatmu ingin terus memperhatikannya. Rasa ingin tahu bekerja dengan cara yang mirip. Ada sesuatu yang belum kamu pahami, lalu keinginan untuk mengetahui jawabannya membuatmu tetap bergerak meskipun tidak ada orang yang menyuruh.
Ada juga dorongan yang muncul karena sesuatu terasa berarti bagimu. Kamu mungkin melakukan sesuatu karena merasa kegiatan itu sesuai dengan hal yang kamu anggap penting. Tidak ada tepuk tangan yang harus didapatkan dan tidak ada angka yang harus ditunjukkan. Alasan untuk melakukannya terasa cukup dekat dengan dirimu sendiri.
Tetapi dorongan dari dalam tidak selalu terasa kuat. Kamu bisa sangat tertarik pada sesuatu hari ini, lalu beberapa waktu kemudian ketertarikan itu berkurang. Rasa ingin tahu bisa naik turun, begitu juga dengan hal yang kamu anggap berarti. Jadi, motivasi naik turun tidak hanya terjadi ketika doronganmu berasal dari luar. Dorongan yang datang dari dalam pun bisa berubah mengikuti pengalaman dan keadaanmu.
Perbedaannya mulai terlihat ketika perhatian dari luar benar-benar tidak ada. Kamu mungkin tidak mendapatkan pujian, tidak ada yang menanyakan hasilnya, dan tidak ada angka yang berubah. Namun, masih ada bagian dari dirimu yang merasa ingin melakukan sesuatu itu.
Meski begitu, pengalaman nyata jarang sesederhana memisahkan dua sumber ini. Kamu bisa suka menulis karena memang senang menulis, tetapi lebih ingin menulis ketika ada yang membaca. Kamu bisa menikmati belajar karena rasa ingin tahu, tetapi nilai yang bagus membuatmu semakin ingin melakukannya. Kamu bisa merasa sebuah kegiatan berarti bagimu, sambil tetap merasa senang ketika orang lain menghargai hasilnya.
Di situ batas antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik bisa menjadi kabur. Satu kegiatan yang sama bisa punya beberapa alasan sekaligus. Kamu tidak selalu bisa menunjuk satu sumber dan mengatakan bahwa hanya itulah yang membuatmu bergerak.
Karena itu, dorongan dari dalam juga tidak perlu dibayangkan sebagai sesuatu yang selalu lebih kuat atau lebih murni. Ia hanya berasal dari tempat yang berbeda. Ada bagian yang muncul dari minat, rasa ingin tahu, dan makna yang kamu rasakan sendiri, tetapi ada juga pengaruh dari apa yang terjadi di luar dirimu.
Dua Sumber, dan Kamu Tidak Perlu Memilih Salah Satunya
Dorongan dari luar sering menjadi pintu yang membuatmu masuk, sementara dorongan dari dalam bisa menjadi salah satu alasan yang membuatmu tetap tertarik setelah tidak ada lagi yang melihat. Tetapi keduanya tidak selalu datang secara terpisah.
Kamu bisa mulai belajar karena ingin mendapatkan nilai bagus, lalu perlahan menemukan bahwa kamu memang tertarik pada pelajarannya. Kamu bisa mulai membuat sesuatu karena ingin mendapat pujian, kemudian menyadari bahwa proses membuatnya sendiri ternyata terasa menyenangkan. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya sangat kamu sukai juga bisa terasa lebih menarik ketika ada orang lain yang menghargai hasilnya.
Artinya, sumber doronganmu bisa berubah sepanjang pengalamanmu. Sesuatu yang awalnya didorong oleh keadaan di luar dirimu bisa kemudian memiliki arti yang lebih pribadi. Sesuatu yang awalnya kamu lakukan karena memang tertarik juga bisa mendapatkan tambahan dorongan dari perhatian orang lain.
Tidak ada keharusan untuk menentukan bahwa salah satunya harus menjadi satu-satunya alasan. Kamu bisa merasakan senang ketika dipuji sekaligus tetap ingin melakukan sesuatu ketika tidak ada yang memuji. Kamu juga bisa mengejar sebuah target karena pengaruh dari luar tanpa berarti seluruh keinginanmu terhadap kegiatan itu berasal dari sana.
Yang terasa lebih jujur justru ketika kamu bisa melihat bahwa dua sumber itu memang ada. Kadang kamu bergerak karena ada sesuatu yang menunggumu dari luar. Kadang kamu bergerak karena ada sesuatu di dalam dirimu yang membuatmu tetap tertarik. Kadang keduanya bertemu dalam kegiatan yang sama.
Dari mana dorongan itu datang baru separuh ceritanya; separuh lainnya adalah apa yang terjadi saat dorongan itu tidak ada, dan kenapa keduanya sering saling tertukar, seperti yang dibahas di tulisan tentang motivasi dan disiplin.
Pada akhirnya, dorongan itu tidak selalu punya satu sumber yang mudah ditunjuk. Kadang kamu tahu dari awal kenapa ingin bergerak, kadang alasannya baru terlihat setelah kamu menjalaninya.